Pink Rose Flower

Sabtu, 24 Desember 2016

Pedalaman Materi PAI - PM PAI di MI (Akidah Akhlak)






TUGAS TERSTRUKTUR                                    DOSEN PENGASUH
   Pedalaman Materi PAI                         Prof. Dr. H. Mahyuddin Barni, M. Ag
                                                                          Dr. Hairul Hudaya, M. Ag


AKIDAH AKHLAK
KELAS V SEMESTER II MADRASAH IBTIDAIYAH
MENGHINDARI SIFAT KIKIR DAN SERAKAH
DAN KISAH QARUN





Oleh :

SRI WAHYUNITA   :   1502521475



INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI
PROGRAM PASCASARJANA
PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
BANJARMASIN
2016






BAB I
PENDAHULUAN
A.    Standar Kompetensi
1.      Menghindari Akhlak Tercela

B.     Kompetensi Dasar
1.1  Membiasakan diri untuk menghindari sifat kikir dan serakah melalui kisah Qarun

C.    Indikator
1.      Menjelaskan pengertian kikir dan serakah
2.      Menyebutkan ciri-ciri orang yang kikir dan serakah
3.      Menyebutkan akibat dari sifat kikir dan serakah
4.      Menjelaskan cara menghindari sifat kikir dan serakah
5.      Menyebutkan sifat-sifat tercela Qarun

D.    Tujuan Pelajaran
1.      Siswa dapat menjelaskan pengertian kikir dan serakah
2.      Siswa dapat menyebutkan ciri-ciri orang yang kikir dan serakah
3.      Siswa dapat menyebutkan akibat dari sifat kikir dan serakah
4.      Siswa dapat menjelaskan cara menghindari sifat kikir dan serakah
5.      Siswa dapat menyebutkan sifat-sifat tercela Qarun










BAB II
PEMBAHASAN
A.    Materi Pokok
AKHLAK TERCELA
Kekuasaan yang tak terbatas hanyalah milik Allah SWT semata. Zat yang berhak sombong hanyalah Allah SWT. Sebagai orang beriman, kita wajib tunduk dan patuh kepada perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Apabila manusia melanggar apa yang dilarang Allah SWT. Maka azab Allah SWT pasti akan menimpanya. Banyak contoh kisah dalam Al-Qur’an tentang orang-orang yang durhaka dan menentang kekuasaan-Nya, sehingga mereka menerima azab yang pedih dari Allah SWT.

1.      Kikir
Kikir merupakan lawan dari dermawan. Kikir sama dengan bakhil. Kikir adalah rasa enggan atau tidak mau memberikan sebagian dari miliknya kepada orang lain. Karena ingin memiliki seluruhnya. Misalnya, pak jono dikenal sebagai orang kaya di kampungnya. Namun, ia tidak pernah bersedekah karena khawatir hartanya berkurang.
Allah SWT berfirman sebagai berikut :

  
Artinya :                                                                                                      
“Dan adapun  orang yang kikir dan merasa dirinya cukup (tidak perlu pertolongan) serta mendustakan (pahala) yang terbaik. Maka akan kami mudahkan baginya jalan menuju kesukaran (kesengsaraan) dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila telah binasa.”  (Q.S. Al-lail: 8-11)
Allah SWT melarang kita mempunyai sifat kikir atau bakhil, karena sifat kikir akan berakibat tidak baik. Akibat dari sifat kikir atau bakhil antara lain:
a.       Akan terjerumus ke dalam perbuatan dosa.
b.      Membuat seseorang menjadi sombong, congkak dan cinta dunia yang berlebihan
c.       Akan di jauhi teman
d.      Dibenci oleh Allah SWT dan manusia.
e.       Akan menemui kesukaran pada akhirnya.
Ada kebiasaan yang dapat kita tanamkan untuk menghindari sifat kikir. Kebiasaan itu adalah:
a.       Mengingat-mengingat bahwa harta yang kita miliki adalah titipan Allah SWT.
b.      Mengingat akibat buruk yang timbul dari sifat kikir, misalnya mendapat kesukaran dari Allah SWT dan di jauhi teman.
c.       Membiasakan diri memberi kepada orang lain walaupun sedikit.
d.      Melihat kehidupan orang miskin yang serba kekurangan.
e.       Mengingat pahala yang di dapat apabila kita bersifat dermawan.
f.       Sadar bahwa harta benda tidak akan kekal  dan dibawa mati.
Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk berdo’a kepada Allah SWT. Agar terhindar dari sifat kikir atau bakhil. Di antara doa memohon perlindungan dari sifat kikir atau bakhil adalah :
اَ للَّÙ‡ُÙ…َّ اِÙ†ِّÙŠْ اَعُÙˆْذُ بِÙƒَ Ù…ِÙ†َ الْÙƒَسَÙ„ِ Ùˆَ اَعُÙˆْذُ بِÙƒَ Ù…ِÙ†َ الْجُبْÙ†ِ ÙˆَاَعُÙˆْذُ بِÙƒَ Ù…ِÙ†َ الْÙ‡َرِÙ…ِ ÙˆَاَعُÙˆْذُ بِÙƒَ Ù…ِÙ†َ الْبُØ­ْÙ„ِ
Artinya:
“Ya Allah SWT. Aku berlindung kepada-Mu dari sifat malas, pengecut, usia tua (pikun), dan dari sifat bakhil (kikir).”
InsyaAllah jika kita memiliki sifat dermawan, rezeki dari Allah SWT akan terus mengalir. Sebaliknya, jika kita memiliki sifat kikir, Allah SWT akan memberikan kesukaran pada kita.

2.      Serakah
Salah satu bentuk akhlak tercela yang lain adalah serakah atau tamak. Serakah artinya selalu ingin memiliki lebih dari yang sudah dimiliki. Orang yang serakah ingin memiliki harta sebanyak-banyaknya dengan cara bagaimanapun juga tidak peduli halal atau haram. Orang itu selalu ingin memiliki harta orang lain secara tidak wajar, misalnya menipu, korupsi, mencuri, merampok, berbuat curang, memfitnah, mengurangi timbangan, mengadu domba, dan yang lainnya, agar orang lain bangkrut dalam usahanya. Sehubungan dengan hal tersebut Nabi SAW bersabda yang artinya: “Serakah adalah akar pangkal tindak kejahatan”
Seseorang yang telah terjangkit sifat serakah biasanya juga kikir atau bakhil. Ia beranggapan bahwa harta yang ia peroleh dengan susah payah mengapa harus di berikan kepada orang lain. Oleh sebab itu, orang yang memiliki sifat serakah enggan membayar zakat dan bersedekah. Orang yang miskin tidak perlu diberi sebab hal tersebut membuat mereka malas untuk bekerja, demikian kata mereka.
Orang yang tamak seperti itu tidak akan mendapat berkah dan ridha dari Allah SWT. Sebaliknya ia akan mendapat siksa dan azab dari Allah SWT. Rasulullah SAW melarang umatnya bersikap tamak, sebagaimana di terangkan dalam hadisnya:
Ù†َÙ‡َÙ‰ رَسُÙˆْÙ„ُ اللهِ صَÙ„َّÙ‰ اللُÙ‡ عَÙ„َÙŠْÙ‡ِ Ùˆَ سَÙ„َّÙ…َ عَÙ†ِ الطَّÙ…َعِ
Artinya:
“Rasulullah SAW melarang untuk bersifat tamak”
Rasulullah melarang sifat serakah atau tamak karena pada umumnya orang yang bersifat serakah atau tamak hidupnya tidak beruntung. Namun sebaliknya, ia akan mendapat keburukan dan kesengsaraan. Akibat buruk dari sifat serakah antara lain:
a.       Jatuhnya martabat selaku hamba Allah SWT
b.      Dapat melalaikan kewajiban kepada Allah SWT
c.       Dapat merusak kerukunan dan kedamaian.
d.      Hidupnya tidak tenang karena tidak pernah merasa puas dengan apa yang dimiliki.
e.       Mendapat siksa dan azab dari Allah SWT
Adapun ciri-ciri orang yang serakah antara lain: tidak mau berbagi atau pelit, selalu menginginkan bagian paling banyak., rakus terhadap dunia, tidak peduli terhadap kepentingan dan penderitaan orang lain.
Adapun beberapa hal yang dapat dilakukan agar terhindar dari sifat serakah atau tamak, di antaranya:
a.       Membiasakan diri mensyukuri setiap pemberian Allah SWT dan manusia.
b.      Menanamkan dalam hati sifat Qanaah (Rela dengan pemberian Allah SWT)
c.       Tidak membanding-bandingkan nikmat yang dimiliki orang lain dengan diri sendiri
d.      Tidak melupakan kehidupan akhirat yang lebih kekal atau abadi.


3.   Kisah Qarun
Pada zaman Nabi Musa AS, hidup seseorang yang bernama Qarun. Qarun adalah keturunan Bani Israil, ia dilahirkan di Mesir. Pada mulanya Qarun adalah pengikut Nabi Musa AS yang setia dan taat beribadah. Tapi setelah hartanya bertambah banyak, ia mulai malas beribadah karena sibuk mengurusi harta. Pada saat hartanya semakin berlimpah, Qarun pun melupakan Tuhannya, bahkan menentng Nabi Musa AS. Tingkah laku Qarun sangat berbeda ketika ia belum menjadi orang kaya.
Qarun memiliki banyak rumah yang dibangun dengan mewah dan besar-besar. Ia selalu memakai pakaian yang bagus dan mahal harganya. Ia mempunyai banyak pelayan yang selalu siap melayani semua keinginanya.
Tapi sayang, Qarun mempunyai sifat sombong. Ia hidup berfoya-foya. Ia suka memamerkan kekayaannya kepada orang lain. dengan hartanya yang melimpah, ia bukannya suka menolong orang lain, malah tidak mau bersedekah, suka memeras dan mencelakakan orang lain.
Dengan kekayaannya yang berlimpah, ia merasa berkuasa. Dan kekuasaanya itu digunakan untuk bertindak sewenang-wenang, membuat kerusakan-kerusakan hanya untuk memuaskan hatinya.
Qarun lupa bahwa harta yang di milikinya adalah karunia dari Allah SWT. Ia tidak pernah mengenal Tuhannya lagi dan tidak pernah mau bersyukur kepada-Nya. Kalau ada orang yang mencoba menasehatinya, agar ia selalu ingat dan bersyukur kepada Allah SWT, ia tidak mau mendengarkan. Ia berkata dengan sombong, “Saya mendapatkan harta ini dengan kerja keras, bukan Tuhan yang memberi.”.
Ketika Nabi Musa menghimbau untuk mengeluarkan Zakat , dan membagi-bagikannya kepada fakir miskin, Qarun tersinggung dan marah. Ia berfikir bahwa dengan membayar zakat, hartanya akan berkurang. Ia malah menuduh Nabi Musa sebagai orang yang iri kepadanya dan ingin memerasnya.
Qarun sangat benci kepada Nabi Musa AS, karena di anggap selalu mengganggu ketenangan hidupnya. Di sebabkan kebencian tersebut, Qarun selalu berusaha membuat malu dan menyingkirkan Nabi Musa AS dari kaumnya.
Suatu ketika Qarun menyuruh seorang wanita muda untuk mengaku telah berzina dengan Nabi Musa AS, dengan janji akan diberi upah yang besar. Pada mulanya wanita muda itu mau melaksanakan keinginan Qarun, sehingga dengan cepat tersebar berita bahwa Nabi Musa AS telah berzina.
Dengan ujian ini, Nabi Musa AS tetap bersabar dan selalu berdo’a semoga Allah SWT. Membuka hati wanita muda tadi untuk mengakui kebohongannya. Do’a Nabi Musa AS dikabulkan oleh Allah SWT. Wanita tersebut mau mengakui bahwa yang dilakukan selama ini adalah kebohongan semata. Ia melakukan kebohongan itu karena tergiur atas hadiah yang ditawarkan oleh Qarun. Dengan pengakuan wanita itu, maka selamatlah Nabi Musa AS dari tipu daya Qarun dan sebaliknya Qarun mendapat malu atas kebohongan yang dilakukan.
Setelah Nabi Musa AS tidak mempunyai harapan lagi untuk memperbaiki pendirian Qarun yang tersesat, beliau berdo’a kepada Allah SWT agar Qarun dan pengikutnya diberi peringatan dan pelajaran, karena perbuatannya sudah sangat jauh menyimpang dari tuntunan agama.
Do’a Nabi Musa dikabulkan Allah SWT. Tiba-tiba, tanah di sekitar istana dan gudang-gudang harta Qarun bergoncang dengan hebatnya, lalu pecah dan retak. Semakin lama goncangan terjadi, semakin lebar dan dalam pula keretakan yang di timbulkan. Kaki Qarun terpeleset sampai lutut, begitu juga kaki para pelayannya. Mereka menjerit-jerit minta tolong kepada Nabi Musa, mereka ingin bertobat dan berjanji akan menjadi pengikut Nabi Musa. Sayang sekali tobat mereka terlambat. Allah sudah menutup pintu tobat untuk mereka.
Akhirnya, Qarun dan para pembantunya serta seluruh harta kekayaannya terbenam ditelan bumi. Tidak ada seorang pun yang bisa menolong Qarun. Qarun mati tenggelam bersama harta yang selalu di banggakannya.
Qarun adalah contoh orang yang sombong, kikir, serakah dan tidak mau bersyukur kepada Allah SWT. Peristiwa ini di abadikan Allah dalam Al-Qur’an surah Al-Qasash ayat 81:


   
Artinya:
“Maka kami benamkan dia (Qarun) beserta rumahnya kedalam bumi. Maka tidak ada baginya satu golongan pun yang menolongnya selain Allah SWT. Dan dia tidak termasuk orang-orang (yang dapat) membela diri.” (Q.S Al-Qasash: 81)
Demikianlah kisah kedurhakaan Qarun terhadap kekuasaan Allah SWT. Sebagai seorang yang beriman, kita harus menghindari apa yang diperbuat Qarun karena kekuasaan hanyalah milik Allah SWT semata. Tidak sepantasnya kita menyombongkan diri di hadapan Allah SWT. Jangan sampai Allah SWT menurunkan azab yang sangat pedih karena kelalaian kita.

B.     Penilaian
LEMBAR PENILAIAN PROSES
PEMBELAJARAN AKIDAH AKHLAK TENTANG AKHLAK TERCELA
1.      Penilaian Sikap
Tanggal : ………………………………..
No
Nama Siswa
Aspek yang di amati
Skor
Nilai
Keaktifan
Penuh perhatian
Berinisiatif
Kerjasama
1







2







3







4








Keterangan :
Kolom aspek yang di amati di isi dengan angka yang sesuai dengan kriteria berikut.
Ø Skor 5 : Sangat Baik
Ø Skor 4 : Baik
Ø Skor 3 : Cukup
Ø Skor 2 : Kurang
Ø Skor 1 : Sangat kurang
Skor merupakan jumlah dari skor masing-masing aspek perilaku
Penilaian dapat dilakukan dengan kriteria sebagai berikut
Skor minimum             : 4 x 1 = 4
Skor maksimum          : 4 x 5 = 20
Kategori penilaian       : 4

Kolom keterangan dapat diisi dengan :
·      Amat baik             : bila jumlah skor 17-20
·      Baik                       : bila jumlah skor 14-16
·      Cukup                   : bila jumlah skor 11-13
·      Kurang                  : bila jumlah skor 8-10
·      Sangat kurang       : bila jumlah skor  4-7

2.   Penilaian Kognitif
a.    Tugas Individu
Carilah kisah teladan tentang orang yang bersifat kikir!  Ambillah hikmah dari kisah tersebut! Tulis hasilnya pada buku tugasmu kemudian kumpulkan kepada gurumu!

b.   Tugas Kelompok
Carilah ayat-ayat yang berhubungan dengan kikir dan serakah di berbagai sumber kemudian tulislah ayat-ayat tersebut pada selembar kertas, kemudian kumpulkan hasilnya kepada gurumu!

c.    Ulangan harian
·      Pilihan ganda
1)   Kekuasaan Allah bersifat …
a)      Sementara
b)      Fana
c)      Tak terbatas
d)     Baik
2)   Akhlak tercela disebut juga …
a)      Akhlakul Karimah
b)      Akhlakul Mazmumah
c)      Akhlakul Mahmudah
d)     Akhlakul Hasanah
3)   Rasa enggan atau tidak mau memberikan sebagian hartanya untuk orang lain yang membutuhkan disebut …
a)      Serakah
b)      Kikir
c)      Qanaah
d)     Demawan
4)   Pak Agus adalah orang yang paling kaya di desanya. Dia tak pernah memberikan uangnya untuk membantu orang lain karena khawatir hartanya akan berkurang. Pak agus memiliki sifat …
a)      Serakah
b)      Qanaah
c)      Kikir
d)     Dermawan
5)   Kikir termasuk perilaku …
a)      Terpuji
b)      Tercela
c)      Harus diteladani
d)     Menyesatkan
6)   Lawan dari sifat kikir adalah …
a)      Dermawan
b)      Qanaah
c)      Tawakkal
d)     Tamak
7)   Seseorang bersifat kikir karena …
a)      Takut berdosa
b)      Ingin berbagi
c)      Takut hartanya berkurang
d)     Rakus
8)   Allah SWT … orang kikir.
a)      Mencintai
b)      Menyayangi
c)      Mengampuni
d)     Membenci
9)   Salah satu akibat dari sifat kikir yaitu …
a)      Harta menjadi bertambah
b)      Mendapatkan banyak pertolongan
c)      Terjerumus kedalam perbuatan dosa
d)     Dikelilingi banyak teman
10)              Kebiasaan yang harus kita tanamkan untuk menghindari sifat kikir yaitu …
a)      Membiasakan diri bersedekah
b)      Cinta dunia dengan berlebihan
c)      Menghindari fakir miskin
d)     Berfoya-foya
11)        Sifat ingin memiliki sesuatu secara berlebihan disebut …
a)      Pesimis
b)      Bergantung
c)      Kikir
d)     Serakah
12)        Orang yang serakah hidupnya tidak akan …
a)      Susah
b)      Tenang
c)      Sedih
d)     Sengsara
13)        Nama lain serakah adalah …
a)      Tamak
b)      Bakhil
c)      Tawakkal
d)     Kikir
14)        Di bawah ini yang bukan termasuk tindakan orang serakah untuk menguasai harta orang lain adalah …
a)      Merampas
b)      Menipu
c)      Korupsi
d)     Membeli
15)        Ciri-ciri orang yang serakah antara lain …
a)      Tidak mau berbagi atau pelit
b)      Sering bersedekah
c)      Mensyukuri nikmat Allah SWT
d)     Selalu memberikan pertolongan kepada orang yang membutuhkan
16)        Sifat serakah akan mendorong seseorang melakukan tindakan …
a)      Kebaikan
b)      Ketakwaan
c)      Kemanfaatan
d)     Kejahatan
17)        Di bawah ini yang tidak termasuk akibat buruk dari sifat serakah adalah …
a)      Jatuhnya martabat selaku hamba Allah SWT
b)      Dapat merusak kerukunan dan kedamaian
c)      Hidupnya tidak tenang
d)     Menambah harta kekayaan.
18)        Membiasakan diri mensyukuri setiap pemberian Allah SWT adalah salah satu hal yang dapat dilakukan agar terhindar dari sifat …
a)      Malas
b)      Pelit
c)      Putus asa
d)     serakah
19)        Qarun hidup pada zaman Nabi …
a)      Muhammad SAW
b)      Musa AS
c)      Isa AS
d)     Ibrahim AS
20)        Pada awalnya Qarun adalah orang yang …
a)      Rajin beribadah
b)      Suka menabung
c)      Malas bersedekah
d)     Sangat sombong
21)        Qarun adalah contoh orang yang bersifat …
a)      Dermawan
b)      Kaya raya
c)      Qanaah
d)     Kikir dan Serakah
22)        Qarun menganggap bahwa harta yang di milikinya …
a)      Bersifat kekal
b)      Akan habis
c)      Akan binasa
d)     Akan hancur
23)        Dengan harta yang melimpah, Qarun menjadi … bersedekah.
a)      Rajin
b)      Ikhlas
c)      Sering
d)     Enggan
24)        Allah SWT memberikan azab kepada Qarun dengan cara …
a)      Memberikannya harta yang lebih banyak
b)      Di tenggelamkan ke dasar laut
c)      Membenamkan kedalam tanah bersama dengan hartanya
d)     Mendatangkan angin kencang
25)        Cerita Qarun di abadikan dalam Al Qur’an pada surah …
a)      Al-Lail ayat 8
b)      Al-Baqarah ayat 18
c)      Al-Qasash 81
d)     At-Taubah 88

·      Isilah titik-titik di bawah ini dengan jawaban yang benar
1)      Harta yang kita miliki adalah titipan …..
2)      Lawan dari sifat kikir adalah …..
3)      Bagi orang kikir, Allah SWT akan memberikan jalan baginya menuju …..
4)      Orang yang kikir akan terjerumus dalam perbuatan …..
5)      Sifat kikir dapat mendorong orang menjadi …..
6)      Ciri orang serakah di antaranya adalah …..
7)      Orang yang serakah selalu menginginkan bagian yang paling …..
8)      Qarun adalah keturunan ….
9)      Setelah kaya raya, Qarun bersifat …..
10)  Qarun adalah orang yang durhaka kepada …..

·      Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan uraian yang jelas dan tepat!
1)      Apa  yang dimaksud dengan kikir? Sertakan contohnya dalam kebiasaan sehari-hari!
2)      Sebutkan kebiasaan yang bisa kita lakukan agar terhindar dari sifat kikir!
3)      Sebutkan ciri-ciri orang serakah!
4)      Tuliskan hadis yang melarang kita bersifat serakah!
5)      Apa yang menyebabkan Qarun menjadi malas beribadah?

d.   Perbaikan
1)      Tulislah kembali kisah Qarun yang kikir dan serakah pada selembar kertas lalu kumpullah tugas tersebut pada guru mu!














BAB III
ANALISIS
A.       Analisis Pedalaman Materi
Materi pelajaran merupakan bagian yang penting dalam proses belajar mengajar, yang menempati kedudukan yang menentukan keberhasilan belajar mengajar yang berkaitan dengan ketercapaian tujuan pengajaran. Karena itu, perencanaan materi pelajaran perlu mendapat pertimbangan secara cermat. Sebagai acuan, materi pelajaran di klasifikasikan dalam tiga bidang, yakni pengetahuan, afektif dan keterampilan[1].
Materi pelajaran pada hakikatnya pastilah berada di ruang lingkup isi kurikulum. Karena itu pemilihan materi pelajaran tentu saja harus sejalan dengan ukuran-ukuran (kriteria) yang digunakan untuk memilih isi kurikulum bidang studi yang bersangkutan. Sebagai gambaran, dapat dilihat pada bagan di bawah ini[2].
Kriteria
Sasaran
a. Akurat dan up to date
Sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan penemuan-penemuan baru dalam bidang teknologi.
b.Kemudahan
Untuk memahami prinsip, generalisasi, dan memperoleh data.
c. Kerasionalan
Mengembangkan kemampuan berfikir rasional, bebas dan logis.
d.                  Essensial
Untuk mengembangkan moralitas penggunaan pengetahuan.
e. Kemaknaan
Bermakna bagi siswa dan perubahan sosial bahan sosial.
f. Keberhasilan
Merupakan ukuran keberhasilan untuk mempengaruhi tingkah laku siswa.
g.Keseimbangan
Mengembangkan pribadi siswa secara seimbang dan menyeluruh
h.Kepraktisan
Mengarahkan tindakan sehari-hari dan untuk pelajaran berikutnya

Kriteria pemilihan materi pelajaran yang akan di kembangkan dalam sistem instruksional dan yang mendasari penentuan strategi belajar-mengajar yakni[3]:
1.   Kriteria tujuan intruksional
2.   Materi pelajaran supaya terjabar
3.   Relevan dengan kebutuhan siswa
4.   Kesesuaian dengan kondisi masyarakat
5.   Materi pelajaran mengandung segi-segi etik
6.   Materi pelajaran tersusun dalam ruang lingkup dan urutan yang sistematik dan logis
7.   Materi pelajaran bersumber dari buku sumber yang baku, pribadi guru yang ahli dan masyarakat.
Pada materi akhlak tercela kelas V semester II Madrasah Ibtidaiyah, terdapat pengulangan bahasan yakni sama-sama membahas tentang kikir dan serakah, yang terdapat pada kelas V semester I dan pada kelas III semester I, dan bahkan bahan ajaran yang ada di kelas V semester I sama-sama menampilkan kisah Qarun sebagai contoh tokoh nya. Meskipun materi yang terdapat di kelas III semester I agak sempit, dan  pembahasan di kelas V semester II lebih luas, namun pembahasan sub bab yang selalu sama seolah-olah materi akhlak tercela bersifat statis dan tak berkembang. Setidaknya dalam penggambaran tokoh, harusnya juga di sertai contoh lain yang lebih up to date sesuai dengan perkembangan zaman atau bisa juga tokoh di perbaharui sehingga tidak meninggalkan kesan yang itu itu saja di pemikiran anak. Mengingat anak yang jujur dan kritis, dalam menghadapi  materi pelajaran yang sama kita sebagai guru yang bijak sebaiknya  ikut andil dalam pengembangan materi demi perbaikan pembelajaran yang berkualitas.

B.        Analisis Materi dengan SK dan KD
Standar Kompetensi yaitu kemampuan minimal yang harus di capai setelah anak didik menyelesaikan suatu mata pelajaran tertentu pada setiap jenjang pendidikan yang di ikutinya, sedangkan Kompetensi Dasar yaitu kemampuan minimal yang harus di capai peserta didik dalam penguasaan konsep atau materi pelajaran yang diberikan dalam kelas pada jenjang pendidikan tertentu[4].
Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar merupakan arah dan  landasan untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan Indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Sedangkan dalam merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian perlu memperhatikan standar proses dan standar penilaian[5].
Dalam kaitannya dengan KTSP, Depdiknas telah menyiapkan Standar Kompetensi (SK) berbagai mata pelajaran, untuk dijadikan acuan oleh para pelaksana (guru) dalam mengembangkan KTSP pada satuan pendidikan masing-masing[6].
Dengan demikian, tugas utama guru dalam KTSP adalah menjabarkan, menganalisis, mengembangkan indikator, dan menyesuaikan SKKD dengan karakteristik dan perkembangan peserta didik, situasi dan kondisi sekolah, serta kondisi dan kebutuhan daerah. Selanjutnya mengemas hasil analisis terhadap SKKD tersebut kedalam KTSP[7].
Jika dilihat keterkaitan nya dengan SK dan KD, materi akhlak tercela sudah sesuai dan tidak menyimpang dari acuan yang di standarkan. Tidak ada penambahan materi yang tidak sesuai dengan SK dan KD yang telah di tentukan.

C.       Analisis Materi, Indikator dan Tujuan Pembelajaran
Indikator adalah perilaku yang dapat di ukur dan /atau di observasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilaian mata pelajaran. Sehubungan dengan itu, dalam bagian ini di kemukakan daftar kata-kata operasional yang dapat di gunakan untuk indikator kompetensi[8].
Daftar Kata-kata Operasional untuk Indikator:
No
Aspek
Kompetensi
Indikator Kompetensi
01
Kognitif
Knowledge (Pengetahuan)
Menyebutkan, menuliskan, menyatakan, mengurutkan, mengidentifikasi, mendefinisikan, mencocokkan, member nama, memberi label, melukiskan.
Comprehension (Pemahaman)
Menerjemahkan, mengubah, menggeneralisasi, menguraikan, menuliskan kembali, merangkum, membedakan, mempertahankan, menyimpulkan, mengemukakan pendapat, dan menjelaskan.
Application (Penerapan)
Mengoperasikan, menghasilkan, mengubah, mengatasi, menggunakan, menunjukkan, mempersiapkan, dan menghitung.
Analysis
(Analisis)
Menguraikan, membagi, memilih dan membedakan.
Synthesis
(Sintesis)
Merancang, merumuskan, mengorganisasikan, menerapkan, memadukan, dan merencanakan.
Evaluation
(Evaluasi)
Mengkritisi, menafsirkan, mengadili dan memberikan evaluasi.
02
Afektif
Receiving (Penerimaan)
Mempercayai, memilih, mengikuti, bertanya, dan mengalokasikan.
Responding
(menanggapi)
Konfirmasi, menjawab, membaca, membantu, melaksanakan, melaporkan, dan menampilkan.
Valuing
(Penanaman nilai)
Menginisiasi, mengundang, melibatkan, mengusulkan, dan melakukan.
Organization
(Pengorganisasian)
Memverifikasi, menyusun, menyatukan, menghubungkan, mempengaruhi
Characterization
(Karakterisasi)
Menggunakan nilai-nilai sebagai pandangan hidup, mempetahankan nilai-nilai yang sudah diyakini.
03
Psychomotor
Gerak jiwa
Observing
(Pengamatan)
Mengamati proses, memberi perhatian pada tahap-tahap sebuah perbuatan, memberi perhatian pada tiap-tiap artikulasi.
Imitation
(Peniruan)
Melatih, mengubah, mnggunakan sebuah model.
Practicing
(Pembiasaan)
Membiasakan perilaku yang telah dibentuknya, mengontrol kebiasaan agar tetap konsisten.
Adapting
(Penyesuaian)
Menyesuaikan model, mengembangkan model, dan menerapkan model.

Tujuan pembelajaran ini erat kaitannya dengan pertanyaan “apa tujuan yang akan di capai”. Dengan demikian tujuan pembelajaran mengarahkan siswa kepada sasaran yang akan di capai. Sebaliknya, tujuan pembelajaran juga menjadi pedoman bagi pengajar untuk menentukan sasaran pembelajaran siswa, sehingga setelah siswa mempelajari pokok bahasan yang di ajarkan, mereka dapat memiliki kemampuan yang telah di tentukan sebelumnya[9].
Dalam menentukan tujuan juga harus operasional, artinya tidak mengambang dan terlalu luas, agar dapat di ukur dan dinilai. Di samping itu juga spesifik, artinya mempunyai kekhususan tertentu sehingga siswa dapat mengenalinya secara gamblang[10].
Prinsip suatu tujuan (Objectives); yaitu suatu maksud yang di komunikasikan melalui suatu pernyataan yang melukiskan perubahan tingkah laku yang di harapkan dalam diri siswa setelah menyelesaikan suatu kegiatan belajar tertentu[11].
Antara materi indikator dan tujuan pembelajaran sepertinya sudah sesuai dan tidak menyimpang dari acuan, namun alangkah baiknya jika ada pengembangan tersendiri dari guru dan tidak hanya terpaku pada indikator dan tujuan yang sudah tertera.

D.       Analisis Materi dengan Evaluasi
Evaluasi hasil belajar dapat dikatakan terlaksana dengan baik apabila dalam pelaksanaannya senantiasa berpegang pada tiga prinsip dasar berikut ini: (1) Prinsip keseluruhan, (2) Prinsip Kesinambungan, dan (3) Prinsip Obyektivitas[12].
Evaluasi belajar mengajar merupakan bagian integral dalam proses pendidikan. Karena itu harus dilakukan oleh setiap guru sebagai bagian dari  tugasnya. Secara umum evaluasi di maksudkan untuk melihat sejauh mana kemajuan belajar para siswa dalam program pendidikan yang telah dilaksanakannya. Untuk itu diperlukan alat evaluasi yang di susun menurut langkah kerja tertentu. Tak hanya evaluasi yang menyentuh ranah kognitif, tapi  juga harus menyentuh ranah afektif dan psikomotorik. Di harapkan dengan adanya evaluasi tersebut, guru dapat memperoleh umpan balik dalam rangka memperbaiki proses belajar mengajar berikutnya.

E.        Kesesuaian Materi dengan Psikologi Anak
Jika orang dewasa belajar dengan berusaha mencapai tujuannya yang di luar aktivitas itu, sedang anak kecil belajar dengan mencapai tujuannya yang terletak dalam aktivitas itu. Artinya, dengan aktivitas belajarnya yang khusus si anak merasakan kegembiraan. Kegembiraan itulah tujuan yang akan di capai oleh si anak. Karena itu menangislah seorang anak yang tidak mendapatkan kesempatan untuk melakukan aktivitas yang diinginkan[13].
Di dalam belajar, si anak memerlukan bantuan dari benda sebagai alatnya, sedang orang dewasa belajar tidak selalu memerlukan benda-benda. Inilah sebabnya anak Learning by doing, sedang orang dewasa dikatakan Learning by thinking. Hal ini di karenakan anak masih hidup di dalam dunia konkret, dunia nyata. Sedang orang dewasa sudah dapat meninggalkan dunia nyata ke dunia abstrak, atas bantuan kemampuan berpikirnya[14].
Salah satu kendala dalam penanaman norma-norma kesusilaan dan agama yaitu bentuk masalahnya yang abstrak, sedang anak masih hidup dalam tingkat berfikir konkret. Di satu sisi ia senang sekali menirukan perbuatan yang baru, yang ia belum dapat melakukannya. Dalam hal seperti ini, di samping materi yang tertera dalam buku, guru mesti lebih memberikan wawasan yang lebih luas lagi penjabaran yang lebih menarik lagi dan pendekatan yang lebih luwes lagi, agar bisa mengarahkan cara berfikir anak agar tercapai standar kompetensi yang di inginkan.



























BAB IV
PENUTUP
Pendidikan Akidah Akhlak adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati dan mengiamani Allah SWT, dan merealisasikannya dalam perilaku akhlak mulia dalam kehidupan sehari – hari melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, penggunaan pengalaman dan kebiasaan. Dalam kehidupan masyarakat yang majemuk dalam bidang keagamaan, pendidikan ini juga diarahkan pada peneguhan akidah di satu sisi dan peningkatan toleransi serta saling menghormati dengan penganut agama lain dalam rangka mewujudkan kesatuan dan persatuan bangsa.
Pemberian materi akidah akhlak di harapkan dapat mengembangkan ranah kognitif yakni pola pikir anak, ranah afektif yakni pola karakter anak dan ranah psikomotor yakni pembiasaan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.
Pada Materi akhlak tercela kelas V semester II Madrasah Ibtidaiyah, terdapat pengulangan bahasan yakni sama-sama membahas tentang kikir dan serakah, yang terdapat pada kelas V semester I dan pada kelas III semester I, dan bahkan bahan ajaran yang ada di kelas V semester I sama-sama menampilkan kisah Qarun sebagai contoh tokoh nya. Meskipun materi yang terdapat di kelas III semester I agak sempit, dan  pembahasan di kelas V semester II lebih luas, namun pembahasan sub bab yang selalu sama seolah-olah materi akhlak tercela bersifat statis dan tak berkembang. Selain itu dalam pemberian materi sebaiknya di perhatikan oleh guru bahwasanya pada tahap ini anak masih berfikir konkret dan perlu bimbingan di luar materi pelajaran agar anak bisa menangkap, mencerna dan memproses materi agar bisa di aplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.









DAFTAR PUSTAKA

Agus  Sujanto, Psikologi Perkembangan, Surabaya: Rineka Cipta, 1996
Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2015
E. Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010
Harjanto, Perencanaan Pengajaran, Jakarta: Rineka Cipta, 2011
M. basyiruddin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, Jakarta: Ciputat Pers, 2012
Oemar Hamalik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem,Jakarta: PT Bumi Aksara, 2009
Tim Bina karya Guru, Bina Akidah dan Akhlak untuk Madrasah kelas V Jakarta: Erlangga, 2009
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta: Kencana Prenada Media, 2011



[1]  Oemar Hamalik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem,(Jakarta: PT Bumi Aksara, 2009), h.139
[2]  Harjanto, Perencanaan Pengajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2011), h.222-223
[3]  Ibid.
[4]  Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2011), cet ke-8, h.71
[5] E. Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010), cet ke-7, h.109
[6] Ibid.  Standar Kompetensi untuk mata pelajaran Agama dan Akhlak Mulia: bertujuan membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Tujuan tersebut di capai melalui muatan dan /atau kegiatan agama, kewarganegaraan, kepribadian, ilmu pengetahuan dan teknologi, estetika, jasmani, olahraga, dan kesehatan.
[7] Ibid.
[8] Ibid, h.139
[9]  M. basyiruddin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2012), h.119
[10]  Ibid.
[11] Ibid.
[12] Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2015), ct ke-14, h.31
[13] Agus  Sujanto, Psikologi Perkembangan, (Surabaya: Rineka Cipta, 1996), h.15
[14] Ibid.

Tidak ada komentar: