Pink Rose Flower

Jumat, 23 Desember 2016

Filsafat Ilmu - Beberapa Aspek Epistemologi Dalam Membangun Ilmu Yang Islami







TUGAS MAKALAH                                                                DOSEN PENGASUH
  Filsafat Ilmu                                                                    Prof.Dr.H.Kamrani Busri, MA
                                                                                                      Dr. Rusydi, M. Ag




BEBERAPA ASPEK EPISTEMOLOGI 
DALAM MEMBANGUN ILMU YANG ISLAMI











 











Oleh:

SRI WAHYUNITA : 1502521475





INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI BANJARMASIN
PASCASARJANA
PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
TAHUN 2015




BAB I
PENDAHULUAN

Dalam filsafat agama tidak terlepas oleh cara menentukan dan mengukur kebenaran. Dalam hal ini, filsafat agama tidak mengklaim pembenaran tiap-tiap agama.
Menurut ilmu filsafat, yang disebut benar adalah cabang ilmu yang mempelajari persesuaian antara keadaan objek dan pengetahuan subjek terhadap objek itu. Disini, manusia tentunya sebagai subjek sehingga ketika memutuskan benar atau tidak akan bergantung pada subjektivisme manusia.
Semua pengetahuan berusaha menemukan kebenaran. Apa yang dapat diketahui tentang kebenaran epistemologi merupakan suatu bidang filsafat nilai yang mempersoalkan tentang hakikat kebenaran, karena semua pengetahuan mempersoalkan kebenaran. Sebagai sebuah prosedur, epistemologi memiliki berbagai perangkat dalam upaya membantu kita memperoleh ilmu pengetahuan yang benar. Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Namun tentang pendapat kebenaran itu sendiri berbeda, sesuai dengan kriteria nya masing-masing maka dalam epistemologi metode yang digunakan dalam memperoleh ilmu pengetahuan itu juga mengalami perbedaan.
Dalam pembahasan ini terdapat beberapa aspek epistemologi dalam membangun ilmu yang islam yakni menurut sumber ilmu pengetahuan, validitas ilmu, metode menuju kebenaran, serta klasifikasi ilmu dan tiga epistemologi islam yakni bayani, burhani, irfani.








BAB II
PEMBAHASAN


A. PENGERTIAN EPISTEMOLOGI
            Epistemologi berasal dari kata Yunani, episteme dan logos. Episteme berarti pengetahuan, sedangkan logosyang mempunyai sandingan dengan ilmu, jadi secara literik dapat dikatakan arti epistemologi adalah ilmu pengetahuan. Epistemologi menurut kamus besar Bahasa Indonesia, memiliki arti sebagai salah satu cabang ilmu filsafat yang membahas tentang dasar-dasar dan batas-batas ilmu pengetahuan.Epistemologi sebagai cabang filsafat yang membahas hakikat pengetahuan, sumber pengetahuan, dan cara memperoleh pengetahuan.[1]
            Epistemologi adalah teori ilmu pengetahuan yang membahas berbagai segi pengetahuan seperti kemungkinan, asal mula, sifat alami, batas-batas, asumsi dan landasan, validitas dan reabilitas sampai soal kebenaran.
            Dengan kata lain, epistemologi adalah cabang ilmu filsafat yang menenggarai masalah filosofikal yang mengitari teori ilmu pengetahuan. Epistemologi bertalian dengan definis dan konsep-konsep ilmu, ragam ilmu yang bersifat nibsi dan niscaya, dan relasi eksak antara ‘alim (subjek) dan ma’lum (objek). Dapat dikatakan bahwa epistemologi adalah bagian filsafat yang meneliti asal usul, asumsi dasar, sifat-sifat, dan cara memperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model filsafat. Dengan pengertian ini epistemologi menentukan karakter pengetahuan, bahkan menentukan “kebenaran” yang dianggap patuh diterima dan yang patut ditolak.[2]

B. PENGERTIAN ILMU ISLAM
            Ilmu menurut bahasa berati mengerti, memahami benar-benar,. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia bahwa ilmu adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-motode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu dibidang pengetahuan.
            Dalam hal ini ilmu islam adalah ilmu yang koheren dengan Nash (Al Qur’an dan hadis shahih), dengan demikian ilmu pengetahuan dalam islam memiki definisi yang kental dengan nuansa spritualitas, transendensi, karena memang islam sudah memandang setiap sisi kehidupan adalah aktivitas ibadah bagi manusia.
            Epistemologi studi islam merupakan asas mengenai cara bagaimana materi pengetahuan diperoleh dan disusun menjadi suatu tubuh pengetahuan yang meliputi sumber dan sarana untuk mencapai ilmu pengetahuan.[3]

C. ASPEK EPISTEMOLOGI DALAM MEMBANGUN ILMU YANG ISLAMI
            Dari beberapa pengertian epistemologi yang telah dijelaskan di atas, menghendaki satu pembahasan tentang aspek apa saja yang terdapat dalam epistemologi tersebut, dalam usaha
            Metodologi islam bersandar pada epistemologi islam, sedangkan epistemologi islam itu berdasarkan pada wahyu (Al Qur’an dan hadis). Epistemologi islam mengembangkan 2 unsur yang seimbang yaitu ilmu pengetahuan  yang berdasarkan ayat-ayat yang bersifta qauliyah/empirik seperti rasio, panca indera dan intuisi (hati), kemudian ayat-ayat qauniyah/berdasarkan sumber-sumber formal islam seperti wayhu.

a. Aspek epistemologi menurut sumber ilmu
            Sumber pengetahuan melalui indera dan akal merupakan sumber yang paling utama, meski Ibnu Rusy tidak menafikan sumber lainnya, oleh karena itu pengetahuan inderawi dan rasional pantas mendapatkan pembahasan sendiri.
            Dari teori di atas tampaknya baru memunculkan dua sumber pengetahuan yakni akal dan indera, sebenarnya terdapat dua sumber pengetahuan lainnya yakni intuisi dan wahyu. Sebelum membahas pendapat Ibnu Rusy, perlu dijelaskan  bahwa intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu.
            Ibnu Rusy sebagai penganut aliran rasionalis sangat menekankan kekuatan akal sebagai sumber pengetahuan, namun demikian bukan bearti dia menafikan sumber pengetahuan yang lain.
            Ibnu Rusy meskipun dalam pernyataan tersebut tidak menyebutkan tentang sumber wahyu, namun kalau ditinjau dalam Fasl al-Maqal fi ma Baina al-Hikmah wa asy-Syari’ah min al-Ittisal, dia menyelaraskan antara wahyu dengan filsafat. Dengan demikian, Ibnu Rusy secara tegas menyatakan bahwa wahyu merupakan sumber pengetahuan.  

b. Aspek epistemologi menurut validitas ilmu
            Masalah mendasar menyangkut nilai pengetahuan ialah bagaimana membuktikan bahwa pengetahuan manusia sesuai dengan realitas. Oleh sebab itu, pengetahuan yang bisa benar –dalam arti sesuai dengan kenyataan- dan bisa galat- dalam arti melenceng dari kenyataan- tak lain adalah pengetahuan perolehan. Dan jika pengetahuan dengan kehadiran disifati sebagai benar, artinya mustahil ia menjadi keliru.[4]
Definisi kebenaran dalam konteks nilai pengetahuan adalah kesesuaian forma mental pengetahuan dengan objek realitas yang di serapnya. Ada sejumlah definisi lain tentang kebenaran dalam kaitan ini, antara lain definisi kalangan pragmatis, “Kebenaran adalah pemikiran yang berguna bagi kehidupan praktis manusia”, atau definisi kalangan relativis, “Kebenaran adalah pengetahuan yang cocok dengan perangkat persepsi yang sehat”, atau definisi ketiga yang berbunyi “Kebenaran adalah apa yang disepakati semua orang”, atau definisi keempat yang berbunyi “Kebenaran adalah pengetahuan yang bisa di alami secara indrawi”. [5]
Kebenaran  yang dihasilkan oleh filsafat, selain bersifat abstrak, juga spekulatif. Dengan berbekal kearifan filsafat, manusia belum mampu  mengatasi dan memenuhi kebutuhan hidup yang bersifat konkret. Filsafat mengerti apa yang seharusnya menjadi hidup sehari-hari, tetapi filsafat tidak mampu mengetahui bagaimana cara mengadakannya. Hanya dengan ilmu pengetahuan, maka kebutuhan manusia bersifat nyata, konkret dan khusus, dapat dipenuhi. Dalam rangkaian penjelajahan ini pula rasa ingin tahu manusia dalam upaya menemukan kebenaran melahirkan lembaga baru, yakni Ilmu Pengetahuan.[6]
Dalam membangun ilmu yang islami, terlihat bahwa validitas ilmu betul kebenarannya karena tidak bertolak belakang dengan wahyu dan akal. Dengan diperkuat landasan dari Al-Qur’an dan Hadis.

c. Aspek epistemologi menurut metode mencapai kebenaran
1.   Kebenaran Teoritis (Rasionalisme)
Rasionalisme ialah paham yang mengatakan bahwa akal itulah alat pencari dan pengukur pengetahuan. Pengetahuan dicari dengan akal, dan temuannya di ukur dengan akal pula. Menurut mereka, aturan harus di buat berdasarkan dan bersumber pada sesuatu yang ada pada manusia. Alat itu ialah akal. Mengapa akal? Pertama, karena akal di anggap mampu. Yang kedua, karena akal pada setiap orang bekerja berdasarkan aturan yang sama. Aturan ialah logika alami yang ada pada akal setiap manusia. Akal itulah yang menjadi alat dan sumber yang paling dapat di sepakati. Di cari dengan akal ialah di cari dengan berfikir logis. Di ukur dengan akal artinya di uji apakah temuan itu logis atau tidak. Apabila logis, aturan tersebut benar; apabila tidak, aturan tersebut salah. Dengan akal itulah aturan untuk mengatur manusia dan alam ini di buat. Ini juga berarti bahwa kebenaran itu bersumber pada akal. Dalam proses pembuatan aturan, ternyata temuan akal sering bertentangan. Kata seseorang ini logis, tetapi kata orang lain itu logis juga. Padahal ini dan itu tidak sama, bahkan, kadang-kadang bertentangan. Orang-orang sofis pada zaman Yunani Kuno dapat membuktikan bahwa bergerak sama dengan diam, kedua-duanya sama logisnya. Apakah anak panah yang melesat dari busurnya bergerak atau diam? Dua-duanya benar. Apa itu bergerak? Bergerak ialah apabila sesuatu berpindah tempat. Anak panah itu pindah dari busur ke sasaran. Jadi anak panah itu bergerak. Anak panah itu dapat juga di buktikan diam. Diam adalah apabila sesuatu pada suatu waktu berada pada suatu tempat. Anak panah itu setiap saat berada di suatu tempat. Jadi, anak panah itu diam. Ini pun benar karena argumennya juga logis. Jadi bergerak sama dengan diam, sama-sama logis. Apa yang di peroleh dari kenyataan itu? Yang diperoleh adalah berpikir logis tidak menjamin di perolehnya kebenaran yang disepakati.[7]
Pola rasionalisme ini, apabila di terapkan pada epistemologi dalam pemikiran Islam, dalam hal ini termasuk ilmu kalam, tidak peduli terhadap masukan-masukan yang di berikan oleh emperisisme. Dominannya aspek rasionalisme dalam ilmu kalam akhirnya menjadikan pemikiran ini jatuh ke wilayah pemikiran metafisika yang lebih bersifat spekulatif dan melampaui batas-batas kemampuan dan daya serap pikiran manusia biasa. Memang demikian realitas pemikiran kalam klasik. Ia penuh kesamaran. Kondisi ilmu kalam seperti itu sebenarnya bukan hanya di sebabkan objek kajiannya yang lebih metafisik, melainkan juga di sebabkan faktor bahasa yang sulit untuk menjelaskan objek tersebut. Sebagai sebuah pernyataan tentang Tuhan, sudah tentu ia tidak bisa di verifikasi atau di falsifikasi secara objektif dan empiris. Jadi, dalam memahami kitab suci, seseorang cenderung menggunakan standar ganda, yaitu berfikir dalam kapasitas dan berdasarkan pengalaman kemanusiaan yang di arahkan pada suatu objek yang di imani dan berada di luar jangkauan nalar dan inderanya. Dengan ungkapan lain, ia berfikir dalam kerangka iman dan ia beriman sambil mencoba mencari dukungan dari pemikirannya. [8]

2.    Kebenaran Praktis (Empirisme dan Positivisme)
Emperisisme adalah paham filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar ialah yang logis dan memilih bukti empiris. Dalam hal anak panah tersebut, menurut emperisisme, yang benar adalah bergerak. Coba saja perut Anda menghadang anak panah itu, tentu anak panah itu akan menembus perut anda, dan benda yang menembus sesuatu haruslah benda yang begerak. Ya, memang, sesuatu yang diam tidak akan mampu menembus. Dengan emperisisme inilah, aturan (untuk mengatur manusia dan alam) itu di buat. Akan tetapi, ternyata emperisisme masih memiliki kekurangan. Kekurangan emperisisme ialah ia belum terukur. Emperisisme hanya sampai pada konsep-konsep yang umum. Menurut emperisisme, air kopi yang baru di seduh panas, nyala api ini lebih panas, besi yang mendidih ini sangat panaas. Kata emperisisme, kelereng ini kecil, bulan lebi besar, bumi lebih besar lagi, matahari sangat besar. Demikian seterusnya. Emperisisme hanya menemukan konsep yang sifatnya umum. Konsep itu belum operasional karena belum terukur. Jadi, masih diperlukan alat lain. Alat lain itu ialah positivisme. Positivisme mengajarkan bahwa kebenaran ialah yang logis, ada bukti emperisnya, dan terukur. “terukur” inilah sumbangan penting positivism. Jadi, hal panas tersebut oleh air kopi ini 80°C, air mendidih ini 100°C, besi mendidih ini 1.000°C, ini satu meter panjangnya.[9]
3.    Kebenaran Wahyu/Mukasyafah/Musyahadah
Sebagaimana perjalanan Al-Ghazali yang meraih kebenaran dari rasionalisme, emperisisme, kemudian sampai pada tingkat sufi. Rasionalisme saja tidak cukup, dan emperisisme saja tidak cukup karena keduanya bersumber dari akal. Oleh karena itu, diperlukan kebenaran yang hakiki tentang alam dan sang pencipta. Dari sinilah, lahir ilmu laduni.[10]
Untuk menggambarkan pengetahuan ini, para sufi menyebutnya sebagai ilmu laduni, yang mengandaikan pemberian langsung “makna” sesuatu oleh Tuhan kedalam suatu peristiwa apokaliptis yang di sebut “Mukasyafah” (Penyingkapan) atau “Musyahadah” (Penyaksian). Hal ini karena, menurut keyakinan para sufi, yang menyingkapkan kebenaran secara langsung kedalam hati mereka adalah Allah, sedangkan Allah sendiri mereka pandang sebagai “Kebenaran” (Al-Haqq), yang tidak mungkin berbohong. Inlah jaminan kebenaran bagi para sufi yang selalu mendatangkan keyakinan di hati mereka.[11]
Dalam hal ini, telah terjadi identifikasi yang organik antara pengetahuan, yang mengetahui, dan yang di ketahui. Karena seseorang yang sama sekaligus menjadi subjek dan objek. Identifikasi dari subjek dan objek inilah yang bisa mematahkan kritik Kant, sedangkan identifikasi pengetahuan dengan yang di ketahui telah menyebabkan pengetahuan (Knowing) identik dengan kenyataan (Being); atau dengan istilah lain, pikiran (Mind) identik dengan tubuh (Body). Dengan cara inilah, para sufi merasa yakin akan kebenaran dari pengetahuannya.[12]
Mukasyafah adalah salah satu tangga menuju pengetahuan tentang Tuhan, suatu pengetahuan hakikiah. Mukasyafah adalah upaya penyingkapan hijab-hijab yang menutupi diri. Secara esensial, penyingkapan adalah penghancuran tirai yang menutup objek dengan jalan rohani. Tabir dalam rohani terdiri atas dua jenis, yaitu tirai penutup (hijab i rayni) yang tidak mungkin dapat di singkap dan kedua tirai pengabur (hijab i ghayni) yang dapat dicampakkan. Maksudnya ialah bagi orang-orang yang telah sengaja menutup hatinya dari gairah pencairan akan tertutup dan sangat sulit dibuka, sedangkan bagi orang-orang yang terus-terusan berusaha mencari dan membuka hijab itu, hijab itu akan terbuka. Persoalan epistimologi adalah bagaimana cara mencampakkan tirai pengabur (hijab i ghayni) itu?[13]
Tuhan mempunyai dua sisi, yaitu sisi esensi dan sisi eksistensi. Tatkala Tuhan bereksistensilah, Dia dapat dipahami, yaitu tatkala Dia berhubungan dengan selain Dia. Jadi, kita tidak akan dapat mengetahui esensi Tuhan. Tuhan diketahui tatkala Dia berhubungan dengan yang lain, yaitu dalam ciptaan-Nya.[14]
Sistem pengetahuan Mukasyafah berpijak pada asumsi (keyakinan) bahwa Tuhan memancarkan pengetahuan-Nya. Akan tetapi, pengetahuan yang dipancarkan-Nya itu tidak dapat dipahami oleh indra ataupun rasio. Pengetahuan yang dipancarkan-Nya itu hanya dapat dipahami oleh potensi spiritual kita. Indra dan akal rasional itu bukan hanya tidak mampu memahami-Nya, bahkan juga menjadi penghalang (hijab) tatkala potensi spiritual kita berusaha menangkap pengetahuan itu. Oleh karena itu, pada saat penyerapan pengetahuan Tuhan oleh potensi spiritual itu, potensi indra dan rasio dinonaktifkan untuk sementara. Adapun yang harus dilakukan ialah membiarkan potensi spiritual (yaitu hati, qalb) menerima, dan menampung pengetahuan tersebut.[15]
Akan tetapi bagaimana manusia menonaktifkan potensi indra dan akal rasional dan mengaktifkan qalbu-nya? Karena pengetahuan mukasyafah terkait dengan situasi batin tertentu, epistemologinya akan bersifat psikologis, yaitu mengusahakan agar potensi spiritual atau batin itu sanggup membuka diri dan menangkap pengetahuan Tuhan tersebut.[16]

d. Aspek epistemologi menurut klasifikasi ilmu
       Dari epistemologi, lahir berbagai cabang ilmu pengetahuan (sains) yang dikenal sampai sekarang. Secara ekstrem, diakui ada dua jalan yang terbuka bagi manusia untuk memperoleh pengetahuan formal. Pertama, melalui kebenaran yang diwahyukan, yang sesudah diwahyukan dipindahkan dari generasi ke generasi berikutnya.Kedua, pengetahuan yang diperoleh melalui kecerdasan atau akal yang diberikan tuhan yang kemudian disebut dengan istilah al-‘ulum al-aqliyah atau ilmu-ilmu inteklektual.[17]
         Para tokoh islam, seperti Ibnu Sina, Al Ghazali dan Ibn Khaldun menegaskan bahwa ilmu boleh diklasifikasikan pada dua bagian, yaitu ilmu dan ilmu aqli.Sebagian ulama lain membuat klasifikasi ilmu menjadi dua, yaitu ilmu sains fisika dan sains sosial.
        Secara historis, klasifikasi ilmu dapat diliat dari hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan. Filsafat Yunani Kuno yang sebelumnya merupakan suatu kesatuan, kemudian menjadi terpecah-pecah.  Menurut Nuchelmans, mengemukakan bahwa dengan munculnya ilmu pengetahuan alam pada abad ke 17, ilmu pengetahuan identik dengan filsafat. Pendapat tersebut sejalan dengan pemikiran Van Peursen, yang mengemukakan bahwa dulu ilmu merupakan bagian dari filsafat, sehingga definisi tentang ilmu bergantung pada sistem filsafat yang dianut.

D.  Tiga Epistemologi Islam
Menurut Aljabiri terdapat 3 kelompok Epistemologi, yakni Bayani, irfani dan Burhani, Epistemologi sebagai cabang filsafat membahas hakikat pengetahuan, sumber pengetahuan, dan cara memperoleh pengetahuan. [18]
Epistemologi di bedakan dari segi otoritas penentuan kebenaran. Dalam Epistemologi Bayani, otorits kebenarannya ada pada teks diantaranya keilmuan bahasa Arab, Ushul fiqih dan Kalam. Epistemologi Irfani otoritas kebenarannya ada pada Intuisi atau hati. Adapun Epistemologi Burhani berbeda secara khas dari Epistemologi bayani dan irfani, yakni otoritasnya ada pada akal.[19]
Jika sumber ilmu dari corak epistemologi bayani adalah teks, sedangkan irfani adalah pengalaman langsung, epistemologi burhani berssumber pada realitas. Tolak ukur validitas keilmuannya sangat berbeda, bayani bergantung pada pendekatan dan keserupaan teks dan realitas, airfani lebih pada kematangan sosial skill (empati, simpati), burhani menekankan pada korespondensi yakni kesesuaian antara rumus-rumus yang di ciptakan oleh akal manusia dengan hukum alam, dan koherensi (keruntutan dan keteraturan berfikir logis).[20]








BAB III
PENUTUP

            Epistemologi studi islam merupakan asas mengenai cara bagaimana materi pengetahuan diperoleh dan disusun menjadi suatu tubuh pengetahuan yang meliputi sumber dan sarana untuk mencapai ilmu pengetahuan.
            Dalam membangun ilmu yang islami diperlukan beberapa aspek yang menunjangnya, yakni aspek epistemologi menurut sumber ilmu (akal, panca indera, intuisi, dan wahyu), aspek epistemologi menurut validitas ilmu membuktikan kebenaran ilmu pengetahuan yang dilandasi oleh Al Qur’an dan hadis, aspek epistemologi menurut metode menuju kebenaran ditunjang dengan 3 kebenaran teoritis (rasionalisme), praktis (empirisme & positivisme), kebenaran wahyu.
Selain itu juga terdapat tiga epistemologi islam, yakni bayani, irfani, dan burhani.
















DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu: Mengurai Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Pengetahuan, Bandung: Rosdakarya, 2009, cet ke-4
Dedi Supriyadi, Filsafat Agama, Bandung: CV Pustaka Setia, 2012
Dedi Supriyadi, Pengantar Filsafat Islam Bandung: Pustaka Setia, 2010, cet ke-1
Muhammad Taqi Mishbah Yazdi,  Buku Daras Filsafat Islam Bandung: Mizan Media Utama, 2003
Mulyadi Kartanegara, Menyelami Lubuk Tasawuf, Jakarta: Erlangga, 2006
Suparman Syukur, Epistemologi Islam Skolastik, Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2007


[1]Dedi Supriyadi, Filsafat Agama, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2012), h. 42
[2]Ibid, h. 43
[3]Suparman Syukur, Epistemologi Islam Skolastik, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2007), h.207
[4]Muhammad Taqi Mishbah Yazdi,  Buku Daras Filsafat Islam (Bandung: Mizan Media Utama, 2003) h. 145
[5]Ibid,
[6]Ibid
[7]Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu: Mengurai Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Pengetahuan, (Bandung: Rosdakarya), 2009, cet ke-4, h.30
[8]Dedi Supriyadi, Pengantar Filsafat Islam (Bandung: Pustaka Setia), 2010, cet ke-1, h.107
[9]Ahmad Tafsir, Opcit, h.32
[10]Dedi Supriyadi, Opcit, h.108
[11]Ibid, h.109
[12]Mulyadi Kartanegara, Menyelami Lubuk Tasawuf, (Jakarta: Erlangga), 2006, h.139
[13]Dedi Supriyadi, Opcit, h.109
[14]Ibid, h.110
[15]Ibid, h.111
[16]Ibid, h.111
[17]Dedi Supriyadi, Pengantar Filsafat Islam, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2010), h. 66-67
[18]Dedi Supriyadi, Loc cit, h.57
[19]Ibid
[20]Ibid

Tidak ada komentar: