TUGAS
TERSTRUKTUR DOSEN
PENGASUH
Qawaid al-Tafsir Prof. Dr. H. Mahyuddin Barni, M. Ag
Prof. Dr. H. A. Fahmy Arief, MA
AMTSAL AL-QUR’AN
(
PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN DALAM AL-QUR’AN)
Oleh :
SRI WAHYUNITA :
1502521475
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI
PROGRAM
PASCASARJANA
PRODI
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
BANJARMASIN
2015
BAB I
PENDAHULUAN
Di antara sekian banyak keindahan dan keunikan baik itu
yang tersirat ataupun tersurat di dalam Al-Qur’an, salah satu yang menarik
yaitu aspek keindahan retorika al-Qur’an yakni amtsal
(perumpamaan-perumpamaan)-nya. Al-Qur’an tidak hanya memuat masalah kehidupan
dunia yang di indera, tetapi juga memuat kehidupan akhirat dan hakikat lainnya
yang memiliki makna dan tujuan ideal yang tidak dapat di indera dan berada di
luar pemikiran akal manusia. Pembicaraan yang terakhir ini di tuangkan dalam
bentuk kata indah, mempesona, dan mudah di pahami, yang di rangkai dalam
untaian perumpamaan dengan sesuatu yang telah diketahui secara yakin, yang di
namai tamtsil (perumpamaan) itu.
Tamtsil (perumpamaan) merupakan gaya bahasa yang dapat
menampilkan pesan yang berbekas pada hati sanubari. Muhammad Mahmud Hujazi
menyatakan bahwa bentuk amtsal yang rumit merupakan inti sebuah kalimat yang
sangat berdampak bagi jiwa dan berbekas bagi akal.[1] Oleh
karena itu, Allah membuat perumpamaan bagi manusia –bukan binatang atau makhluk
lainnya- agar manusia dapat memikirkan dan memahami rahasia serta isyarat yang
terkandung di dalamnya.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Amtsal Al-Qur’an
Amtsal adalah bentuk jamak dari kata matsal
(Perumpamaan) atau mitsil (serupa) atau matsil, sama halnya
dengan kata syabah atau syabih, karena itu dalam ilmu balaghah,
pembahasan yang sama ini lebih dikenal dengan istilah tasybih, bukan amtsal.[2]
Dalam pengertian bahasa (etimologi), amtsal dimaknakan dengan: keadaan,
kisah, dan sifat menarik perhatian, menakjubkan.[3]
Amtsal menurut pengertian istilah di rumuskan oleh
para ulama dengan redaksi yang berbeda-beda, diantaranya yaitu:
Menurut Rasyid Ridha, Amtsal adalah
kalimat yang di gunakan untuk memberi kesan dan menggerakkan hati nurani. Bila
di dengar terus pengaruhnya akan menyentuh lubuk hati paling dalam.[4]
Menurut Ibn Al-Qayyim, Amtsal adalah
menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lain dalam hukumnya; mendekatkan
sesuatu yang abstrak dengan sesuatu yang konkret atau salah satu dari keduanya dengan yang
lainnya.[5]
Menurut Muhammad Bakar Isma’il, Amtsal
Al-Qur’an adalah mengumpamakan sesuatu dengan sesuatu yang lain, baik dengan
jalan isti’arah, kinayah, atau tasybih.[6]
Menurut Al-Imam Mahmud bin Ali At-Tirmidzi,
beliau mengemukakan bahwa pembuatan Amtsal sebenarnya di tujukan kepada
mereka yang hatinya merasa tertutup. Kemudian Allah membuat Amtsal untuk
mereka, selaras dengan keinginan mereka, sehingga mereka dapat memperoleh
kembali apa yang mereka rasakan telah hilang itu[7]
Dari sekian penjabaran ulama-ulama di atas, dapat di tarik secara
benang merah bahwa pengertian amtsal
yaitu kalimat-kalimat yang mempesona dan berkesan dalam Al-Qur’an
yang menyentuh lubuk hati, yang mendekatkan kita dari sesuatu yang abstrak
kepada sesuatu yang konkrit baik itu dengan jalan isti’arah, kinayah atau tasybih,
dengan tujuan agar hamba yang hatinya tertutup dapat memikirkan Tuhannya
kembali.
Amtsal dikenal sebagai salah satu aspek sastra Arab.
Pengertian amtsal dalam Al-Qur’an lebih tepat digunakan untuk mengacu
pada kesan dan sentuhan perasaan terhadap apa yang dikandungnya, tanpa
mempersoalkan ada atau tidakadanya kisah
yang berhubungan dengan amtsal itu. Kendatipun demikian, amtsal
yang berangkat dari kisah nyata, banyak di sebutkan dalam Al-Qur’an dan ini
lebih tepat dinamakan dengan tamtsil karena disusun menurut bentuk tamtsil,
bukan dalam bentuk berita.[8]
B. Sejarah Amtsal Al-Qur’an
Orang yang pertama kali menyusun ilmu amtsal
Al-Qur’an ialah Syaikh Abdur Rahman Muhammad bin Husein An-Naisaburi (Wafat 406
H) dan dilanjutkan oleh Abdul Hasan bin Ali bin Muhammad Al-Mawardi (Wafat 450
H). Kemudian dilanjutkan Imam Syamsuddin Muhammad bin Abi Bashrin Ibnu Qayyim
Al-Jauziyyah (Wafat 754 H).[9]
C. Faedah-Faedah Amtsal
Diantara faedah-faedah amtsal , ialah;
a.
Melahirkan sesuatu yang dapat dipahami dengan
akal dalam bentuk rupa yang dapat dirasakan dengan panca indera, lalu mudah di
terima dengan akal, lantaran makna-makna yang dapat di pahamkan dengan akal
tidaklah tetap di dalam ingatan hati, terkecuali apabila di tuang dalam bentuk
yang dapat di rasakan yang dekat kepada paham.[10]
b.
Mengungkap hakikat-hakikat dan mengemukakan
sesuatu yang jauh dari pikiran kepada sesuatu yang dekat pada pikiran.[11]
c.
Mengumpulkan makna yang indah dalam suatu
ibarat yang pendek[12]
Allah banyak menyebut amtsal di dalam
Al-Qur’an untuk pengajaran dan peringatan. Allah berfirman:
وَ لَقَدْ ضَرَ بْنَا لِلنَّا سِ فِي هَلذَ ا الْقُرْ آَنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ
لَعَلَّهُمْ يَتَذَ كَّرُ و نَ ( ا لز مر : ۳۷ )
“Dan sungguh telah kami buat untuk manusia
dalam Al-Qur’an ini berbagai macam rupa matsal. Mudah-mudahkan dengan mereka
mengambil pengajaran dari padanya.” (Q.S. 39: Az-Zumar, 37)
وَ تِلْكَ ا لْأَ مْثَا لُ نَضْرِ بُهَا لِنَّا سِ وَ مَا
يَعْقِلُهَآَ إِ لاَّ الْعَا لِمُوْ نَ ( ا لعنكبو ت: ٤٣)
“Itulah Matsal-Matsal yang kami buat untuk
manusia dan tiadalah dapat di pahamkan Matsal-Matsal itu melainkan oleh
orang-orang yang berilmu.” (Q.S. 29: Al-Ankabut, 43)
D. Macam-macam Amtsal Al-Qur’an
Amtsal dalam Al-Qur’an ada 3 macam:
1. Amtsal yang tegas (Musharrahah)
2. Amtsal yang tersembunyi (Kaminah)
3. Amtsal yang terlepas (Mursalah)
a) Amtsal Musharrahah
Adalah Amtsal yang jelas, yakni yang jelas
menggunakan kata-kata perumpamaan atau kata yang menunjukkan penyerupaan
(tasybih)[13],
contohnya:
Artinya:
“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan
api, Maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang
menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat Melihat.
Mereka tuli, bisu dan buta, Maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan
yang benar),
Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai
gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya,
Karena (mendengar suara) petir,sebab takut akan mati. dan Allah meliputi
orang-orang yang kafir.
Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. setiap kali kilat itu
menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa
mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya dia melenyapkan
pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala
sesuatu.” (Al-Baqarah(2): 17-20)
Pada contoh itu terlihat jelas kata-kata yang menunjukkan
perumpamaan dan penyerupaan, yaitu matsaluhun dan aw kasyayyibin. Contoh di atas juga
memperlihatkan dua perumpamaan bagi orang munafik. Pertama, seperti orang yang
menyalakan api (Katsal ladzi istauqad nar) karena di dalam api terdapat
unsur cahaya. Kedua, seperti orang-orang yang di timpa hujan dari langit (au
ka shayyibin min as-sama’i), karena di dalamnya terkandung unsur kehidupan.
Allah telah menurunkan wahyu dari langit untuk menerangi dan menghidupkan hati
hamba-Nya.[14]
Perumpamaan pertama menyiratkan bahwa orang-orang munafik
tak ubahnya seperti orang yang menyalakan api dengan cara memasuki agama Islam
secara formalitas, tetapi keislamannya tidak berpengaruh apa-apa pada hatinya
sehingga Allah pun menghilangkan cahaya yang telah dinyalakan mereka (dzahaballah
bi nurihim).[15]
Adapun perumpamaan kedua menyiratkan bahwa orang-orang
munafik laksana orang yang di timpa hujan di iringi dengan gelap gulita, guruh
dan kilat. Mereka menutup kedua telinganya karena takut terkena sambaran petir.
Perintah-perintah dan larangan-larangan Al-Qur’an yang turun kepada mereka tak
ubahnya pula seperti petir bagi kebenaran dan kebatilan, yang berarti juga merupakan
contoh amtsal musharrahah.[16]
Dalam Surah Ar-Ra’d(13): 17, dikemukakan:
“Allah Telah menurunkan air (hujan) dari langit, Maka mengalirlah air di
lembah-lembah menurut ukurannya, Maka arus itu membawa buih yang mengambang.
dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau
alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat
perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. adapun buih itu, akan hilang
sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada
manusia, Maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat
perumpamaan-perumpamaan.” (Q.S. Ar-Ra’d(13): 17)
Wahyu yang diturunkan
untuk menghidupkan hati di umpamakan dengan air yang turun untuk
menghidupkan bumi. Hati di umpamakan sebagai bumi, sedangkan kehidupan di
umpamakan sebagai tumbuh-tumbuhan di bumi. Air yang mengalir di lembah-lembah
selalu menimbulkan buih. Begitulah cahaya di tunjukkan apabila melewati hati
yang tercemar. Ini lah perumpamaan air, adapun perumpamaan api terlihat pada wa
mimma yuqidun. Apabila logam di panaskan, kulitnya akan terkelupas sehingga
terlihatlah permata yang di akibatkan proses pemanasan. Demikian pula lah hati
seorang mukmin yang akan membuang jauh-jauh perbuatan yang tercemar.[17]
b)
Amtsal Kaminah
Yang dimaksud Amtsal Kaminah adalah amtsal
yang tidak menyebutkan dengan jelas kata-kata yang menunjukkan perumpamaan,
tetapi kalimat itu mengandung pengertian yang mempesona, sebagaimana yang
terkandung di dalam ungkapan-ungkapan singkat (Ijaz).[18]
Al Mawardi menceritakan bahwa ia pernah mendengar Abu
Ishaq Ibrahim bin Muhdharib bin Ibrahim mengatakan bahwa bapaknya pernah
bertanya kepada Al-Hasan bin Fhadil.[19]
1. “Apakah engkau menemukan dalam Al-Qur’an ayat yang menyerupai ungkapan
bahwa sebaik-baiknya urusan adalah yang berada di tengah-tengah?
Al Hasan menjawab, ada, yaitu;
Artinya:
“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta),
mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu)
di tengah-tengah antara yang demikian.”(Q.S. Al-Furqan(25): 67)
2. “Apakah engkau menemukan ayat yang semakna dengan ungkapan: siapa yang
bodoh dalam suatu hal, ia pasti akan mengulanginya”
Al Hasan menjawab, ada, yaitu;
Artinya:
“Bahkan yang
Sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan Sempurna
...” (Q.S.
Yunus(10): 39)
3. “Apakah engkau menemukan dalam Al-Qur’an yang semakna dengan ungkapan: Bobot
sebuah berita berbeda dengan menyaksikan sendiri”
Al Hasan menjawab, ada, yaitu;
Artinya:
“Dan (Ingatlah) ketika Ibrahim berkata:
"Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan
orang-orang mati." Allah berfirman: "Belum yakinkah kamu ?"
Ibrahim menjawab: "Aku Telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap
mantap (dengan imanku) ...”(Q.S. Al Baqarah(2): 260)
4. “Apakah engkau menemukan dalam Al-Qur’an ayat yang semakna dengan ungkapan:
Dalam aktivitas terdapat kebaikan”
Al Hasan menjawab ya. Yaitu;
Artinya:
“Barangsiapa
berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi Ini tempat
hijrah yang luas dan rezki yang banyak” (Q.S. An Nisa(4): 100)
5. “Apakah engkau menemukan dalam Al-Qur’an ayat yang semakna dengan ungkapan:
apa yang kau lakukan pada orang lain, begitulah engkau diperlakukan oleh orang
lain”
Al Hasan menjawab, ya ada.
Artinya:
“Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan,
niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu”(Q.S. An-Nisa(4): 123)
6. “Apakah engkau menemukan dalam Al-qur’an yang semakna dengan ungkapan:
Seorang mukmin tidak akan masuk ke lubang yang sama untuk kedua kalinya”
Al Hasan menjawab, ada.
Artinya:
“Berkata Ya'qub: "Bagaimana Aku akan
mempercayakannya (Bunyamin) kepadamu, kecuali seperti Aku Telah mempercayakan
saudaranya (Yusuf) kepada kamu dahulu?". Maka Allah adalah sebaik-baik Penjaga
dan dia adalah Maha Penyayang diantara para penyanyang.” (Q.S. Yusuf(12): 64)
7. “Apakah engkau menemukan dalam
Al-Qur’an, ayat yang semakna dengan ungkapan: Seekor ular pasti akan melahirkan
ular lagi”
Al Hasan menjawab ya, ada.
Artinya:
“.... dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang
berbuat ma'siat lagi sangat kafir”(Q.S. Nuh(71): 27)
8. “Apakah engkau menemukan dalam Al-Qur’an, ayat yang semakna dengan:
Dinding-dinding mempunyai telinga”
Al Hasan menjawab ada.
Artinya:
“sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka
mendengarkan perkataan mereka”(Q.S. At-Taubah (9):47)
c)
Amtsal Mursalah
Yang di maksud Amtsal Mursalah adalah
kalimat-kalimat Al-Qur’an yang di sebut
secara lepas tanpa di tegaskan redaksi penyerupaan, tetapi dapat di gunakan
untuk penyerupaan.[20]
Contohnya sebagai berikut:
Artinya:
“Tidak ada yang
akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah” (Q.S. An Najm(53): 58)
E. Penggunaan Amtsal Sebagai Media Dakwah
Sebagaimana telah diutarakan bahwa pesan yang disampaikan
melalui Amtsal lebih mengena di hati, lebih mantap dalam menyampaikan
nasihat, dan lebih kuat pengaruhnya. Itulah sebabnya, Nabi SAW banyak
menggunakan Amtsal ketika menyampaikan dakwahnya dan banyak pula juru
dakwah dan pendidik yang menyampaikan pesan-pesannya melalui media Amtsal.[21]
Berkaitan dengan strategi dakwah, Mustafa Mansyur
menyatakan bahwa setiap pendakwah harus membekali dirinya dengan
pengetahuan-pengetahuan yang dapat mengetuk dan membuka hati pendengarnya
sehingga ia dapat menyampaikan pesan-pesannya. Salah satu strategi yang dapat
digunakan adalah melalui media amtsal.[22]
Di sisi lain, banyak aspek ajaran Islam yang bersifat
abstrak yang sulit di terima oleh akal pikiran manusia, di antaranya adalah
gambaran tentang hilangnya pahala sedekah seseorang yang di sertai sifat riya.
Gambaran ini bersifat abstrak sehingga sulit di pahami. Akan tetapi, setelah
gambaran ini di formalisasikan dalam bentuk perumpamaan, yakni sirnanya tanah
di atas batu akibat hujan yang menimpanya, maka
gambaran itu menjadi lebih mudah di pahami. Dengan demikian, agar
strategi dakwah dalam bentuk menyampaikan pesan dapat di terima dengan mudah
oleh pendengar, dapat di salurkan melalui amtsal.[23]
Dari pemaparan di atas, kita dapat melihat signifikansi
penggunaan amtsal sebagai salah satu media dakwah.
F. Contoh-contoh Amtsal dalam Al-Qur’an
Berikut ini
adalah contoh amtsal Al-Qur’an di samping yang telah di sebutkan
di atas.
1. Perumpamaan orang kafir
وَ مَثَلُ ا لَّذِ
يْنَ كَفَرُ وْ ا كَمَثَلِ ا لَّذِ يْ يَنْعِقُ بِمَا لاَ يَسْمَعُ اِ لاَّ
دُ عَآ ءً وَ نِدَ آ ءً صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لاَ يَعْقِلُوْ نَ ( ا لبقر ة
: ٧١ )
Artinya:
“Dan perumpamaan (orang yang menyeru)
orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak
mendengar selain panggilan atau seruan saja. Mereka tuli, bisu, dan buta, maka
(oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.” (Q.S. Al-Baqarah (2): 71)
2. Perumpamaan tentang orang musyrik
مَثَلُ الَّذِ يْنَ ا تَّخَذُ
وْ ا مِنْ دُ وْ نِ ا للهِ أَ وْ لِيَآ ءَ كَمَثَلِ ا لْعَنْكَبُوْ تِ ا تَّخَذَ تْ بَيْتًا وَ إِ نَّ أَ و هَنَ ا لْبُيُوْ تِ
لَبَيْتُ ا لْعَنْكَبُوْ تِ لَوْ كَا نُوْ ا يَعْلَمُوْ نَ ( ا لعنكبوت : ٤١ )
Artinya:
“ Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain
Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang
paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui” (Q.S.
Al-Ankabut (29) : 41)
3. Perumpamaan orang mukmin
مَثَلُ ا لْفَرِ يْقَيْنِ كَا لْأَ عْمَى ا وَ ا لْأَ صَمِّ
وَ ا لْبَصِيْرِ وَ ا لسَّمِيْعِ هَلْ يَسْتَوِ يَا نِ مَثَلًا أَ فَلَا تَذَ
كَّرُ وْ نَ ( هو د:٢٤ )
Artinya:
“Perbandingan kedua golongan itu (orang-orang kafir dan orang-orang
kafir dan orang-orang mukmin) seperti orang buta dan tuli dengan orang yang
dapat melihat dan dapat mendengar. Adakah kedua golongan itu sama keadaan dan
sifatnya? Maka tidak lah kamu mengambil pelajaran (dari perbandingan itu)?” (Q.S.
Hud(11) : 24)
4. Perumpamaan orang yang menafkahkan harta
مَثَلُ مَا يُنْفِقُوْ نَ فِى هَاذِ هِ ا لْحَيَو ةِ ا لدُّ نْيَا كَمَثَلِ رِ يْحٍ فِيهَا صِرٌّ أَ صَا بَتْ
حَرْ ثَ قَوْ مٍ ظَلَمُوْ آ أَ نْفُسَهُمْ
فَأَ هْلَكَتْهُ وَ مَا ظَلَمَهُمُ ا للهُ وَ لَكِنْ أَ نْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْ نَ
( ا ل عمر ا ن : ١١۷)
Artinya:
“Perumpamaan harta yang mereka nafkahkan di dalam
kehidupan dunia ini, adalah seperti perumpamaan angin yang mengandung hawa yang
sangat dingin, yang menimpa tanaman kaum yang menganiaya diri sendiri, lalu
angin merusaknya. Allah tidak menganiaya mereka, tetapi mereka lah yang
menganiaya diri mereka sendiri.” (Q.S. Ali Imran (3): 117)
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Salah satu ilmu
Al-Qur’an yang tidak kalah menariknya dengan ilmu-ilmu ulum Al-Qur’an yang lain
yaitu Amtsal Al-Qur’an, karena di sini Allah dalam membimbing, memperingatkan, menasihati, memantapkan, dan menertibkan
kita serta agar kita dapat mengambil pelajaran yaitu dengan menggunakan
perumpamaan. dengan bahasa yang indah dan menarik membuat kita terdorong untuk
berfikir kritis dan mendalam bagaimana Allah menggambarkan segala sesuatunya.
Ada Sebuah Ungkapan
yang mengatakan: اَ للهٌ ا لْمَثَلُ ا لْاَ عْلَ ... ungkapan ini di
peroleh dari pemahaman mendalam terhadap Al Qur’an. Yang maksudnya Allah lah
sumber Jamal, sumber Jalal dan sumber Kamal yang
sesungguh-sungguhnya.
Seorang ulama
bernama Al-Mawardi pernah berpesan:”Ilmu dalam Al-Qur’an yang salah satunya
paling berbobot adalah ilmu Amtsal, ilmu ini terkadang dilupakan orang
karena orang tersebut lupa mempraktikkannya. Sedang ilmu Amtsal tanpa
ada usaha mempraktikkan, seperti onta tanpa kendali, atau seperti kuda binal
lepas dari pingitan”. Itu berarti peringatan pada kita, jika ingin tepat menuju
sasaran, terlebih yang berhubungan dengan memahami perumpamaan, maka harus
berjalan dengan sebuah arah dan pedoman yakni mempelajari Amtsal
Al-Qur’an.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an Al-Kariem
Ahmad Syadali dan
Ahmad Rofii, Ulumul Quran II Bandung:
Pustaka setia, 2000, ct ke-2
Az-Zarkasyi,
Al-Imam, Al Burhan fi ‘Ulum Al-Qur’an
Kairo: Dar Ihya’ Al-Kutub Al-Arabiyyah, 1975
Hasbi Ash Shiddieqy, Ilmu-ilmu Al-Qur’an Media Pokok dalam menafsirkan
Al-Qur’an Jakarta: Bulan Bintang, 1993
Imam Jalaluddin
As-Suyuti, al-itqon
fi Ulumil Qur’an
Manna Al-Qattan,
Mabahits fi Ulum Al-Qur’an Mansyurat Al-Hasr Al-Hadits, 1973
Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Husni, Mutiara Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, ter.
Rosihon Anwar, Bandung: Pustaka Setia, 1999
Muhammad Mahmud
Hijazi, Tafsir Al-Wadhih, Beirut: Dar Al-Jil, 1969
Muhammad Rasyid
Ridha, Tafsir Al-Manar Beirut: Dar Al-Fikr
Mushtafa Mansyur, Thariq
Ad-Dakwah, Beirut: Al Ittihad Al Islami Al Alami, 1980
Rosihon Anwar, Ilmu
Tafsir, Bandung: Pustaka setia, 2005
Tim, Qawaid At-Tafsir Yogyakarta:
Aswaja Presssindo, 2014
[1] Rosihon Anwar, Ilmu Tafsir, (Bandung: Pustaka setia, 2005), ct ke-3, h.91 dan Muhammad Mahmud Hijazi, Tafsir Al-Wadhih, (Beirut: Dar Al-Jil, 1969), h.79
[3]
Hasbi Ash Shiddieqy, Ilmu-ilmu
Al-Qur’an Media Pokok dalam menafsirkan Al-Qur’an (Jakarta: Bulan Bintang,
1993), ct ke-3, h.174
[4]
Muhammad Rasyid Ridha, Tafsir
Al-Manar (Beirut: Dar Al-Fikr), h.236
[5]
Manna Al-Qattan, Mabahits fi Ulum
Al-Qur’an (Mansyurat Al-Hasr Al-Hadits, 1973), h.282
[6]
Muhammad Bakar Ismail, Dirasat fi Ulum Al-Qur’an
(Kairo: Dar Al-Manar, 1991), h.337
[7]
Az-Zarkasyi, Al-Imam, Al Burhan fi ‘Ulum Al-Qur’an (Kairo:
Dar Ihya’ Al-Kutub Al-Arabiyyah, 1975), h.483
[8]
Rosihon Anwar, Loc.cit, h.93
[9] Imam Jalaluddin As-Suyuti (wafat
991 H) dalam kitabnya “al-itqon fi Ulumil Qur’an” juga menyediakan bab
khusus yang membahas tentang ilmu amtsal Al-Qur’an dengan 5 pasal di dalamnya.
Atau lihat kutipannya di; Ahmad Syadali dan Ahmad Rofii, Ulumul Quran II
(Bandung: Pustaka setia, 2000), ct ke-2 edisi revisi, h.35. atau lihat kutipan:
Qawaid At-Tafsir (Yogyakarta:
Aswaja Presssindo, 2014), h.235-236
[10] Hasbi Ash Shiddieqy, Loc. Cit,
h.175
[13] Rosihon Anwar, Loc.cit, h.93
[14] Ibid, h.95
[15] Ibid,
[16] ibid
[19] Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Husni, Mutiara
Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, ter. Rosihon Anwar, (Bandung: Pustaka Setia, 1999),
h.335
[20] Ibid, h.105
[21] Ibid, h.113
[22] Mushtafa
Mansyur, Thariq Ad-Dakwah, (Beirut: Al Ittihad Al Islami Al
Alami, 1980), h.152
[23] Rosihon Anwar, Op. Cit


Tidak ada komentar:
Posting Komentar