TUGAS
TERSTUKTUR DOSEN PENGASUH
MODEL-MODEL PEMBELAJARAN Dr. H. Ridhahani Fidzi, M.Pd
JAWABAN UJIAN AKHIR
SEMESTER
SRI WAHYUNITA NIM. 1502521475
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGRI ANTASARI
PROGRAM
PASCASARJANA
PRODI
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
2016
PERTANYAAN DAN
JAWABAN
FINAL TEST MODEL-MODEL PEMBELAJARAN
1. Pertanyaan: IHSAN MUZAKKI dan M. MISRAN DARMY dalam
makalahnya yang berjudul “Model Pembelajaran Tematik” memaparkan Skema Garis
Panduan Permasalahan dan Pengembangan Tema seperti yang terdapat pada halaman 8
s.d. 10. Namun, kedua pemakalah tersebut tidak tuntas membahas hubungan
skema-tema-matrik kompetensi dasar. Sementara dalam seminar kelas yang
dilaksanakan pada hari Jumat, 13 Mei 2016 tidak seorangpun peserta seminar yang
mempermasalahkannya. Coba Sdr. jelaskan bagaimana hubungan skema-tema-dan
matrik tersebut dengan kurikulum 2013 yang mengembangkan pembelajaran tematik?
Jawaban:
“Tema adalah
pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraa” Depdiknas
(2007: 226).
Selanjutnya menurut Kunandar (2007: 311), “Tema merupakan alat atau wadah untuk mengedepankan
berbagai konsep kepada anak didik secara utuh.” Dalam pembelajaran, tema
diberikan dengan maksud menyatukan isi kurikulum dalam satu kesatuan yang utuh,
memperkaya perbendaharaan bahasa anak didik dan membuat pemmbelajaran yang
melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna
kepada siswa.
Pembelajaran tematik merupakan kegiatan
belajar berdasarkan pada suatu tema tertentu. Suatu tema akan menyangkut
beberapa mata pelajaran yang saling berhubungan atau terkait satu sama lain.
Dalam perencanaan pembelajaran (RPP) guru telah mengintegrasikan beberapa mata
pelajaran menjadi satu kesatuan. Guru harus memilih konsep-konsep pada
masing-masing mata pelajaran yang berhubungan dengan tema, kemudian mengkaitkan
konsep-konsep itu menjadi sebuah skema atau suatu peta.
Ruang lingkup tema yang ditetapkan sebaiknya
tidak terlalu luas atau terlalu sempit. Tema yang terlalu luas bisa dijabarkan
lagi menjadi anak tema atau sub tema yang sifatnya lebih spesifik dan lebih
konkret. Anak tema atau subtema tersebut selanjutnya dapat dikembangkan lagi
menjadi suatu matrik/isi pembelajaran.
Hubungan skema tema dan matrik dalam mata pelajaran dengan
kurikulum 2013 yang mengembangkan pembelajaran tematik adalah bahwa beberapa
mata pelajaran, kompetensi inti, kompetensi dasar, dan indikator akan diikat
dengan tema. Tema merupakan media pemersatu agar penyajian pembelajaran bisa
terintegrasi. Pemetaan keterhubungan kompetensi dasar dari beberapa mata
pelajaran yang bisa disatukan dalam sebuah tema dalam bentuk matriks. Dengan
jaringan tema tersebut akan terlihat kaitan antara tema, kompetensi dasar dan
indikator dari setiap mata pelajaran.
Dalam Model Tematik Terpadu, ada tiga model yang dikembangkan atau
dikenalkan di sekolah maupun lembaga pendidikan tenaga keguruan (LPTK) di
Indonesia. Ketiga model tersebut adalah (1) model keterhubungan (connected),
(2) model jaring laba-laba (webbed) dan (3) model kerpaduan (integrated).
Connected Model (keterkaitan) adalah
model pengembangan kurikulum yang menggabungkan secara jelas satu topik dengan
topik berikutnya, satu konsep dengan konsep lainnya, satu kemampuan dengan
kemampuan lainnya, kegiatan satu hari dengan hari lainnya, dalam satu mata
pelajaran. Pembelajaran model Webbed atau jaring laba-laba adalah
pembelajaran yang pengembangannya dimulai dengan menentukan tema tertentu yang
menjadi tema sentral bagi keterhubungan berbagai bidang studi.
Model jaring laba laba (webbed) merupakan model dengan menggunakan
pendekatan tematik. Karena karakterik dari model ini adalah menggunakan
pendekatan tema maka dalam model ini, tema dijadikan sebagai pemersatu dari
beberapa mata pelajaran. Setelah tema ditemukan. Baru dikembangkan
sub-sub temanya dengan memperhatikan kaitanya dengan mata pelajaran yang dipadukan.
Bagan dan matrik di bawah ini merupakan contoh
keterhubungan Kompetensi Dasar dengan tema pemersatunya adalah “Binatang”
|
MATA PELAJARAN
|
KOMPETENSI DASAR
|
INDIKATOR
|
|
Bahasa Indonesia
|
Mendeskripsikan binatang di sekitar
|
·
Menirukan gerak dan suara binatang tertentu.
·
Menjelaskan ciri-ciri binatang secara rinci
(nama,ciri khasnya, suaranya, habitatnya) dengan pilihan kata dan kalimat
yang runtut.
|
|
Pengetahuan Alam
|
Mendeskripsikan bagian-bagian yang tampak pada hewan di
sekitar rumah dan sekolah
|
Membuat daftar bagian-bagian utama tubuh hewan (kucing,
burumg, ikan) dan kegunaannya dari hasil pengamatan
|
|
Matematika
|
Memahami konsep urutan bilangan cacah
|
Menyebutkan banyaknya benda.
Membaca dan menulis lambang bilangan dalam kata-kata
dan angka.
Menentukan bahwa kumpulan benda-benda lebih banyak,
lebih sedikit, atau sama dengan kumpulan lain.
|
|
Kerajinan tangan dan kesenian
|
Menanggapi berbagai unsur rupa: bintik, garis, bidang,
warna, bentuk.
|
Mengungkapkan perasaan ketertarikan pada objek yang
diamati dari berbagai unsur rupa dan perpaduannya.
|
Dari tabel di atas dapat kita lihat bahwa tema “binatang” menyatukan mata
pelajaran yaitu Bahasa Indonesia, Ilmu Pengetahuan Alam, Matematika, dan
Kerajinan tangan dan kesenian yang kemudian setiap mata pelajaran memiliki kompetensi
dasar dan indikator yang keduanya berhubungan dengan tema tadi yaitu tentang
binatang.
2. Pertanyaan: Model pembelajaran PAIKEM akhir-akhir ini
sering digunakan dalam proses pembelajaran terutama untuk kelas-kelas rendah.
Sdr. AMELIA FITRIANI dan JUMAIDIYAH belum tuntas mengaitkan teori-teori belajar
yang melandasi penerapan dalam PAIKEM. Coba Sdr. uraikan teori belajar yang
mendasari lahirnya model pembelajaran PAIKEM terutama teori belajar: a. teori
belajar Thorndike, b. teori belajar Peaget, c. teori belajar Robert
Gagne, dan d. teori belajar Gestalt?
Jawaban:
Belajar adalah proses perubahan tingkah laku
individu sebagai hasil dari pengalamannya dalam berinteraksi dengan lingkungan.
Belajar bukan hanya sekedar menghapal, melainkan suatu proses mental yang
terjadi dalam diri seseorang. (Rusman, 2014: 134)
Sebuah teori pelajaran biasanya memiliki tiga
fungsi yang berbeda namun saling terkait dengan erat. Pertama teori pembelajaran
adalah pendekatan terhadap suatu bidang pengetahuan; suatu cara menganalisis,
membicarakan dan meneliti pembelajaran.
Dengan demikian teori berfungsi sebagai petunjuk dan sumber stimulasi
bagi penelitian dan karya ilmah. Yang kedua, teori pembelajaran berupaya untuk
meringkas sekumpulan besar pengetahuan mengenai hukum –hukum pembelajaran
kedalam ruang yang cukup kecil. Dengan demikian, teori pembelajaran
memmperlihatkan pencapaian dalam hal keluasan, organisasi dan kesimpelan, namun
juga tidak kehilangan akurasi detailnya. Yang ketiga, teori pembelajaran secara
kreatif, berupaya menjelaskan apa itu pembelajaran dan mengapa pembelajaran
berlangsung seperti apa adanya. Teori merepresentasikan upaya terbaik manusia
untuk memastikan struktur apa yang melandasi dunia tempat kita hidup. (Hill,
2010; 28)
a. teori belajar Thorndike
Thorndike adalah perintis psikologi hewan
eksperimental. Bukannya mengandalkan kisah-kisah orang mengenai kecerdasan
hewan tertentu, ia membawa hewan ke dalam laboratorium, menghadapkan mereka
pada berbagai problem yang telah di standarisasi, dan melakukan observasi yang
teliti mengenai cara mereka memecahkan masalah. (Hill, 2010; 54)
Thorndike pada tahun 1913 mengembangkan teori
Koneksionisme. Menurut teori belajar ini, belajar pada hewan dan pada manusia
pada dasarnya berlangsung menurut prinsip-prinsip yang sama. Dasar terjadinya
belajar adalah pembentukan asosiasi antara kesan yang di tangkap panca indera
dengan kecenderungan untuk bertindak atau hubungan antara stimulus dan respons
(S-R). Oleh karena itu teori ini juga di namakan teori Stimulus-Respons.(Sanjaya,
2011; 115)
Selanjutnya dalam teori konektivitas Thorndike
mengemukakan hukum-hukum belajar sebagai berikut: Hukum Kesiapan (Law of
Readiness), Hukum Latihan (Law of Exercise), Hukum Akibat (Law of Effect).
Disamping hukum belajar tersebut, konsep penting dari teori belajar
koneksionisme Thorndike adalah Transfer of Training. Konsep ini
menjelaskan bahwa apa yang pernah di pelajari anak sekarang harus dapat
digunakan untuk hal lain di masa yang akan datang. Dalam konteks pembelajaran, konsep
Transfer of Training merupakan hal yang sangat penting, sebab seandainya
konsep ini tidak ada, maka apa yang dipelajari tidak akan berguna. Oleh karena
itu, apa yang dipelajari siswa disekolah harus berguna dan dapat di gunakan di
luar sekolah. (Sanjaya, 2011; 116)
Selain daripada itu Thorndike menambahkan hukum tambahan
sebagai berikut:
a). Hukum Reaksi
Bervariasi (multiple responses).
b). Hukum sikap (Attitude).
c). Hukum Aktivitas Berat
Sebelah (Pre-potency of Element).
d). Hukum Response by Analogy
e). Hukum perpindahan
Asosiasi (Associative Shifting)
b. teori belajar
Peaget
Jean Piaget (1896-1980) adalah seorang
psikolog yang menekuni proses perkembangan kognitif, berkebangsaan Swiss dan
berbicara bahasa Perancis. Dia menghabiskan sekitar setengah abad dari hidupnya
di Jenewa untuk mengkaji proses berfikir pada anak-anak. (Hill, 2010; 156)
Piaget pada pertengahan abad 20 mengembangkan
teori Konstruktivistik. Piaget berpendapat bahwa pada dasarnya individu sejak
kecil sudah memiliki kemampuan untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri.
Pengetahuan yang di konstruksi oleh anak sebagai subjek, maka akan menjadi
pengetahuan yang bermakna, sedangkan pengetahuan yang diperoleh melalui proses
pemberitahuan tidak akan menjadi pengetahuan yang bermakna. Pengetahuan
tersebut hanya untuk di ingat sementara setelah itu di lupakan. (Sanjaya, 2011;
123)
Mengkontruksi pengetahuan menurut Piaget
dilakukan melalui proses asimilasi dan akomodasi terhadap skema yang sudah ada.
Skema adalah struktur kognitif yang terbentuk melalui proses pengalaman.
Asimilasi adalah proses penyempurnaan skema yang telah terbentuk, dan akomodasi
adalah proses perubahan skema. Secara lengkap teori Konstruktivistik akan di
temukan dalam strategi peningkatan kemampuan berfikir, dll. (Sanjaya, 2011;
124)
Tahap-tahap Perkembangan
Kognitif Piaget
|
Tahap
|
Perkiraan Usia
|
Kemampuan-kemampuan
|
|
Sensorimotor
|
Lahir sampai 2 tahun
|
Terbentuknya konsep “kepermanenan objek” dan kemajuan
gradual dari perilaku reflektif ke perilaku yang mengarah kepada tujuan.
|
|
Praoperasional
|
2 sampai 7 tahun
|
Perkembangan kemampuan menggunakan simbol-simbol untuk
menyatakan objek-objek dunia. Pemikiran masih egosentris dan sentrasi.
|
|
Operasi Konkret
|
7 sampai 11 tahun
|
Perbaikan dalam kemampuan untuk berpikir secara logis.
Kemampuan-kemampuan baru termasuk penggunaan operasi-operasi yang
dapat-balik. Pemikiran tidak lagi sentrasi tetapi desentrasi, dan pemecahan
masalah tidak begitu dibatasi oleh keegosentrisan.
|
|
Operasi Formal
|
11 tahun sampai dewasa
|
Pemikiran abstrak dan murni simbolis mungkin dilakukan.
Masalah-masalah dapat dipecahkan melalui penggunaan eksperimentasi sistematis
|
Teori Piaget membahas
kognitif atau intelektual. Dan perkembangan intelektual erat hubungannya dengan
belajar, sehingga perkembangan intelektual ini dapat dijadikan landasan untuk
memahami belajar. Belajar dapat didefinisikan sebagai perubahan tingkah laku
yang terjadi akibat adanya pengalaman dan sifatnya relatif tetap. Piaget
memandang belajar itu sebagai tindakan kognitif, yaitu tindakan yang menyangkut
pikiran. Tindakan kognitif menyangkut tindakan penataan dan pengadaptasian
terhadap lingkungan. Piaget mengemukakan bahwa ada 4 aspek yang besar yang ada
hubungannya dengan perkembangan kognitif (Trianto, 2012:29) :
1) Pendewasaaan/kematangan, merupakan pengembangan dari susunan syaraf.
2) Pengalaman fisis,
anak harus mempunyai pengalaman dengan benda-benda dan stimulus-stimulus dalam
lingkungan tempat ia berinteraksi terhadap benda-benda itu.
3) Interaksi sosial, adalah pertukaran ide antara individu dengan
individu.
4) Keseimbangan,
adalah suatu system pengaturan sendiri yang bekerja untuk menyelesaikan peranan
pendewasaan, pengalaman fisis, dan interaksi sosial.
Teori
Piaget ini banyak dipakai dalam penentuan proses pembelajaran di kelas SD
terutama pembelajaran IPA. Piaget beranggapan anak bukan
merupakan suatu botol kosong yang siap untuk diisi, melainkan anak secara aktif
akan membangun pengetahuan dunianya. Satu hal lagi, teori Piaget mengajarkan
kita pada suatu kenyataan bahwa seluruh anak mengikuti pola perkembangan yang
sama tanpa mempertimbangkan kebudayaan dan kemampuan anak secara umum. Hanya
umur anak di mana konservasi muncul sering berbeda.
c.
teori belajar Robert
Gagne
Pembelajaran
menurut Gagne adalah seperangkat proses yang bersifat internal bagi setiap
individu sebagai hasil transformasi rangsangan yang berasal dari persitiwa
eksternal di lingkungan individu yang bersangkutan (kondisi). Agar kondisi
eksternal itu lebih bermakna sebaiknya diorganisasikan dalam urutan persitiwa
pembelajaran (metode atau perlakuan). Selain itu, dalam usaha mengatur kondisi
eksternal diperlukan berbagai rangsangan yang dapat diterima oleh panca indra,
yang dikenal dengan nama media dan sumber belajar. (Miarso, 2004; 245)
Pembelajaran menurut Gagne hendaknya
mampu menimbulkan persitiwa belajar dan proses kognitif. Peristiwa belajar (instructional
events) adalah persitiwa dengan urutan sebagai berikut : menimbulkan minat
dan memusatkan perhatian agar peserta didik siap menerima pelajaran,
menyampaikan tujuan pembelajaran agar pseerta didik tahu apa yang diharapkan
dala pembelajaran itu, mengingat kembali konsep/prinsip yang telah dipelajari
sebelumnya yang merupakan prasyarat, menyampaikan materi pembelajaran, memberikan
bimbingan atau pedoman untuk belajar, membangkitkan timbulnya unjuk kerja
peserta didik, memberikan umpan balik tentang kebenaran pelaksanaan tugas,
mengukur/evaluasi belajar, dan memperkuat referensi dan transfer belajar. (Miarso,
2004; 246)
d. teori belajar
Gestalt
Teori Gestalt dikembangkan oleh Wertheimer,
Koffka, dan Kohler. Menurut teori Gestalt, belajar adalah proses mengembangkan insight.
Insight adalah pemahaman terhadap hubungan antarbagian didalam suatu
situasi permasalahan. (Sanjaya, 2011; 120)
Untuk memahami bagaimana insight terjadi, kita
ikuti percobaan Kohler. Kohler menyimpan simpanse pada sebuah jeruji. Di dalam
jeruji di sediakan sebuah tongkat, dan di luar jeruji di simpan sebuah pisang.
Setelah di biarkan beberapa lama, ternyata simpanse berhasil meraih pisang yang
ada diluar jeruji dengan tongkat yang di sediakan itu. Dari percobaan tersebut,
simpanse mampu mengembangkan Insight, artinya ia dapat menangkap
hubungan antara jeruji, tongkat, dan pisang. Ia paham bahwa pisang adalah
makanan, ia paham juga bahwa tongkat dapat digunakan untuk meraih pisang yang
ada di luar jeruji. Inilah hakikat belajar. Belajar terjadi karena kemampuan
makna dan keterhubungan antara komponen yang ada di lingkungannya. (Sanjaya,
2011; 120)
Insight yang merupakan inti dari belajar menurut
teori gestalt, memiliki ciri-ciri sebagai berikut (Sanjaya, 2011; 121):
1) Kemampuan Insight seseorang tergantung kepada kemampuan dasar orang
tersebut, sedangkan kemampuan dasar itu tergantung kepada usia dan posisi yang
bersangkutan dalam kelompok (spesies) nya.
2) Insight dipengaruhi atau tergantung kepada pengalaman masa lalunya yang relevan.
3) Insight tergantung kepada pengaturan dan penyediaan lingkungannya.
4) Pengertian merupakan inti dari Insight. Melalui pengertian individu
akan dapat memecahkan persoalan. Pengertian itulah yang bisa menjadi kendaraan
dalam memecahkan persoalan lain pada situasi yang berlainan.
5) Apabila Insight telah diperoleh, maka dapat digunakan untuk
menghadapi persoalan dalam situasi yang lain. Disini terdapat semacam transfer
belajar, namun yang di transfer bukanlah materi yang dipelajari, tetapi
relasi-relasi dan generalisasi yang diperoleh melalui Insight.
Pembelajaran PAIKEM mempunyai empat aspek,
yaitu pengalaman, komunikasi, interaksi dan refleksi. Pengalaman dapat
diterapkan dengan cara eksperimen, pengamatan, penyelidikan, dan wawancara, ini
ada kaitannya dengan teori mengkontruksi
pengetahuan menurut Piaget. Komunikasi, dapat dilakukan dengan beberapa
bentuk yakni mengemukakan pendapat, mengeluarkan gagasannya, ini ada kaitannya
dengan teori Gestalt dikembangkan oleh Wertheimer, Koffka, dan Kohler.
Menurut teori Gestalt, belajar adalah proses mengembangkan insight. Insight
adalah pemahaman terhadap hubungan antarbagian didalam suatu situasi
permasalahan. Interaksi yang dimaksud maksudnya bisa dengan tanya jawab atau
dengan saling melempar pernyataan, ini ada kaitannya dengan pembelajaran
menurut Gagne yakni seperangkat
proses yang bersifat internal bagi setiap individu sebagai hasil transformasi
rangsangan yang berasal dari persitiwa eksternal di lingkungan individu yang
bersangkutan. Yang terakhir Refleksi yakni memikirkan kembali apa yang telah
diperbuat oleh siswa selama mereka belajar supaya terdapat perbaikan dan agar
mereka tidak mengulangi kesalahan, Berkaitan dengan konsep penting dari teori belajar
koneksionisme Thorndike Transfer of Training. Konsep ini menjelaskan
bahwa apa yang pernah di pelajari anak sekarang harus dapat digunakan untuk hal
lain di masa yang akan datang.
3. Pertanyaan: Dalam pembelajaran berbasis Web (E-Iearning),
M. ARBANIE ZHUHRIN NOOR belum begitu jelas memahamkan bagaimana implementasi
Model Pembelajaran Berbasis WEB karena pembahasannya sangat singkat seperti
yang terdapat pada halaman 5. Coba Sdr. kembangkan bagaimana proses belajar
melalui Web sehingga jelas perbedaannya antara Web sebagai media belajar dan
Web sebagai model pembelajaran?
Jawaban:
Menurut
Clark dan Mayer (2011: 8) e-learning adalah pembelajaran yang
menggunakan langkah – langkah dalam perangkat
digital seperti komputer atau perangkat mobile yang dapat mendukung
pembelajaran, dilengkapi dengan beberapa fitur berikut ini :
a) Penyimpanan dan atau mengirimkan bahan
pelajaran dari CD-ROM, local internal atau external memory, atau servers
yang ada di internet atau intranet.
b)
Termaksud dengan konten yang berhubungan
dengan pembelajaran.
c)
Menggunakan media seperti words dan gambar – gambar untuk mengirimkan
isi dari konten.
d)
Menggunakan metode instruktursi seperti contoh, latihan, dan masukan untuk
meningkatkan pembelajaran.
e)
Dapat menggunakan instruktur ( synchronous e-learning ) atau
pembelajaran secara individu (asynchronous e-learning )
Langkah-langkah
dalam pengembangan bahan ajar pada e-learning yaitu :
a) Mengidentifikasi bahan pelajaran
yang disajikan setiap pertemuan
b) Menyusun kerangka materi
pembelajaran yang sesuai dengan tujuan instruksional dan pencapaiannya sesuai dengan indikator –
indikator yang telah ditetapkan.
c) Bahan tersebut selanjutnya dibuat
tampilan yang semenarik mungkin dengan menggunakan aplikasi komputer
yang didukung oleh gambar, video dan bahan animasi lainnya agar siswa lebih
tertarik dengan materi yang dipelajari serta diberikan latihan-latihan sesuai
dengan kaidah evaluasi pembelajaran sekaligus bahan evaluasi kemajuan siswa.
d) Bahan pengayaan hendaknya diberikan
melalui link ke situs-situs belajar yang ada di
internet agar siswa mudah mendapatkannya.
e) Setelah bahan selesai maka secara teknis guru tinggal
mengupload ke situs e-learning yang telah dibuat
Pemanfaatan Web sebagai media pembelajaran yakni
mengondisikan siswa untuk belajar secara mandiri. Para siswa dapat mengakses
secara online dari berbagai perpustakaan, musseum, database, dan mendapatkan
sumber primer tentang berbagai hal. (Rusman, 2014; 341)
Media Web difungsikan sebagai saluran komunikasi atau
perantara yang digunakan untuk membawa atau menyampaikan pesan, dan perantara
ini merupakan jalan atau alat lalu lintas suatu pesan antara komunikator dan
komunikan. Fungsinya selain untuk memperluas keberadaan konsep yang abstrak,
juga dapat meningkatkan daya kreativitas anak. (Sudjana, 2001)
Web sebagai model pembelajaran yaitu Web digunakan
sebagai bahan ajar kemudian dilanjutkan oleh diskusi lanjutan oleh peserta
didik.
Adapun model-model pembelajaran Web yaitu:
a.
Web Course. Adalah penggunaan internet untuk keperluan
pembelajaran dimana seluruh bagian bahan belajar, diskusi, konsultasi,
penugasan, latihan, dan ujian sepenuhnya disampaikan melalui internet.
b.
Web Centric Course. Sebagai bahan belajar, diskusi,
konsultasi, penugasan, dan latihan di sampaikan melalui internet.
c.
Web Enhanced Course. Berperan untuk menyediakan sumber
belajar dengan cara memberikan alamat-alamat atau membuka link ke berbagai
sumber belajar yang sesuai.
Setelah berbagai pemaparan di atas dapat diketahui
perbedaan jelas antara Web sebagai media dan Web sebagai model pembelajaran.
Web sebagai media di jadikan sebagai fasilitator atau wadah bagi penggunanya.
Sedangkan Web sebagai model pembelajaran yakni di dayagunakan tak hanya sebagai
sumber belajar, tapi dilanjutkan dengan diskusi dan penugasan tentunya dengan
arahan dan bimbingan dari guru.
4. Pertanyaan: Dalam
pembahasan Model Pembelajaran Berbasis Masalah, MIFTAHUL JANNAH dan MUHAMMAD
SUBHAN mengemukakan alur proses dan pelaksanaan pembelajaran
berbasis masalah seperti yang terdapat pada halaman 6-9.Dalam uraian tersebut
masih belum jelas terlihat keterkaitan antara satu dan yang lainnya. Coba Sdr.
uraikan lagi secara lebih rinci mengenai hubungan kedua hal tersebut sehingga
PBM dapat dipahami sebagai scientific method?
Jawaban:
Alur Pembelajaran
erat kaitannya dengan pelaksanaan
pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran
yang baik sebaiknya mengikuti atau memperhatikan bagaimana alur proses
atau prosedur. Ini dilaksanakan agar tujuan pembelajaran bisa terpenuhi dan
anak didik mampu menemukan titik titik
penting dalam memahami suatu pembelajaran.
Pembelajaran Berbasis Masalah melibatkan peserta didik dalam proses
pembelajaran yang aktif, kolaboratif, berpusat kepada peserta didik, yang
mengembangkan kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan belajar mandiri yang
diperlukan untuk menghadapi tantangan dalam kehidupan dan karier, dalam
lingkungan yang bertambah kompleks sekarang ini. Pembelajaran Berbasis Masalah
dapat pula dimulai dengan melakukan kerja kelompok antar peserta didik. peserta
didik menyelidiki sendiri, menemukan permasalahan, kemudian menyelesaikan
masalahnya di bawah petunjuk fasilitator (guru). (https://dinikomalasari.wordpress.com/2013/12/27/pembelajaran-berbasis-masalah-problem-based-learningpbl/)
|
|
|
|
![]() |
Titik
temu antara alur proses, pelaksanaan pembelajaran sebagai scientific method
yakni di dalam alur, anak di tuntut untuk eksplorasi pada pengembangan dan
pengarahan diri. Ini dapat dilihat pada
alur proses yakni anak belajar mengarahkan diri untuk menentukan dan
menganalisis masalah memberikan penyajian solusi dan refleksi (lihat
flowchart).
Pada
tahap anak belajar penemuan, anak akan mengembangkan inferensi logikanya, dalam
keadaan seperti itu anak akan belajar aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip.
Anak akan termotivasi menyelesaikan penyelidikannya dan akan memiliki
pengalaman baru. Dengan begitu diharapkan anak dapat mendeskripsikan secara
faktual apa yang telah di pelajari dari pengalamannya.
Anak
secara nyata dapat mengorganisasikan masalah
nyata yang penting secara sosial dan bermakna baginya. Anak akan dapat
menghadapi berbagai situasi kehidupan nyata yang tidak dapat dberi
jawaban-jawaban sederhana, belajar berfikir dengan struktural dan menemukan
solusi yang lebih real.
Pelaksanaan Model Pembelajaran Berbasis Masalah Oleh
beberapa ahli, John Dewey, dan David Johnson & Johnson yaitu:
|
No
|
John Dewey
|
David Johnson & Johnson
|
||
|
|
Merumuskan masalah
|
|
||
|
2
|
Menganalisis masalah
|
Mendiagnosis Masalah
|
||
|
3
|
Merumuskan hipotesis
|
Merumuskan alternatif strategi
|
||
|
4
|
Mengumpulkan data
|
Menentukan dan menerapkan strategi pilihan
|
||
|
5
|
Pengujian hipotesis
|
|
||
|
6
|
Merumuskan rekomendasi pemecahan
masalah
|
|
5. Pertanyaan: Dalam menjelaskan Model Pembelajaran Kooperatif, M. REZA
ANSYARI dan M. ROBI MAULANA ISHAK telah menjelaskan Konsep, Tujuan,
Karakteristik, Macam-macam, dan Teknik-teknik Model Pembelajaran Kooperatif
seperti yang terdapat pada halaman 2-9. Dalam menjelaskan
model-model pembelajarannya kedua penulis hanya member lima buah contoh seperti yang terdapat
pada halaman 6-7. Dari sekian banyak tipe pembelajaran kooperatif rasanya belum
cukup memadai kalau kita hanya mengetahui lima
tipe tersebut. Agar pemahaman kita lebih komprehensif tentang berbagai tipe
pembelajaran kooperatif, coba Sdr. jelaskan langkah-langkah pelaksanaan
tipe-tipe pembelajaran kooperatif berikut ini: (1) TGT, (2) ENE, (3) PAP, (4)
NHT, (5) CS, (6) CONSE, (7) MM, (8) TPS, (9) MAM, (10) GI, (11) TS, (12) CP, (13) EI, dan (14) CIRC?
Jawaban:
a. TGT (Team Games Together)
TGT adalah salah satu tipe pembelajaran
kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok belajar yang
beranggotakan 5 sampai 6 orang siswa yang memiliki kemampuan, jenis kelamin,
suku kata atau ras yang berbeda. (Rusman, 2014; 224)
Menurut Slavin pembelajaran kooperatif tipe
TGT terdiri dari 5 langkah tahapan yaitu : tahap penyajian kelas (class
precentation), belajar dalam kelompok (teams), permainan (games), pertandingan
(tournament), dan penghargaan kelompok (team recognition). Berdasarkan apa yang
diungkapkan oleh Slavin, maka model pembelajaran kooperatif tipe TGT memiliki
ciri-ciri sebagai berikut (Rusman, 2014; 225):
1) Siswa Bekerja Dalam Kelompok- Kelompok Kecil
Siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok
belajar yang beranggotakan 5 sampai 6 orang yang memiliki kemampuan, jenis
kelamin, dan suku atau ras yang berbeda. Dengan adanya heterogenitas anggota
kelompok, diharapkan dapat memotifasi siswa untuk saling membantu antar siswa
yang berkemampuan lebih dengan siswa yang berkemampuan kurang dalam menguasai
materi pelajaran. Hal ini menyebabkan tumbuhnya rasa kesadaran pada diri siswa
bahwa belajar secara kooperatif sangat menyenangkan.
2) Games Tournament
Dalam permainan ini setiap siswa yang
bersaing merupakan wakil dari kelompoknya. Siswa yang mewakili kelompoknya,
masing-masing ditempatkan dalam meja-meja turnamen. Tiap meja turnamen
ditempati 5 sampai 6 orang peserta, dan diusahakan agar tidak ada peserta yang berasal
dari kelompok yang sama. Dalam setiap meja turnamen diusahakan setiap peserta
homogen. Permainan ini dimulai dengan memberitahuakan aturan permainan. Setelah
itu permainan dimulai dengan membagikan kartu-kartu soal untuk bermain. (kartu
soal dan kunci ditaruh terbalik di atas meja sehingga soal dan kunci tidak
terbaca). Permainan pada tiap meja turnamen dilakukan dengan aturan sebagai
berikut. Pertama,setiap pemain dalam tiap meja menentukan dahulu pembaca soal
dan pemain pertama dengan cara undian. Kemudian pemain yang menang undian
mengambil kartu undian yang berisi nomor soal dan diberikan kepada pembaca
soal. Pembaca soal akan membacakan soal sesuai dengan nomor undian yang diambil
oleh pemain. Selanjutnya soal dikerjakan secara mandiri oleh pemain dan
penantang sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dalam soal. Setelah waktu
untuk mengerjakan soal selesai, maka pemain akan membacakan hasil pekerjaannya
yang akan ditanggapai oleh penantang searah jarum jam.setelah itu pembaca soal
akan membuka kunci jawaban dan skor hanya diberikan kepada pemain yang menjawab
benar atau penantang yang pertama kali memberikan jawaban benar.
Jika semua pemain menjawab salah maka kartu
dibiarkan saja. Permainan dilanjutkan pada kartu soal berikutnya sampai semua
kartu soal habis dibacakan, dimana posisi pemain diputar searah jarum jam agar
setiap peserta dalam satu meja turnamen dapat berperan sebagai pembaca soal,
pemain dan penantang. Disini permainan dapat dilakukan berkali-kali dengan
syarat bahwa setiap peserta harus mempunyai kesempatan yang sama sebagai
pemain, penantang, dan pembaca soal.
3) Penghargaan kelompok
Langkah pertama sebelum memberikan
penghargaan kelompok adalah menghitung rerata skor kelompok. Pemberian
penghargaan didasarkan atas rata-rata poin yang didapat oleh kelompok tersebut.
Dimana penentuan poin yang diperoleh oleh masing-masing anggota kelompok
didasarkan pada jumlah kartu yang diperoleh, seperti ditunjukkan pada tabel
berikut:
Tabel Perhitungan
Poin Permainan Untuk Empat Pemain
|
Pemain dengan
|
Poin bila
jumlah kartu yang diperoleh
|
|
Top Scorer
|
40
|
|
High Middle Scorer
|
30
|
|
Low Middle Scorer
|
20
|
|
Low Scorer
|
10
|
Tabel Perhitungan
Poin Permainan Untuk Tiga Pemain
|
Pemain dengan
|
Poin bila
jumlah kartu yang diperoleh
|
|
Top scorer
|
60
|
|
Middle Scorer
|
40
|
|
Low scorer
|
20
|
b. ENE (Example Non Example)
Examples non
examples merupakan
model pembelajaran dengan mempersiapkan gambar, diagram, atau tabel sesuai
materi bahan ajar dan kompetensi, sajian gambar ditempel atau memakai LCD/OHP,
dengan petunjuk guru siswa mencermati sajian, diskusi kelompok tentang sajian
gambar tadi, presentasi hasil kelompok, bimbingan penyimpulan, evaluasi, dan
refleksi (Roestiyah. 2001; 73).
Menurut (Agus
Suprijono, 2009 : 125) Langkah – langkah model pembelajaran Examples Non Examples,
diantaranya:
1) Guru mempersiapkan gambar-gambar
sesuai dengan tujuan pembelajaran.Gambar-gambar yang digunakan tentunya
merupakan gambar yang relevan dengan materi yang dibahas sesuai dengan
Kompetensi Dasar.
2) Guru menempelkan gambar di papan
atau ditayangkan melalui LCD/OHP/In
Focus. Pada tahap ini Guru dapat meminta
bantuan siswa untuk mempersiapkan gambar dan membentuk kelompok siswa.
3) Guru memberi petunjuk dan kesempatan
kepada peserta didik untuk memperhatikan/menganalisa
gambar. Peserta didik diberi waktu melihat
dan menelaah gambar yang disajikan
secara seksama agar detil gambar dapat dipahami
oleh peserta didik, dan guru juga member deskripsi
tentang gambar yang diamati.
4) Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa,
hasil diskusi dari analisa gambar
tersebut dicatat pada kertas. Kertas yang
digunakan sebaiknya disediakan
guru.
5) Tiap kelompok diberi kesempatan
untuk membacakan hasil diskusinya.
dilatih peserta didik untuk menjelaskan hasil diskusi mereka melalui perwakilan kelompok masing-masing.
dilatih peserta didik untuk menjelaskan hasil diskusi mereka melalui perwakilan kelompok masing-masing.
6) Mulai dari komentar/hasil diskusi
peserta didik, guru mulai menjelaskan materi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
7) Guru dan peserta didik menyimpulkan
materi sesuai dengan tujuan pembelajaran.
c. PAP (Picture And Picture)
Model
pembelajaran Picture and Picture adalah suatu metode belajar yang
menggunakan gambar dan dipasangkan / diurutkan menjadi urutan logis..
Gambar-gambar ini menjadi faktor
utama dalam proses pembelajaran. Sehingga sebelum proses pembelajaran guru
sudah menyiapkan gambar yang akan ditampilkan baik dalam bentuk kartu atau
dalam bentuk ukuran besar.
Langkah-langkah
dalam Model Pembelajaran Picture and Picture adalah sebagai berikut (Suprijono, 2009; 125):
1) Guru
menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
Di langkah ini guru diharapkan untuk menyampaikan apakah yang menjadi Kompetensi Dasar mata pelajaran yang bersangkutan. Dengan demikian maka siswa dapat mengukur sampai sejauh mana yang harus dikuasainya. Disamping itu guru juga harus menyampaikan indicator-indikator ketercapaian KD, sehingga sampai dimana KKM yang telah ditetapkan dapat dicapai oleh peserta didik.
Di langkah ini guru diharapkan untuk menyampaikan apakah yang menjadi Kompetensi Dasar mata pelajaran yang bersangkutan. Dengan demikian maka siswa dapat mengukur sampai sejauh mana yang harus dikuasainya. Disamping itu guru juga harus menyampaikan indicator-indikator ketercapaian KD, sehingga sampai dimana KKM yang telah ditetapkan dapat dicapai oleh peserta didik.
2) Menyajikan materi sebagai pengantar. Penyajian materi sebagai pengantar
sesuatu yang sangat penting, dari sini guru memberikan momentum permulaan
pembelajaran. Kesuksesan dalam proses pembelajaran dapat dimulai dari sini.
Karena guru dapat memberikan motivasi yang menarik perhatian siswa yang selama
ini belum siap. Dengan motivasi dan teknik yang baik dalam pemberian materi
akan menarik minat siswa untuk belajar lebih jauh tentang materi yang
dipelajari.
3) Guru
menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan materi. Dalam proses penyajian materi, guru
mengajar siswa ikut terlibat aktif dalam proses pembelajaran dengan mengamati
setiap gambar yang ditunjukan oleh guru atau oleh temannya. Dengan Picture atau
gambar kita akan menghemat energy kita dan siswa akan lebih mudah memahami
materi yang diajarkan. Dalam perkembangakan selanjutnya sebagai guru dapat
memodifikasikan gambar atau mengganti gambar dengan video atau demontrasi yang
kegiatan tertentu.
4) Guru menunjuk/memanggil siswa secara
bergantian memasang/mengurutkan gambar-gambar
menjadi urutan yang logis.
Di langkah ini guru harus dapat melakukan inovasi, karena penunjukan secara langsung kadang kurang efektif dan siswa merasa terhukum. Salah satu cara adalah dengan undian, sehingga siswa merasa memang harus menjalankan tugas yang harus diberikan. Gambar-gambar yang sudah ada diminta oleh siswa untuk diurutan, dibuat, atau dimodifikasi.
Di langkah ini guru harus dapat melakukan inovasi, karena penunjukan secara langsung kadang kurang efektif dan siswa merasa terhukum. Salah satu cara adalah dengan undian, sehingga siswa merasa memang harus menjalankan tugas yang harus diberikan. Gambar-gambar yang sudah ada diminta oleh siswa untuk diurutan, dibuat, atau dimodifikasi.
5) Guru
menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut.
Setelah itu ajaklah siswa menemukan rumus, tinggi, jalan cerita, atau tuntutan KD dengan indicator yang akan dicapai. Ajaklah sebanyak-banyaknya peran siswa dan teman yang lain untuk membantu sehingga proses diskusi dalam PBM semakin menarik.
Setelah itu ajaklah siswa menemukan rumus, tinggi, jalan cerita, atau tuntutan KD dengan indicator yang akan dicapai. Ajaklah sebanyak-banyaknya peran siswa dan teman yang lain untuk membantu sehingga proses diskusi dalam PBM semakin menarik.
6) Dari
alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menanamkan konsep/materi sesuai
dengan kompetensi yang ingin dicapai.
Dalam proses diskusi dan pembacaan gambar ini guru harus memberikan penekanan-penekanan pada hal ini dicapai dengan meminta siswa lain untuk mengulangi, menuliskan atau bentuk lain dengan tujuan siswa mengetahui bahwa hal tersebut penting dalam pencapaian KD dan indicator yang telah ditetapkan. Pastikan bahwa siswa telah menguasai indicator yang telah ditetapkan.
Dalam proses diskusi dan pembacaan gambar ini guru harus memberikan penekanan-penekanan pada hal ini dicapai dengan meminta siswa lain untuk mengulangi, menuliskan atau bentuk lain dengan tujuan siswa mengetahui bahwa hal tersebut penting dalam pencapaian KD dan indicator yang telah ditetapkan. Pastikan bahwa siswa telah menguasai indicator yang telah ditetapkan.
7) Kesimpulan/rangkuman Di akhir pembelajaran, guru bersama
siswa mengambil kesimpulan sebagai penguatan materi pelajaran.
d. NHT (Numbered Head Together)
Number Head Together adalah suatu Model pembelajaran yang lebih mengedepankan
kepada aktivitas siswa dalam mencari, mengolah, dan melaporkan informasi dari
berbagai sumber yang akhirnya dipresentasikan di depan kelas (Rahayu, 2006).
NHT pertama kali dikenalkan oleh Spencer Kagan dkk (1993). Model NHT adalah
bagian dari model pembelajaran kooperatif struktural, yang menekankan pada
struktur-struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi
siswa.
Langkah-langkah
NHT (Ibrahim, 2000; 29) sebagai berikut :
1) Persiapan. Dalam tahap ini guru mempersiapkan
rancangan pelajaran dengan membuat Skenario Pembelajaran (SP), Lembar Kerja
Siswa (LKS) yang sesuai dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT.
2) Pembentukan kelompok. Dalam pembentukan kelompok
disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Guru membagi para
siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 3-5 orang siswa. Guru
memberi nomor kepada setiap siswa dalam kelompok dan nama kelompok yang
berbeda..
3)
Tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan. Dalam
pembentukan kelompok, tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan
agar memudahkan siswa dalam menyelesaikan LKS atau masalah yang diberikan oleh
guru.
4)
Diskusi
masalah. Dalam kerja kelompok, guru membagikan LKS kepada setiap siswa sebagai
bahan yang akan dipelajari. Dalam kerja kelompok setiap siswa berpikir bersama
untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban dari
pertanyaan yang telah ada dalam LKS atau pertanyaan yang telah diberikan oleh
guru. Pertanyaan dapat bervariasi, dari
yang bersifat spesifik sampai yang bersifat umum.
5) Memanggil nomor anggota atau
pemberian jawaban. Dalam
tahap ini, guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan
nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban kepada siswa di kelas.
6) Memberi kesimpulan. Guru bersama siswa menyimpulkan
jawaban akhir dari semua pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang
disajikan.
e. CS (Cooperative Script)
Model pembelajaran Cooperative Script di sebut
juga Skrip kooperatif adalah metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan
dan secara lisan mengikhtisarkan bagian-bagian dari materi yang dipelajarinya
dalam ruangan kelas (Miftahul A’la, 2011; 97). Cooperative script merupakan
model pembelajaran yang dapat meningkatkan daya ingat siswa (Slavin, 1994;175).
Langkah-langkah
untuk menerapkan model pembelajran coopertive script adalah sebagai berikut
(Riyanto, 2009; 280) :
1) Guru
membagi siswa untuk berpasangan.
2) Guru membagiakan wacana/materi tiap siswa untuk dibaca
dan membuat ringkasan.
3) Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan
sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar.
4) Pembicaraan membacakan ringkasannya selengkap mungkin dengan memasukkan
ide-ide pokok dalam ringkasannya, sementara pendengar :
a) Menyimak/mengoreksi/melengkapi
ide-ide pokok yang kurang lengkap.
b)Membantu mengingat/menghafal ide/ide pokok dengan
menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya.
5) Bertukar peran, semula berperan sebagai pembicara
ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya. Kemudian lakukan seperti kegiatan
tersebut kembali..
6) Merumuskan kesimpulan bersama-sama siswa dan guru.
7) Penutup.
f. CONSE (Concept Sentence)
Concept Sentence merupakan
model pembelajaran yang menekankan pada siswa dibentuk kelompok heterogen
kemudian setiap kelompok yang sudah dibentuk masing-masing membuat kalimat
dengan minimal 4 kata kunci sesuai materi yang disajikan (Kiranawati, 2007; 8).
Langkah- langkah
dalam pembelajaran model pembelajaran kooperatif tipe concept sentence adalah
sebagai berikut (Suprijono, 2009;132).
1) Guru menyampaikan kompetensi yang
ingin dicapai.
2) Guru menyajikan materi menulis
deskripsi (misalnya tentang makhluk hidup antara lain binatang, tumbuhan, dan
buah-buahan)
3) Guru membentuk kelompok secara
berpasangan.
4) Guru menyajikan beberapa kata kunci
sesuai materi yang disajikan.
5) Tiap kelompok membuat beberapa
kalimat dengan menggunakan minimal 4 kata kunci setiap kalimat.
6) Hasil diskusi kelompok didiskusikan
kembali secara pleno yang dipandu oleh guru.
7) Siswa
mengerjakan soal evaluasi menulis deskripsi
g. MM (Mind Mapping)
Mind mapping atau peta
pikiran adalah suatu tekhnik pembuatan catatan-catatan yang dapat digunakan pada
situasi, kondisi tertentu, seperti dalam pembuatan perencanaan, penyelesaian
masalah, membuat ringkasan, membuat struktur, pengumpulan ide-ide, untuk
membuat catatan, kuliah, rapat, debat dan wawancara.(Svantesson, 2004; 1)
Langkah-langkah pembelajaran menggunakan mind mapping adalah:
1) Guru
menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
2) Guru
mengkondisikan siswa kedalam kelompok berpasangan dua orang.
3) Guru
menyajikan atau mengingatkan kembali materi yang akan dipelajari, misal materi
“Kesebangunan”. Guru memberitahukan tujuan dan manfaat dari materi yang akan
dipelajari karena akan membantu siswa untuk mengingatnya.
4) Selanjutnya
guru menbagikan potongan-potongan kartu yang telah bertuliskan konsep utama
kepada siswa.
5) Menugaskan
salah satu siswa dari pasangan itu menceritakan materi yang baru diterima dari
guru dan pasangannya mendengar sambil membuat catatan-catatan kecil, kemudian
berganti peran. Begitu juga kelompok lainnya.
6) Menugaskan
siswa secara bergiliran/diacak menyampaikan hasil wawancaranya
dengan teman pasangannya. Sampai sebagian siswa sudah menyampaikan hasil
wawancaranya.
7) Guru
mengulangi/menjelaskan kembali materi yang kiranya belum dipahami siswa.
8)
Kesimpulan/penutup.
h. TPS (Think Pair Share)
TPS (Think-Pair-Share) atau (Berfikir-Berpasangan-Berbagi) merupakan jenis
pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa.
TPS menghendaki siswa bekerja saling membantu dalam kelompok kecil (2-6
anggota) dan lebih dirincikan oleh penghargaan kooperatif, dari pada penghargaan
individual (Ibrahim,
2000; 3).
Adapun
langkah-langkah TPS sebagai berikut :
1) Pendahuluan
a) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa agar
timbul rasa ingin tahu tentang konsep-konsep power amplifier yang akan
dipelajari.
2) Kegiatan Inti
a) Guru menerangkan materi penguat / amplifier secara singkat.
Dalam fase ini
guru menerapkan tahap thinking
dengan mengajukan pertanyaan mengenai amplifier secara klasikal dan member
kesempatan kepada siswa untuk berfikir dan mencoba memecahkan secara individu.
b) Guru mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar.
Dalam fase ini,
guru membentuk kelompok yang beranggotakan dua siswa.
c) Guru membimbing kelompok bekerja dan belajar dalam tahap pairing.
Dalam fase ini, guru menerapkan tahap pairing dengan meminta siswa
berpasangan untuk mendiskusikan atau menjawab pertanyaan dan memastikan bahwa
anggota kelompoknya sudah mengetahui dan memahami jawabannya. Setelah itu guru berkeliling dari satu pasangan ke pasangan yang
lain dan memberikan bantuan kepada pasangan yang mengalami kesulitan belajar.
d) Guru menerapkan tahap sharing.
e) Guru memberikan umpan balik dan tanggapan terhadap seluruh hasil
yang telah disajikan.
Dalam fase ini guru memanggil 2-3
pasangan secara acak untuk mempresentasikan secara sederhana hasil kinerjanya
menanggapi hasil yang telah disajikan. Setelah presentasi dilakukan oleh siswa,
guru menanggapi seluruh hasil kinerja yang telah disajikan
i.
MAM (Make
A Match)
Metode pembelajaran make a match
atau mencari pasangan dikembangkan oleh Lorna Curran (1994). Salah satu
keunggulan tehnik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai
suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. (Rusman, 2014; 223)
Langkah-langkah penerapan metode make a match sebagai
berikut:
1)
Guru menyiapkan
beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi
review, satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban.
2) Setiap siswa mendapatkan sebuah
kartu yang bertuliskan soal/jawaban.
3) Tiap siswa memikirkan jawaban/soal
dari kartu yang dipegang.
4) Setiap siswa mencari pasangan kartu
yang cocok dengan kartunya. Misalnya: pemegang kartu yang bertuliskan nama
tumbuhan dalam bahasa Indonesia akan berpasangan dengan nama tumbuhan dalam
bahasa latin (ilmiah).
5) Setiap siswa yang dapat mencocokkan
kartunya sebelum batas waktu diberi poin.
6) Jika siswa tidak dapat mencocokkan
kartunya dengan kartu temannya (tidak dapat menemukan kartu soal atau kartu
jawaban) akan mendapatkan hukuman, yang telah disepakati bersama.
7) Setelah satu babak, kartu dikocok
lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya, demikian
seterusnya.
8) Siswa juga bisa bergabung dengan 2
atau 3 siswa lainnya yang memegang kartu yang cocok.
9) Guru bersama-sama dengan siswa
membuat kesimpulan terhadap materi pelajaran
j.
GI (Group
Investigation)
Group investigation (investigasi kelompok) adalah
model belajar kooperatif yang menempatkan siswa ke dalam kelompok secara
heterogen dilihat dari perbedaan kemampuan dan latar belakang yang berbeda baik
dari segi gender, etnis, dan agama untuk melakukan investigasi terhadap suatu
topik (Harisantoso, 2005; 2).
Enam tahap di dalam Metode Group Investigation:
|
Tahap 1
|
Mengidentifikasi topik dan membagi siswa ke dalam kelompok.
|
Guru memberikan kesempatan bagi siswa untuk memberi kontribusi apa yang
akan mereka selidiki. Kelompok dibentuk berdasarkan heterogenitas.
|
|
Tahap II
|
Merencanakan tugas.
|
Kelompok akan membagi sub topik kepada seluruh anggota. Kemudian membuat
perencanaan dari masalah yang akan diteliti, bagaimana proses dan sumber apa
yang akan dipakai.
|
|
Tahap III
|
Membuat penyelidikan.
|
Siswa mengumpulkan, menganalisis dan mengevaluasi informasi, membuat
kesimpulan dan mengaplikasikan bagian mereka ke dalam pengetahuan baru dalam
mencapai solusi masalah kelompok
|
|
Tahap IV
|
Mempersiapkan tugas akhir
|
Setiap kelompok mempersiapkan tugas akhir yang akan dipresentasikan di
depan kelas.
|
|
Tahap V
|
Mempresentasikan tugas akhir
|
Siswa mempresentasikan hasil kerjanya. Kelompok lain tetap mengikuti.
|
|
Tahap VI
|
Evaluasi.
|
Soal ulangan mencakup seluruh topik yang telah diselidiki dan
dipresentasikan.
|
k. TS-TS (Two Stay-Two Stray)
Salah satu model pembelajaran kooperatif adalah model
TSTS. “Dua tinggal dua tamu” yang dikembangkan oleh Spencer Kagan 1992 dan
biasa digunakan bersama dengan model Kepala Bernomor (Numbered Heads).
Struktur TSTS yaitu salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang memberikan
kesempatan kepada kelompok membagikan hasil dan informasi kepada kelompok
lain. Hal ini dilakukan karena banyak kegiatan belajar mengajar yang diwarnai
dengan kegiatan-kegiatan individu. Siswa bekerja sendiri dan tidak
diperbolehkan melihat pekerjaan siswa yang lain. Padahal dalam kenyataan hidup
di luar sekolah, kehidupan dan kerja manusia saling bergantung satu sama
lainnya. (Suprijono, 2009; 130).
Adapun langkah-langkah model pembelajaran Dua Tinggal Dua
Tamu adalah sebagai berikut:
1) Siswa bekerja
sama dalam kelompok berempat seperti biasa.
2) Setelah
selesai, dua siswa dari masing-masing kelompok akan meninggalkan kelompoknya
dan masing-masing bertamu ke kelompok yang lain.
3) Dua siswa yang tinggal dalam
kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan informasi mereka ke tamu mereka.
4) Tamu mohon diri dan kembali ke
kelompok mereka sendiri dan melaporkan temuan mereka dari kelompok lain.
5) Kelompok mencocokkan dan membahas
hasil-hasil kerja mereka
l.
Co-op Co-op
Co-op Co-op merupakan model pembelajaran kooperatif yang berorientasi pada tugas
pembelajaran dan peserta didik mengendalikan apa dan bagaimana mempelajari
bahan yang ditugaskan kepada mereka. Metode ini menempatkan tim dalam koperasi
antara satu dengan lainnya untuk mempelajari sebuah topik di kelas. Co-op
Co-op memberi kesempatan pada peserta didik untuk bekerja sama dalam
kelompok-kelompok kecil, pertama untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang
diri mereka dan dunia, dan selanjutnya memberikan mereka kesempatan untuk
saling berbagi pemahaman baru itu dengan teman-teman sekelasnya (Slavin, 2009; 214).
Langkah Pembelajaran Co-op Co-op yaitu:
1)
Pada awal memulai
pembelajaran Co-op Co-op, guru mendorong peserta didik untuk menemukan
dan mengekspresikan ketertarikan peserta didik terhadap subjek yang akan
dipelajari.
2)
Guru mengatur peserta
didik ke dalam kelompok heterogen yang terdiri dari 4-5 orang.
3)
Guru membiarkan peserta
didik memilih topik untuk kelompok mereka.
4)
Tiap kelompok membagi
topiknya untuk membuat pembagian tugas di antara anggota kelompok. Anggota
kelompok didorong untuk saling berbagi referensi dan bahan pelajaran. Tiap
topik kecil harus memberikan kontribusi yang unik bagi usaha kelompok.
5)
Setelah para peserta
didik membagi topik kelompok mereka menjadi kelompok-kelompok kecil, mereka
akan bekerja secara individual. Mereka akan bertanggung jawab terhadap topik
kecil masing-masing karena keberhasilan kelompok bergantung pada mereka.
Persiapan topik kecil dapat dilakukan dengan mengumpulkan referensi-referensi terkait.
6)
Setelah peserta didik
menyelesaikan kerja individual mereka, mereka mempresentasikan topik kecil
mereka kepada teman satu kelompoknya.
7)
Para peserta didik
didorong untuk memadukan semua topik kecil dalam presentasi kelompok.
8)
Tiap kelompok
mempresentasikan hasil diskusinya pada topik kelompok. Semua anggota kelompok
bertanggung jawab terhadap presentasi kelompok.
9)
Evaluasi, evaluasi
dilakukan pada tiga tingkatan, yaitu pada saat presentasi kelompok dievaluasi oleh kelas,
kontribusi individual terhadap kelompok dievaluasi oleh teman satu kelompok,
presentasi kelompok dievaluasi oleh semua peserta didik (Slavin, 2009; 229).
m. CIRC (Cooperatif Integrated
Reading and Composition)
CIRC
merupakan model pembelajaran kooperatif terpadu membaca dan menulis Steven
& Slavin (Wijaya, 2004; 35) Dalam model pembelajaran CIRC,
siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen, yang terdiri
atas 4 atau 5 siswa. Dalam kelompok ini tidak dibedakan atas jenis kelamin,
suku/bangsa, atau tingkat kecerdasan siswa. Jadi, dalam kelompok ini sebaiknya
ada siswa yang pandai, sedang atau lemah, dan masing-masing siswa merasa cocok
satu sama lain.
1)
Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang yang secara heterogen
2)
Guru memberikan wacana/ kliping sesuai dengan topic
3)
Siswa bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi
tanggapan terhadap wacana / kliping dan ditulis pada lembar kertas
4)
Mempresentasikan hasil kerja kelompok
5) Guru
membuat kesimpulan bersama
6) Penutup
n. EI (Explicit Intruction)
Langkah-langkah (Suprijono, 2009; 130):
1) Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan
siswa
4) 2)
Mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan
5) 3)
Membimbing pelatihan
6) 4)
Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik
7) 5)
Memberikan kesempatan untuk latihan lanjutan
6. Pertanyaan: Dalam memahamkan
materi Model Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning), DINA
FTRIYAH dan SYAPWANSYAH dalam makalahnya menjelaskan materi tersebut, mulai
dari pengertian, asas-asas, dan karakteristik CTL. Namun kedua pemakalah belum
menjelaskan IMPLEMENTASI pembelajaran CTL sebagai sebuah Model yang harus
dilakukan oleh guru di dalam kelas. Coba Sdr. uraikan kembali secara rinci
muatan isi sebuah Model Pembelajaran yang terkait dengan CTL dengan menguraikan
PENGERTIAN tentang: (1) Pendekatan, (2) Strategi, (3) Metode, (4) Teknik, dan
(5) Taktik disertai dengan contohnya masing-masing?
Jawaban:
Asas-asas pembelajaran CTL yaitu (Tita, tth; 2):
a.
Konstruktivisme
(Constructivism)
Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan
baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Pembelajaran dengan
model ini pada dasarnya menekankan pentingnya siswa membangun sendiri
pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses pembelajaran.
b.
Inkuiri
(inquiry)
Inkuiri merupakan proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan
penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Dengan demikian, dalam
proses pembelajaran guru hendaknya merancang kegiatan yang memungkinkan siswa
dapat menemukan sendiri materi yang harus dipahaminya.
c.
Bertanya
(questioning)
Belajar pada hakikatnya bertanya dan menjawab pertanyaan. Bertanya
dapat dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan setiap individu sedangkan
menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir. Dalam
model CTL, guru harus dapat memancing dan mendorong agar siswa dapat menemukan
sendiri materi yang dipelajarinya melalui pertanyaan-pertanyaan.
d.
Masyarakat
Belajar (Learning Community)
Menyatakan bahwa pengetahuan dan pemahaman anak ditopang banyak
oleh komunikasi dengan orang lain. Hal ini berarti bahwa suatu permasalahan
tidak mungkin dapat dipecahkan sendirian, tetapi membutuhkan bantuan orang
lain. Konsep pembelajaran CTL menyarankan agar pembelajaran diperoleh melalui
kerja sama dengan orang lain yang dapat dilakukan melalui kelompok belajar.
Hasil belajar dapat diperoleh dari hasil sharing antar teman, antar
kelompok, dan antara yang tahu dengan yang tidak tahu, sehingga dapat saling
membagi.
e.
Pemodelan
(Modelling)
Pemodelan dalam
konsep CTL berarti proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai
contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa. Dalam pembelajaran CTL, guru bukan
satu-satunya model, tetapi dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Misalnya,
siswa ditunjuk untuk memodelkan sesuatu berdasarkan pengalamannya.
f.
Refleksi
(Reflection)
Refleksi
adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang
tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di masa yang lalu. Dalam pembelajaran
CTL, setiap akhir kegiatan guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengingat
kembali apa-apa yang telah dipelajarinya dengan menafsirkan pengalamannya
sendiri, sehingga ia dapat menyimpulkan tentang pengalaman belajarnya.
g.
Penilaian
Nyata (Authentic Assesment)
Penilaian
nyata berarti proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang
perkembangan belajar yang dilakukan siswa. Penilaian yang autentik dilakukan
secara terintegrasi dengan proses pembelajaran yang dilakukan secara terus
menerus selama proses pembelajaran berlangsung. Sehingga penekanannya diarahkan
kepada proses belajar bukan kepada hasil belajar.
Sedang Implementasi CTL dalam pembelajaran yakni (Mulyono,
2011).:
a. Pendekatan
Yaitu
titik tolak atau sudut pandang seseorang
terhadap suatu objek atau permasalahan. Contoh pendekatan dalam pembelajaran
seperti pendekatan CTL yaitu guru mengaitkan antara materi yang
diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan
antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka.
b.
Strategi
pembelajaran
Adalah ilmu dan kiat dalam memanfaatkan segala sumber yang dimiliki yang
dapat dikerahkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Strategi
pembelajaran ini masih bersifat konseptual. Contoh dari strategi pembelajaran yaitu Strategi pembelajaran inquiry dan
Strategi pembelajaran ekspositori.
c.
Metode pembelajaran
Yaitu cara yang digunakan untuk
mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan
praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Diantara metode pembelajaran
seperti ceramah, demonstrasi, diskusi, simulasi, dll.
d.
Teknik pembelajaran
Adalah suatu cara yang dilakukan seorang guru dalam mengimplementasikan suatu metode
secara spesifik. Misalkan penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah
peserta didik banyak, maka membutuhkan teknik tersendiri.
e.
Taktik pembelajaran
Merupakan gaya seorang dalam melaksanakan
metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan
terdapat dua orang yang sama-sama menggunakan metode ceramah. Tentunya ada
perbedaan taktik diantara keduanya yang satu diselingi dengan humor dan yang
satu lagi diselingi dengan cerita.
7. Pertanyaan: Dalam pembelajaran berbasis komputer sesungguhnya guru
tidak mengajari anak bagaimana mengoperasikan komputer, tetapi menggunakan
komputer sebagai MEDIA untuk memahami suatu tema atau topik. Sdr. NORA SUNARYO
PUTRI dan BADRYANTONI sudah cukup rinci menjelaskan prinsip-prinsip dan
model-model PBK namun tidak diikuti dengan penjelasan bagaimana cara
menggunakan komputer sebagai sebuah model pembelajaran. Coba
Sdr. uraikan kembali bagaimana proses dan prosedur implementasi Pembelajaran
Berbasis Komputer, sehingga jelas perbedaannya antara komputer sebagai media
belajar dan komputer sebagai model pembelajaran?
Jawaban:
Pembelajaran berbasis komputer merupakan penyampaikan
pembelajaran secara individual dan langsung kepada para siswa dengan cara
berinteraksi dengan mata pelajaran yang diprogramkan pada software
komputer berupa program komputer yang berisi tentang muatan pembelajaran.
Proses
pembelajaran komputer ini bisa menggunakan model drills (penyediaan
latihan-latihan soal untuk menguji kompetensi siswa), model tutorial (komputer
sebagai sumber belajar yang menampakkan pada monitor berupa teks, grafik,
animasi audio dan lainnya), model simulasi (menampilkan tiruan-tiruan pada monitor
sebagai pembimbing belajar), dan model instruksional games (permainan mendidik)
(Rusman, 2011; 287). Semua model tersebut bisa digunakan jika sudah di rancang
sesuai SK,KD dan Indikator sebuah materi pembelajaran terlebih dahulu agar
tidak terjadi mismatched.
a.
Kita tentukan program sesuai SK, KD dan
Indikator.
b.
Berikan pengantar pembelajaran, baru kita
memanfaatkan komputer sebagai alat bantu pada presentasi dalam pelaksanaan
pembelajaran. Kemudianmasuk pada program-program model yang telah disediakan oleh
pembelajaran berbasis komputer sesuai prosedur yang telah saya jelaskan dalam
makalah.
Adapun
perbedaan komputer sebagai media dan komputer sebagai model pembelajaran
sebagai berikut:
Komputer
sebagai media pembelajaran ialah komputer sebagai pembantu dalam memanajemen
atau sebagai manajer dalam penyajian informasi dan tahapan pembelajaran
(Arsyad, 2003; 96) yang penyampaian ini pun bisa digunakan tanpa komputer. Tapi
jika computer berperan sebagai media dapat dilihat pada pemberian pengantar
yang dimana guru menggunakan komputer sebagai media pemberi informasi pendukung
(Jennah, 2009; 117). Sedang komputer
sebagai model pembelajaran sebenarnya ialah memperankan komputer sebagai media
dan sekaligus sistem pembelajaran yang muatannya terletak pada software-software
komputer tersebut.
8. Pertanyaan: RAHMA FITRI
AWAL dan NIDAURRAHMAH dalam makalahnya Model Pembelajaran Langsung (Direct
Instruction) menjelaskan pengertian Pembelajaran Langsung dengan mengemukakan
tiga istilah, yaitu: Active Teaching, Explicit Instruction, dan Mastery
Teaching. Namun,kedua pemakalah belum begitu tuntas menjelaskan
ketiga istilah tersebut sehingga tidak terlihat secara jelas sisi-sisi
perbedaan dan persamaannya dari ketiga istilah tersebut. Coba
Sdr. uraikan kembali secara rinci ketiga istilah tersebut sehingga memiliki
pemahaman yang holistic tentang Direct Instruction?
Jawaban:
a. Active Teaching
Active Teaching (pengajaran
aktif) dengan tokohnya Good dan Grows (1983).
Disebut pembelajaran aktif karena dalam model ini siswa diharapkan dan dituntut
untuk aktif dalam pembelajaran terutama pada fase latihan terbimbing dan
latihan mandiri. Kemampuan siswa dalam fase ini menentukan keberhasilan hasil
belajar siswa.
b.
Explicit Instruction
Model ini pertama kali diperkenalkan oleh Rosenshine dan Steven
pada tahun 1986. Explicit instruction menekankan strategi demonstrasi oleh
guru, strategi latihan terpadu, dan praktek mandiri atau penerapan strategi
belajar. Explicit Instruction menurut Kardi dapat berbentuk
“ceramah, demonstrasi, pelatihan atau praktik, dan kerja kelompok ” Explicit
Instruction”digunakan untuk menyampaikan pelajaran yang ditransformasikan
langsung oleh guru kepada siswa.
c. Mastery Teaching
Strategi
pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal
dari seorang guru kepada siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi
pelajaran secara optimal. Model ini merupakan bentuk dari
pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada guru (teacher centered
approach)
Persamaan dari Active Teaching,
Explicit Instruction, dan Mastery Teaching, yakni
pendekatan
pembelajaran yang berorientasi kepada guru (teacher
centered approach), guru
dituntut untuk memberi pengarahan langsung kepada siswa. Sedangkan perbedaannya
yakni terdapat pada strategi demonstrasinya, Active Teaching berbentuk latihan terbimbing dan latihan mandiri, Explicit Instruction berbentuk
pelatihan atau praktik dan kerja kelompok, sedangkan Mastery Teaching berbentuk ceramah.
9.
Pertanyaan:
Dari sejumlah model pembelajaran yang sudah kita diskusikan dalam seminar kelas
sejak awal semester yang lalu, model-model pembelajaran mana yang cocok untuk
diterapkan dalam pembelajaran PAI di MI/SD? Jelaskan.
Jawaban:
Sejak manusia yang pertama lahir kedunia, telah ada dilakukan usaha-usaha
pendidikan. Manusia telah berusaha mendidik anak-anaknya kendatipun dalam cara
yang sangat sederhana. Jelas bahwa masalah pendidikan adalah masalahnya setiap
orang dari dulu hingga sekarang dan di waktu yang akan datang. Adalah tugas
guru yang bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas sesuai dengan keadaan si
anak didik (Sumadi, 1993; 1)
Jika orang dewasa belajar dengan berusaha
mencapai tujuannya yang ada di luar aktivitas belajarnya, maka anak kecil
belajar dengan mencapai tujuannya yang terletak dalam suatu aktivitas itu. Artinya, dengan aktivitas belajarnya yang khusus si anak akan merasakan
kegembiraan. Kegembiraan itulah tujuan yang akan di capai oleh si anak. (Sujanto, 1996; 15)
Di dalam belajar, si anak memerlukan bantuan dari benda sebagai
alatnya, sedang orang dewasa belajar tidak selalu memerlukan benda-benda.
Inilah sebabnya anak Learning by doing, sedang orang dewasa dikatakan Learning
by thinking. Hal ini di karenakan anak masih hidup di dalam dunia konkret,
dunia nyata. Sedang orang dewasa sudah dapat meninggalkan dunia nyata ke dunia
abstrak, atas bantuan kemampuan berpikirnya. (Sujanto, 1996; 16)
Menurut saya, model pembelajaran yang cocok
diterapkan dalam pembelajaran PAI di MI/SD yaitu Model Pembelajaran PAIKEMI, dikarenakan
anak yang usia dini memiliki sifat rasa ingin tahu dan berimajinasi, juga anak lebih tertarik dengan sesuatu yang
menyenangkan. Hal tersebut menjadi modal dasar bagi berkembangnya sikap kreatif
hingga mendorongnya untuk melakukan percobaan.
Selain PAIKEMI, menurut saya model
pembelajaran tematik juga cocok diterapkan dalam pembelajaran PAI di MI/SD,
karena anak masih berfikir konkrit belum mampu memilah-milah konsep dari
berbagai disiplin ilmu dan anak belajar berkembang secara bertahap mulai dari
hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang lebih kompleks maka konsep pembelajaran
tematik memberikan peluang kepada siswa untuk memperoleh pengetahuan dan
keterampilan secara utuh.
Salah satu pembelajaran yang kita ketahui yaitu bentuk masalahnya yang
abstrak, sedang anak masih dalam tingkat berfikir konkret. Di satu sisi ia senang sekali menirukan perbuatan yang baru, yang
ia belum dapat melakukannya. Dalam hal seperti ini, guru mesti menampilkan strategi pembelajaran yang menarik dan pendekatan yang
lebih luwes lagi, agar bisa mengarahkan cara berfikir anak agar tercapai
standar kompetensi yang di inginkan.
DAFTAR PUSTAKA
A’la, Miftahul, Quantum Teaching. Yogyakarta: Diva
press, 2011.
Agus
Sujanto, Psikologi Perkembangan, Surabaya:
Rineka Cipta, 1996.
Agus Suprijono. Cooperatif Learning
Teori dan Aplikasi PAIKEM.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.
Azhar Arsyad, Media Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers,
2003.
Clark, R. C., & Mayer, R. E. E-Learning and the Science of
Instruction . Amerika: Pfeiffer, 2011.
Elaine B. Johnson, Contextual
Teaching and Learning. Bandung:
Kaifa Learning, cet ke-2, 2011.
Hamzah, Nurdin Mohammad, Belajar
dengan Pendekatan PAILKEM. Jakarta: PT Bumi Aksara, cet ke-2, 2012.
Harisantoso, John, Pendekatan kooperatif model group
investigation suatu analisis pengantar. Edusaintek. Vol 1, No 1, P 1-8. 2005
http://aristwn.staff.iainsalatiga.ac.id/wp-content/uploads/sites/3/2014/09/teori-belajar-behavioristik.pdf.
Di akses pada 21 Juli 2016.
http://cuapfhiieear.blogspot.co.id/2013/02/model-pembelajaran-mind-mapping.html. Di akses pada 09 Juli 2016, 20.30.
http://www.scribd.com/doc/46499424/Teori-Belajar-Yang-Mendukung-Pembelajaran-IPA-SD.
Di akses pada 21 Juli 2016
https://dinikomalasari.wordpress.com/2013/12/27/pembelajaran-berbasis-masalah-problem-based-learningpbl/. Di akses pada 09 Juli 2016, 19.30.
Ibrahim, dkk. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: UNESA - University Press, 2005.
Kiranawati.
2007. Model Pembelajaran Consept Sentence. http://gurupkn.wordpress.com. Di akses pada
tanggal 09 Juli 2016.
Miarso,
Yusufhadi, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, Jakarta:
Penerbit Prenada Media, 2004.
Mulyono,
Strategi Pembelajaran, menuju efektivitas pembelajaran di abad Global, Malang:
UIN-Malik Press, 2011.
Nana Sudjana, Teknik
Pembelajaran dengan Menggunakan
Teknologi, Bandung: Remaja Karya, 2001.
Rodhatul Jennah, Media
Pembelajaran, Banjarmasin: Antasari Pers, 2009.
Roestiyah.
Strategi
Belajar Mengajar. Jakarta:
Rineka Cipta, 2001.
Rostiawati,
Tita. Penerapan Model Pembelajaran Ctl Pada Bahan Ajar Geometri Dan
Pengukuran Di Sekolah Dasar. Sumedang : UPI, t.th.
Riyanto, yatim, Paradigma Baru Pembalajaran, Jakarta: Kencana prenada media grup, 2009.
Rusman, Model-Model
Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada, cet ke-5, 2014.
Rusman, Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan
Komunikasi: Mengembangkan Profesionalitas Guru. Jakarta: Rajawali Pers,
2011.
Slavin, R.E, Educational Psychology:
Theory and Practice . Third. 1994
Slavin R.E, Cooperative Learning: Theory, Research and Practice, Englewoods Cliff, NJ: Prentice-Hall, 1990.
Suyitno,
Amin, Mengadopsi Pembelajaran CIRC dalam
Meningkatkan Keterampilan Siswa Menyelesaikan Soal Cerita.
Seminar Nasional F.MIPA UNNES, 2005.
Sumadi
Suryabrata, Psikologi Pendidikan,
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, cet ke-6, 1993
Trianto, Mendesain Model Pembelajaran
Inovatif-Progresif, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012.
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
Pendidikan. Jakarta: Prenada Media, cet ke-8, 2011.
Winfred F. Hill, Theories of Learning: Teori-teori Pembelajaran,
Konsepsi, Komparasi dan Signifikansi. Bandung: Nusa Media, cet ke-4, 2010.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar