Pink Rose Flower

Sabtu, 24 Desember 2016

Model-Model Pembelajaran - Jawaban Final Test





        TUGAS TERSTUKTUR                                   DOSEN PENGASUH
MODEL-MODEL PEMBELAJARAN         Dr. H. Ridhahani Fidzi, M.Pd                                   




JAWABAN UJIAN AKHIR SEMESTER





                                                                              

 SRI WAHYUNITA             NIM. 1502521475






INSTITUT AGAMA ISLAM NEGRI ANTASARI
PROGRAM PASCASARJANA
PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
2016

PERTANYAAN DAN JAWABAN
FINAL TEST MODEL-MODEL PEMBELAJARAN

1.      Pertanyaan: IHSAN MUZAKKI dan M. MISRAN DARMY dalam makalahnya yang berjudul “Model Pembelajaran Tematik” memaparkan Skema Garis Panduan Permasalahan dan Pengembangan Tema seperti yang terdapat pada halaman 8 s.d. 10. Namun, kedua pemakalah tersebut tidak tuntas membahas hubungan skema-tema-matrik kompetensi dasar. Sementara dalam seminar kelas yang dilaksanakan pada hari Jumat, 13 Mei 2016 tidak seorangpun peserta seminar yang mempermasalahkannya. Coba Sdr. jelaskan bagaimana hubungan skema-tema-dan matrik tersebut dengan kurikulum 2013 yang mengembangkan pembelajaran tematik?
Jawaban:
“Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraa” Depdiknas (2007: 226). Selanjutnya menurut Kunandar (2007: 311), “Tema merupakan alat atau wadah untuk mengedepankan berbagai konsep kepada anak didik secara utuh.” Dalam pembelajaran, tema diberikan dengan maksud menyatukan isi kurikulum dalam satu kesatuan yang utuh, memperkaya perbendaharaan bahasa anak didik dan membuat pemmbelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa.
Pembelajaran tematik merupakan kegiatan belajar berdasarkan pada suatu tema tertentu. Suatu tema akan menyangkut beberapa mata pelajaran yang saling berhubungan atau terkait satu sama lain. Dalam perencanaan pembelajaran (RPP) guru telah mengintegrasikan beberapa mata pelajaran menjadi satu kesatuan. Guru harus memilih konsep-konsep pada masing-masing mata pelajaran yang berhubungan dengan tema, kemudian mengkaitkan konsep-konsep itu menjadi sebuah skema atau suatu peta.
Ruang lingkup tema yang ditetapkan sebaiknya tidak terlalu luas atau terlalu sempit. Tema yang terlalu luas bisa dijabarkan lagi menjadi anak tema atau sub tema yang sifatnya lebih spesifik dan lebih konkret. Anak tema atau subtema tersebut selanjutnya dapat dikembangkan lagi menjadi suatu matrik/isi pembelajaran.
Hubungan skema tema dan matrik dalam mata pelajaran dengan kurikulum 2013 yang mengembangkan pembelajaran tematik adalah bahwa beberapa mata pelajaran, kompetensi inti, kompetensi dasar, dan indikator akan diikat dengan tema. Tema merupakan media pemersatu agar penyajian pembelajaran bisa terintegrasi. Pemetaan keterhubungan kompetensi dasar dari beberapa mata pelajaran yang bisa disatukan dalam sebuah tema dalam bentuk matriks. Dengan jaringan tema tersebut akan terlihat kaitan antara tema, kompetensi dasar dan indikator dari setiap mata pelajaran.
Dalam Model Tematik Terpadu, ada tiga model yang  dikembangkan atau dikenalkan di sekolah maupun lembaga pendidikan tenaga keguruan (LPTK) di Indonesia. Ketiga model tersebut adalah (1) model keterhubungan (connected), (2) model jaring laba-laba (webbed) dan (3) model kerpaduan (integrated).
Connected Model (keterkaitan) adalah model pengembangan kurikulum yang menggabungkan secara jelas satu topik dengan topik berikutnya, satu konsep dengan konsep lainnya, satu kemampuan dengan kemampuan lainnya, kegiatan satu hari dengan hari lainnya, dalam satu mata pelajaran. Pembelajaran model Webbed atau jaring laba-laba adalah pembelajaran yang pengembangannya dimulai dengan menentukan tema tertentu yang menjadi tema sentral bagi keterhubungan berbagai bidang studi.
Model jaring laba laba (webbed) merupakan model dengan menggunakan pendekatan tematik. Karena karakterik dari model ini adalah menggunakan pendekatan tema maka dalam model ini, tema dijadikan sebagai pemersatu dari beberapa mata pelajaran. Setelah tema  ditemukan. Baru dikembangkan sub-sub temanya dengan memperhatikan kaitanya dengan mata pelajaran yang dipadukan.
Bagan dan matrik di bawah ini merupakan contoh keterhubungan Kompetensi Dasar dengan tema pemersatunya adalah “Binatang”
MATA PELAJARAN
KOMPETENSI DASAR
INDIKATOR
Bahasa Indonesia
Mendeskripsikan binatang di sekitar
·   Menirukan gerak dan suara binatang tertentu.
·   Menjelaskan ciri-ciri binatang secara rinci (nama,ciri khasnya, suaranya, habitatnya) dengan pilihan kata dan kalimat yang runtut.
Pengetahuan Alam
Mendeskripsikan bagian-bagian yang tampak pada hewan di sekitar rumah dan sekolah
Membuat daftar bagian-bagian utama tubuh hewan (kucing, burumg, ikan) dan kegunaannya dari hasil pengamatan
Matematika
Memahami konsep urutan bilangan cacah
Menyebutkan banyaknya benda.
Membaca dan menulis lambang bilangan dalam kata-kata dan angka.
Menentukan bahwa kumpulan benda-benda lebih banyak, lebih sedikit, atau sama dengan kumpulan lain.

Kerajinan tangan dan kesenian
Menanggapi berbagai unsur rupa: bintik, garis, bidang, warna, bentuk.
Mengungkapkan perasaan ketertarikan pada objek yang diamati dari berbagai unsur rupa dan perpaduannya.

Dari tabel di atas dapat kita lihat bahwa tema “binatang” menyatukan mata pelajaran yaitu Bahasa Indonesia, Ilmu Pengetahuan Alam, Matematika, dan Kerajinan tangan dan kesenian yang kemudian setiap mata pelajaran memiliki kompetensi dasar dan indikator yang keduanya berhubungan dengan tema tadi yaitu tentang binatang.
2.      Pertanyaan:   Model pembelajaran PAIKEM akhir-akhir ini sering digunakan dalam proses pembelajaran terutama untuk kelas-kelas rendah. Sdr. AMELIA FITRIANI dan JUMAIDIYAH belum tuntas mengaitkan teori-teori belajar yang melandasi penerapan dalam PAIKEM. Coba Sdr. uraikan teori belajar yang mendasari lahirnya model pembelajaran PAIKEM terutama teori belajar: a. teori belajar Thorndike, b. teori belajar Peaget, c. teori belajar Robert Gagne, dan d. teori belajar Gestalt?
Jawaban:
Belajar adalah proses perubahan tingkah laku individu sebagai hasil dari pengalamannya dalam berinteraksi dengan lingkungan. Belajar bukan hanya sekedar menghapal, melainkan suatu proses mental yang terjadi dalam diri seseorang. (Rusman, 2014: 134)
Sebuah teori pelajaran biasanya memiliki tiga fungsi yang berbeda namun saling terkait dengan erat. Pertama teori pembelajaran adalah pendekatan terhadap suatu bidang pengetahuan; suatu cara menganalisis, membicarakan dan meneliti pembelajaran.  Dengan demikian teori berfungsi sebagai petunjuk dan sumber stimulasi bagi penelitian dan karya ilmah. Yang kedua, teori pembelajaran berupaya untuk meringkas sekumpulan besar pengetahuan mengenai hukum –hukum pembelajaran kedalam ruang yang cukup kecil. Dengan demikian, teori pembelajaran memmperlihatkan pencapaian dalam hal keluasan, organisasi dan kesimpelan, namun juga tidak kehilangan akurasi detailnya. Yang ketiga, teori pembelajaran secara kreatif, berupaya menjelaskan apa itu pembelajaran dan mengapa pembelajaran berlangsung seperti apa adanya. Teori merepresentasikan upaya terbaik manusia untuk memastikan struktur apa yang melandasi dunia tempat kita hidup. (Hill, 2010; 28)
a.     teori belajar Thorndike
Thorndike adalah perintis psikologi hewan eksperimental. Bukannya mengandalkan kisah-kisah orang mengenai kecerdasan hewan tertentu, ia membawa hewan ke dalam laboratorium, menghadapkan mereka pada berbagai problem yang telah di standarisasi, dan melakukan observasi yang teliti mengenai cara mereka memecahkan masalah. (Hill, 2010; 54)
Thorndike pada tahun 1913 mengembangkan teori Koneksionisme. Menurut teori belajar ini, belajar pada hewan dan pada manusia pada dasarnya berlangsung menurut prinsip-prinsip yang sama. Dasar terjadinya belajar adalah pembentukan asosiasi antara kesan yang di tangkap panca indera dengan kecenderungan untuk bertindak atau hubungan antara stimulus dan respons (S-R). Oleh karena itu teori ini juga di namakan teori Stimulus-Respons.(Sanjaya, 2011; 115)
Selanjutnya dalam teori konektivitas Thorndike mengemukakan hukum-hukum belajar sebagai berikut: Hukum Kesiapan (Law of Readiness), Hukum Latihan (Law of Exercise), Hukum Akibat (Law of Effect). Disamping hukum belajar tersebut, konsep penting dari teori belajar koneksionisme Thorndike adalah Transfer of Training. Konsep ini menjelaskan bahwa apa yang pernah di pelajari anak sekarang harus dapat digunakan untuk hal lain di masa yang akan datang. Dalam konteks pembelajaran, konsep Transfer of Training merupakan hal yang sangat penting, sebab seandainya konsep ini tidak ada, maka apa yang dipelajari tidak akan berguna. Oleh karena itu, apa yang dipelajari siswa disekolah harus berguna dan dapat di gunakan di luar sekolah. (Sanjaya, 2011; 116)
Selain daripada itu Thorndike menambahkan hukum tambahan sebagai berikut:
a). Hukum Reaksi Bervariasi (multiple responses).
b). Hukum sikap (Attitude).
c). Hukum Aktivitas Berat Sebelah (Pre-potency of Element).
d). Hukum Response by Analogy
e). Hukum perpindahan Asosiasi (Associative Shifting)
b. teori belajar Peaget
Jean Piaget (1896-1980) adalah seorang psikolog yang menekuni proses perkembangan kognitif, berkebangsaan Swiss dan berbicara bahasa Perancis. Dia menghabiskan sekitar setengah abad dari hidupnya di Jenewa untuk mengkaji proses berfikir pada anak-anak. (Hill, 2010; 156)
Piaget pada pertengahan abad 20 mengembangkan teori Konstruktivistik. Piaget berpendapat bahwa pada dasarnya individu sejak kecil sudah memiliki kemampuan untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Pengetahuan yang di konstruksi oleh anak sebagai subjek, maka akan menjadi pengetahuan yang bermakna, sedangkan pengetahuan yang diperoleh melalui proses pemberitahuan tidak akan menjadi pengetahuan yang bermakna. Pengetahuan tersebut hanya untuk di ingat sementara setelah itu di lupakan. (Sanjaya, 2011; 123)
Mengkontruksi pengetahuan menurut Piaget dilakukan melalui proses asimilasi dan akomodasi terhadap skema yang sudah ada. Skema adalah struktur kognitif yang terbentuk melalui proses pengalaman. Asimilasi adalah proses penyempurnaan skema yang telah terbentuk, dan akomodasi adalah proses perubahan skema. Secara lengkap teori Konstruktivistik akan di temukan dalam strategi peningkatan kemampuan berfikir, dll. (Sanjaya, 2011; 124)

Tahap-tahap Perkembangan Kognitif Piaget
Tahap
Perkiraan Usia
Kemampuan-kemampuan
Sensorimotor
Lahir sampai 2 tahun
Terbentuknya konsep “kepermanenan objek” dan kemajuan gradual dari perilaku reflektif ke perilaku yang mengarah kepada tujuan.
Praoperasional
2 sampai 7 tahun
Perkembangan kemampuan menggunakan simbol-simbol untuk menyatakan objek-objek dunia. Pemikiran masih egosentris dan sentrasi.
Operasi Konkret
7 sampai 11 tahun
Perbaikan dalam kemampuan untuk berpikir secara logis. Kemampuan-kemampuan baru termasuk penggunaan operasi-operasi yang dapat-balik. Pemikiran tidak lagi sentrasi tetapi desentrasi, dan pemecahan masalah tidak begitu dibatasi oleh keegosentrisan.
Operasi Formal
11 tahun sampai dewasa
Pemikiran abstrak dan murni simbolis mungkin dilakukan. Masalah-masalah dapat dipecahkan melalui penggunaan eksperimentasi sistematis

Teori Piaget membahas kognitif atau intelektual. Dan perkembangan intelektual erat hubungannya dengan belajar, sehingga perkembangan intelektual ini dapat dijadikan landasan untuk memahami belajar. Belajar dapat didefinisikan sebagai perubahan tingkah laku yang terjadi akibat adanya pengalaman dan sifatnya relatif tetap. Piaget memandang belajar itu sebagai tindakan kognitif, yaitu tindakan yang menyangkut pikiran. Tindakan kognitif menyangkut tindakan penataan dan pengadaptasian terhadap lingkungan. Piaget mengemukakan bahwa ada 4 aspek yang besar yang ada hubungannya dengan perkembangan kognitif (Trianto, 2012:29) :
1) Pendewasaaan/kematangan, merupakan pengembangan dari susunan syaraf.
2) Pengalaman fisis, anak harus mempunyai pengalaman dengan benda-benda dan stimulus-stimulus dalam lingkungan tempat ia berinteraksi terhadap benda-benda itu.
3) Interaksi sosial, adalah pertukaran ide antara individu dengan individu.
4) Keseimbangan, adalah suatu system pengaturan sendiri yang bekerja untuk menyelesaikan peranan pendewasaan, pengalaman fisis, dan interaksi sosial.
Teori Piaget ini banyak dipakai dalam penentuan proses pembelajaran di kelas SD terutama pembelajaran IPA. Piaget beranggapan anak bukan merupakan suatu botol kosong yang siap untuk diisi, melainkan anak secara aktif akan membangun pengetahuan dunianya. Satu hal lagi, teori Piaget mengajarkan kita pada suatu kenyataan bahwa seluruh anak mengikuti pola perkembangan yang sama tanpa mempertimbangkan kebudayaan dan kemampuan anak secara umum. Hanya umur anak di mana konservasi muncul sering berbeda.
c.    teori belajar Robert Gagne
Pembelajaran menurut Gagne adalah seperangkat proses yang bersifat internal bagi setiap individu sebagai hasil transformasi rangsangan yang berasal dari persitiwa eksternal di lingkungan individu yang bersangkutan (kondisi). Agar kondisi eksternal itu lebih bermakna sebaiknya diorganisasikan dalam urutan persitiwa pembelajaran (metode atau perlakuan). Selain itu, dalam usaha mengatur kondisi eksternal diperlukan berbagai rangsangan yang dapat diterima oleh panca indra, yang dikenal dengan nama media dan sumber belajar. (Miarso, 2004; 245)
Pembelajaran menurut Gagne hendaknya mampu menimbulkan persitiwa belajar dan proses kognitif. Peristiwa belajar (instructional events) adalah persitiwa dengan urutan sebagai berikut : menimbulkan minat dan memusatkan perhatian agar peserta didik siap menerima pelajaran, menyampaikan tujuan pembelajaran agar pseerta didik tahu apa yang diharapkan dala pembelajaran itu, mengingat kembali konsep/prinsip yang telah dipelajari sebelumnya yang merupakan prasyarat, menyampaikan materi pembelajaran, memberikan bimbingan atau pedoman untuk belajar, membangkitkan timbulnya unjuk kerja peserta didik, memberikan umpan balik tentang kebenaran pelaksanaan tugas, mengukur/evaluasi belajar, dan memperkuat referensi dan transfer belajar. (Miarso, 2004; 246)
d. teori belajar Gestalt
Teori Gestalt dikembangkan oleh Wertheimer, Koffka, dan Kohler. Menurut teori Gestalt, belajar adalah proses mengembangkan insight. Insight adalah pemahaman terhadap hubungan antarbagian didalam suatu situasi permasalahan. (Sanjaya, 2011; 120)
Untuk memahami bagaimana insight terjadi, kita ikuti percobaan Kohler. Kohler menyimpan simpanse pada sebuah jeruji. Di dalam jeruji di sediakan sebuah tongkat, dan di luar jeruji di simpan sebuah pisang. Setelah di biarkan beberapa lama, ternyata simpanse berhasil meraih pisang yang ada diluar jeruji dengan tongkat yang di sediakan itu. Dari percobaan tersebut, simpanse mampu mengembangkan Insight, artinya ia dapat menangkap hubungan antara jeruji, tongkat, dan pisang. Ia paham bahwa pisang adalah makanan, ia paham juga bahwa tongkat dapat digunakan untuk meraih pisang yang ada di luar jeruji. Inilah hakikat belajar. Belajar terjadi karena kemampuan makna dan keterhubungan antara komponen yang ada di lingkungannya. (Sanjaya, 2011; 120)
Insight yang merupakan inti dari belajar menurut teori gestalt, memiliki ciri-ciri sebagai berikut (Sanjaya, 2011; 121):
1)   Kemampuan Insight seseorang tergantung kepada kemampuan dasar orang tersebut, sedangkan kemampuan dasar itu tergantung kepada usia dan posisi yang bersangkutan dalam kelompok (spesies) nya.
2)   Insight dipengaruhi atau tergantung kepada pengalaman masa lalunya yang relevan.
3)   Insight tergantung kepada pengaturan dan penyediaan lingkungannya.
4)   Pengertian merupakan inti dari Insight. Melalui pengertian individu akan dapat memecahkan persoalan. Pengertian itulah yang bisa menjadi kendaraan dalam memecahkan persoalan lain pada situasi yang berlainan.
5)   Apabila Insight telah diperoleh, maka dapat digunakan untuk menghadapi persoalan dalam situasi yang lain. Disini terdapat semacam transfer belajar, namun yang di transfer bukanlah materi yang dipelajari, tetapi relasi-relasi dan generalisasi yang diperoleh melalui Insight.

Pembelajaran PAIKEM mempunyai empat aspek, yaitu pengalaman, komunikasi, interaksi dan refleksi. Pengalaman dapat diterapkan dengan cara eksperimen, pengamatan, penyelidikan, dan wawancara, ini ada kaitannya dengan teori  mengkontruksi pengetahuan menurut Piaget. Komunikasi, dapat dilakukan dengan beberapa bentuk yakni mengemukakan pendapat, mengeluarkan gagasannya, ini ada kaitannya dengan teori Gestalt dikembangkan oleh Wertheimer, Koffka, dan Kohler. Menurut teori Gestalt, belajar adalah proses mengembangkan insight. Insight adalah pemahaman terhadap hubungan antarbagian didalam suatu situasi permasalahan. Interaksi yang dimaksud maksudnya bisa dengan tanya jawab atau dengan saling melempar pernyataan, ini ada kaitannya dengan pembelajaran menurut Gagne yakni  seperangkat proses yang bersifat internal bagi setiap individu sebagai hasil transformasi rangsangan yang berasal dari persitiwa eksternal di lingkungan individu yang bersangkutan. Yang terakhir Refleksi yakni memikirkan kembali apa yang telah diperbuat oleh siswa selama mereka belajar supaya terdapat perbaikan dan agar mereka tidak mengulangi kesalahan, Berkaitan dengan konsep penting dari teori belajar koneksionisme Thorndike Transfer of Training. Konsep ini menjelaskan bahwa apa yang pernah di pelajari anak sekarang harus dapat digunakan untuk hal lain di masa yang akan datang.
3.      Pertanyaan:  Dalam pembelajaran berbasis Web (E-Iearning), M. ARBANIE ZHUHRIN NOOR belum begitu jelas memahamkan bagaimana implementasi Model Pembelajaran Berbasis WEB karena pembahasannya sangat singkat seperti yang terdapat pada halaman 5. Coba Sdr. kembangkan bagaimana proses belajar melalui Web sehingga jelas perbedaannya antara Web sebagai media belajar dan Web sebagai model pembelajaran?
Jawaban:
Menurut Clark dan Mayer (2011: 8) e-learning adalah pembelajaran yang menggunakan  langkah – langkah dalam perangkat digital seperti komputer atau perangkat mobile yang dapat mendukung pembelajaran, dilengkapi dengan beberapa fitur berikut ini :
a)  Penyimpanan dan atau mengirimkan bahan pelajaran dari CD-ROM, local internal atau external memory, atau servers yang ada di internet atau intranet.
b)  Termaksud dengan konten yang berhubungan dengan pembelajaran.
c) Menggunakan media seperti words dan gambar – gambar untuk mengirimkan isi dari konten.
d) Menggunakan metode instruktursi seperti contoh, latihan, dan masukan untuk meningkatkan pembelajaran.
e) Dapat menggunakan instruktur ( synchronous e-learning ) atau pembelajaran secara individu (asynchronous e-learning )
Langkah-langkah dalam pengembangan bahan ajar pada e-learning yaitu :
a)     Mengidentifikasi bahan pelajaran yang disajikan setiap pertemuan
b)     Menyusun kerangka materi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan instruksional dan   pencapaiannya sesuai dengan indikator – indikator yang telah ditetapkan.
c)      Bahan tersebut selanjutnya dibuat tampilan yang semenarik mungkin dengan menggunakan aplikasi  komputer yang didukung oleh gambar, video dan bahan animasi lainnya agar siswa lebih tertarik dengan materi yang dipelajari serta diberikan latihan-latihan sesuai dengan kaidah evaluasi pembelajaran sekaligus bahan evaluasi kemajuan siswa.
d)      Bahan pengayaan hendaknya diberikan melalui link ke situs-situs belajar yang ada di  internet agar siswa mudah mendapatkannya.
e)      Setelah bahan selesai maka secara teknis guru tinggal mengupload ke situs e-learning yang telah dibuat
Pemanfaatan Web sebagai media pembelajaran yakni mengondisikan siswa untuk belajar secara mandiri. Para siswa dapat mengakses secara online dari berbagai perpustakaan, musseum, database, dan mendapatkan sumber primer tentang berbagai hal. (Rusman, 2014; 341)
Media Web difungsikan sebagai saluran komunikasi atau perantara yang digunakan untuk membawa atau menyampaikan pesan, dan perantara ini merupakan jalan atau alat lalu lintas suatu pesan antara komunikator dan komunikan. Fungsinya selain untuk memperluas keberadaan konsep yang abstrak, juga dapat meningkatkan daya kreativitas anak. (Sudjana, 2001)
Web sebagai model pembelajaran yaitu Web digunakan sebagai bahan ajar kemudian dilanjutkan oleh diskusi lanjutan oleh peserta didik.
Adapun model-model pembelajaran Web yaitu:
a.    Web Course. Adalah penggunaan internet untuk keperluan pembelajaran dimana seluruh bagian bahan belajar, diskusi, konsultasi, penugasan, latihan, dan ujian sepenuhnya disampaikan melalui internet.
b.    Web Centric Course. Sebagai bahan belajar, diskusi, konsultasi, penugasan, dan latihan di sampaikan melalui internet.
c.    Web Enhanced Course. Berperan untuk menyediakan sumber belajar dengan cara memberikan alamat-alamat atau membuka link ke berbagai sumber belajar yang sesuai.
Setelah berbagai pemaparan di atas dapat diketahui perbedaan jelas antara Web sebagai media dan Web sebagai model pembelajaran. Web sebagai media di jadikan sebagai fasilitator atau wadah bagi penggunanya. Sedangkan Web sebagai model pembelajaran yakni di dayagunakan tak hanya sebagai sumber belajar, tapi dilanjutkan dengan diskusi dan penugasan tentunya dengan arahan dan bimbingan dari guru.
4.      Pertanyaan: Dalam pembahasan Model Pembelajaran Berbasis Masalah, MIFTAHUL JANNAH dan MUHAMMAD SUBHAN mengemukakan alur proses dan pelaksanaan pembelajaran berbasis masalah seperti yang terdapat pada halaman 6-9.Dalam uraian tersebut masih belum jelas terlihat keterkaitan antara satu dan yang lainnya. Coba Sdr. uraikan lagi secara lebih rinci mengenai hubungan kedua hal tersebut sehingga PBM dapat dipahami sebagai scientific method?
Jawaban:
Alur Pembelajaran erat  kaitannya dengan pelaksanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran  yang baik sebaiknya mengikuti atau memperhatikan bagaimana alur proses atau prosedur. Ini dilaksanakan agar tujuan pembelajaran bisa terpenuhi dan anak didik mampu  menemukan titik titik penting dalam memahami suatu pembelajaran.
Pembelajaran Berbasis Masalah  melibatkan peserta didik dalam proses pembelajaran yang aktif, kolaboratif, berpusat kepada peserta didik, yang mengembangkan kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan belajar mandiri yang diperlukan untuk menghadapi tantangan dalam kehidupan dan karier, dalam lingkungan yang bertambah kompleks sekarang ini. Pembelajaran Berbasis Masalah dapat pula dimulai dengan melakukan kerja kelompok antar peserta didik. peserta didik menyelidiki sendiri, menemukan permasalahan, kemudian menyelesaikan masalahnya di bawah petunjuk fasilitator (guru). (https://dinikomalasari.wordpress.com/2013/12/27/pembelajaran-berbasis-masalah-problem-based-learningpbl/)
Belajar Pengarahan diri
 
Belajar Pengarahan diri
 
Analisis Masalah dan Isu Belajar
 
Menentukan Masalah
 
Alur proses Pembelajaran Berbasis Masalah dapat dilihat pada flowchart berikut:








 









Titik temu antara alur proses, pelaksanaan pembelajaran sebagai scientific method yakni di dalam alur, anak di tuntut untuk eksplorasi pada pengembangan dan pengarahan  diri. Ini dapat dilihat pada alur proses yakni anak belajar mengarahkan diri untuk menentukan dan menganalisis masalah memberikan penyajian solusi dan refleksi (lihat flowchart).
Pada tahap anak belajar penemuan, anak akan mengembangkan inferensi logikanya, dalam keadaan seperti itu anak akan belajar aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip. Anak akan termotivasi menyelesaikan penyelidikannya dan akan memiliki pengalaman baru. Dengan begitu diharapkan anak dapat mendeskripsikan secara faktual apa yang telah di pelajari dari pengalamannya. 
Anak secara nyata  dapat mengorganisasikan masalah nyata yang penting secara sosial dan bermakna baginya. Anak akan dapat menghadapi berbagai situasi kehidupan nyata yang tidak dapat dberi jawaban-jawaban sederhana, belajar berfikir dengan struktural dan menemukan solusi yang lebih real.
Pelaksanaan Model Pembelajaran Berbasis Masalah Oleh beberapa ahli, John Dewey, dan David Johnson & Johnson yaitu:
No
John Dewey
David Johnson & Johnson
Belajar dan Pengarahan diri1
Merumuskan masalah
Menentukan, Analisis Masalah
 
Mendefinisikan Masalah
2
Menganalisis masalah
Mendiagnosis Masalah
3
Merumuskan hipotesis
Merumuskan alternatif strategi
4
Mengumpulkan data
Menentukan dan menerapkan strategi pilihan
5
Pengujian hipotesis
Laporan, Solusi, Refleksi, Kesimpulan & Evaluasi
 
Melakukan evaluasi
6
Merumuskan rekomendasi pemecahan masalah


5.      Pertanyaan: Dalam menjelaskan Model Pembelajaran Kooperatif, M. REZA ANSYARI dan M. ROBI MAULANA ISHAK telah menjelaskan Konsep, Tujuan, Karakteristik, Macam-macam, dan Teknik-teknik Model Pembelajaran Kooperatif seperti yang terdapat pada halaman 2-9. Dalam menjelaskan model-model pembelajarannya kedua penulis hanya member lima buah contoh seperti yang terdapat pada halaman 6-7. Dari sekian banyak tipe pembelajaran kooperatif rasanya belum cukup memadai kalau kita hanya mengetahui lima tipe tersebut. Agar pemahaman kita lebih komprehensif tentang berbagai tipe pembelajaran kooperatif, coba Sdr. jelaskan langkah-langkah pelaksanaan tipe-tipe pembelajaran kooperatif berikut ini: (1) TGT, (2) ENE, (3) PAP, (4) NHT, (5) CS, (6) CONSE, (7) MM, (8) TPS, (9) MAM, (10) GI, (11) TS, (12) CP, (13) EI, dan (14) CIRC?
Jawaban: 
a.      TGT (Team Games Together)
TGT adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok belajar yang beranggotakan 5 sampai 6 orang siswa yang memiliki kemampuan, jenis kelamin, suku kata atau ras yang berbeda. (Rusman, 2014; 224)
Menurut Slavin pembelajaran kooperatif tipe TGT terdiri dari 5 langkah tahapan yaitu : tahap penyajian kelas (class precentation), belajar dalam kelompok (teams), permainan (games), pertandingan (tournament), dan penghargaan kelompok (team recognition). Berdasarkan apa yang diungkapkan oleh Slavin, maka model pembelajaran kooperatif tipe TGT memiliki ciri-ciri sebagai berikut (Rusman, 2014; 225):
1) Siswa Bekerja Dalam Kelompok- Kelompok Kecil
Siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok belajar yang beranggotakan 5 sampai 6 orang yang memiliki kemampuan, jenis kelamin, dan suku atau ras yang berbeda. Dengan adanya heterogenitas anggota kelompok, diharapkan dapat memotifasi siswa untuk saling membantu antar siswa yang berkemampuan lebih dengan siswa yang berkemampuan kurang dalam menguasai materi pelajaran. Hal ini menyebabkan tumbuhnya rasa kesadaran pada diri siswa bahwa belajar secara kooperatif sangat menyenangkan.
2) Games Tournament
Dalam permainan ini setiap siswa yang bersaing merupakan wakil dari kelompoknya. Siswa yang mewakili kelompoknya, masing-masing ditempatkan dalam meja-meja turnamen. Tiap meja turnamen ditempati 5 sampai 6 orang peserta, dan diusahakan agar tidak ada peserta yang berasal dari kelompok yang sama. Dalam setiap meja turnamen diusahakan setiap peserta homogen. Permainan ini dimulai dengan memberitahuakan aturan permainan. Setelah itu permainan dimulai dengan membagikan kartu-kartu soal untuk bermain. (kartu soal dan kunci ditaruh terbalik di atas meja sehingga soal dan kunci tidak terbaca). Permainan pada tiap meja turnamen dilakukan dengan aturan sebagai berikut. Pertama,setiap pemain dalam tiap meja menentukan dahulu pembaca soal dan pemain pertama dengan cara undian. Kemudian pemain yang menang undian mengambil kartu undian yang berisi nomor soal dan diberikan kepada pembaca soal. Pembaca soal akan membacakan soal sesuai dengan nomor undian yang diambil oleh pemain. Selanjutnya soal dikerjakan secara mandiri oleh pemain dan penantang sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dalam soal. Setelah waktu untuk mengerjakan soal selesai, maka pemain akan membacakan hasil pekerjaannya yang akan ditanggapai oleh penantang searah jarum jam.setelah itu pembaca soal akan membuka kunci jawaban dan skor hanya diberikan kepada pemain yang menjawab benar atau penantang yang pertama kali memberikan jawaban benar.
Jika semua pemain menjawab salah maka kartu dibiarkan saja. Permainan dilanjutkan pada kartu soal berikutnya sampai semua kartu soal habis dibacakan, dimana posisi pemain diputar searah jarum jam agar setiap peserta dalam satu meja turnamen dapat berperan sebagai pembaca soal, pemain dan penantang. Disini permainan dapat dilakukan berkali-kali dengan syarat bahwa setiap peserta harus mempunyai kesempatan yang sama sebagai pemain, penantang, dan pembaca soal.
3) Penghargaan kelompok
Langkah pertama sebelum memberikan penghargaan kelompok adalah menghitung rerata skor kelompok. Pemberian penghargaan didasarkan atas rata-rata poin yang didapat oleh kelompok tersebut. Dimana penentuan poin yang diperoleh oleh masing-masing anggota kelompok didasarkan pada jumlah kartu yang diperoleh, seperti ditunjukkan pada tabel berikut:

Tabel Perhitungan Poin Permainan Untuk Empat Pemain
Pemain dengan
Poin bila jumlah kartu yang diperoleh
Top Scorer
40
High Middle Scorer
30
Low Middle Scorer
20
Low Scorer
10

Tabel Perhitungan Poin Permainan Untuk Tiga Pemain
Pemain dengan
Poin bila jumlah kartu yang diperoleh
Top scorer
60
Middle Scorer
40
Low scorer
20

b.      ENE (Example Non Example)
Examples non examples merupakan model pembelajaran dengan mempersiapkan gambar, diagram, atau tabel sesuai materi bahan ajar dan kompetensi, sajian gambar ditempel atau memakai LCD/OHP, dengan petunjuk guru siswa mencermati sajian, diskusi kelompok tentang sajian gambar tadi, presentasi hasil kelompok, bimbingan penyimpulan, evaluasi, dan refleksi (Roestiyah. 2001; 73).
Menurut (Agus Suprijono, 2009 : 125) Langkah – langkah model pembelajaran Examples Non Examples, diantaranya:
1) Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran.Gambar-gambar yang digunakan tentunya merupakan gambar yang relevan dengan materi yang dibahas sesuai dengan Kompetensi Dasar.
2) Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan melalui LCD/OHP/In Focus. Pada tahap ini Guru dapat meminta bantuan siswa untuk mempersiapkan gambar dan membentuk kelompok siswa.
3) Guru memberi petunjuk dan kesempatan kepada peserta didik untuk memperhatikan/menganalisa gambar. Peserta didik diberi waktu melihat dan menelaah gambar yang disajikan secara seksama agar detil gambar dapat dipahami oleh peserta didik, dan guru juga member deskripsi tentang gambar yang diamati.
4)  Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas. Kertas yang digunakan sebaiknya disediakan guru.
5) Tiap kelompok diberi kesempatan untuk membacakan hasil diskusinya.
dilatih peserta didik untuk menjelaskan hasil diskusi mereka melalui perwakilan kelompok masing-masing.
6) Mulai dari komentar/hasil diskusi peserta didik, guru mulai menjelaskan materi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
7) Guru dan peserta didik menyimpulkan materi sesuai dengan tujuan pembelajaran.
c.       PAP (Picture And Picture)
Model pembelajaran Picture and Picture adalah suatu metode belajar yang menggunakan gambar dan dipasangkan / diurutkan menjadi urutan logis.. Gambar-gambar ini menjadi faktor utama dalam proses pembelajaran. Sehingga sebelum proses pembelajaran guru sudah menyiapkan gambar yang akan ditampilkan baik dalam bentuk kartu atau dalam bentuk ukuran besar.
Langkah-langkah dalam Model Pembelajaran Picture and Picture adalah sebagai berikut (Suprijono, 2009; 125):
1) Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
Di langkah ini guru diharapkan untuk menyampaikan apakah yang menjadi Kompetensi Dasar mata pelajaran yang bersangkutan. Dengan demikian maka siswa dapat mengukur sampai sejauh mana yang harus dikuasainya. Disamping itu guru juga harus menyampaikan indicator-indikator ketercapaian KD, sehingga sampai dimana KKM yang telah ditetapkan dapat dicapai oleh peserta didik.
2)  Menyajikan materi sebagai pengantar. Penyajian materi sebagai pengantar sesuatu yang sangat penting, dari sini guru memberikan momentum permulaan pembelajaran. Kesuksesan dalam proses pembelajaran dapat dimulai dari sini. Karena guru dapat memberikan motivasi yang menarik perhatian siswa yang selama ini belum siap. Dengan motivasi dan teknik yang baik dalam pemberian materi akan menarik minat siswa untuk belajar lebih jauh tentang materi yang dipelajari.
3) Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan materi. Dalam proses penyajian materi, guru mengajar siswa ikut terlibat aktif dalam proses pembelajaran dengan mengamati setiap gambar yang ditunjukan oleh guru atau oleh temannya. Dengan Picture atau gambar kita akan menghemat energy kita dan siswa akan lebih mudah memahami materi yang diajarkan. Dalam perkembangakan selanjutnya sebagai guru dapat memodifikasikan gambar atau mengganti gambar dengan video atau demontrasi yang kegiatan tertentu.
4) Guru menunjuk/memanggil siswa secara bergantian memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis.
Di langkah ini guru harus dapat melakukan inovasi, karena penunjukan secara langsung kadang kurang efektif dan siswa merasa terhukum. Salah satu cara adalah dengan undian, sehingga siswa merasa memang harus menjalankan tugas yang harus diberikan.
Gambar-gambar yang sudah ada diminta oleh siswa untuk diurutan, dibuat, atau dimodifikasi.
5) Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut.
Setelah itu ajaklah siswa menemukan rumus, tinggi, jalan cerita, atau tuntutan KD dengan indicator yang akan dicapai. Ajaklah sebanyak-banyaknya peran siswa dan teman yang lain untuk membantu sehingga proses diskusi dalam PBM semakin menarik.
6) Dari alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menanamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.
Dalam proses diskusi dan pembacaan gambar ini guru harus memberikan penekanan-penekanan pada hal ini dicapai dengan meminta siswa lain untuk mengulangi, menuliskan atau bentuk lain dengan tujuan siswa mengetahui bahwa hal tersebut penting dalam pencapaian KD dan indicator yang telah ditetapkan. Pastikan bahwa siswa telah menguasai indicator yang telah ditetapkan.
7) Kesimpulan/rangkuman Di akhir pembelajaran, guru bersama siswa mengambil kesimpulan sebagai penguatan materi pelajaran.
d.      NHT (Numbered Head Together)
Number Head Together adalah suatu Model pembelajaran yang lebih mengedepankan kepada aktivitas siswa dalam mencari, mengolah, dan melaporkan informasi dari berbagai sumber yang akhirnya dipresentasikan di depan kelas (Rahayu, 2006). NHT pertama kali dikenalkan oleh Spencer Kagan dkk (1993). Model NHT adalah bagian dari model pembelajaran kooperatif struktural, yang menekankan pada struktur-struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa.
Langkah-langkah NHT (Ibrahim, 2000; 29) sebagai berikut :
1)   Persiapan. Dalam tahap ini guru mempersiapkan rancangan pelajaran dengan membuat Skenario Pembelajaran (SP), Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sesuai dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT.
2)   Pembentukan kelompok. Dalam pembentukan kelompok disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 3-5 orang siswa. Guru memberi nomor kepada setiap siswa dalam kelompok dan nama kelompok yang berbeda..
3)   Tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan. Dalam pembentukan kelompok, tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan agar memudahkan siswa dalam menyelesaikan LKS atau masalah yang diberikan oleh guru.
4)   Diskusi masalah. Dalam kerja kelompok, guru membagikan LKS kepada setiap siswa sebagai bahan yang akan dipelajari. Dalam kerja kelompok setiap siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban dari pertanyaan yang telah ada dalam LKS atau pertanyaan yang telah diberikan oleh guru. Pertanyaan dapat bervariasi, dari yang bersifat spesifik sampai yang bersifat umum.
5)   Memanggil nomor anggota atau pemberian jawaban. Dalam tahap ini, guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban kepada siswa di kelas.
6)   Memberi kesimpulan. Guru bersama siswa menyimpulkan jawaban akhir dari semua pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang disajikan.
e.       CS (Cooperative Script)
Model pembelajaran Cooperative Script di sebut juga Skrip kooperatif adalah metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan secara lisan mengikhtisarkan bagian-bagian dari materi yang dipelajarinya dalam ruangan kelas (Miftahul A’la, 2011; 97). Cooperative script merupakan model pembelajaran yang dapat meningkatkan daya ingat siswa (Slavin, 1994;175).
Langkah-langkah untuk menerapkan model pembelajran coopertive script adalah sebagai berikut (Riyanto, 2009; 280)  :
1)  Guru membagi siswa untuk berpasangan.
2) Guru membagiakan wacana/materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan.
3) Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar.
4) Pembicaraan membacakan ringkasannya selengkap mungkin dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya, sementara pendengar :
a)  Menyimak/mengoreksi/melengkapi ide-ide pokok yang kurang lengkap.
b)Membantu mengingat/menghafal ide/ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya.
5) Bertukar peran, semula berperan sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya. Kemudian lakukan seperti kegiatan tersebut kembali..
6) Merumuskan kesimpulan bersama-sama siswa dan guru.
7) Penutup.
f.       CONSE (Concept Sentence)
Concept Sentence merupakan model pembelajaran yang menekankan pada siswa dibentuk kelompok heterogen kemudian setiap kelompok yang sudah dibentuk masing-masing membuat kalimat dengan minimal 4 kata kunci sesuai materi yang disajikan (Kiranawati, 2007; 8).
Langkah- langkah dalam pembelajaran model pembelajaran kooperatif tipe concept sentence adalah sebagai berikut (Suprijono, 2009;132).
1) Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
2) Guru menyajikan materi menulis deskripsi (misalnya tentang makhluk hidup antara lain binatang, tumbuhan, dan buah-buahan)
3) Guru membentuk kelompok secara berpasangan.
4) Guru menyajikan beberapa kata kunci sesuai materi yang disajikan.
5) Tiap kelompok membuat beberapa kalimat dengan menggunakan minimal 4 kata kunci setiap kalimat.
6) Hasil diskusi kelompok didiskusikan kembali secara pleno yang dipandu oleh guru.
7) Siswa mengerjakan soal evaluasi menulis deskripsi
g.      MM (Mind Mapping)
Mind mapping atau peta pikiran adalah suatu tekhnik pembuatan catatan-catatan yang dapat digunakan pada situasi, kondisi tertentu, seperti dalam pembuatan perencanaan, penyelesaian masalah, membuat ringkasan, membuat struktur, pengumpulan ide-ide, untuk membuat catatan, kuliah, rapat, debat dan wawancara.(Svantesson, 2004; 1)
Langkah-langkah pembelajaran menggunakan mind mapping adalah:
1) Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
2) Guru mengkondisikan siswa kedalam kelompok berpasangan dua orang.
3) Guru menyajikan atau mengingatkan kembali materi yang akan dipelajari, misal materi “Kesebangunan”. Guru memberitahukan tujuan dan manfaat dari materi yang akan dipelajari karena akan membantu siswa untuk mengingatnya.
4) Selanjutnya guru menbagikan potongan-potongan kartu yang telah bertuliskan konsep utama kepada siswa.
5) Menugaskan salah satu siswa dari pasangan itu menceritakan materi yang baru diterima dari guru dan pasangannya mendengar sambil membuat catatan-catatan kecil, kemudian berganti peran. Begitu juga kelompok lainnya.
6) Menugaskan siswa secara bergiliran/diacak menyampaikan hasil wawancaranya dengan teman pasangannya. Sampai sebagian siswa sudah menyampaikan hasil wawancaranya.
7) Guru mengulangi/menjelaskan kembali materi yang kiranya belum dipahami siswa.
8) Kesimpulan/penutup.
h.      TPS (Think Pair Share)
TPS (Think-Pair-Share) atau (Berfikir-Berpasangan-Berbagi) merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. TPS menghendaki siswa bekerja saling membantu dalam kelompok kecil (2-6 anggota) dan lebih dirincikan oleh penghargaan kooperatif, dari pada penghargaan individual (Ibrahim, 2000; 3).
Adapun langkah-langkah TPS sebagai berikut :
1) Pendahuluan
a) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa agar timbul rasa ingin tahu tentang konsep-konsep power amplifier yang akan dipelajari.
2) Kegiatan Inti
a) Guru menerangkan materi penguat / amplifier secara singkat.
Dalam fase ini guru menerapkan tahap thinking dengan mengajukan pertanyaan mengenai amplifier secara klasikal dan member kesempatan kepada siswa untuk berfikir dan mencoba memecahkan secara individu.
b) Guru mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar.
Dalam fase ini, guru membentuk kelompok yang beranggotakan dua siswa.
c) Guru membimbing kelompok bekerja dan belajar dalam tahap pairing.
Dalam fase ini, guru menerapkan tahap pairing dengan meminta siswa berpasangan untuk mendiskusikan atau menjawab pertanyaan dan memastikan bahwa anggota kelompoknya sudah mengetahui dan memahami jawabannya. Setelah itu guru berkeliling dari satu pasangan ke pasangan yang lain dan memberikan bantuan kepada pasangan yang mengalami kesulitan belajar.
d) Guru menerapkan tahap sharing.
e) Guru memberikan umpan balik dan tanggapan terhadap seluruh hasil yang telah disajikan.
Dalam fase ini guru memanggil 2-3 pasangan secara acak untuk mempresentasikan secara sederhana hasil kinerjanya menanggapi hasil yang telah disajikan. Setelah presentasi dilakukan oleh siswa, guru menanggapi seluruh hasil kinerja yang telah disajikan
i.        MAM  (Make A Match)
Metode pembelajaran make a match atau mencari pasangan dikembangkan oleh Lorna Curran (1994). Salah satu keunggulan tehnik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. (Rusman, 2014; 223)
Langkah-langkah penerapan metode make a match sebagai berikut:
1)      Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban.
2)      Setiap siswa mendapatkan sebuah kartu yang bertuliskan soal/jawaban.
3)      Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang.
4)      Setiap siswa mencari pasangan kartu yang cocok dengan kartunya. Misalnya: pemegang kartu yang bertuliskan nama tumbuhan dalam bahasa Indonesia akan berpasangan dengan nama tumbuhan dalam bahasa latin (ilmiah).
5)      Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin.
6)      Jika siswa tidak dapat mencocokkan kartunya dengan kartu temannya (tidak dapat menemukan kartu soal atau kartu jawaban) akan mendapatkan hukuman, yang telah disepakati bersama.
7)      Setelah satu babak, kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya, demikian seterusnya.
8)      Siswa juga bisa bergabung dengan 2 atau 3 siswa lainnya yang memegang kartu yang cocok.
9)      Guru bersama-sama dengan siswa membuat kesimpulan terhadap materi pelajaran
j.        GI  (Group Investigation)
Group investigation (investigasi kelompok) adalah model belajar kooperatif yang menempatkan siswa ke dalam kelompok secara heterogen dilihat dari perbedaan kemampuan dan latar belakang yang berbeda baik dari segi gender, etnis, dan agama untuk melakukan investigasi terhadap suatu topik (Harisantoso, 2005; 2).
Enam tahap di dalam Metode Group Investigation:
Tahap 1
Mengidentifikasi topik dan membagi siswa ke dalam kelompok.
Guru memberikan kesempatan bagi siswa untuk memberi kontribusi apa yang akan mereka selidiki. Kelompok dibentuk berdasarkan heterogenitas.
Tahap II
Merencanakan tugas.
Kelompok akan membagi sub topik kepada seluruh anggota. Kemudian membuat perencanaan dari masalah yang akan diteliti, bagaimana proses dan sumber apa yang akan dipakai.
Tahap III
Membuat penyelidikan.
Siswa mengumpulkan, menganalisis dan mengevaluasi informasi, membuat kesimpulan dan mengaplikasikan bagian mereka ke dalam pengetahuan baru dalam mencapai solusi masalah kelompok
Tahap IV
Mempersiapkan tugas akhir
Setiap kelompok mempersiapkan tugas akhir yang akan dipresentasikan di depan kelas.
Tahap V
Mempresentasikan tugas akhir
Siswa mempresentasikan hasil kerjanya. Kelompok lain tetap mengikuti.
Tahap VI
Evaluasi.
Soal ulangan mencakup seluruh topik yang telah diselidiki dan dipresentasikan.

k.      TS-TS  (Two Stay-Two Stray)
Salah satu model pembelajaran kooperatif adalah model TSTS. “Dua tinggal dua tamu” yang dikembangkan oleh Spencer Kagan 1992 dan biasa digunakan bersama dengan model Kepala Bernomor (Numbered Heads). Struktur TSTS yaitu salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang memberikan kesempatan kepada kelompok membagikan hasil dan informasi kepada kelompok lain. Hal ini dilakukan karena banyak kegiatan belajar mengajar yang diwarnai dengan kegiatan-kegiatan individu. Siswa bekerja sendiri dan tidak diperbolehkan melihat pekerjaan siswa yang lain. Padahal dalam kenyataan hidup di luar sekolah, kehidupan dan kerja manusia saling bergantung satu sama lainnya. (Suprijono, 2009; 130).
Adapun langkah-langkah model pembelajaran Dua Tinggal Dua Tamu adalah sebagai berikut:
1) Siswa bekerja sama dalam kelompok berempat seperti biasa.
2) Setelah selesai, dua siswa dari masing-masing kelompok akan meninggalkan kelompoknya dan masing-masing bertamu ke kelompok yang lain.
3) Dua siswa yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan informasi mereka ke tamu mereka.
4) Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri dan melaporkan temuan mereka dari kelompok lain.
5) Kelompok mencocokkan dan membahas hasil-hasil kerja mereka
l.        Co-op  Co-op
Co-op Co-op merupakan model pembelajaran kooperatif yang berorientasi pada tugas pembelajaran dan peserta didik mengendalikan apa dan bagaimana mempelajari bahan yang ditugaskan kepada mereka. Metode ini menempatkan tim dalam koperasi antara satu dengan lainnya untuk mempelajari sebuah topik di kelas. Co-op Co-op memberi kesempatan pada peserta didik untuk bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil, pertama untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang diri mereka dan dunia, dan selanjutnya memberikan mereka kesempatan untuk saling berbagi pemahaman baru itu dengan teman-teman sekelasnya (Slavin, 2009; 214).
Langkah Pembelajaran Co-op Co-op yaitu:
1)      Pada awal memulai pembelajaran Co-op Co-op, guru mendorong peserta didik untuk menemukan dan mengekspresikan ketertarikan peserta didik terhadap subjek yang akan dipelajari.
2)      Guru mengatur peserta didik ke dalam kelompok heterogen yang terdiri dari 4-5 orang.
3)      Guru membiarkan peserta didik memilih topik untuk kelompok mereka.
4)      Tiap kelompok membagi topiknya untuk membuat pembagian tugas di antara anggota kelompok. Anggota kelompok didorong untuk saling berbagi referensi dan bahan pelajaran. Tiap topik kecil harus memberikan kontribusi yang unik bagi usaha kelompok.
5)      Setelah para peserta didik membagi topik kelompok mereka menjadi kelompok-kelompok kecil, mereka akan bekerja secara individual. Mereka akan bertanggung jawab terhadap topik kecil masing-masing karena keberhasilan kelompok bergantung pada mereka. Persiapan topik kecil dapat dilakukan dengan mengumpulkan referensi-referensi terkait.
6)      Setelah peserta didik menyelesaikan kerja individual mereka, mereka mempresentasikan topik kecil mereka kepada teman satu kelompoknya.
7)      Para peserta didik didorong untuk memadukan semua topik kecil dalam presentasi kelompok.
8)      Tiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya pada topik kelompok. Semua anggota kelompok bertanggung jawab terhadap presentasi kelompok.
9)      Evaluasi, evaluasi dilakukan pada tiga tingkatan, yaitu pada saat presentasi kelompok dievaluasi oleh kelas, kontribusi individual terhadap kelompok dievaluasi oleh teman satu kelompok, presentasi kelompok dievaluasi oleh semua peserta didik (Slavin, 2009; 229).
m.    CIRC (Cooperatif  Integrated Reading and Composition)
CIRC merupakan model pembelajaran kooperatif terpadu membaca dan menulis Steven & Slavin (Wijaya, 2004; 35) Dalam model pembelajaran CIRC, siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen, yang terdiri atas 4 atau 5 siswa. Dalam kelompok ini tidak dibedakan atas jenis kelamin, suku/bangsa, atau tingkat kecerdasan siswa. Jadi, dalam kelompok ini sebaiknya ada siswa yang pandai, sedang atau lemah, dan masing-masing siswa merasa cocok satu sama lain.
Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe CIRC adalah sebagai berikut.
1) Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang yang secara heterogen
2) Guru memberikan wacana/ kliping sesuai dengan topic
3) Siswa bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana / kliping dan ditulis pada lembar kertas
4) Mempresentasikan hasil kerja kelompok
5) Guru membuat kesimpulan bersama
6) Penutup
n.      EI (Explicit Intruction)
Langkah-langkah (Suprijono, 2009; 130):
1)   Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa

4)                    2)  Mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan
5)                    3)  Membimbing pelatihan
6)                    4)  Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik
7)                    5)  Memberikan kesempatan untuk latihan lanjutan
6.    Pertanyaan: Dalam  memahamkan materi Model Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning), DINA FTRIYAH dan SYAPWANSYAH dalam makalahnya menjelaskan materi tersebut, mulai dari pengertian, asas-asas, dan karakteristik CTL. Namun kedua pemakalah belum menjelaskan IMPLEMENTASI pembelajaran CTL sebagai sebuah Model yang harus dilakukan oleh guru di dalam kelas. Coba Sdr. uraikan kembali secara rinci muatan isi sebuah Model Pembelajaran yang terkait dengan CTL dengan menguraikan PENGERTIAN tentang: (1) Pendekatan, (2) Strategi, (3) Metode, (4) Teknik, dan (5) Taktik disertai dengan contohnya masing-masing?
     Jawaban:
Asas-asas  pembelajaran  CTL yaitu (Tita, tth; 2):
a.      Konstruktivisme (Constructivism)
Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Pembelajaran dengan model ini pada dasarnya menekankan pentingnya siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses pembelajaran.
b.      Inkuiri (inquiry)
Inkuiri merupakan proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Dengan demikian, dalam proses pembelajaran guru hendaknya merancang kegiatan yang memungkinkan siswa dapat menemukan sendiri materi yang harus dipahaminya.
c.       Bertanya (questioning)
Belajar pada hakikatnya bertanya dan menjawab pertanyaan. Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan setiap individu sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir. Dalam model CTL, guru harus dapat memancing dan mendorong agar siswa dapat menemukan sendiri materi yang dipelajarinya melalui pertanyaan-pertanyaan.
d.      Masyarakat Belajar (Learning Community)
Menyatakan bahwa pengetahuan dan pemahaman anak ditopang banyak oleh komunikasi dengan orang lain. Hal ini berarti bahwa suatu permasalahan tidak mungkin dapat dipecahkan sendirian, tetapi membutuhkan bantuan orang lain. Konsep pembelajaran CTL menyarankan agar pembelajaran diperoleh melalui kerja sama dengan orang lain yang dapat dilakukan melalui kelompok belajar. Hasil belajar dapat diperoleh dari hasil sharing antar teman, antar kelompok, dan antara yang tahu dengan yang tidak tahu, sehingga dapat saling membagi.
e.       Pemodelan (Modelling)
Pemodelan dalam konsep CTL berarti proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa. Dalam pembelajaran CTL, guru bukan satu-satunya model, tetapi dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Misalnya, siswa ditunjuk untuk memodelkan sesuatu berdasarkan pengalamannya.
f.       Refleksi (Reflection)
Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di masa yang lalu. Dalam pembelajaran CTL, setiap akhir kegiatan guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengingat kembali apa-apa yang telah dipelajarinya dengan menafsirkan pengalamannya sendiri, sehingga ia dapat menyimpulkan tentang pengalaman belajarnya.
g.      Penilaian Nyata (Authentic Assesment)
Penilaian nyata berarti proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa. Penilaian yang autentik dilakukan secara terintegrasi dengan proses pembelajaran yang dilakukan secara terus menerus selama proses pembelajaran berlangsung. Sehingga penekanannya diarahkan kepada proses belajar bukan kepada hasil belajar.
Sedang Implementasi  CTL dalam pembelajaran yakni (Mulyono, 2011).:
a.       Pendekatan
Yaitu titik tolak atau sudut pandang seseorang terhadap suatu objek atau permasalahan. Contoh pendekatan dalam pembelajaran seperti pendekatan CTL yaitu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka.
b.      Strategi pembelajaran
Adalah ilmu dan kiat dalam memanfaatkan segala sumber yang dimiliki yang dapat dikerahkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Strategi pembelajaran ini masih bersifat konseptual. Contoh dari strategi pembelajaran yaitu Strategi pembelajaran inquiry dan Strategi pembelajaran ekspositori.
c.       Metode pembelajaran
Yaitu cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Diantara metode pembelajaran seperti ceramah, demonstrasi, diskusi, simulasi, dll.
d.      Teknik pembelajaran
Adalah suatu cara yang dilakukan seorang guru dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah peserta didik banyak, maka membutuhkan teknik tersendiri.
e.       Taktik pembelajaran
Merupakan gaya seorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan terdapat dua orang yang sama-sama menggunakan metode ceramah. Tentunya ada perbedaan taktik diantara keduanya yang satu diselingi dengan humor dan yang satu lagi diselingi dengan cerita.

7.    Pertanyaan: Dalam pembelajaran berbasis komputer sesungguhnya guru tidak mengajari anak bagaimana mengoperasikan komputer, tetapi menggunakan komputer sebagai MEDIA untuk memahami suatu tema atau topik. Sdr. NORA SUNARYO PUTRI dan BADRYANTONI sudah cukup rinci menjelaskan prinsip-prinsip dan model-model PBK namun tidak diikuti dengan penjelasan bagaimana cara menggunakan komputer sebagai sebuah model pembelajaran. Coba Sdr. uraikan kembali bagaimana proses dan prosedur implementasi Pembelajaran Berbasis Komputer, sehingga jelas perbedaannya antara komputer sebagai media belajar dan komputer sebagai model pembelajaran?
     Jawaban:
Pembelajaran berbasis komputer merupakan penyampaikan pembelajaran secara individual dan langsung kepada para siswa dengan cara berinteraksi dengan mata pelajaran yang diprogramkan pada software komputer berupa program komputer yang berisi tentang muatan pembelajaran.
Proses pembelajaran komputer ini bisa menggunakan model drills (penyediaan latihan-latihan soal untuk menguji kompetensi siswa), model tutorial (komputer sebagai sumber belajar yang menampakkan pada monitor berupa teks, grafik, animasi audio dan lainnya), model simulasi (menampilkan tiruan-tiruan pada monitor sebagai pembimbing belajar), dan model instruksional games (permainan mendidik) (Rusman, 2011; 287). Semua model tersebut bisa digunakan jika sudah di rancang sesuai SK,KD dan Indikator sebuah materi pembelajaran terlebih dahulu agar tidak terjadi mismatched.
a.    Kita tentukan program sesuai SK, KD dan Indikator.
b.    Berikan pengantar pembelajaran, baru kita memanfaatkan komputer sebagai alat bantu pada presentasi dalam pelaksanaan pembelajaran. Kemudianmasuk pada program-program model yang telah disediakan oleh pembelajaran berbasis komputer sesuai prosedur yang telah saya jelaskan dalam makalah.
Adapun perbedaan komputer sebagai media dan komputer sebagai model pembelajaran sebagai berikut:
Komputer sebagai media pembelajaran ialah komputer sebagai pembantu dalam memanajemen atau sebagai manajer dalam penyajian informasi dan tahapan pembelajaran (Arsyad, 2003; 96) yang penyampaian ini pun bisa digunakan tanpa komputer. Tapi jika computer berperan sebagai media dapat dilihat pada pemberian pengantar yang dimana guru menggunakan komputer sebagai media pemberi informasi pendukung (Jennah, 2009; 117).  Sedang komputer sebagai model pembelajaran sebenarnya ialah memperankan komputer sebagai media dan sekaligus sistem pembelajaran yang muatannya terletak pada software-software komputer tersebut.

8.    Pertanyaan: RAHMA FITRI AWAL dan NIDAURRAHMAH dalam makalahnya Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction) menjelaskan pengertian Pembelajaran Langsung dengan mengemukakan tiga istilah, yaitu: Active Teaching, Explicit Instruction, dan Mastery Teaching. Namun,kedua pemakalah belum begitu tuntas menjelaskan ketiga istilah tersebut sehingga tidak terlihat secara jelas sisi-sisi perbedaan dan persamaannya dari ketiga istilah tersebut. Coba Sdr. uraikan kembali secara rinci ketiga istilah tersebut sehingga memiliki pemahaman yang holistic tentang Direct Instruction?
     Jawaban: 
a.      Active Teaching
Active Teaching (pengajaran aktif) dengan tokohnya Good dan Grows (1983). Disebut pembelajaran aktif karena dalam model ini siswa diharapkan dan dituntut untuk aktif dalam pembelajaran terutama pada fase latihan terbimbing dan latihan mandiri. Kemampuan siswa dalam fase ini menentukan keberhasilan hasil belajar siswa.
b.      Explicit Instruction
Model ini pertama kali diperkenalkan oleh Rosenshine dan Steven pada tahun 1986. Explicit instruction menekankan strategi demonstrasi oleh guru, strategi latihan terpadu, dan praktek mandiri atau penerapan strategi belajar. Explicit Instruction menurut Kardi dapat berbentuk “ceramah,  demonstrasi, pelatihan atau praktik, dan kerja kelompok ” Explicit Instruction”digunakan untuk menyampaikan pelajaran yang ditransformasikan langsung oleh guru kepada siswa.
c.       Mastery Teaching
Strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi pelajaran secara optimal.  Model ini merupakan  bentuk dari pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada guru (teacher centered approach)

Persamaan dari Active Teaching, Explicit Instruction, dan Mastery Teaching, yakni pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada guru (teacher centered approach), guru dituntut untuk memberi pengarahan langsung kepada siswa. Sedangkan perbedaannya yakni terdapat pada strategi demonstrasinya, Active Teaching berbentuk latihan terbimbing dan latihan mandiri,  Explicit Instruction berbentuk pelatihan atau praktik dan kerja kelompok, sedangkan Mastery Teaching berbentuk ceramah.

9.    Pertanyaan: Dari sejumlah model pembelajaran yang sudah kita diskusikan dalam seminar kelas sejak awal semester yang lalu, model-model pembelajaran mana yang cocok untuk diterapkan dalam pembelajaran PAI di MI/SD? Jelaskan.
     Jawaban:  
Sejak manusia yang pertama lahir kedunia, telah ada dilakukan usaha-usaha pendidikan. Manusia telah berusaha mendidik anak-anaknya kendatipun dalam cara yang sangat sederhana. Jelas bahwa masalah pendidikan adalah masalahnya setiap orang dari dulu hingga sekarang dan di waktu yang akan datang. Adalah tugas guru yang bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas sesuai dengan keadaan si anak didik (Sumadi, 1993; 1)
Jika orang dewasa belajar dengan berusaha mencapai tujuannya yang ada di luar aktivitas belajarnya, maka anak kecil belajar dengan mencapai tujuannya yang terletak dalam suatu aktivitas itu. Artinya, dengan aktivitas belajarnya yang khusus si anak akan merasakan kegembiraan. Kegembiraan itulah tujuan yang akan di capai oleh si anak. (Sujanto, 1996; 15)
Di dalam belajar, si anak memerlukan bantuan dari benda sebagai alatnya, sedang orang dewasa belajar tidak selalu memerlukan benda-benda. Inilah sebabnya anak Learning by doing, sedang orang dewasa dikatakan Learning by thinking. Hal ini di karenakan anak masih hidup di dalam dunia konkret, dunia nyata. Sedang orang dewasa sudah dapat meninggalkan dunia nyata ke dunia abstrak, atas bantuan kemampuan berpikirnya. (Sujanto, 1996; 16)
Menurut saya, model pembelajaran yang cocok diterapkan dalam pembelajaran PAI di MI/SD yaitu Model Pembelajaran PAIKEMI, dikarenakan anak yang usia dini memiliki sifat rasa ingin tahu dan berimajinasi,  juga anak lebih tertarik dengan sesuatu yang menyenangkan. Hal tersebut menjadi modal dasar bagi berkembangnya sikap kreatif hingga mendorongnya untuk melakukan percobaan.
Selain PAIKEMI, menurut saya model pembelajaran tematik juga cocok diterapkan dalam pembelajaran PAI di MI/SD, karena anak masih berfikir konkrit belum mampu memilah-milah konsep dari berbagai disiplin ilmu dan anak belajar berkembang secara bertahap mulai dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang lebih kompleks maka konsep pembelajaran tematik memberikan peluang kepada siswa untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan secara utuh.
Salah satu pembelajaran  yang kita ketahui yaitu bentuk masalahnya yang abstrak, sedang anak masih dalam tingkat berfikir konkret. Di satu sisi ia senang sekali menirukan perbuatan yang baru, yang ia belum dapat melakukannya. Dalam hal seperti ini, guru mesti menampilkan strategi pembelajaran yang  menarik dan pendekatan yang lebih luwes lagi, agar bisa mengarahkan cara berfikir anak agar tercapai standar kompetensi yang di inginkan.





DAFTAR  PUSTAKA

A’la, Miftahul,   Quantum Teaching. Yogyakarta: Diva press, 2011.
Agus  Sujanto,   Psikologi Perkembangan, Surabaya: Rineka Cipta, 1996.
Agus Suprijono. Cooperatif   Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM.  Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.
Azhar Arsyad, Media Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers, 2003.
Clark, R. C., & Mayer, R. E. E-Learning and the Science of Instruction . Amerika: Pfeiffer, 2011.
Elaine B. Johnson, Contextual Teaching and Learning.  Bandung: Kaifa Learning, cet ke-2, 2011.
Hamzah, Nurdin Mohammad,  Belajar dengan Pendekatan PAILKEM. Jakarta: PT Bumi Aksara, cet ke-2, 2012.
Harisantoso, John,   Pendekatan kooperatif model group investigation suatu analisis pengantar. Edusaintek. Vol 1, No 1, P 1-8. 2005

http://cuapfhiieear.blogspot.co.id/2013/02/model-pembelajaran-mind-mapping.html. Di akses pada 09 Juli 2016, 20.30.

Ibrahim, dkk.   Pembelajaran Kooperatif.   Surabaya: UNESA - University Press, 2005.
Kiranawati. 2007. Model Pembelajaran Consept Sentence. http://gurupkn.wordpress.com. Di akses pada tanggal 09 Juli 2016.
Miarso, Yusufhadi, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, Jakarta:  Penerbit Prenada Media, 2004.
Mulyono, Strategi Pembelajaran, menuju efektivitas pembelajaran di abad Global, Malang: UIN-Malik Press, 2011.
Nana Sudjana, Teknik Pembelajaran  dengan Menggunakan Teknologi, Bandung: Remaja Karya, 2001.
Rodhatul Jennah, Media Pembelajaran, Banjarmasin: Antasari Pers, 2009.
Roestiyah.   Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta, 2001.
Rostiawati, Tita. Penerapan Model Pembelajaran Ctl Pada Bahan Ajar Geometri Dan Pengukuran Di Sekolah Dasar. Sumedang : UPI, t.th.
Riyanto, yatim, Paradigma Baru Pembalajaran,  Jakarta: Kencana prenada media grup, 2009.
Rusman,  Model-Model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, cet ke-5, 2014.
Rusman, Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi: Mengembangkan Profesionalitas Guru. Jakarta: Rajawali Pers, 2011.
Slavin, R.E, Educational Psychology: Theory and Practice . Third. 1994
Slavin R.E,   Cooperative Learning: Theory, Research and Practice, Englewoods Cliff, NJ: Prentice-Hall, 1990.
Suyitno, Amin, Mengadopsi Pembelajaran CIRC dalam Meningkatkan Keterampilan Siswa Menyelesaikan Soal Cerita. Seminar Nasional F.MIPA UNNES, 2005.
Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, cet ke-6, 1993
Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012.
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Prenada Media, cet ke-8, 2011.
Winfred F. Hill, Theories of Learning: Teori-teori Pembelajaran, Konsepsi, Komparasi dan Signifikansi. Bandung: Nusa Media, cet ke-4, 2010.





Tidak ada komentar: