Pink Rose Flower

Sabtu, 24 Desember 2016

Evaluasi Pendidikan - Penyusunan dan Pengolahan Hasil Test





TUGAS TERSTRUKTUR                                    DOSEN PENGASUH
   Evaluasi Pendidikan                                          Dr. Hj. Nuril Huda, M.Pd
                                                                             Dr. Dina Hermina, M.Pd

\

PENYUSUNAN DAN PENGOLAHAN HASIL TES





Oleh :

SRI WAHYUNITA   :   1502521475



INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI
PROGRAM PASCASARJANA
PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
BANJARMASIN
2016





BAB I
PENDAHULUAN
Evaluasi sangat dibutuhkan dalam berbagai kehidupan manusia sehari-hari, karena disadari atau pun tidak, sebenarnya evaluasi sudah sering dilakukan, baik untuk diri sendiri maupun kegiatan sosial lainnya. Hal ini dapat dilihat mulai dari berpakaian, setelah berpakaian ia berdiri dihadapan kaca apakah penampilannya sudah wajar atau belum.
Evaluasi adalah salah satu kegiatan yang merupakan kewajiban bagi setiap guru atau pengajar. Dikatakan kewajiban karena setiap pengajar pada akhirnya harus dapat memberikan informasi kepada lembaganya atau kepada siswa itu sendiri. Bagaimana dan sampai dimana penguasaan dan kemampuan yang telah di capai siswa tentang materi dan keterampilan-keterampilan mengenai mata ajaran yang telah di berikannya.
Dalam hal pelaksanaan proses pembelajaran guru memerlukan keahlian dalam bidang profesinya, yakni kemampuan dalam memberikan materi dan berinteraksi dengan anak didiknya, tidak hanya sekedar memberikan materi kemudian tugas untuk siswa dan menilai siswa, melainkan juga mampu dalam mengevaluasi dan membuat soal evaluasi itu sendiri dengan baik dan terarah sesuai dengan pengembangan materi pembelajaran.
Faktor keberhasilan dalam suatu kegiatan evaluasi utamanya sangat dipengaruhi oleh sang evaluator dalam melaksanakan prosedur evaluasi. Prosedur yang dimaksud adalah langkah-langkah pokok yang harus di tempuh dalam kegiatan evaluasi.
Sebelum guru melaksanakan evaluasi, guru terlebih dahulu harus memahami bagaimana cara membuat soal evaluasi, apa sebenarnya yang dimaksud dengan evaluasi dalam pembelajaran dan secara luas evaluasi dalam pendidikan.
Demikian pentingnya pelaksanaan evaluasi pembelajaran, maka untuk menyusun suatu evaluasi pembelajaran tersebut tentunya memerlukan guru yang memiliki kompetensi dibidangnya. Guru tidak hanya mampu menyusun instrumen akan tetapi juga mampu mengolah hasil tes tersebut, dan pada akhirnya sang guru mampu membuat keputusan bagi posisi dan porsi siswa-siswanya.


BAB II
PEMBAHASAN
A.      PENYUSUNAN TES
Dalam  merencanakan sebuah kegiatan tentunya harus sesuai dengan apa yang direncanakan. Hal ini dimaksudkan agar hasil yang diperoleh dapat lebih maksimal. Seorang evaluator yang baik tentunya harus dapat membuat perencanaan yang baik pula. Perencanaan ini penting karena akan mempengaruhi langkah-langkah selanjutnya, bahkan akan mempengaruhi keefektifan prosedur evaluasi secara menyeluruh (Zainal Arifin, 2011, h.89). W. James Popham (1974) mengemukakan “to facilitate  gathering data, thereby making possible valid statements about the effect or out comes of program, practice, or policy under study”.
Implikasinya adalah perencanaan evaluasi harus dirumuskan  secara jelas dan spesifik, terurai dan komperhensif sehingga perencanaan tersebut bermakna dalam menentukan langkah-langkah selanjutnya.

1.        Fungsi Tes
Sehubungan dengan hal-hal yang harus di ingat pada waktu penyusunan tes, maka fungsi tes dapat di tinjau dari 3 (tiga) hal (Suharsimi Arikunto, 2013, h.165):
a.         Fungsi untuk kelas
b.        Fungsi untuk bimbingan
c.         Fungsi untuk administrasi
Selain fungsi-fungsi tes ini, hal lain yang harus di ingat adalah (Suharsimi Arikunto, 2013, h.166):
a.         Hubungan dengan penggunaan
Waktu menyusun tes, dalam hati harus di ingat, fungsi mana yang saat itu di pentingkan, karena fungsi yang berbeda aka menentukan bentuk/isi tes yang berbeda pula.
b.        Komprehensif
Sebuah tes sebaiknya mencakup suatu kebulatan, artinya meliputi berbagai aspek yang dapat menggambarkan keadaan siswa secara keseluruhan (kecerdasan, sikap, pribadi, perasaan sosial, dan sebagainya).
c.         Kontinuitas
Berhubungan dengan prinsip komperhensif, maka prinsip kontinuitas mempunyai persamaan tujuan. Sebaiknya tes di susun sedemikian rupa sehingga menggambarkan kelanjutan dari awal anak memasuki suatu sekolah sampai dengan kelas terakhir. Dengan demikian akan diketahui perkembangan anak itu tidak dengan terputus.

Perbandingan Fungsi Tes
No
Fungsi Untuk Kelas
Fungsi Untuk Bimbingan
Fungsi Untuk Administrasi
1.
Mengadakan diagnosis terhadap kesulitan belajar siswa
Menentukan arah pembicaraan dengan orang tua dengan anak-anak mereka
Memberi petunjuk dalam pengelompokkan siswa
2.
Mengevaluasi celah antara bakat dan pencapaian
Membantu siswa dalam menentukan pilihan.
Penempatan siswa baru
3.
Menaikkan tingkat prestasi
Membantu siswa mencapai tujuan pendidikan dan jurusan
Membantu siswa memilih kelompok
4.
Mengelompokkan siswa dalam kelas pada waktu metode kelompok
Memberi kesempatan kepada pembimbing, guru, dan orang tua dalam memahami kesulitan anak
Menilai kurikulum
5.
Merencanakan kegiatan proses belajar mengajar untuk siswa secara perseorangan

Memperluas hubungan masyarakat
6.
Menentukan siswa mana yang memerlukan bimbingan khusus

Menyediakan informasi untuk badan-badan lain di luar sekolah.
7.
Menentukan tingkat pencapaian untuk setiap anak



2.        Langkah-langkah Dalam Penyusunan Tes
Tes hasil belajar akan berarti bila terdiri dari butir-butir soal yang menguji tujuan penting dan mewakili   ranah,  kognitif,  efektif,  dan  psikomotor  secara  representatif.  Untuk  itu  maka  peranan perencanaan tes menjadi sangat penting.
Berikut ini langkah-langkah yang dilakukan adalah (Suharsimi Arikunto, 2013, h.167):
·      Menentukan tujuan mengadakan tes. Menentukan alasan diselenggarakan tes, perlu dipastikan alasan manakah yang  melatar belakangi. Misalnya: formatif, sumatif, selektif, placement, diagnostik, motivatif, komprehensif.
·      Mengadakan pembatasan terhadap bahan yang akan diteskan.
·      Memastikan tujuan instruksional yang akan diujikan. Tujuan harus detail dan rinci. Tujuan yang bersifat khusus diharapkan dapat diamati, diukur, dan dinilai.
·      Menderetkan semua indikator dalam tabel persiapan yang memuat pula aspek tingkah laku. Pada tabel lajur vertikal untuk mencantumkan indikator dan lajur horisontal untuk mencantumkan aspek tingkah laku misalnya: ingatan pemahaman, aplikasi, dan lain-lain.
·      Memilih   butir   tes   disesuaikan   dengan   tujuan   instruksional.   Perlu   dicermati   karakteristik masing-masing jenis tes.
·      Membuat tabel spesifikasi atau disebut blue-print. Blue-print  atau kisi-kisi adalah sebuah tabel yang memuat tentang perincian materi dan tingkah laku beserta proporsi yang dikehendaki oleh penilai.  Tabel spesifikasi mempunyai kolom dan baris yang nampak hubungan antara materi, indikator, kegiatan  belajar,   dan  evaluasi.  Adapun  langkah-langkah  dalam  membuat  blue-print  yaitu  a) mencantumkan  pokok  materi,  b)  menentukan  presentasenya,  c)  menentukan  jumlah  soal,  d) merinci  banyaknya  butir  soal  untuk  tiap  pokok  materi,  e)  menentukan  aspek  yang  diukur  dan presentasenya, f) menentukan banyaknya butir soal tiap sel.
·      Menuliskan butir-butir soal dengan memperhatikan rambu-rambu penulisan

3.        Komponen-komponen Tes
Apabila guru sudah bekerja keras sebelum melaksanakan tes, maka pekerjaan sesudahnya akan menjadi lancar, mudah dan hasilnya pun lebih baik.
Komponen atau kelengkapan sebuah tes terdiri atas (Suharsimi Arikunto, 2013, h.173):
a.         Buku tes, yakni lembaran atau buku yang memuat butir-butir soal yang harus dikerjakan oleh siswa
b.        Lembar jawaban tes, yaitu lembaran yang di sediakan oleh penilaian bagi testee untuk mengerjakan tes. Untuk soal bentuk pilihan ganda biasanya di buatkan lembaran nomor dan huruf a, b, c, d, menurut banyaknya alternatif yang disediakan
c.         Kunci jawaban tes berisi jawaban jawaban yang di kehendaki. Kunci jawaban ini dapat berupa huruf-huruf yang dikehendaki atau kata/kalimat. Untuk tes bentuk uraian yang dituliskan adalah kata-kata kunci ataupun kalimat singkat untuk memberikan ancar-ancar jawaban.
Ide daripada adanya kunci jawaban ini adalah agar:
·           Pemeriksaan tes dapat dilakukan oleh orang lain
·           Pemeriksaannya betul
·           Dilakukan dengan mudah
·           Sesedikit mungkin masuknya unsur subjektif
d.        Pedoman penilaian, atau pedoman skoring berisi keterangan perincian tentang skor atau angka yang diberikan kepada siswa bagi soal-soal yang telah dikerjakan.

B.       TABEL SPESIFIKASI TES
Table spesifikasi (blue print) diperlukan sebagai dasar atau pedoman dalam membuat soal-soal dalam penyusunan tes. Dengan menggunakan table tersebut, guru atau pengajar dapat menentukan jumlah dan jenis soal yang diperlukan, sesuai dengan tujuan intruksional dari tiap pokok bahasan (Ngalim Purwanto, 2009, h.31).
1.        Fungsi Tabel Spesifikasi
Untuk menjaga agar tes yang kita susun tidak menyimpang dari bahan (materi) serta aspek kejiwaan (tingkah laku) yang akan di cakup dalam tes, dibuatlah sebuah tabel spesifikasi.
Tabel spesifikasi dapat disebut juga sebagai grid, kisi-kisi atau blue-print. Wujudnya adalah sebuah tabel yang memuat tentang perperincian materi dan tingkah laku beserta imbangan atau proporsi yang di kehendaki oleh penilai. Tiap kotak di isi dengan bilangan yang menunjukkan jumlah soal (Suharsimi Arikunto, 2013, h.200).
Contoh:
TABEL SPESIFIKASI
Pokok materi
Aspek yang di ungkap
Ingatan
Pemahaman
Aplikasi
Jumlah
Bagian I
...
...
...
...
Bagian II
...
...
...
...
Bagian n
(terakhir)
...
...
...
...
Jumlah
...
...
...
...

Tabel spesifikasi mempunyai kolom dan baris, sehingga tampak hubungan antara materi dengan aspek yang tergambar dalam indikator. Sebenarnya penyusunan tes bukan hanya mengingat hubungan antara dua hal tersebut tetapi empat hal, yaitu hubungan antara materi, indikator, kegiatan belajar, dan evaluasi (Suharsimi Arikunto, 2013, h.201).
Keempat hal, yaitu materi, indikator, kegiatan belajar, dan evaluasi merupakan kaitan yang erat sekali. Dengan mengenal materi yang akan di ajarkan (yang dipilih untuk mencapai tujuan kurikuler dan tujuan instruksional umum), kita segera tahu bagaimana sifat materi tersebut misalnya fakta, konsep atau hubungan antar konsep. Apabila materinya berupa fakta, tentu indikatornya menyangkut ingatan. Kegiatan belajarnya informasi dan evaluasi dapat uraian, isian singkat, benar-salah atau pilihan ganda (Suharsimi Arikunto, 2013, h.201).
Urutannya adalah indikator, materi, kegiatan belajar-mengajar, dan evaluasi. Ini merupakan urutan yang benar. Memang dalam mengajar harus diketahui terlebih dahulu apa yang akan di capai. Kemudian di tentukan materi penunjangnya. Apa yang disajikan di atas mengikuti kebiasaan yang ada dalam praktek. Karena yang tersedia di hadapan guru adalah materi yang tercakup dalam buku, maka barulah dari materi tersebut di rumuskan indikatornya. Tentu ini kurang benar, tetapi mudah dilakukan, khususnya bagi mereka yang belum terbiasa menyusun soal (Suharsimi Arikunto, 2013, h.202).
Kebiasaan yang salah dan tidak boleh lagi di teruskan adalah dari materi disusun soalnya, baru kemudian dirumuskan indikatornya.
Sebagai contoh kaitan antara indikator, materi, kegiatan belajar-mengajar dan evaluasi adalah sebagai berikut (Suharsimi Arikunto, 2013, h.202).
TIK               :    4.2.2. Siswa dapat menghitung kecepatan benda.
Materi           :    4.2.2. Percepatan benda
KBM            :    Informasi dan tanya jawab percepatan
Evaluasi        :    4.2.2. Sebuah benda yang mula-mula diam, massanya 5kg dan menerima dua buah gaya yang berlawanan dan sama besar masing-masing 10 newton.
                          Maka percepatannya ialah:
a.       0 m/dt2
b.      0,5 m/dt2
c.       2 m/dt2
d.      4 m/dt2

2.        Langkah-langkah Pembuatan
Sebenarnya ada beberapa macam tabel spesifikasi. Macam tabel ini ditentukan oleh bidang studi dan homogenitas materi yang akan di teskan. Satu hal yang sama adalah bahwa langkah pertama yang harus di ambil adalah mendaftar pokok-pokok materi yang akan di teskan kemudian memberikan imbangan bobot untuk masing-masing pokok materi (Suharsimi Arikunto, 2013, h.203).
Contoh:
Akan membuat tes untuk evaluasi. Pokok-pokok materinya adalah:
·           Pengertian                                        (2)
·           Fungsi evaluasi                                (3)
·           Macam-macam cara evaluasi           (4)
·           Persyaratan evaluasi                         (5)
Angka-angka yang tertera di dalam kurung yang dituliskan di belakang pokok materi, menunjukkan imbangan bobot untuk masing-masing pokok materi. Penentuan imbangan bobot dilakukan oleh penyusun soal berdasarkan atas luasnya materi atau kepentingannyauntuk di tes.  Penentuan imbangan dilakukan atas perkiraan (judgment) saja. Pada waktu menuliskan angka tidak perlu dihitung-hitung bahwa jumlahnya harus 10 karena semuanya akan di ubah menjadi angka dalam bentuk persentase (Suharsimi Arikunto, 2013, h.203).
Dari contoh di atas, maka pokok-pokok materi dapat dipindahkan ke dalam tabel dan mengubah indeks menjadi presentasi. Inilah merupakan langkah kedua dari pembuatan tabel spesifikasi (Suharsimi Arikunto, 2013, h.203).
TABEL SPESIFIKASI UNTUK MENYUSUN SOAL EVALUASI
Pokok Materi
Aspek yang di ungkap
Ingatan
Pemahaman
Aplikasi
Jumlah
Pengertian evaluasi (14%)



7
Fungsi evaluasi (21%)



10
Macam-macam cara evaluasi (29%)



15
Persyaratan evaluasi (36%)



18
Jumlah



50 butir soal

Setelah mencantumkan pokok-pokok materi yang akan di teskan beserta presentasinya, langkah ketiga adalah memerinci banyaknya butir soal untuk tiap-tiap pokok materi, dan angka ini di tuliskan pada kolom paling kanan. Caranya adalah membagi jumlah butir soal (di sini 50 buah) menjadi 4 bagian berdasarkan imbangan bobot yang tertera sebagai presentase (Suharsimi Arikunto, 2013, h.204).
Angka 50 di tentukan oleh guru berdasarkan alokasi waktu yang di sediakan dan bentuk soal yang akan di berikan. Dalam contoh ini, misalnya akan di susun tes berbentuk objektif dengan jumlah 50 butir soal berbentuk pilihan ganda, karena waktu yang di sediakan adalah 75 menit. Sekali lagi disini di perlukan kebijaksanaan guru untuk memperkirakan banyaknya butir soal agar tidak terlalu sedikit maupun terlalu banyak (Suharsimi Arikunto, 2013, h.204).
Sebagai patokan waktu adalah bahwa sebuah soal tes objektif membutuhkan waktu 1 menit untuk membaca dan membacanya sehingga jika disediakan waktu 75 menit untuk tes, dapat disusun butir soal sejumlah (Suharsimi Arikunto, 2013, h.204): 
·           50 buah bentuk objektif (50 menit).
·           5 buah bentuk uraian (25 menit)
Jadi banyaknya butir soal sangat di tentukan oleh:
·           Waktu yang tersedia
·           Bentuk soal
Sampai dengan langkah ketiga, cara yang dilalui sama bagi seluruh bidang studi.
Untuk langkah-langkah selanjutnya, terdapat langkah khusus, tergantung dari homogenitas atau heterogenitas (keragaman) materi yang di teskan.
a.         Untuk materi yang seragam
Yang dimaksud dengan seragam disini adalah bahwa antara pokok materi yang satu dengan pokok materi yang lain mempunyai kesamaan dalam imbangan aspek tingkah laku. Misalnya 50% untuk ingatan, 30% untuk pemahaman, dan 20% untuk aplikasi. Apabila demikian halnya, maka angka presentasi dapat dituliskan pada kolom, di bawah kata-kata “ingatan”, “pemahaman”, “aplikasi”. Selanjutnya banyak butir soal untuk setiap sel (kotak kecil) diperoleh dengan cara menghitung persentasi dari banyaknya soal bagi tiap pokok materi yang sudah tertulis di kolom paling kanan. Perlu di perhatikan bahwa angka yang diperoleh untuk setiap sel merupakan pembulatan dari perhitungan dengan mereka-reka atau menggeser-gesernya sehingga jumlah kesamping dan kebawah diperoleh angka yang benar(Suharsimi Arikunto, 2013, h.205).
Contoh:
TABEL SPESIFIKASI PENYUSUNAN TES EVALUASI
Pokok Materi
Aspek yang di ungkap
Ingatan
(50%)
Pemahaman
(30%)
Aplikasi
(20%)
Jumlah
(100%)
Pengertian Evaluasi (14%)
(A)
(B)
(C)
7
Fungsi Evaluasi (21%)
(D)
(E)
(F)
10
Macam-macam evaluasi (29%)
(G)
(H)
(I)
15
Persyaratan evaluasi (36%)
(J)
(K)
(L)
18
Jumlah



50

Untuk mengisi/menentukan banyak butir soal untuk tiap sel dilakukan demikian:
Sel A     = 
Sel B      = 
Sel C      = 
Untuk mengisi sel-sel yang lain, di lakukan dengan cara yang sama, dengan cara yang digunakan untuk menentukan sel A, sel B, sel C.
Catatan:
Di samping cara yang di ajukan ini, yakni menentukan jumlah butir soal untuk tiap-tiap pokok materi, ada lagi cara lain yang di ambil orang, yakni mulai dari pengisian sel-sel kemudian baru diperoleh jumlah soal tiap pokok materi.
Contoh:
TABEL SPESIFIKASI PENYUSUNAN
Pokok Materi
Aspek yang di ungkap
Ingatan
(50%)
Pemahaman
(30%)
Aplikasi
(20%)
Jumlah
(100%)
BAB 1       (40%)
(A)
(B)
(C)

BAB 2       (30%)
(D)
(E)
(F)

BAB 3       (30%)
(G)
(H)
(I)

Jumlah      (100%)



40

Misalnya berdasarkan waktu yang telah di tentukan, di perkirakan akan di susun 40 buah butir soal. Maka tiap sel diperoleh imbangan jumlah sebagai berikut:
Sel A     = 
Sel B      = 
Sel C      = 
Sel D     = 
Demikian seterusnya setelah di hitung dengan cara yang sama, terdapatlah angka-angka yang menggambarkan banyaknya soal seperti tercantum pada tiap aspek. Sesudah itu baru di jumlahkan ke kanan maupun ke bawah sehingga terdapat jumlah soal untuk setiap bagian/pokok materi maupun untuk setiap aspek tingkah laku.

b.        Untuk materi yang tidak seragam
Ada kalanya pokok-pokok materi dalam satu bulan hanya mencakup satu aspek tingkah laku saja, yakni ingatan saja. Misalnya, suku-suku bangsa yang ada di indonesia. Adanya suku-suku bangsa tersebut hanya dapat di hafalkan, tanpa perlu di pahami, apalagi di aplikasikan, dalam keadaan demikian maka yang di isi hanya kolom ingatan (Suharsimi Arikunto, 2013, h.208).

3.        Tindak Lanjut Sesudah Penyusunan Tabel Spesifikasi
Setelah kita membuat tabel spesifikasi, langkah selanjutnya sesudah menyusun tabel spesifikasi yaitu:

a.         Menentukan bentuk soal

Ada dua hal yang harus di pertimbangkan dalam menentukan bentuk soal yakni (Suharsimi Arikunto, 2013, h.212):
·           Waktu yang disediakan
·           Sifat materi yang dites.
Sebagai pertimbangan menentukan bentuk soal sehubungan dengan waktu yang tersedia adalah bahwa soal bentuk pilihan ganda membutuhkan waktu lebih singkat daripada isian atau betul-salah. Bentuk menjodohkan adalah bentuk yang memerlukan waktu banyak untuk menyelesaikan. Yang perlu mendapat perhatian adalah soal bentuk uraian. Soal bentuk ini paling banyak memakan waktu walaupun masih perlu diperinci lagi bahwa soal yang menghendaki siswa untuk menguraikan (Suharsimi Arikunto, 2013, h.212).
Sifat materi sangat menentukan bentuk soal tes pula. Adakalanya sebuah pokok materi tidak dapat di ukur dengan soal bentuk pilihan ganda karena sukar di carikan alternatif yang hampir sama (Suharsimi Arikunto, 2013, h.212).
Sebelum kita menentukan bentuk soal tes, terlebih dahulu kita harus sudah mengetahui berapa lama alokasi waktu yang di sediakan untuk mengerjakan tes. Hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam menentukan alokasi waktu tes adalah (Suharsimi Arikunto, 2013, h.213):
1)        Untuk tes formatif dari bahan diselesaikan dalam waktu 4-5 kali pertemuan
2)        Waktu yang digunakan untuk menyelesaikan soal bentuk objektif pilihan ganda kira-kira ½-1 menit untuk setiap butir tes (untuk pilhan ganda sederhana).
3)        Waktu yang di perlukan untuk menyelesaikan soal bentuk uraian tergantung dari berapa lama siswa harus berfikir dan menuliskan jawaban.
Untuk menentukan bentuk soal di tinjau dari segi aspek berfikir adalah sebagai berikut (Suharsimi Arikunto, 2013, h.213):
1)        Mendaftarkan fakta-fakta, istilah, definisi, yang terdapat dalam seluruh materi yang di ajarkan. Kita ketahui bahwa faktafakta dan sebagainya berhubungan erat dengan aspek ingatan.
2)        Mendaftar setiap konsep (pengertian) yang tercakup dalam seluruh materi. Konsep ini di ukur penguasaannya berdasarkan aspek pemahaman siswa.
3)        Mencari hubungan antara dua atau beberapa konsep yang ada. Hubungan konsep ini berhubungan dengan aspek pemahaman tetapi dapat juga aplikasi.
4)        Mempertentangkan konsep-konsep, menggeneralisasikan, dan menghubungkan konsep dengan masalah kehidupan sehari-hari. Hal ini berhubungan dengan aspek aplikasi.
5)        Memilih hubungan antara beberapa konsep penerapan ke dalam permasalahan yang lebih luas. Kasus permasalahan yang luas dapat di angkat sebagai pokok untuk menyusun soal bentuk analisis, sintesis, atau evaluasi.
Untuk menentukan bentuk soal di tinjau dari segi kontruksi soal, yaitu bentuk objektif dan uraian, maka dapat dilakukan sebagai berikut (Suharsimi Arikunto, 2013, h.214):
1)        Memilih fakta-fakta tunggal seperti tahun, nama, atau istilah. Hal-hal seperti ini tepat untuk di jadikan butir soal benar-salah maupun isian singkat.
2)        Hubungan antar konsep-konsep yang berupa klasifikasi dan diferensiasi ditentukan untuk membuat soal bentuk pilihan ganda (multiple choice). Definisi atau hubungan sebab-akibat, merupakan  bahan yang dapat di uji dengan bentuk benar-salah, pilihan ganda ataupun hubungan antarhal (dua pernyataan yang dihubungkan dengan kata “sebab”).
3)        Memilih konsep-konsep yang agak kompleks sifatnya, untuk di jadikan soal bentuk uraian.

b.  Menuliskan soal-soal tes

Langkah terakhir dalam penyusunan tes adalah menuliskan soal-soal tes (item writing).   Walaupun tinggal satu langkah, tapi ini menjadi bagian paling penting, karena kesalahan sedikit saja akan berakibat fatal. Hal yang perlu  diperhatikan dalam menuliskan soal tes adalah sebagai berikut (Suharsimi Arikunto, 2013, h.214):
1)  Bahasanya harus sederhana dan mudah dipahami.
2)  Suatu soal tidak boleh mengandung penafsiran ganda atau membingungkan.
3)  Cara memenggal kalimat atau meletakkan kata-kata perlu diperhatikan agar tidak ditafsirkan salah.
4)  Petunjuk mengerjakan. Penulisan petunjuk mengerjakan harus secara jelas, agar peserta didik tidak menyimpang dari yang diinginkan oleh guru dalam mengerjakan soal tes.
Catatan:
Untuk memperoleh sebuah tes yang terstandar, harus dilakukan ujicoba (try out) berkali-kali sehingga diperoleh soal-soal yang baik. Dengan mengadakan ujicoba terhadap soal-soal tes yang sudah disusun, paling tidak dapat ditarik manfaat-manfaat sebagai berikut:
1)  Pengalaman menggunakan tes tersebut
2)  Mengetahui kesukaran bahasa
3)  Mengetahui variasi jawaban siswa
4)  Mengetahui waktu yang dibutuhkan
5)  Dan kesulitan lain yang dialami siswa

C.       PENGOLAHAN HASIL TES
Data hasil pengukuran di dapat melalui alat penilaian tertentu, misalnya tes objektif maupun tes essai. Berupa data kuantitaif yakni angka-angka atau bilangan numerik. Angka atau bilangan tersebut adalah skor hasil pengukuran yang biasa di sebut skor mentah (Nana Sudjana, 2009, h.106).
1.      Batas kelulusan
Batas kelulusan hasil penilaian mempunyai kaitan erat dengan penilaian acuan norma (PAN)  dan penilaian acuan patokan (PAP), (Nana Sudjana, 2009, h.106), yang telah dibahas pada pertemuan makalah sebelumnya.
a.       Batas lulus aktual
Batas lulus aktual didasarkan atas nilai rata-rata aktual atau nilai rata-rata yang dapat di capai oleh kelompok siswa. Unsur yang diperlukan untuk menetapkan batas lulus aktual adalah nilai rata-rata aktual dan simpangan baku aktual.
b.      Batas lulus ideal
Batas lulus ideal hamper sama dengan batas lulus aktual, yakni menentukan batas lulus dengan menggunakan nilai rata-rata dan simpangan baku ideal.
c.       Batas lulus purposif
Batas lulus purposif mengacu kepada penilaian acuan patokan sehingga tidak perlu menghitung nilai rata-rata dan simpangan baku.

2.      Cara memberi skor mentah untuk tes uraian
Dalam bentuk uraian biasanya skor mentah dicari dengan menggunakan sistem bobot. Sistem bobot ada dua cara, yaitu:
Pertama, bobot dinyatakan dalam skor maksimum sesuai dengan tingkat kesukarannya. Misalnya, untuk soal yang mudah skor maksimumnya adalah 6, untuk skor sedang skor maksimumnya adalah 7, dan untuk soal sukar skor maksimumnya adalah 10. Cara ini tidak memungkinkan peserta didik mendapat skor maksimum sepuluh. Kedua, bobot dinyatakan dalam bilangan-bilangan tertentu sesuai dengan tingkat kesukaran soal. Misalnya, soal yang mudah diberi bobot 3, soal sedang diberi bobot 4, dan soal sukar diberi soal bobot 5. Cara ini memungkinkan peserta didik mendapat skor sepuluh (Zainal Arifin, 2011, h.223).
Contoh 1:
Seorang peserta didik diberi 3 soal dalam bentuk uraian. Setiap soal dberi skor (x) maksimum dalam rentang 1-10 sesuai dengan kualitas jawaban peserta didik.
Perhitungan Skor dengan Sistem Bobot Pertama
No. soal
Tingkat Kesukaran
Jawaban
Skor(X)
1
Mudah
Betul
6
2
Sedang
Betul
7
3
Sukar
Betul
10

Jumlah

23
Rumus:  Skor  = 
Keterangan:
SX =  Jumlah skor
S    =  Jumlah soal
Jadi, skor peserta didik A =   = 7,67
Perhitungan Skor dengan Sistem Bobot Kedua
No. soal
Tingkat Kesukaran
Jawaban
Skor (X)
Bobot(B)
XB
1
Mudah
Betul
10
3
30
2
Sedang
Betul
10
4
40
3
Sukar
Betul
10
5
50
Jumlah

12
120
Rumus : Skor =
Keterangan :
TK    = Tingkat Kesukaran
X      = Skor setiap soal
B      = Bobot sesuai dengan tingkat kesukaran soal
SXB = Jumlah hasil perkalian X dengan B
Jadi skor peserta didik:  = 10

3.      Cara memberi skor mentah untuk tes objektif
Ada dua cara untuk memberikan skor pada soal tes bentuk objektif yaitu  (Zainal Arifin, 2011, h.228):
a.       Tanpa Rumus Tebakan
Biasanya digunakan apabila soal belum diketahui tingkat kebaikannya. Caranya adalah menghitung jumlah jawaban yang betul saja. Setiap jawaban yang betul diberi skor 1, yang salah diberi skor 0.
Jadi, skor = jumlah jawaban yang betul
b.      Menggunakan Rumus Tebakan
Biasanya rumus ini digunakan apabila soal-soal tes itu sudah pernah d ujicobakan dan dilaksanakan sehingga dapat dikeetahui tingkat kebenarannya. Penggunaan rumus tebakan ini bukan karena guru sudah mengetahui bahwa peserta didik itu menebak, tetapi tes bentuk objektif ini memang sangat memungkinkan peserta didik untuk menebak. Adapun rumus-rumus tebakan tersebut adalah sebagai berikut:
1)      Untuk item benar salah (true-false)
Rumus : S = SB - SS
Keterangan:
S = Skor yang di cari
SB = Jumlah jawaban yang benar
SS = Jumlah jawaban yang salah
Contoh:
Seorang peserta didik di tes dengan soal bentuk B – S sebanyak 30 soal. Ternyata, peserta didik menjawab soal dengan betul 25 butir soal, berarti jawaban yang salah ada 5 soal. Maka skor nya adalah:
Skor = 25 - 5 = 20
2)      Untuk item bentuk pilihan ganda (multiple choice)
Rumus : S = SB -
Keterangan :
S    = Skor yang dicari
SB = Jumlah jawaban yang benar
SS = Jumlah jawaban yang salah
n   = Jumlah alternatif yang disediakan
1      = Bilangan tetap
Contoh:
Seorang peserta didik A dites sebanyak 10 soal. Ternyata peserta didik A dapat menjawab dengan betul sebanyak 7 butir soal, berarti  jumlah jawaban yang salah adalah 3 soal. Jmlah alternatif jawaban = 4. Dengan demikian, skor peserta didik A adalah:
Skor = 7 -  = 6
3)      Untuk soal betuk menjodohkan (Matching)
Rumus: S = SB
Keterangan:
S = Skor yang dicari
SB = Jumlah jawaban yang benar

4.      Cara memberi skor untuk skala sikap
Untuk mengukur sikap dan minat belajar, guru dapat menggunakan alat penilaian model skala, seperti skala sikap dan skala minat. Skala sikap dapat menggunakan lima skala, yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Tahu (TT), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS). Begitu juga untuk skala minat, guru dapat menggunakan 5 skala, seperti Sangat Berminat (SB), Berminat (B), Sama Saja (SS), Kurang Berminat (KB), dan Tidak Berminat (TB), (Zainal Arifin, 2011, h.233).

5.      Cara memberi skor untuk domain psikomotor
Dalam domain psikomotor, pada umumnya yang di ukur adalah penampilan atau kinerja. Untuk mengukurnya, guru dapat menggunakan tes tindakan melalui simulasi atau unjuk kerja. Salah satu instrument yang dapat digunakan adalah skala penilaian yang terentang dari sangat baik (5), baik (4), cukup baik (3), kurang baik (2), sampai dengan tidak baik (1), (Zainal Arifin, 2011, h.234).

6.      Pengolahan dan pengubahan skor mentah hasil tes menjadi nilai standar
Dua hal yang perlu di pahami dalam pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi skor standar atau nilai yaitu (Anas Sudijono, 2015, h.312):
a.       Bahwa dalam pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi nilai itu ada dua cara:
1)      Bahwa pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi nilai itu dilakukan dengan mengacu pada kriterium. Cara pertama ini dikenal dengan istilah Penilaian Acuan Patokan (PAP).
2)      Bahwa pengolahan dan pengubahan skor mentah  menjadi nilai dilakukan dengan mengacu pada Penilaian Acuan Norma (PAN).
b.      Bahwa pengolahan dan pengubahan nilai itu dapat menggunakan berbagai macam skala, seperti: skala lima, yaitu nilai standar berskala lima atau sering dikenal dengan istilah nilai huruf A, B, C, D dan E. Skala Sembilan yaitu nilai standar berskala Sembilan dimana rentangan nilainya mulai angka 1 sampai angka 9 (tidak ada angka 0 dan tidak ada angka 10), dll.









BAB III
PENUTUP
Di dalam kegiatan evaluasi seorang guru pastilah memerlukan berbagai informasi atau data yang menyangkut dengan objek yang akan di evaluasi. Di sisi lain, selain dalam rangka menggali informasi anak didik nya, guru akan terlibat dengan berbagai penilaian sebagai hasil dari proses belajar mengajar.  Sebelum proses penilaian berlangsung, maka perlu diperhatikan oleh guru bagaimana prosedur yang harus di jalani. Bagaimana dalam penyusunan tes, membuat tabel spesifikasi dan proses pengolahan hasil tes. Barulah berdasarkan data itu selanjutnya di ambil suatu keputusan sesuai yang searah dengan tujuan evaluasi.

















DAFTAR PUSTAKA

Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, cet ke-14, 2015.
M Ngalim Purwanto, Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, cet ke-15, 2009.
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, cet ke-14, 2009.
Popham, W.J, Evaluation in Education : Current Application, Los Angeles:  University of California, 1974.
Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan Edisi 2, Jakarta: PT Bumi Aksara, cet ke-3, 2013.
Zainal Arifin,  Evaluasi Pembelajaran (Prinsip Teknik Prosedur),  Bandung: PT Remaja Rosdakarya, cet ke-3, 2011.






Tidak ada komentar: