Pink Rose Flower

Sabtu, 24 Desember 2016

Qawaid Al Tafsir- Amtsal Al'Qur'an






TUGAS TERSTRUKTUR                                    DOSEN PENGASUH
       Qawaid al-Tafsir                              Prof. Dr. H. Mahyuddin Barni, M. Ag
                                                                   Prof. Dr. H. A. Fahmy Arief, MA



AMTSAL AL-QUR’AN
( PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN DALAM AL-QUR’AN)





Oleh :

SRI WAHYUNITA   :   1502521475



INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI
PROGRAM PASCASARJANA
PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
BANJARMASIN
2015





BAB I
PENDAHULUAN

Di antara sekian banyak keindahan dan keunikan baik itu yang tersirat ataupun tersurat di dalam Al-Qur’an, salah satu yang menarik yaitu aspek keindahan retorika al-Qur’an yakni amtsal (perumpamaan-perumpamaan)-nya. Al-Qur’an tidak hanya memuat masalah kehidupan dunia yang di indera, tetapi juga memuat kehidupan akhirat dan hakikat lainnya yang memiliki makna dan tujuan ideal yang tidak dapat di indera dan berada di luar pemikiran akal manusia. Pembicaraan yang terakhir ini di tuangkan dalam bentuk kata indah, mempesona, dan mudah di pahami, yang di rangkai dalam untaian perumpamaan dengan sesuatu yang telah diketahui secara yakin, yang di namai tamtsil (perumpamaan) itu.
Tamtsil (perumpamaan) merupakan gaya bahasa yang dapat menampilkan pesan yang berbekas pada hati sanubari. Muhammad Mahmud Hujazi menyatakan bahwa bentuk amtsal yang rumit merupakan inti sebuah kalimat yang sangat berdampak bagi jiwa dan berbekas bagi akal.[1] Oleh karena itu, Allah membuat perumpamaan bagi manusia –bukan binatang atau makhluk lainnya- agar manusia dapat memikirkan dan memahami rahasia serta isyarat yang terkandung di dalamnya.










BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian Amtsal Al-Qur’an
Amtsal adalah bentuk jamak dari kata matsal (Perumpamaan) atau mitsil (serupa) atau matsil, sama halnya dengan kata syabah atau syabih, karena itu dalam ilmu balaghah, pembahasan yang sama ini lebih dikenal dengan istilah tasybih, bukan amtsal.[2] Dalam pengertian bahasa (etimologi), amtsal dimaknakan dengan: keadaan, kisah, dan sifat menarik perhatian, menakjubkan.[3]
Amtsal menurut pengertian istilah di rumuskan oleh para ulama dengan redaksi yang berbeda-beda, diantaranya yaitu:
Menurut Rasyid Ridha, Amtsal adalah kalimat yang di gunakan untuk memberi kesan dan menggerakkan hati nurani. Bila di dengar terus pengaruhnya akan menyentuh lubuk hati paling dalam.[4]
Menurut Ibn Al-Qayyim, Amtsal adalah menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lain dalam hukumnya; mendekatkan sesuatu yang abstrak dengan sesuatu yang konkret  atau salah satu dari keduanya dengan yang lainnya.[5]
Menurut Muhammad Bakar Isma’il, Amtsal Al-Qur’an adalah mengumpamakan sesuatu dengan sesuatu yang lain, baik dengan jalan isti’arah, kinayah, atau tasybih.[6]
Menurut Al-Imam Mahmud bin Ali At-Tirmidzi, beliau mengemukakan bahwa pembuatan Amtsal sebenarnya di tujukan kepada mereka yang hatinya merasa tertutup. Kemudian Allah membuat Amtsal untuk mereka, selaras dengan keinginan mereka, sehingga mereka dapat memperoleh kembali apa yang mereka rasakan telah hilang itu[7]
Dari sekian penjabaran  ulama-ulama di atas, dapat di tarik secara benang merah  bahwa pengertian amtsal yaitu kalimat-kalimat yang mempesona dan berkesan dalam  Al-Qur’an  yang  menyentuh  lubuk hati, yang  mendekatkan kita dari sesuatu yang abstrak kepada sesuatu yang konkrit baik itu dengan jalan isti’arah, kinayah  atau  tasybih, dengan tujuan agar hamba yang hatinya tertutup dapat memikirkan Tuhannya kembali.
Amtsal dikenal sebagai salah satu aspek sastra Arab. Pengertian amtsal dalam Al-Qur’an lebih tepat digunakan untuk mengacu pada kesan dan sentuhan perasaan terhadap apa yang dikandungnya, tanpa mempersoalkan ada atau tidakadanya  kisah yang berhubungan dengan amtsal itu. Kendatipun demikian, amtsal yang berangkat dari kisah nyata, banyak di sebutkan dalam Al-Qur’an dan ini lebih tepat dinamakan dengan tamtsil karena disusun menurut bentuk tamtsil, bukan dalam bentuk berita.[8]

B.  Sejarah Amtsal Al-Qur’an
Orang yang pertama kali menyusun ilmu amtsal Al-Qur’an ialah Syaikh Abdur Rahman Muhammad bin Husein An-Naisaburi (Wafat 406 H) dan dilanjutkan oleh Abdul Hasan bin Ali bin Muhammad Al-Mawardi (Wafat 450 H). Kemudian dilanjutkan Imam Syamsuddin Muhammad bin Abi Bashrin Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah (Wafat 754 H).[9]

C.  Faedah-Faedah Amtsal
Diantara faedah-faedah amtsal , ialah;
a.         Melahirkan sesuatu yang dapat dipahami dengan akal dalam bentuk rupa yang dapat dirasakan dengan panca indera, lalu mudah di terima dengan akal, lantaran makna-makna yang dapat di pahamkan dengan akal tidaklah tetap di dalam ingatan hati, terkecuali apabila di tuang dalam bentuk yang dapat di rasakan yang dekat kepada paham.[10]
b.        Mengungkap hakikat-hakikat dan mengemukakan sesuatu yang jauh dari pikiran kepada sesuatu yang dekat pada pikiran.[11]
c.         Mengumpulkan makna yang indah dalam suatu ibarat yang pendek[12]
Allah banyak menyebut amtsal di dalam Al-Qur’an untuk pengajaran dan peringatan. Allah berfirman:
وَ لَقَدْ ضَرَ بْنَا لِلنَّا سِ فِي  هَلذَ ا الْقُرْ آَنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ لَعَلَّهُمْ يَتَذَ كَّرُ و نَ ( ا لز مر :  ۳۷ )
Dan sungguh telah kami buat untuk manusia dalam Al-Qur’an ini berbagai macam rupa matsal. Mudah-mudahkan dengan mereka mengambil pengajaran dari padanya.” (Q.S. 39: Az-Zumar, 37)
وَ تِلْكَ ا لْأَ مْثَا لُ نَضْرِ بُهَا لِنَّا سِ وَ مَا يَعْقِلُهَآَ إِ لاَّ الْعَا لِمُوْ نَ ( ا لعنكبو ت: ٤٣)
Itulah Matsal-Matsal yang kami buat untuk manusia dan tiadalah dapat di pahamkan Matsal-Matsal itu melainkan oleh orang-orang yang berilmu.” (Q.S. 29: Al-Ankabut, 43)

D.  Macam-macam Amtsal Al-Qur’an
Amtsal dalam Al-Qur’an ada 3 macam:
1.    Amtsal yang tegas (Musharrahah)
2.    Amtsal yang tersembunyi (Kaminah)
3.    Amtsal yang terlepas (Mursalah)
a)   Amtsal Musharrahah
Adalah Amtsal yang jelas, yakni yang jelas menggunakan kata-kata perumpamaan atau kata yang menunjukkan penyerupaan (tasybih)[13], contohnya:




Artinya:
Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, Maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat Melihat.
Mereka tuli, bisu dan buta, Maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar),
Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, Karena (mendengar suara) petir,sebab takut akan mati. dan Allah meliputi orang-orang yang kafir.
Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.” (Al-Baqarah(2): 17-20)
Pada contoh itu terlihat jelas kata-kata yang menunjukkan perumpamaan dan penyerupaan, yaitu matsaluhun dan  aw kasyayyibin. Contoh di atas juga memperlihatkan dua perumpamaan bagi orang munafik. Pertama, seperti orang yang menyalakan api (Katsal ladzi istauqad nar) karena di dalam api terdapat unsur cahaya. Kedua, seperti orang-orang yang di timpa hujan dari langit (au ka shayyibin min as-sama’i), karena di dalamnya terkandung unsur kehidupan. Allah telah menurunkan wahyu dari langit untuk menerangi dan menghidupkan hati hamba-Nya.[14]
Perumpamaan pertama menyiratkan bahwa orang-orang munafik tak ubahnya seperti orang yang menyalakan api dengan cara memasuki agama Islam secara formalitas, tetapi keislamannya tidak berpengaruh apa-apa pada hatinya sehingga Allah pun menghilangkan cahaya yang telah dinyalakan mereka (dzahaballah bi nurihim).[15]
Adapun perumpamaan kedua menyiratkan bahwa orang-orang munafik laksana orang yang di timpa hujan di iringi dengan gelap gulita, guruh dan kilat. Mereka menutup kedua telinganya karena takut terkena sambaran petir. Perintah-perintah dan larangan-larangan Al-Qur’an yang turun kepada mereka tak ubahnya pula seperti petir bagi kebenaran dan kebatilan, yang berarti juga merupakan contoh amtsal musharrahah.[16] Dalam Surah Ar-Ra’d(13): 17, dikemukakan:



Allah Telah menurunkan air (hujan) dari langit, Maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, Maka arus itu membawa buih yang mengambang. dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, Maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.” (Q.S. Ar-Ra’d(13): 17)
Wahyu yang diturunkan  untuk menghidupkan hati di umpamakan dengan air yang turun untuk menghidupkan bumi. Hati di umpamakan sebagai bumi, sedangkan kehidupan di umpamakan sebagai tumbuh-tumbuhan di bumi. Air yang mengalir di lembah-lembah selalu menimbulkan buih. Begitulah cahaya di tunjukkan apabila melewati hati yang tercemar. Ini lah perumpamaan air, adapun perumpamaan api terlihat pada wa mimma yuqidun. Apabila logam di panaskan, kulitnya akan terkelupas sehingga terlihatlah permata yang di akibatkan proses pemanasan. Demikian pula lah hati seorang mukmin yang akan membuang jauh-jauh perbuatan yang tercemar.[17]
b)        Amtsal Kaminah
Yang dimaksud Amtsal Kaminah adalah amtsal yang tidak menyebutkan dengan jelas kata-kata yang menunjukkan perumpamaan, tetapi kalimat itu mengandung pengertian yang mempesona, sebagaimana yang terkandung di dalam ungkapan-ungkapan singkat (Ijaz).[18]
Al Mawardi menceritakan bahwa ia pernah mendengar Abu Ishaq Ibrahim bin Muhdharib bin Ibrahim mengatakan bahwa bapaknya pernah bertanya kepada Al-Hasan bin Fhadil.[19]
1.    “Apakah engkau menemukan dalam Al-Qur’an ayat yang menyerupai ungkapan bahwa sebaik-baiknya urusan adalah yang berada di tengah-tengah?
Al Hasan menjawab, ada, yaitu;

Artinya:
Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.(Q.S. Al-Furqan(25): 67)
2.    “Apakah engkau menemukan ayat yang semakna dengan ungkapan: siapa yang bodoh dalam suatu hal, ia pasti akan mengulanginya”
Al Hasan menjawab, ada, yaitu;

Artinya:
Bahkan yang Sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan Sempurna ...” (Q.S. Yunus(10): 39)
3.    “Apakah engkau menemukan dalam Al-Qur’an yang semakna dengan ungkapan: Bobot sebuah berita berbeda dengan menyaksikan sendiri”
Al Hasan menjawab, ada, yaitu;


Artinya:
Dan (Ingatlah) ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati." Allah berfirman: "Belum yakinkah kamu ?" Ibrahim menjawab: "Aku Telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) ...(Q.S. Al Baqarah(2): 260)
4.    “Apakah engkau menemukan dalam Al-Qur’an ayat yang semakna dengan ungkapan: Dalam aktivitas terdapat kebaikan”
Al Hasan menjawab ya. Yaitu;

Artinya:
Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi Ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak(Q.S. An Nisa(4): 100)
5.    “Apakah engkau menemukan dalam Al-Qur’an ayat yang semakna dengan ungkapan: apa yang kau lakukan pada orang lain, begitulah engkau diperlakukan oleh orang lain”
Al Hasan menjawab, ya ada.


Artinya:
Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu(Q.S. An-Nisa(4): 123)
6.    “Apakah engkau menemukan dalam Al-qur’an yang semakna dengan ungkapan: Seorang mukmin tidak akan masuk ke lubang yang sama untuk kedua kalinya”
Al Hasan menjawab, ada.


Artinya:
Berkata Ya'qub: "Bagaimana Aku akan mempercayakannya (Bunyamin) kepadamu, kecuali seperti Aku Telah mempercayakan saudaranya (Yusuf) kepada kamu dahulu?". Maka Allah adalah sebaik-baik Penjaga dan dia adalah Maha Penyayang diantara para penyanyang.” (Q.S. Yusuf(12): 64)
7.     “Apakah engkau menemukan dalam Al-Qur’an, ayat yang semakna dengan ungkapan: Seekor ular pasti akan melahirkan ular lagi”
Al Hasan menjawab ya, ada.

Artinya:
.... dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat ma'siat lagi sangat kafir(Q.S. Nuh(71): 27)
8.    “Apakah engkau menemukan dalam Al-Qur’an, ayat yang semakna dengan: Dinding-dinding mempunyai telinga”
Al Hasan menjawab ada.


Artinya:
sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka(Q.S. At-Taubah (9):47)
c)         Amtsal Mursalah
Yang di maksud Amtsal Mursalah adalah kalimat-kalimat  Al-Qur’an yang di sebut secara lepas tanpa di tegaskan redaksi penyerupaan, tetapi dapat di gunakan untuk penyerupaan.[20] Contohnya sebagai berikut:

 
Artinya:
Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah(Q.S. An Najm(53): 58)

E.  Penggunaan Amtsal Sebagai Media Dakwah
Sebagaimana telah diutarakan bahwa pesan yang disampaikan melalui Amtsal lebih mengena di hati, lebih mantap dalam menyampaikan nasihat, dan lebih kuat pengaruhnya. Itulah sebabnya, Nabi SAW banyak menggunakan Amtsal ketika menyampaikan dakwahnya dan banyak pula juru dakwah dan pendidik yang menyampaikan pesan-pesannya melalui media Amtsal.[21]
Berkaitan dengan strategi dakwah, Mustafa Mansyur menyatakan bahwa setiap pendakwah harus membekali dirinya dengan pengetahuan-pengetahuan yang dapat mengetuk dan membuka hati pendengarnya sehingga ia dapat menyampaikan pesan-pesannya. Salah satu strategi yang dapat digunakan adalah melalui media amtsal.[22]
Di sisi lain, banyak aspek ajaran Islam yang bersifat abstrak yang sulit di terima oleh akal pikiran manusia, di antaranya adalah gambaran tentang hilangnya pahala sedekah seseorang yang di sertai sifat riya. Gambaran ini bersifat abstrak sehingga sulit di pahami. Akan tetapi, setelah gambaran ini di formalisasikan dalam bentuk perumpamaan, yakni sirnanya tanah di atas batu akibat hujan yang menimpanya, maka  gambaran itu menjadi lebih mudah di pahami. Dengan demikian, agar strategi dakwah dalam bentuk menyampaikan pesan dapat di terima dengan mudah oleh pendengar, dapat di salurkan melalui amtsal.[23]
Dari pemaparan di atas, kita dapat melihat signifikansi penggunaan amtsal sebagai salah satu media dakwah.

F.   Contoh-contoh Amtsal dalam Al-Qur’an
Berikut ini  adalah contoh amtsal Al-Qur’an di samping yang telah di sebutkan di atas.
1.    Perumpamaan orang kafir
وَ مَثَلُ ا لَّذِ  يْنَ كَفَرُ وْ ا كَمَثَلِ ا لَّذِ يْ يَنْعِقُ بِمَا لاَ يَسْمَعُ اِ لاَّ دُ عَآ ءً وَ نِدَ آ ءً صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لاَ يَعْقِلُوْ نَ ( ا لبقر ة : ٧١ )
Artinya:
Dan perumpamaan (orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan atau seruan saja. Mereka tuli, bisu, dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.” (Q.S. Al-Baqarah (2): 71)
2.    Perumpamaan tentang orang musyrik
مَثَلُ الَّذِ يْنَ ا تَّخَذُ وْ ا مِنْ دُ وْ نِ ا للهِ أَ وْ لِيَآ ءَ كَمَثَلِ ا لْعَنْكَبُوْ تِ ا تَّخَذَ  تْ بَيْتًا وَ إِ نَّ أَ و هَنَ ا لْبُيُوْ تِ لَبَيْتُ ا لْعَنْكَبُوْ تِ لَوْ كَا نُوْ ا يَعْلَمُوْ نَ ( ا لعنكبوت : ٤١ )
Artinya:
Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui” (Q.S. Al-Ankabut (29) : 41)
3.    Perumpamaan orang mukmin     
مَثَلُ ا لْفَرِ يْقَيْنِ كَا لْأَ عْمَى ا وَ ا لْأَ صَمِّ وَ ا لْبَصِيْرِ وَ ا لسَّمِيْعِ هَلْ يَسْتَوِ يَا نِ مَثَلًا أَ فَلَا تَذَ كَّرُ وْ نَ ( هو د:٢٤ )
Artinya:
Perbandingan kedua golongan itu (orang-orang kafir dan orang-orang kafir dan orang-orang mukmin) seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan dapat mendengar. Adakah kedua golongan itu sama keadaan dan sifatnya? Maka tidak lah kamu mengambil pelajaran (dari perbandingan itu)?” (Q.S. Hud(11) : 24)
4.    Perumpamaan orang yang menafkahkan harta
مَثَلُ مَا يُنْفِقُوْ نَ فِى هَاذِ هِ ا لْحَيَو ةِ ا لدُّ  نْيَا كَمَثَلِ رِ يْحٍ فِيهَا صِرٌّ أَ صَا بَتْ حَرْ ثَ قَوْ مٍ ظَلَمُوْ آ  أَ نْفُسَهُمْ فَأَ هْلَكَتْهُ وَ مَا ظَلَمَهُمُ ا للهُ وَ لَكِنْ أَ نْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْ نَ ( ا ل عمر ا ن : ١١۷)
Artinya:
Perumpamaan harta yang mereka nafkahkan di dalam kehidupan dunia ini, adalah seperti perumpamaan angin yang mengandung hawa yang sangat dingin, yang menimpa tanaman kaum yang menganiaya diri sendiri, lalu angin merusaknya. Allah tidak menganiaya mereka, tetapi mereka lah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Q.S. Ali Imran (3): 117)






BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Salah satu ilmu Al-Qur’an yang tidak kalah menariknya dengan ilmu-ilmu ulum Al-Qur’an yang lain yaitu Amtsal Al-Qur’an, karena di sini Allah dalam membimbing,  memperingatkan, menasihati, memantapkan, dan menertibkan kita serta agar kita dapat mengambil pelajaran yaitu dengan menggunakan perumpamaan. dengan bahasa yang indah dan menarik membuat kita terdorong untuk berfikir kritis dan mendalam bagaimana Allah menggambarkan segala sesuatunya.
Ada Sebuah Ungkapan yang mengatakan: اَ للهٌ ا لْمَثَلُ ا لْاَ عْلَ ... ungkapan ini di peroleh dari pemahaman mendalam terhadap Al Qur’an. Yang maksudnya Allah lah sumber Jamal, sumber Jalal dan sumber Kamal yang sesungguh-sungguhnya.
Seorang ulama bernama Al-Mawardi pernah berpesan:”Ilmu dalam Al-Qur’an yang salah satunya paling berbobot adalah ilmu Amtsal, ilmu ini terkadang dilupakan orang karena orang tersebut lupa mempraktikkannya. Sedang ilmu Amtsal tanpa ada usaha mempraktikkan, seperti onta tanpa kendali, atau seperti kuda binal lepas dari pingitan”. Itu berarti peringatan pada kita, jika ingin tepat menuju sasaran, terlebih yang berhubungan dengan memahami perumpamaan, maka harus berjalan dengan sebuah arah dan pedoman yakni mempelajari Amtsal Al-Qur’an.











DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an Al-Kariem
Ahmad Syadali dan Ahmad Rofii, Ulumul Quran II  Bandung: Pustaka setia, 2000, ct ke-2
Az-Zarkasyi, Al-Imam,  Al Burhan fi ‘Ulum Al-Qur’an Kairo: Dar Ihya’ Al-Kutub Al-Arabiyyah, 1975
Hasbi Ash Shiddieqy, Ilmu-ilmu Al-Qur’an Media Pokok dalam menafsirkan Al-Qur’an Jakarta: Bulan Bintang, 1993
Imam Jalaluddin As-Suyuti, al-itqon fi Ulumil Qur’an
Manna Al-Qattan, Mabahits fi Ulum Al-Qur’an Mansyurat Al-Hasr Al-Hadits, 1973
Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Husni, Mutiara Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, ter. Rosihon Anwar, Bandung: Pustaka Setia, 1999
Muhammad Mahmud Hijazi, Tafsir Al-Wadhih, Beirut: Dar Al-Jil, 1969
Muhammad Rasyid Ridha, Tafsir Al-Manar Beirut: Dar Al-Fikr
Mushtafa  Mansyur, Thariq Ad-Dakwah, Beirut: Al Ittihad Al Islami Al Alami, 1980
Rosihon Anwar, Ilmu Tafsir, Bandung: Pustaka setia, 2005
Tim, Qawaid At-Tafsir Yogyakarta:  Aswaja Presssindo, 2014


[1] Rosihon Anwar, Ilmu Tafsir, (Bandung: Pustaka setia, 2005), ct ke-3, h.91  dan  Muhammad Mahmud Hijazi, Tafsir Al-Wadhih, (Beirut: Dar Al-Jil, 1969), h.79
[2] Ibid, h.92
[3] Hasbi Ash Shiddieqy, Ilmu-ilmu Al-Qur’an Media Pokok dalam menafsirkan Al-Qur’an (Jakarta: Bulan Bintang, 1993), ct ke-3, h.174
[4] Muhammad Rasyid Ridha, Tafsir Al-Manar (Beirut: Dar Al-Fikr), h.236
[5] Manna Al-Qattan, Mabahits fi Ulum Al-Qur’an (Mansyurat Al-Hasr Al-Hadits, 1973), h.282
[6] Muhammad  Bakar Ismail, Dirasat fi Ulum Al-Qur’an (Kairo: Dar Al-Manar, 1991), h.337
[7] Az-Zarkasyi, Al-Imam,  Al Burhan fi ‘Ulum Al-Qur’an (Kairo: Dar Ihya’ Al-Kutub Al-Arabiyyah, 1975), h.483
[8] Rosihon Anwar, Loc.cit, h.93
[9] Imam Jalaluddin As-Suyuti (wafat 991 H) dalam kitabnya “al-itqon fi Ulumil Qur’an” juga menyediakan bab khusus yang membahas tentang ilmu amtsal Al-Qur’an dengan 5 pasal di dalamnya. Atau lihat kutipannya di; Ahmad Syadali dan Ahmad Rofii, Ulumul Quran II (Bandung: Pustaka setia, 2000), ct ke-2 edisi revisi, h.35. atau lihat kutipan: Qawaid At-Tafsir (Yogyakarta:  Aswaja Presssindo, 2014), h.235-236
[10] Hasbi Ash Shiddieqy, Loc. Cit, h.175
[11] Ibid,
[12] Ibid,
[13] Rosihon Anwar, Loc.cit, h.93
[14] Ibid, h.95
[15] Ibid,
[16] ibid
[17] Ibid, h.96
[18] Ibid, h.97
[19] Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Husni, Mutiara Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, ter. Rosihon Anwar, (Bandung: Pustaka Setia, 1999), h.335
[20] Ibid, h.105
[21] Ibid, h.113
[22] Mushtafa  Mansyur, Thariq Ad-Dakwah, (Beirut: Al Ittihad Al Islami Al Alami, 1980), h.152
[23] Rosihon Anwar, Op. Cit

Tidak ada komentar: