Filsafat Ilmu
Prof.Dr.H.Kamrani Busri, MA
Dr. Rusydi, M. Ag
BEBERAPA ASPEK
EPISTEMOLOGI
DALAM MEMBANGUN ILMU YANG ISLAMI
Oleh:
SRI WAHYUNITA :
1502521475
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI BANJARMASIN
PASCASARJANA
PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
TAHUN 2015
BAB
I
PENDAHULUAN
Dalam
filsafat agama tidak terlepas oleh cara menentukan dan mengukur kebenaran.
Dalam hal ini, filsafat agama tidak mengklaim pembenaran tiap-tiap agama.
Menurut
ilmu filsafat, yang disebut benar adalah cabang ilmu yang mempelajari
persesuaian antara keadaan objek dan pengetahuan subjek terhadap objek itu.
Disini, manusia tentunya sebagai subjek sehingga ketika memutuskan benar atau
tidak akan bergantung pada subjektivisme manusia.
Semua
pengetahuan berusaha menemukan kebenaran. Apa yang dapat diketahui tentang
kebenaran epistemologi merupakan suatu bidang filsafat nilai yang mempersoalkan
tentang hakikat kebenaran, karena semua pengetahuan mempersoalkan kebenaran.
Sebagai sebuah prosedur, epistemologi memiliki berbagai perangkat dalam upaya
membantu kita memperoleh ilmu pengetahuan yang benar. Metode ilmiah merupakan
prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Namun tentang
pendapat kebenaran itu sendiri berbeda, sesuai dengan kriteria nya
masing-masing maka dalam epistemologi metode yang digunakan dalam memperoleh
ilmu pengetahuan itu juga mengalami perbedaan.
Dalam
pembahasan ini terdapat beberapa aspek epistemologi dalam membangun ilmu yang islam
yakni menurut sumber ilmu pengetahuan, validitas ilmu, metode menuju kebenaran,
serta klasifikasi ilmu dan tiga epistemologi islam yakni bayani, burhani,
irfani.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN EPISTEMOLOGI
Epistemologi berasal dari kata
Yunani, episteme dan logos. Episteme berarti pengetahuan, sedangkan logosyang mempunyai sandingan dengan ilmu, jadi secara literik
dapat dikatakan arti epistemologi adalah ilmu pengetahuan. Epistemologi menurut
kamus besar Bahasa Indonesia, memiliki arti sebagai salah satu cabang ilmu
filsafat yang membahas tentang dasar-dasar dan batas-batas ilmu pengetahuan.Epistemologi
sebagai cabang filsafat yang membahas hakikat pengetahuan, sumber pengetahuan,
dan cara memperoleh pengetahuan.[1]
Epistemologi adalah teori ilmu
pengetahuan yang membahas berbagai segi pengetahuan seperti kemungkinan, asal
mula, sifat alami, batas-batas, asumsi dan landasan, validitas dan reabilitas
sampai soal kebenaran.
Dengan kata lain, epistemologi adalah
cabang ilmu filsafat yang menenggarai masalah filosofikal yang mengitari teori
ilmu pengetahuan. Epistemologi bertalian dengan definis dan konsep-konsep ilmu,
ragam ilmu yang bersifat nibsi dan niscaya, dan relasi eksak antara ‘alim (subjek) dan ma’lum (objek). Dapat dikatakan bahwa epistemologi adalah bagian
filsafat yang meneliti asal usul, asumsi dasar, sifat-sifat, dan cara
memperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model
filsafat. Dengan pengertian ini epistemologi menentukan karakter pengetahuan,
bahkan menentukan “kebenaran” yang dianggap patuh diterima dan yang patut
ditolak.[2]
B. PENGERTIAN ILMU ISLAM
Ilmu menurut bahasa berati mengerti,
memahami benar-benar,. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia bahwa ilmu adalah pengetahuan
tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-motode
tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu
dibidang pengetahuan.
Dalam hal ini ilmu islam adalah ilmu
yang koheren dengan Nash (Al Qur’an dan hadis shahih), dengan demikian ilmu
pengetahuan dalam islam memiki definisi yang kental dengan nuansa spritualitas,
transendensi, karena memang islam sudah memandang setiap sisi kehidupan adalah
aktivitas ibadah bagi manusia.
Epistemologi studi islam merupakan
asas mengenai cara bagaimana materi pengetahuan diperoleh dan disusun menjadi
suatu tubuh pengetahuan yang meliputi sumber dan sarana untuk mencapai ilmu
pengetahuan.[3]
C. ASPEK
EPISTEMOLOGI DALAM MEMBANGUN ILMU YANG ISLAMI
Dari beberapa pengertian
epistemologi yang telah dijelaskan di atas, menghendaki satu pembahasan tentang
aspek apa saja yang terdapat dalam epistemologi tersebut, dalam usaha
Metodologi islam bersandar pada
epistemologi islam, sedangkan epistemologi islam itu berdasarkan pada wahyu (Al
Qur’an dan hadis). Epistemologi islam mengembangkan 2 unsur yang seimbang yaitu
ilmu pengetahuan yang berdasarkan
ayat-ayat yang bersifta qauliyah/empirik seperti rasio, panca indera dan
intuisi (hati), kemudian ayat-ayat qauniyah/berdasarkan sumber-sumber formal
islam seperti wayhu.
a. Aspek
epistemologi menurut sumber ilmu
Sumber pengetahuan melalui indera
dan akal merupakan sumber yang paling utama, meski Ibnu Rusy tidak menafikan
sumber lainnya, oleh karena itu pengetahuan inderawi dan rasional pantas
mendapatkan pembahasan sendiri.
Dari teori di atas tampaknya baru
memunculkan dua sumber pengetahuan yakni akal dan indera, sebenarnya terdapat
dua sumber pengetahuan lainnya yakni intuisi
dan wahyu. Sebelum membahas pendapat Ibnu Rusy, perlu dijelaskan bahwa intuisi
merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu.
Ibnu Rusy sebagai penganut aliran
rasionalis sangat menekankan kekuatan akal sebagai sumber pengetahuan, namun
demikian bukan bearti dia menafikan sumber pengetahuan yang lain.
Ibnu Rusy meskipun dalam pernyataan
tersebut tidak menyebutkan tentang sumber wahyu, namun kalau ditinjau dalam Fasl al-Maqal fi ma Baina al-Hikmah wa
asy-Syari’ah min al-Ittisal, dia menyelaraskan antara wahyu dengan
filsafat. Dengan demikian, Ibnu Rusy secara tegas menyatakan bahwa wahyu
merupakan sumber pengetahuan.
b. Aspek
epistemologi menurut validitas ilmu
Masalah mendasar menyangkut nilai
pengetahuan ialah bagaimana membuktikan bahwa pengetahuan manusia sesuai dengan
realitas. Oleh sebab itu, pengetahuan yang bisa benar –dalam arti sesuai dengan
kenyataan- dan bisa galat- dalam arti melenceng dari kenyataan- tak lain adalah
pengetahuan perolehan. Dan jika pengetahuan dengan kehadiran disifati sebagai
benar, artinya mustahil ia menjadi keliru.[4]
Definisi
kebenaran dalam konteks nilai pengetahuan adalah kesesuaian forma mental
pengetahuan dengan objek realitas yang di serapnya. Ada sejumlah definisi lain
tentang kebenaran dalam kaitan ini, antara lain definisi kalangan pragmatis,
“Kebenaran adalah pemikiran yang berguna bagi kehidupan praktis manusia”, atau
definisi kalangan relativis, “Kebenaran adalah pengetahuan yang cocok dengan
perangkat persepsi yang sehat”, atau definisi ketiga yang berbunyi “Kebenaran
adalah apa yang disepakati semua orang”, atau definisi keempat yang berbunyi
“Kebenaran adalah pengetahuan yang bisa di alami secara indrawi”. [5]
Kebenaran yang dihasilkan oleh filsafat, selain
bersifat abstrak, juga spekulatif. Dengan berbekal kearifan filsafat, manusia
belum mampu mengatasi dan memenuhi
kebutuhan hidup yang bersifat konkret. Filsafat mengerti apa yang seharusnya
menjadi hidup sehari-hari, tetapi filsafat tidak mampu mengetahui bagaimana cara
mengadakannya. Hanya dengan ilmu pengetahuan, maka kebutuhan manusia bersifat
nyata, konkret dan khusus, dapat dipenuhi. Dalam rangkaian penjelajahan ini
pula rasa ingin tahu manusia dalam upaya menemukan kebenaran melahirkan lembaga
baru, yakni Ilmu Pengetahuan.[6]
Dalam
membangun ilmu yang islami, terlihat bahwa validitas ilmu betul kebenarannya
karena tidak bertolak belakang dengan wahyu dan akal. Dengan diperkuat landasan
dari Al-Qur’an dan Hadis.
c. Aspek
epistemologi menurut metode mencapai kebenaran
1. Kebenaran
Teoritis (Rasionalisme)
Rasionalisme
ialah paham yang mengatakan bahwa akal itulah alat pencari dan pengukur
pengetahuan. Pengetahuan dicari dengan akal, dan temuannya di ukur dengan akal
pula. Menurut mereka, aturan harus di buat berdasarkan dan bersumber pada
sesuatu yang ada pada manusia. Alat itu ialah akal. Mengapa akal? Pertama,
karena akal di anggap mampu. Yang kedua, karena akal pada setiap orang bekerja
berdasarkan aturan yang sama. Aturan ialah logika alami yang ada pada akal
setiap manusia. Akal itulah yang menjadi alat dan sumber yang paling dapat di
sepakati. Di cari dengan akal ialah di cari dengan berfikir logis. Di ukur
dengan akal artinya di uji apakah temuan itu logis atau tidak. Apabila logis,
aturan tersebut benar; apabila tidak, aturan tersebut salah. Dengan akal itulah
aturan untuk mengatur manusia dan alam ini di buat. Ini juga berarti bahwa
kebenaran itu bersumber pada akal. Dalam proses pembuatan aturan, ternyata
temuan akal sering bertentangan. Kata seseorang ini logis, tetapi kata orang
lain itu logis juga. Padahal ini dan itu tidak sama, bahkan, kadang-kadang
bertentangan. Orang-orang sofis pada zaman Yunani Kuno dapat membuktikan bahwa
bergerak sama dengan diam, kedua-duanya sama logisnya. Apakah anak panah yang
melesat dari busurnya bergerak atau diam? Dua-duanya benar. Apa itu bergerak?
Bergerak ialah apabila sesuatu berpindah tempat. Anak panah itu pindah dari
busur ke sasaran. Jadi anak panah itu bergerak. Anak panah itu dapat juga di
buktikan diam. Diam adalah apabila sesuatu pada suatu waktu berada pada suatu
tempat. Anak panah itu setiap saat berada di suatu tempat. Jadi, anak panah itu
diam. Ini pun benar karena argumennya juga logis. Jadi bergerak sama dengan
diam, sama-sama logis. Apa yang di peroleh dari kenyataan itu? Yang diperoleh
adalah berpikir logis tidak menjamin di perolehnya kebenaran yang disepakati.[7]
Pola
rasionalisme ini, apabila di terapkan pada epistemologi dalam pemikiran Islam,
dalam hal ini termasuk ilmu kalam, tidak peduli terhadap masukan-masukan yang
di berikan oleh emperisisme. Dominannya aspek rasionalisme dalam ilmu kalam
akhirnya menjadikan pemikiran ini jatuh ke wilayah pemikiran metafisika yang
lebih bersifat spekulatif dan melampaui batas-batas kemampuan dan daya serap
pikiran manusia biasa. Memang demikian realitas pemikiran kalam klasik. Ia
penuh kesamaran. Kondisi ilmu kalam seperti itu sebenarnya bukan hanya di
sebabkan objek kajiannya yang lebih metafisik, melainkan juga di sebabkan
faktor bahasa yang sulit untuk menjelaskan objek tersebut. Sebagai sebuah
pernyataan tentang Tuhan, sudah tentu ia tidak bisa di verifikasi atau di
falsifikasi secara objektif dan empiris. Jadi, dalam memahami kitab suci,
seseorang cenderung menggunakan standar ganda, yaitu berfikir dalam kapasitas
dan berdasarkan pengalaman kemanusiaan yang di arahkan pada suatu objek yang di
imani dan berada di luar jangkauan nalar dan inderanya. Dengan ungkapan lain,
ia berfikir dalam kerangka iman dan ia beriman sambil mencoba mencari dukungan
dari pemikirannya. [8]
2. Kebenaran
Praktis (Empirisme dan Positivisme)
Emperisisme
adalah paham filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar ialah yang logis dan
memilih bukti empiris. Dalam hal anak panah tersebut, menurut emperisisme, yang
benar adalah bergerak. Coba saja perut Anda menghadang anak panah itu, tentu
anak panah itu akan menembus perut anda, dan benda yang menembus sesuatu
haruslah benda yang begerak. Ya, memang, sesuatu yang diam tidak akan mampu
menembus. Dengan emperisisme inilah, aturan (untuk mengatur manusia dan alam)
itu di buat. Akan tetapi, ternyata emperisisme masih memiliki kekurangan.
Kekurangan emperisisme ialah ia belum terukur. Emperisisme hanya sampai pada
konsep-konsep yang umum. Menurut emperisisme, air kopi yang baru di seduh
panas, nyala api ini lebih panas, besi yang mendidih ini sangat panaas. Kata
emperisisme, kelereng ini kecil, bulan lebi besar, bumi lebih besar lagi,
matahari sangat besar. Demikian seterusnya. Emperisisme hanya menemukan konsep
yang sifatnya umum. Konsep itu belum operasional karena belum terukur. Jadi,
masih diperlukan alat lain. Alat lain itu ialah positivisme. Positivisme
mengajarkan bahwa kebenaran ialah yang logis, ada bukti emperisnya, dan
terukur. “terukur” inilah sumbangan penting positivism. Jadi, hal panas
tersebut oleh air kopi ini 80°C, air mendidih ini 100°C, besi mendidih ini
1.000°C, ini satu meter panjangnya.[9]
3. Kebenaran
Wahyu/Mukasyafah/Musyahadah
Sebagaimana
perjalanan Al-Ghazali yang meraih kebenaran dari rasionalisme, emperisisme,
kemudian sampai pada tingkat sufi. Rasionalisme saja tidak cukup, dan
emperisisme saja tidak cukup karena keduanya bersumber dari akal. Oleh karena
itu, diperlukan kebenaran yang hakiki tentang alam dan sang pencipta. Dari
sinilah, lahir ilmu laduni.[10]
Untuk
menggambarkan pengetahuan ini, para sufi menyebutnya sebagai ilmu laduni, yang
mengandaikan pemberian langsung “makna” sesuatu oleh Tuhan kedalam suatu
peristiwa apokaliptis yang di sebut “Mukasyafah” (Penyingkapan) atau
“Musyahadah” (Penyaksian). Hal ini karena, menurut keyakinan para sufi, yang
menyingkapkan kebenaran secara langsung kedalam hati mereka adalah Allah,
sedangkan Allah sendiri mereka pandang sebagai “Kebenaran” (Al-Haqq),
yang tidak mungkin berbohong. Inlah jaminan kebenaran bagi para sufi yang
selalu mendatangkan keyakinan di hati mereka.[11]
Dalam
hal ini, telah terjadi identifikasi yang organik antara pengetahuan, yang mengetahui, dan yang
di ketahui. Karena seseorang yang sama sekaligus menjadi subjek dan objek.
Identifikasi dari subjek dan objek inilah yang bisa mematahkan kritik Kant,
sedangkan identifikasi pengetahuan dengan yang di ketahui telah menyebabkan
pengetahuan (Knowing) identik dengan kenyataan (Being); atau dengan istilah
lain, pikiran (Mind) identik dengan tubuh (Body). Dengan cara inilah, para sufi
merasa yakin akan kebenaran dari pengetahuannya.[12]
Mukasyafah adalah salah satu tangga menuju pengetahuan
tentang Tuhan, suatu pengetahuan hakikiah. Mukasyafah adalah upaya
penyingkapan hijab-hijab yang menutupi diri. Secara esensial,
penyingkapan adalah penghancuran tirai yang menutup objek dengan jalan rohani.
Tabir dalam rohani terdiri atas dua jenis, yaitu tirai penutup (hijab i
rayni) yang tidak mungkin dapat di singkap dan kedua tirai pengabur (hijab
i ghayni) yang dapat dicampakkan. Maksudnya ialah bagi orang-orang yang
telah sengaja menutup hatinya dari gairah pencairan akan tertutup dan sangat
sulit dibuka, sedangkan bagi orang-orang yang terus-terusan berusaha mencari
dan membuka hijab itu, hijab itu akan terbuka. Persoalan epistimologi adalah bagaimana
cara mencampakkan tirai pengabur (hijab i ghayni) itu?[13]
Tuhan
mempunyai dua sisi, yaitu sisi esensi dan sisi eksistensi. Tatkala Tuhan
bereksistensilah, Dia dapat dipahami, yaitu tatkala Dia berhubungan dengan
selain Dia. Jadi, kita tidak akan dapat mengetahui esensi Tuhan. Tuhan
diketahui tatkala Dia berhubungan dengan yang lain, yaitu dalam ciptaan-Nya.[14]
Sistem
pengetahuan Mukasyafah berpijak pada asumsi (keyakinan) bahwa Tuhan memancarkan
pengetahuan-Nya. Akan tetapi, pengetahuan yang dipancarkan-Nya itu tidak dapat
dipahami oleh indra ataupun rasio. Pengetahuan yang dipancarkan-Nya itu hanya
dapat dipahami oleh potensi spiritual kita. Indra dan akal rasional itu bukan
hanya tidak mampu memahami-Nya, bahkan juga menjadi penghalang (hijab) tatkala
potensi spiritual kita berusaha menangkap pengetahuan itu. Oleh karena itu,
pada saat penyerapan pengetahuan Tuhan oleh potensi spiritual itu, potensi
indra dan rasio dinonaktifkan untuk sementara. Adapun yang harus dilakukan
ialah membiarkan potensi spiritual (yaitu hati, qalb) menerima, dan menampung
pengetahuan tersebut.[15]
Akan
tetapi bagaimana manusia menonaktifkan potensi indra dan akal rasional dan
mengaktifkan qalbu-nya? Karena pengetahuan mukasyafah terkait dengan situasi
batin tertentu, epistemologinya akan bersifat psikologis, yaitu mengusahakan
agar potensi spiritual atau batin itu sanggup membuka diri dan menangkap
pengetahuan Tuhan tersebut.[16]
d. Aspek
epistemologi menurut klasifikasi ilmu
Dari epistemologi, lahir berbagai cabang ilmu pengetahuan
(sains) yang dikenal sampai sekarang. Secara ekstrem, diakui ada dua jalan yang
terbuka bagi manusia untuk memperoleh pengetahuan formal. Pertama, melalui kebenaran yang diwahyukan, yang sesudah diwahyukan
dipindahkan dari generasi ke generasi berikutnya.Kedua, pengetahuan yang diperoleh melalui kecerdasan atau akal yang
diberikan tuhan yang kemudian disebut dengan istilah al-‘ulum al-aqliyah atau ilmu-ilmu inteklektual.[17]
Para tokoh islam, seperti Ibnu Sina,
Al Ghazali dan Ibn Khaldun menegaskan bahwa ilmu boleh diklasifikasikan pada
dua bagian, yaitu ilmu dan ilmu aqli.Sebagian ulama lain membuat klasifikasi
ilmu menjadi dua, yaitu ilmu sains fisika dan sains sosial.
Secara historis, klasifikasi ilmu
dapat diliat dari hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan. Filsafat
Yunani Kuno yang sebelumnya merupakan suatu kesatuan, kemudian menjadi
terpecah-pecah. Menurut Nuchelmans,
mengemukakan bahwa dengan munculnya ilmu pengetahuan alam pada abad ke 17, ilmu
pengetahuan identik dengan filsafat. Pendapat tersebut sejalan dengan pemikiran
Van Peursen, yang mengemukakan bahwa dulu ilmu merupakan bagian dari filsafat,
sehingga definisi tentang ilmu bergantung pada sistem filsafat yang dianut.
D. Tiga Epistemologi Islam
Menurut
Aljabiri terdapat 3 kelompok Epistemologi, yakni Bayani, irfani dan Burhani, Epistemologi sebagai cabang filsafat
membahas hakikat pengetahuan, sumber pengetahuan, dan cara memperoleh
pengetahuan. [18]
Epistemologi
di bedakan dari segi otoritas penentuan kebenaran. Dalam Epistemologi Bayani,
otorits kebenarannya ada pada teks diantaranya keilmuan bahasa Arab, Ushul
fiqih dan Kalam. Epistemologi Irfani otoritas kebenarannya ada pada Intuisi
atau hati. Adapun Epistemologi Burhani berbeda secara khas dari Epistemologi
bayani dan irfani, yakni otoritasnya ada pada akal.[19]
Jika
sumber ilmu dari corak epistemologi bayani adalah teks, sedangkan irfani adalah
pengalaman langsung, epistemologi burhani berssumber pada realitas. Tolak ukur
validitas keilmuannya sangat berbeda, bayani bergantung pada pendekatan dan
keserupaan teks dan realitas, airfani lebih pada kematangan sosial skill
(empati, simpati), burhani menekankan pada korespondensi yakni kesesuaian
antara rumus-rumus yang di ciptakan oleh akal manusia dengan hukum alam, dan
koherensi (keruntutan dan keteraturan berfikir logis).[20]
BAB
III
PENUTUP
Epistemologi studi islam merupakan
asas mengenai cara bagaimana materi pengetahuan diperoleh dan disusun menjadi
suatu tubuh pengetahuan yang meliputi sumber dan sarana untuk mencapai ilmu pengetahuan.
Dalam membangun ilmu yang islami
diperlukan beberapa aspek yang menunjangnya, yakni aspek epistemologi menurut
sumber ilmu (akal, panca indera, intuisi, dan wahyu), aspek epistemologi
menurut validitas ilmu membuktikan kebenaran ilmu pengetahuan yang dilandasi
oleh Al Qur’an dan hadis, aspek epistemologi menurut metode menuju kebenaran
ditunjang dengan 3 kebenaran teoritis (rasionalisme), praktis (empirisme &
positivisme), kebenaran wahyu.
Selain
itu juga terdapat tiga epistemologi islam, yakni bayani, irfani, dan burhani.
Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu: Mengurai Ontologi,
Epistemologi, dan Aksiologi Pengetahuan, Bandung: Rosdakarya, 2009, cet
ke-4
Dedi Supriyadi, Filsafat
Agama, Bandung: CV Pustaka Setia, 2012
Dedi Supriyadi, Pengantar Filsafat Islam Bandung:
Pustaka Setia, 2010, cet ke-1
Muhammad Taqi Mishbah Yazdi, Buku
Daras Filsafat Islam Bandung: Mizan Media Utama, 2003
Mulyadi Kartanegara, Menyelami Lubuk Tasawuf,
Jakarta: Erlangga, 2006
Suparman Syukur, Epistemologi
Islam Skolastik, Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2007
[1]Dedi
Supriyadi, Filsafat Agama, (Bandung:
CV Pustaka Setia, 2012), h. 42
[3]Suparman
Syukur, Epistemologi Islam Skolastik,
(Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2007), h.207
[4]Muhammad
Taqi Mishbah Yazdi, Buku Daras Filsafat Islam (Bandung: Mizan Media Utama, 2003) h. 145
[5]Ibid,
[6]Ibid
[7]Ahmad
Tafsir, Filsafat Ilmu: Mengurai Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi
Pengetahuan, (Bandung: Rosdakarya), 2009, cet ke-4, h.30
[8]Dedi
Supriyadi, Pengantar Filsafat Islam (Bandung: Pustaka Setia), 2010, cet
ke-1, h.107
[9]Ahmad
Tafsir, Opcit, h.32
[10]Dedi
Supriyadi, Opcit, h.108
[12]Mulyadi
Kartanegara, Menyelami Lubuk Tasawuf, (Jakarta: Erlangga), 2006, h.139
[13]Dedi
Supriyadi, Opcit, h.109
[17]Dedi
Supriyadi, Pengantar Filsafat Islam, (Bandung:
CV Pustaka Setia, 2010), h. 66-67
[18]Dedi
Supriyadi, Loc cit, h.57
[19]Ibid
[20]Ibid



Tidak ada komentar:
Posting Komentar