TUGAS
TERSTRUKTUR DOSEN
PENGASUH
Pedalaman
Materi PAI Prof. Dr.
H. Mahyuddin Barni,
M. Ag
Dr. Hairul Hudaya, M. Ag
AKIDAH AKHLAK
KELAS V SEMESTER II MADRASAH IBTIDAIYAH
MENGHINDARI SIFAT KIKIR DAN SERAKAH
DAN KISAH QARUN
Oleh :
SRI WAHYUNITA :
1502521475
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI
PROGRAM
PASCASARJANA
PRODI
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
BANJARMASIN
2016
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Standar
Kompetensi
1. Menghindari
Akhlak Tercela
B.
Kompetensi
Dasar
1.1 Membiasakan
diri untuk menghindari sifat kikir dan serakah melalui kisah Qarun
C.
Indikator
1. Menjelaskan
pengertian kikir dan serakah
2. Menyebutkan
ciri-ciri orang yang kikir dan serakah
3. Menyebutkan
akibat dari sifat kikir dan serakah
4. Menjelaskan
cara menghindari sifat kikir dan serakah
5. Menyebutkan
sifat-sifat tercela Qarun
D.
Tujuan
Pelajaran
1.
Siswa dapat menjelaskan
pengertian kikir dan serakah
2.
Siswa dapat menyebutkan
ciri-ciri orang yang kikir dan serakah
3.
Siswa dapat menyebutkan
akibat dari sifat kikir dan serakah
4.
Siswa dapat menjelaskan
cara menghindari sifat kikir dan serakah
5.
Siswa dapat menyebutkan
sifat-sifat tercela Qarun
BAB II
PEMBAHASAN
A. Materi Pokok
AKHLAK
TERCELA
Kekuasaan
yang tak terbatas hanyalah milik Allah SWT semata. Zat yang berhak sombong
hanyalah Allah SWT. Sebagai orang beriman, kita wajib tunduk dan patuh kepada
perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Apabila
manusia melanggar apa yang dilarang Allah SWT. Maka azab Allah SWT pasti akan
menimpanya. Banyak contoh kisah dalam Al-Qur’an tentang orang-orang yang
durhaka dan menentang kekuasaan-Nya, sehingga mereka menerima azab yang pedih
dari Allah SWT.
1.
Kikir
Kikir merupakan lawan dari dermawan. Kikir sama dengan bakhil.
Kikir adalah rasa enggan atau tidak mau memberikan sebagian dari miliknya
kepada orang lain. Karena ingin memiliki seluruhnya. Misalnya, pak jono dikenal
sebagai orang kaya di kampungnya. Namun, ia tidak pernah bersedekah karena
khawatir hartanya berkurang.
Allah SWT berfirman sebagai berikut :
Artinya :
“Dan adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup
(tidak perlu pertolongan) serta mendustakan (pahala) yang terbaik. Maka akan
kami mudahkan baginya jalan menuju kesukaran (kesengsaraan) dan hartanya tidak
bermanfaat baginya apabila telah binasa.” (Q.S. Al-lail: 8-11)
Allah SWT melarang kita mempunyai sifat kikir atau bakhil, karena
sifat kikir akan berakibat tidak baik. Akibat dari sifat kikir atau bakhil
antara lain:
a.
Akan
terjerumus ke dalam perbuatan dosa.
b.
Membuat
seseorang menjadi sombong, congkak dan cinta dunia yang berlebihan
c.
Akan
di jauhi teman
d.
Dibenci
oleh Allah SWT dan manusia.
e.
Akan
menemui kesukaran pada akhirnya.
Ada kebiasaan yang dapat kita
tanamkan untuk menghindari sifat kikir. Kebiasaan itu adalah:
a.
Mengingat-mengingat
bahwa harta yang kita miliki adalah titipan Allah SWT.
b.
Mengingat
akibat buruk yang timbul dari sifat kikir, misalnya mendapat kesukaran dari
Allah SWT dan di jauhi teman.
c.
Membiasakan
diri memberi kepada orang lain walaupun sedikit.
d.
Melihat
kehidupan orang miskin yang serba kekurangan.
e.
Mengingat
pahala yang di dapat apabila kita bersifat dermawan.
f.
Sadar
bahwa harta benda tidak akan kekal dan
dibawa mati.
Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk berdo’a kepada Allah SWT.
Agar terhindar dari sifat kikir atau bakhil. Di antara doa memohon perlindungan
dari sifat kikir atau bakhil adalah :
اَ
للَّÙ‡ُÙ…َّ اِÙ†ِّÙŠْ اَعُÙˆْذُ بِÙƒَ Ù…ِÙ†َ الْÙƒَسَÙ„ِ Ùˆَ اَعُÙˆْذُ بِÙƒَ Ù…ِÙ†َ الْجُبْÙ†ِ
ÙˆَاَعُÙˆْذُ بِÙƒَ Ù…ِÙ†َ الْÙ‡َرِÙ…ِ ÙˆَاَعُÙˆْذُ بِÙƒَ Ù…ِÙ†َ الْبُØْÙ„ِ
Artinya:
“Ya Allah SWT. Aku berlindung
kepada-Mu dari sifat malas, pengecut, usia tua (pikun), dan dari sifat bakhil
(kikir).”
InsyaAllah jika kita memiliki sifat dermawan, rezeki dari Allah SWT
akan terus mengalir. Sebaliknya, jika kita memiliki sifat kikir, Allah SWT akan
memberikan kesukaran pada kita.
2.
Serakah
Salah satu bentuk akhlak tercela yang lain adalah serakah atau
tamak. Serakah artinya selalu ingin memiliki lebih dari yang sudah dimiliki.
Orang yang serakah ingin memiliki harta sebanyak-banyaknya dengan cara
bagaimanapun juga tidak peduli halal atau haram. Orang itu selalu ingin
memiliki harta orang lain secara tidak wajar, misalnya menipu, korupsi,
mencuri, merampok, berbuat curang, memfitnah, mengurangi timbangan, mengadu
domba, dan yang lainnya, agar orang lain bangkrut dalam usahanya. Sehubungan
dengan hal tersebut Nabi SAW bersabda yang artinya: “Serakah adalah akar
pangkal tindak kejahatan”
Seseorang yang telah terjangkit sifat serakah biasanya juga kikir
atau bakhil. Ia beranggapan bahwa harta yang ia peroleh dengan susah payah
mengapa harus di berikan kepada orang lain. Oleh sebab itu, orang yang memiliki
sifat serakah enggan membayar zakat dan bersedekah. Orang yang miskin tidak
perlu diberi sebab hal tersebut membuat mereka malas untuk bekerja, demikian
kata mereka.
Orang yang tamak seperti itu tidak akan mendapat berkah dan ridha
dari Allah SWT. Sebaliknya ia akan mendapat siksa dan azab dari Allah SWT.
Rasulullah SAW melarang umatnya bersikap tamak, sebagaimana di terangkan dalam
hadisnya:
Ù†َÙ‡َÙ‰
رَسُÙˆْÙ„ُ اللهِ صَÙ„َّÙ‰ اللُÙ‡ عَÙ„َÙŠْÙ‡ِ Ùˆَ سَÙ„َّÙ…َ عَÙ†ِ الطَّÙ…َعِ
Artinya:
“Rasulullah SAW melarang untuk bersifat tamak”
Rasulullah melarang sifat serakah atau tamak karena pada umumnya
orang yang bersifat serakah atau tamak hidupnya tidak beruntung. Namun sebaliknya,
ia akan mendapat keburukan dan kesengsaraan. Akibat buruk dari sifat serakah
antara lain:
a.
Jatuhnya
martabat selaku hamba Allah SWT
b.
Dapat
melalaikan kewajiban kepada Allah SWT
c.
Dapat
merusak kerukunan dan kedamaian.
d.
Hidupnya
tidak tenang karena tidak pernah merasa puas dengan apa yang dimiliki.
e.
Mendapat
siksa dan azab dari Allah SWT
Adapun ciri-ciri orang yang serakah antara lain: tidak mau berbagi
atau pelit, selalu menginginkan bagian paling banyak., rakus terhadap dunia,
tidak peduli terhadap kepentingan dan penderitaan orang lain.
Adapun beberapa hal yang dapat dilakukan agar terhindar dari sifat
serakah atau tamak, di antaranya:
a.
Membiasakan
diri mensyukuri setiap pemberian Allah SWT dan manusia.
b.
Menanamkan
dalam hati sifat Qanaah (Rela dengan pemberian Allah SWT)
c.
Tidak
membanding-bandingkan nikmat yang dimiliki orang lain dengan diri sendiri
d.
Tidak
melupakan kehidupan akhirat yang lebih kekal atau abadi.
3.
Kisah
Qarun
Pada zaman Nabi Musa AS, hidup seseorang yang bernama Qarun. Qarun
adalah keturunan Bani Israil, ia dilahirkan di Mesir. Pada mulanya Qarun adalah
pengikut Nabi Musa AS yang setia dan taat beribadah. Tapi setelah hartanya
bertambah banyak, ia mulai malas beribadah karena sibuk mengurusi harta. Pada
saat hartanya semakin berlimpah, Qarun pun melupakan Tuhannya, bahkan menentng
Nabi Musa AS. Tingkah laku Qarun sangat berbeda ketika ia belum menjadi orang
kaya.
Qarun memiliki banyak rumah yang dibangun dengan mewah dan
besar-besar. Ia selalu memakai pakaian yang bagus dan mahal harganya. Ia
mempunyai banyak pelayan yang selalu siap melayani semua keinginanya.
Tapi sayang, Qarun mempunyai sifat sombong. Ia hidup berfoya-foya.
Ia suka memamerkan kekayaannya kepada orang lain. dengan hartanya yang
melimpah, ia bukannya suka menolong orang lain, malah tidak mau bersedekah,
suka memeras dan mencelakakan orang lain.
Dengan kekayaannya yang berlimpah, ia merasa berkuasa. Dan
kekuasaanya itu digunakan untuk bertindak sewenang-wenang, membuat
kerusakan-kerusakan hanya untuk memuaskan hatinya.
Qarun lupa bahwa harta yang di milikinya adalah karunia dari Allah
SWT. Ia tidak pernah mengenal Tuhannya lagi dan tidak pernah mau bersyukur
kepada-Nya. Kalau ada orang yang mencoba menasehatinya, agar ia selalu ingat
dan bersyukur kepada Allah SWT, ia tidak mau mendengarkan. Ia berkata dengan
sombong, “Saya mendapatkan harta ini dengan kerja keras, bukan Tuhan yang
memberi.”.
Ketika Nabi Musa menghimbau untuk mengeluarkan Zakat , dan
membagi-bagikannya kepada fakir miskin, Qarun tersinggung dan marah. Ia
berfikir bahwa dengan membayar zakat, hartanya akan berkurang. Ia malah menuduh
Nabi Musa sebagai orang yang iri kepadanya dan ingin memerasnya.
Qarun sangat benci kepada Nabi Musa AS, karena di anggap selalu
mengganggu ketenangan hidupnya. Di sebabkan kebencian tersebut, Qarun selalu
berusaha membuat malu dan menyingkirkan Nabi Musa AS dari kaumnya.
Suatu ketika Qarun menyuruh seorang wanita muda untuk mengaku telah
berzina dengan Nabi Musa AS, dengan janji akan diberi upah yang besar. Pada mulanya
wanita muda itu mau melaksanakan keinginan Qarun, sehingga dengan cepat
tersebar berita bahwa Nabi Musa AS telah berzina.
Dengan ujian ini, Nabi Musa AS tetap bersabar dan selalu berdo’a
semoga Allah SWT. Membuka hati wanita muda tadi untuk mengakui kebohongannya.
Do’a Nabi Musa AS dikabulkan oleh Allah SWT. Wanita tersebut mau mengakui bahwa
yang dilakukan selama ini adalah kebohongan semata. Ia melakukan kebohongan itu
karena tergiur atas hadiah yang ditawarkan oleh Qarun. Dengan pengakuan wanita
itu, maka selamatlah Nabi Musa AS dari tipu daya Qarun dan sebaliknya Qarun
mendapat malu atas kebohongan yang dilakukan.
Setelah Nabi Musa AS tidak mempunyai harapan lagi untuk memperbaiki
pendirian Qarun yang tersesat, beliau berdo’a kepada Allah SWT agar Qarun dan
pengikutnya diberi peringatan dan pelajaran, karena perbuatannya sudah sangat
jauh menyimpang dari tuntunan agama.
Do’a Nabi Musa dikabulkan Allah SWT. Tiba-tiba, tanah di sekitar
istana dan gudang-gudang harta Qarun bergoncang dengan hebatnya, lalu pecah dan
retak. Semakin lama goncangan terjadi, semakin lebar dan dalam pula keretakan
yang di timbulkan. Kaki Qarun terpeleset sampai lutut, begitu juga kaki para
pelayannya. Mereka menjerit-jerit minta tolong kepada Nabi Musa, mereka ingin
bertobat dan berjanji akan menjadi pengikut Nabi Musa. Sayang sekali tobat
mereka terlambat. Allah sudah menutup pintu tobat untuk mereka.
Akhirnya, Qarun dan para pembantunya serta seluruh harta
kekayaannya terbenam ditelan bumi. Tidak ada seorang pun yang bisa menolong
Qarun. Qarun mati tenggelam bersama harta yang selalu di banggakannya.
Qarun adalah contoh orang yang sombong, kikir, serakah dan tidak
mau bersyukur kepada Allah SWT. Peristiwa ini di abadikan Allah dalam Al-Qur’an
surah Al-Qasash ayat 81:
Artinya:
“Maka kami benamkan dia (Qarun) beserta rumahnya kedalam bumi. Maka
tidak ada baginya satu golongan pun yang menolongnya selain Allah SWT. Dan dia
tidak termasuk orang-orang (yang dapat) membela diri.” (Q.S Al-Qasash: 81)
Demikianlah kisah kedurhakaan Qarun terhadap kekuasaan Allah SWT.
Sebagai seorang yang beriman, kita harus menghindari apa yang diperbuat Qarun
karena kekuasaan hanyalah milik Allah SWT semata. Tidak sepantasnya kita
menyombongkan diri di hadapan Allah SWT. Jangan sampai Allah SWT menurunkan
azab yang sangat pedih karena kelalaian kita.
B.
Penilaian
LEMBAR PENILAIAN PROSES
PEMBELAJARAN AKIDAH AKHLAK TENTANG
AKHLAK TERCELA
1.
Penilaian Sikap
Tanggal : ………………………………..
|
No
|
Nama
Siswa
|
Aspek
yang di amati
|
Skor
|
Nilai
|
|||
|
Keaktifan
|
Penuh
perhatian
|
Berinisiatif
|
Kerjasama
|
||||
|
1
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4
|
|
|
|
|
|
|
|
Keterangan
:
Kolom
aspek yang di amati di isi dengan angka yang sesuai dengan kriteria berikut.
Ø Skor
5 : Sangat Baik
Ø Skor
4 : Baik
Ø Skor
3 : Cukup
Ø Skor
2 : Kurang
Ø Skor
1 : Sangat kurang
Skor merupakan jumlah dari skor
masing-masing aspek perilaku
Penilaian dapat dilakukan dengan
kriteria sebagai berikut
Skor minimum : 4 x 1 = 4
Skor maksimum : 4 x 5 = 20
Kategori penilaian : 4
Kolom keterangan dapat diisi dengan
:
· Amat
baik : bila jumlah skor 17-20
· Baik
: bila jumlah skor
14-16
· Cukup
: bila jumlah skor 11-13
· Kurang : bila jumlah skor 8-10
· Sangat
kurang : bila jumlah skor 4-7
2.
Penilaian Kognitif
a.
Tugas Individu
Carilah
kisah teladan tentang orang yang bersifat kikir! Ambillah hikmah dari kisah tersebut! Tulis
hasilnya pada buku tugasmu kemudian kumpulkan kepada gurumu!
b.
Tugas Kelompok
Carilah
ayat-ayat yang berhubungan dengan kikir dan serakah di berbagai sumber kemudian
tulislah ayat-ayat tersebut pada selembar kertas, kemudian kumpulkan hasilnya
kepada gurumu!
c.
Ulangan harian
·
Pilihan ganda
1)
Kekuasaan Allah bersifat …
a)
Sementara
b)
Fana
c)
Tak terbatas
d)
Baik
2)
Akhlak tercela disebut juga …
a)
Akhlakul Karimah
b)
Akhlakul Mazmumah
c)
Akhlakul Mahmudah
d)
Akhlakul Hasanah
3)
Rasa enggan atau tidak mau
memberikan sebagian hartanya untuk orang lain yang membutuhkan disebut …
a)
Serakah
b)
Kikir
c)
Qanaah
d)
Demawan
4)
Pak Agus adalah orang yang paling
kaya di desanya. Dia tak pernah memberikan uangnya untuk membantu orang lain
karena khawatir hartanya akan berkurang. Pak agus memiliki sifat …
a)
Serakah
b)
Qanaah
c)
Kikir
d)
Dermawan
5)
Kikir termasuk perilaku …
a)
Terpuji
b)
Tercela
c)
Harus diteladani
d)
Menyesatkan
6)
Lawan dari sifat kikir adalah …
a)
Dermawan
b)
Qanaah
c)
Tawakkal
d)
Tamak
7)
Seseorang bersifat kikir karena …
a)
Takut berdosa
b)
Ingin berbagi
c)
Takut hartanya berkurang
d)
Rakus
8)
Allah SWT … orang kikir.
a)
Mencintai
b)
Menyayangi
c)
Mengampuni
d)
Membenci
9)
Salah satu akibat dari sifat kikir
yaitu …
a)
Harta menjadi bertambah
b)
Mendapatkan banyak pertolongan
c)
Terjerumus kedalam perbuatan dosa
d)
Dikelilingi banyak teman
10)
Kebiasaan yang harus kita tanamkan
untuk menghindari sifat kikir yaitu …
a)
Membiasakan diri bersedekah
b)
Cinta dunia dengan berlebihan
c)
Menghindari fakir miskin
d)
Berfoya-foya
11)
Sifat ingin memiliki sesuatu secara
berlebihan disebut …
a)
Pesimis
b)
Bergantung
c)
Kikir
d)
Serakah
12)
Orang yang serakah hidupnya tidak
akan …
a)
Susah
b)
Tenang
c)
Sedih
d)
Sengsara
13)
Nama lain serakah adalah …
a)
Tamak
b)
Bakhil
c)
Tawakkal
d)
Kikir
14)
Di bawah ini yang bukan
termasuk tindakan orang serakah untuk menguasai harta orang lain adalah …
a)
Merampas
b)
Menipu
c)
Korupsi
d)
Membeli
15)
Ciri-ciri orang yang serakah antara
lain …
a)
Tidak mau berbagi atau pelit
b)
Sering bersedekah
c)
Mensyukuri nikmat Allah SWT
d)
Selalu memberikan pertolongan
kepada orang yang membutuhkan
16)
Sifat serakah akan mendorong
seseorang melakukan tindakan …
a)
Kebaikan
b)
Ketakwaan
c)
Kemanfaatan
d)
Kejahatan
17)
Di bawah ini yang tidak
termasuk akibat buruk dari sifat serakah adalah …
a)
Jatuhnya martabat selaku hamba
Allah SWT
b)
Dapat merusak kerukunan dan
kedamaian
c)
Hidupnya tidak tenang
d)
Menambah harta kekayaan.
18)
Membiasakan diri mensyukuri setiap
pemberian Allah SWT adalah salah satu hal yang dapat dilakukan agar terhindar
dari sifat …
a)
Malas
b)
Pelit
c)
Putus asa
d)
serakah
19)
Qarun hidup pada zaman Nabi …
a)
Muhammad SAW
b)
Musa AS
c)
Isa AS
d)
Ibrahim AS
20)
Pada awalnya Qarun adalah orang
yang …
a)
Rajin beribadah
b)
Suka menabung
c)
Malas bersedekah
d)
Sangat sombong
21)
Qarun adalah contoh orang yang
bersifat …
a)
Dermawan
b)
Kaya raya
c)
Qanaah
d)
Kikir dan Serakah
22)
Qarun menganggap bahwa harta yang
di milikinya …
a)
Bersifat kekal
b)
Akan habis
c)
Akan binasa
d)
Akan hancur
23)
Dengan harta yang melimpah, Qarun
menjadi … bersedekah.
a)
Rajin
b)
Ikhlas
c)
Sering
d)
Enggan
24)
Allah SWT memberikan azab kepada
Qarun dengan cara …
a)
Memberikannya harta yang lebih
banyak
b)
Di tenggelamkan ke dasar laut
c)
Membenamkan kedalam tanah bersama
dengan hartanya
d)
Mendatangkan angin kencang
25)
Cerita Qarun di abadikan dalam Al
Qur’an pada surah …
a)
Al-Lail ayat 8
b)
Al-Baqarah ayat 18
c)
Al-Qasash 81
d)
At-Taubah 88
·
Isilah titik-titik di bawah ini
dengan jawaban yang benar
1)
Harta yang kita miliki adalah
titipan …..
2)
Lawan dari sifat kikir adalah …..
3)
Bagi orang kikir, Allah SWT akan
memberikan jalan baginya menuju …..
4)
Orang yang kikir akan terjerumus
dalam perbuatan …..
5)
Sifat kikir dapat mendorong orang
menjadi …..
6)
Ciri orang serakah di antaranya
adalah …..
7)
Orang yang serakah selalu
menginginkan bagian yang paling …..
8)
Qarun adalah keturunan ….
9)
Setelah kaya raya, Qarun bersifat
…..
10)
Qarun adalah orang yang durhaka
kepada …..
·
Jawablah pertanyaan-pertanyaan di
bawah ini dengan uraian yang jelas dan tepat!
1)
Apa
yang dimaksud dengan kikir? Sertakan contohnya dalam kebiasaan
sehari-hari!
2)
Sebutkan kebiasaan yang bisa kita
lakukan agar terhindar dari sifat kikir!
3)
Sebutkan ciri-ciri orang serakah!
4)
Tuliskan hadis yang melarang kita
bersifat serakah!
5)
Apa yang menyebabkan Qarun menjadi
malas beribadah?
d.
Perbaikan
1)
Tulislah kembali kisah Qarun yang
kikir dan serakah pada selembar kertas lalu kumpullah tugas tersebut pada guru
mu!
BAB III
ANALISIS
A.
Analisis Pedalaman Materi
Materi pelajaran merupakan bagian yang penting dalam proses belajar
mengajar, yang menempati kedudukan yang menentukan keberhasilan belajar
mengajar yang berkaitan dengan ketercapaian tujuan pengajaran. Karena itu,
perencanaan materi pelajaran perlu mendapat pertimbangan secara cermat. Sebagai
acuan, materi pelajaran di klasifikasikan dalam tiga bidang, yakni pengetahuan,
afektif dan keterampilan[1].
Materi pelajaran pada hakikatnya pastilah berada di ruang lingkup
isi kurikulum. Karena itu pemilihan materi pelajaran tentu saja harus sejalan
dengan ukuran-ukuran (kriteria) yang digunakan untuk memilih isi kurikulum
bidang studi yang bersangkutan. Sebagai gambaran, dapat dilihat pada bagan di
bawah ini[2].
|
Kriteria
|
Sasaran
|
|
a.
Akurat
dan up to date
|
Sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan penemuan-penemuan
baru dalam bidang teknologi.
|
|
b.Kemudahan
|
Untuk memahami prinsip, generalisasi, dan memperoleh data.
|
|
c.
Kerasionalan
|
Mengembangkan kemampuan berfikir rasional, bebas dan logis.
|
|
d.
Essensial
|
Untuk mengembangkan moralitas penggunaan pengetahuan.
|
|
e.
Kemaknaan
|
Bermakna bagi siswa dan perubahan sosial bahan sosial.
|
|
f.
Keberhasilan
|
Merupakan ukuran keberhasilan untuk mempengaruhi tingkah laku
siswa.
|
|
g.Keseimbangan
|
Mengembangkan pribadi siswa secara seimbang dan menyeluruh
|
|
h.Kepraktisan
|
Mengarahkan
tindakan sehari-hari dan untuk pelajaran berikutnya
|
Kriteria pemilihan materi pelajaran yang akan di kembangkan dalam
sistem instruksional dan yang mendasari penentuan strategi belajar-mengajar
yakni[3]:
1.
Kriteria
tujuan intruksional
2.
Materi
pelajaran supaya terjabar
3.
Relevan
dengan kebutuhan siswa
4.
Kesesuaian
dengan kondisi masyarakat
5.
Materi
pelajaran mengandung segi-segi etik
6.
Materi
pelajaran tersusun dalam ruang lingkup dan urutan yang sistematik dan logis
7.
Materi
pelajaran bersumber dari buku sumber yang baku, pribadi guru yang ahli dan
masyarakat.
Pada materi akhlak tercela kelas V semester II Madrasah Ibtidaiyah,
terdapat pengulangan bahasan yakni sama-sama membahas tentang kikir dan
serakah, yang terdapat pada kelas V semester I dan pada kelas III semester I,
dan bahkan bahan ajaran yang ada di kelas V semester I sama-sama menampilkan
kisah Qarun sebagai contoh tokoh nya. Meskipun materi yang terdapat di kelas
III semester I agak sempit, dan
pembahasan di kelas V semester II lebih luas, namun pembahasan sub bab
yang selalu sama seolah-olah materi akhlak tercela bersifat statis dan tak
berkembang. Setidaknya dalam penggambaran tokoh, harusnya juga di sertai contoh
lain yang lebih up to date sesuai dengan perkembangan zaman atau bisa juga
tokoh di perbaharui sehingga tidak meninggalkan kesan yang itu itu saja di
pemikiran anak. Mengingat anak yang jujur dan kritis, dalam menghadapi materi pelajaran yang sama kita sebagai guru
yang bijak sebaiknya ikut andil dalam
pengembangan materi demi perbaikan pembelajaran yang berkualitas.
B.
Analisis Materi dengan SK dan KD
Standar
Kompetensi yaitu kemampuan minimal yang harus di capai setelah anak didik
menyelesaikan suatu mata pelajaran tertentu pada setiap jenjang pendidikan yang
di ikutinya, sedangkan Kompetensi Dasar yaitu kemampuan minimal yang harus di
capai peserta didik dalam penguasaan konsep atau materi pelajaran yang
diberikan dalam kelas pada jenjang pendidikan tertentu[4].
Standar
Kompetensi dan Kompetensi Dasar merupakan arah dan landasan untuk mengembangkan materi pokok,
kegiatan pembelajaran, dan Indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian.
Sedangkan dalam merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian perlu
memperhatikan standar proses dan standar penilaian[5].
Dalam
kaitannya dengan KTSP, Depdiknas telah menyiapkan Standar Kompetensi (SK)
berbagai mata pelajaran, untuk dijadikan acuan oleh para pelaksana (guru) dalam
mengembangkan KTSP pada satuan pendidikan masing-masing[6].
Dengan
demikian, tugas utama guru dalam KTSP adalah menjabarkan, menganalisis,
mengembangkan indikator, dan menyesuaikan SKKD dengan karakteristik dan
perkembangan peserta didik, situasi dan kondisi sekolah, serta kondisi dan
kebutuhan daerah. Selanjutnya mengemas hasil analisis terhadap SKKD tersebut
kedalam KTSP[7].
Jika
dilihat keterkaitan nya dengan SK dan KD, materi akhlak tercela sudah sesuai
dan tidak menyimpang dari acuan yang di standarkan. Tidak ada penambahan materi
yang tidak sesuai dengan SK dan KD yang telah di tentukan.
C.
Analisis Materi, Indikator dan Tujuan Pembelajaran
Indikator adalah perilaku yang dapat di ukur dan /atau di observasi
untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan
penilaian mata pelajaran. Sehubungan dengan itu, dalam bagian ini di kemukakan
daftar kata-kata operasional yang dapat di gunakan untuk indikator kompetensi[8].
Daftar
Kata-kata Operasional untuk Indikator:
|
No
|
Aspek
|
Kompetensi
|
Indikator Kompetensi
|
|
01
|
Kognitif
|
Knowledge (Pengetahuan)
|
Menyebutkan, menuliskan, menyatakan, mengurutkan,
mengidentifikasi, mendefinisikan, mencocokkan, member nama, memberi label,
melukiskan.
|
|
Comprehension (Pemahaman)
|
Menerjemahkan, mengubah, menggeneralisasi, menguraikan,
menuliskan kembali, merangkum, membedakan, mempertahankan, menyimpulkan,
mengemukakan pendapat, dan menjelaskan.
|
||
|
Application (Penerapan)
|
Mengoperasikan, menghasilkan, mengubah, mengatasi, menggunakan,
menunjukkan, mempersiapkan, dan menghitung.
|
||
|
Analysis
(Analisis)
|
Menguraikan, membagi, memilih dan membedakan.
|
||
|
Synthesis
(Sintesis)
|
Merancang, merumuskan, mengorganisasikan, menerapkan, memadukan,
dan merencanakan.
|
||
|
Evaluation
(Evaluasi)
|
Mengkritisi, menafsirkan, mengadili dan memberikan evaluasi.
|
||
|
02
|
Afektif
|
Receiving (Penerimaan)
|
Mempercayai, memilih, mengikuti, bertanya, dan mengalokasikan.
|
|
Responding
(menanggapi)
|
Konfirmasi, menjawab, membaca, membantu, melaksanakan,
melaporkan, dan menampilkan.
|
||
|
Valuing
(Penanaman nilai)
|
Menginisiasi, mengundang, melibatkan, mengusulkan, dan melakukan.
|
||
|
Organization
(Pengorganisasian)
|
Memverifikasi, menyusun, menyatukan, menghubungkan, mempengaruhi
|
||
|
Characterization
(Karakterisasi)
|
Menggunakan nilai-nilai sebagai pandangan hidup, mempetahankan
nilai-nilai yang sudah diyakini.
|
||
|
03
|
Psychomotor
Gerak jiwa
|
Observing
(Pengamatan)
|
Mengamati proses, memberi perhatian pada tahap-tahap sebuah
perbuatan, memberi perhatian pada tiap-tiap artikulasi.
|
|
Imitation
(Peniruan)
|
Melatih, mengubah, mnggunakan sebuah model.
|
||
|
Practicing
(Pembiasaan)
|
Membiasakan perilaku yang telah dibentuknya, mengontrol kebiasaan
agar tetap konsisten.
|
||
|
Adapting
(Penyesuaian)
|
Menyesuaikan model, mengembangkan model, dan menerapkan model.
|
Tujuan
pembelajaran ini erat kaitannya dengan pertanyaan “apa tujuan yang akan di
capai”. Dengan demikian tujuan pembelajaran mengarahkan siswa kepada sasaran
yang akan di capai. Sebaliknya, tujuan pembelajaran juga menjadi pedoman bagi
pengajar untuk menentukan sasaran pembelajaran siswa, sehingga setelah siswa
mempelajari pokok bahasan yang di ajarkan, mereka dapat memiliki kemampuan yang
telah di tentukan sebelumnya[9].
Dalam menentukan tujuan juga harus operasional, artinya tidak
mengambang dan terlalu luas, agar dapat di ukur dan dinilai. Di samping itu
juga spesifik, artinya mempunyai kekhususan tertentu sehingga siswa dapat
mengenalinya secara gamblang[10].
Prinsip suatu tujuan (Objectives); yaitu suatu maksud yang di
komunikasikan melalui suatu pernyataan yang melukiskan perubahan tingkah laku
yang di harapkan dalam diri siswa setelah menyelesaikan suatu kegiatan belajar
tertentu[11].
Antara materi indikator dan tujuan pembelajaran sepertinya sudah
sesuai dan tidak menyimpang dari acuan, namun alangkah baiknya jika ada
pengembangan tersendiri dari guru dan tidak hanya terpaku pada indikator dan tujuan
yang sudah tertera.
D.
Analisis Materi dengan Evaluasi
Evaluasi hasil belajar dapat dikatakan terlaksana dengan baik
apabila dalam pelaksanaannya senantiasa berpegang pada tiga prinsip dasar
berikut ini: (1) Prinsip keseluruhan, (2) Prinsip Kesinambungan, dan (3)
Prinsip Obyektivitas[12].
Evaluasi belajar mengajar merupakan bagian integral dalam proses
pendidikan. Karena itu harus dilakukan oleh setiap guru sebagai bagian
dari tugasnya. Secara umum evaluasi di
maksudkan untuk melihat sejauh mana kemajuan belajar para siswa dalam program
pendidikan yang telah dilaksanakannya. Untuk itu diperlukan alat evaluasi yang
di susun menurut langkah kerja tertentu. Tak hanya evaluasi yang menyentuh
ranah kognitif, tapi juga harus
menyentuh ranah afektif dan psikomotorik. Di harapkan dengan adanya evaluasi
tersebut, guru dapat memperoleh umpan balik dalam rangka memperbaiki proses
belajar mengajar berikutnya.
E.
Kesesuaian Materi dengan Psikologi Anak
Jika
orang dewasa belajar dengan berusaha mencapai tujuannya yang di luar aktivitas
itu, sedang anak kecil belajar dengan mencapai tujuannya yang terletak dalam
aktivitas itu. Artinya, dengan aktivitas belajarnya yang khusus si anak
merasakan kegembiraan. Kegembiraan itulah tujuan yang akan di capai oleh si
anak. Karena itu menangislah seorang anak yang tidak mendapatkan kesempatan
untuk melakukan aktivitas yang diinginkan[13].
Di
dalam belajar, si anak memerlukan bantuan dari benda sebagai alatnya, sedang
orang dewasa belajar tidak selalu memerlukan benda-benda. Inilah sebabnya anak Learning
by doing, sedang orang dewasa dikatakan Learning by thinking. Hal
ini di karenakan anak masih hidup di dalam dunia konkret, dunia nyata. Sedang
orang dewasa sudah dapat meninggalkan dunia nyata ke dunia abstrak, atas
bantuan kemampuan berpikirnya[14].
Salah satu
kendala dalam penanaman norma-norma kesusilaan dan agama yaitu bentuk masalahnya
yang abstrak, sedang anak masih hidup dalam tingkat berfikir konkret. Di satu
sisi ia senang sekali menirukan perbuatan yang baru, yang ia belum dapat melakukannya.
Dalam hal seperti ini, di samping materi yang tertera dalam buku, guru mesti
lebih memberikan wawasan yang lebih luas lagi penjabaran yang lebih menarik
lagi dan pendekatan yang lebih luwes lagi, agar bisa mengarahkan cara berfikir
anak agar tercapai standar kompetensi yang di inginkan.
BAB IV
PENUTUP
Pendidikan Akidah Akhlak adalah upaya sadar dan terencana dalam
menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati dan mengiamani
Allah SWT, dan merealisasikannya dalam perilaku akhlak mulia dalam kehidupan
sehari – hari melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, penggunaan
pengalaman dan kebiasaan. Dalam kehidupan masyarakat yang majemuk dalam bidang
keagamaan, pendidikan ini juga diarahkan pada peneguhan akidah di satu sisi dan
peningkatan toleransi serta saling menghormati dengan penganut agama lain dalam
rangka mewujudkan kesatuan dan persatuan bangsa.
Pemberian materi akidah akhlak di harapkan dapat mengembangkan
ranah kognitif yakni pola pikir anak, ranah afektif yakni pola karakter anak
dan ranah psikomotor yakni pembiasaan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.
Pada Materi akhlak tercela kelas V semester II Madrasah Ibtidaiyah,
terdapat pengulangan bahasan yakni sama-sama membahas tentang kikir dan
serakah, yang terdapat pada kelas V semester I dan pada kelas III semester I,
dan bahkan bahan ajaran yang ada di kelas V semester I sama-sama menampilkan
kisah Qarun sebagai contoh tokoh nya. Meskipun materi yang terdapat di kelas
III semester I agak sempit, dan
pembahasan di kelas V semester II lebih luas, namun pembahasan sub bab
yang selalu sama seolah-olah materi akhlak tercela bersifat statis dan tak
berkembang. Selain itu dalam pemberian materi sebaiknya di perhatikan oleh guru
bahwasanya pada tahap ini anak masih berfikir konkret dan perlu bimbingan di
luar materi pelajaran agar anak bisa menangkap, mencerna dan memproses materi
agar bisa di aplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
DAFTAR PUSTAKA
Agus
Sujanto, Psikologi Perkembangan, Surabaya: Rineka Cipta, 1996
Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi
Pendidikan, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2015
E. Mulyasa, Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010
Harjanto, Perencanaan Pengajaran, Jakarta: Rineka Cipta,
2011
M. basyiruddin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, Jakarta:
Ciputat Pers, 2012
Oemar Hamalik, Perencanaan
Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem,Jakarta: PT Bumi Aksara, 2009
Tim Bina karya Guru, Bina Akidah
dan Akhlak untuk Madrasah kelas V Jakarta: Erlangga, 2009
Wina Sanjaya, Strategi
Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta: Kencana
Prenada Media, 2011
[1]
Oemar Hamalik, Perencanaan Pengajaran
Berdasarkan Pendekatan Sistem,(Jakarta: PT Bumi Aksara, 2009), h.139
[2] Harjanto, Perencanaan Pengajaran,
(Jakarta: Rineka Cipta, 2011), h.222-223
[4] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran
Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2011),
cet ke-8, h.71
[5] E. Mulyasa, Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010), cet ke-7,
h.109
[6] Ibid. Standar Kompetensi untuk mata pelajaran Agama
dan Akhlak Mulia: bertujuan membentuk peserta didik menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Tujuan
tersebut di capai melalui muatan dan /atau kegiatan agama, kewarganegaraan,
kepribadian, ilmu pengetahuan dan teknologi, estetika, jasmani, olahraga, dan
kesehatan.
[7] Ibid.
[11] Ibid.
[12] Anas Sudijono, Pengantar
Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2015), ct ke-14,
h.31
[13] Agus Sujanto, Psikologi Perkembangan, (Surabaya:
Rineka Cipta, 1996), h.15
[14] Ibid.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar