TUGAS
TERSTRUKTUR DOSEN
PENGASUH
Evaluasi
Pendidikan Dr. Hj. Nuril Huda, M.Pd
Dr. Dina Hermina, M.Pd
\
PENYUSUNAN DAN PENGOLAHAN HASIL TES
Oleh :
SRI WAHYUNITA :
1502521475
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI
PROGRAM
PASCASARJANA
PRODI
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
BANJARMASIN
2016
BAB I
PENDAHULUAN
Evaluasi sangat dibutuhkan dalam berbagai kehidupan manusia sehari-hari,
karena disadari atau pun tidak, sebenarnya evaluasi sudah sering dilakukan,
baik untuk diri sendiri maupun kegiatan sosial lainnya. Hal ini dapat dilihat mulai dari
berpakaian, setelah berpakaian ia berdiri dihadapan kaca apakah penampilannya
sudah wajar atau belum.
Evaluasi adalah salah satu kegiatan yang
merupakan kewajiban bagi setiap guru atau pengajar. Dikatakan kewajiban karena
setiap pengajar pada akhirnya harus dapat memberikan informasi kepada
lembaganya atau kepada siswa itu sendiri. Bagaimana dan sampai dimana
penguasaan dan kemampuan yang telah di capai siswa tentang materi dan
keterampilan-keterampilan mengenai mata ajaran yang telah di berikannya.
Dalam hal pelaksanaan proses pembelajaran guru memerlukan
keahlian dalam bidang profesinya, yakni kemampuan dalam memberikan materi dan
berinteraksi dengan anak didiknya, tidak hanya sekedar memberikan materi
kemudian tugas untuk siswa dan menilai siswa, melainkan juga mampu dalam
mengevaluasi dan membuat soal evaluasi itu sendiri dengan baik dan terarah
sesuai dengan pengembangan materi pembelajaran.
Faktor keberhasilan dalam suatu kegiatan
evaluasi utamanya sangat dipengaruhi oleh sang evaluator dalam melaksanakan
prosedur evaluasi. Prosedur yang dimaksud adalah langkah-langkah pokok yang
harus di tempuh dalam kegiatan evaluasi.
Sebelum guru melaksanakan evaluasi, guru terlebih dahulu harus memahami
bagaimana cara membuat soal evaluasi, apa sebenarnya yang dimaksud dengan
evaluasi dalam pembelajaran dan secara luas evaluasi dalam pendidikan.
Demikian
pentingnya pelaksanaan evaluasi pembelajaran, maka untuk menyusun suatu
evaluasi pembelajaran tersebut tentunya memerlukan guru yang memiliki
kompetensi dibidangnya. Guru tidak hanya mampu menyusun instrumen akan tetapi
juga mampu mengolah hasil tes tersebut, dan pada akhirnya sang guru mampu membuat keputusan bagi posisi dan porsi siswa-siswanya.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENYUSUNAN TES
Dalam merencanakan
sebuah kegiatan tentunya harus sesuai dengan apa yang direncanakan. Hal ini
dimaksudkan agar hasil yang diperoleh dapat lebih maksimal. Seorang evaluator
yang baik tentunya harus dapat membuat perencanaan yang baik pula. Perencanaan
ini penting karena akan mempengaruhi langkah-langkah selanjutnya, bahkan akan
mempengaruhi keefektifan prosedur evaluasi secara menyeluruh (Zainal Arifin,
2011, h.89). W. James Popham (1974) mengemukakan “to facilitate gathering data, thereby making possible valid statements about the effect or out comes of
program, practice, or policy under study”.
Implikasinya adalah perencanaan evaluasi harus dirumuskan secara jelas dan spesifik, terurai dan
komperhensif sehingga perencanaan tersebut bermakna dalam menentukan
langkah-langkah selanjutnya.
1.
Fungsi Tes
Sehubungan dengan hal-hal yang harus di ingat
pada waktu penyusunan tes, maka fungsi tes dapat di tinjau dari 3 (tiga) hal (Suharsimi Arikunto, 2013, h.165):
a.
Fungsi untuk kelas
b.
Fungsi untuk bimbingan
c.
Fungsi untuk administrasi
Selain fungsi-fungsi tes ini, hal lain yang
harus di ingat adalah (Suharsimi
Arikunto, 2013, h.166):
a.
Hubungan dengan penggunaan
Waktu menyusun tes, dalam hati harus di ingat, fungsi
mana yang saat itu di pentingkan, karena fungsi yang berbeda aka menentukan
bentuk/isi tes yang berbeda pula.
b.
Komprehensif
Sebuah tes sebaiknya mencakup suatu kebulatan, artinya
meliputi berbagai aspek yang dapat menggambarkan keadaan siswa secara
keseluruhan (kecerdasan, sikap, pribadi, perasaan sosial, dan sebagainya).
c.
Kontinuitas
Berhubungan dengan prinsip komperhensif, maka prinsip
kontinuitas mempunyai persamaan tujuan. Sebaiknya tes di susun sedemikian rupa
sehingga menggambarkan kelanjutan dari awal anak memasuki suatu sekolah sampai
dengan kelas terakhir. Dengan demikian akan diketahui perkembangan anak itu
tidak dengan terputus.
Perbandingan Fungsi Tes
|
No
|
Fungsi Untuk Kelas
|
Fungsi Untuk Bimbingan
|
Fungsi Untuk Administrasi
|
|
1.
|
Mengadakan
diagnosis terhadap kesulitan belajar siswa
|
Menentukan
arah pembicaraan dengan orang tua dengan anak-anak mereka
|
Memberi
petunjuk dalam pengelompokkan siswa
|
|
2.
|
Mengevaluasi
celah antara bakat dan pencapaian
|
Membantu
siswa dalam menentukan pilihan.
|
Penempatan
siswa baru
|
|
3.
|
Menaikkan
tingkat prestasi
|
Membantu
siswa mencapai tujuan pendidikan dan jurusan
|
Membantu siswa memilih kelompok
|
|
4.
|
Mengelompokkan siswa dalam kelas pada waktu metode
kelompok
|
Memberi kesempatan kepada pembimbing, guru, dan orang
tua dalam memahami kesulitan anak
|
Menilai kurikulum
|
|
5.
|
Merencanakan kegiatan proses belajar mengajar untuk
siswa secara perseorangan
|
|
Memperluas hubungan masyarakat
|
|
6.
|
Menentukan siswa mana yang memerlukan bimbingan khusus
|
|
Menyediakan informasi untuk badan-badan lain di luar
sekolah.
|
|
7.
|
Menentukan tingkat pencapaian untuk setiap anak
|
|
|
2.
Langkah-langkah Dalam Penyusunan Tes
Tes hasil belajar akan berarti bila terdiri dari butir-butir soal yang menguji tujuan penting dan mewakili ranah, kognitif,
efektif,
dan psikomotor secara
representatif.
Untuk itu maka
peranan
perencanaan tes menjadi
sangat penting.
Berikut ini
langkah-langkah yang dilakukan adalah (Suharsimi Arikunto, 2013, h.167):
·
Menentukan tujuan mengadakan tes. Menentukan alasan diselenggarakan tes, perlu dipastikan
alasan manakah yang
melatar belakangi. Misalnya: formatif, sumatif, selektif, placement, diagnostik,
motivatif,
komprehensif.
· Mengadakan pembatasan terhadap bahan yang akan diteskan.
· Memastikan tujuan instruksional yang akan diujikan. Tujuan harus detail dan rinci. Tujuan yang
bersifat khusus diharapkan dapat diamati, diukur,
dan
dinilai.
· Menderetkan semua indikator dalam tabel persiapan yang memuat pula aspek tingkah laku. Pada tabel lajur vertikal untuk
mencantumkan indikator dan
lajur horisontal untuk mencantumkan aspek tingkah laku
misalnya: ingatan
pemahaman,
aplikasi, dan lain-lain.
· Memilih butir tes disesuaikan dengan
tujuan instruksional. Perlu
dicermati karakteristik masing-masing jenis tes.
·
Membuat tabel spesifikasi atau disebut blue-print. Blue-print atau kisi-kisi adalah sebuah tabel yang memuat tentang perincian materi dan tingkah laku beserta proporsi yang dikehendaki oleh
penilai. Tabel
spesifikasi mempunyai kolom dan baris yang nampak hubungan antara materi, indikator, kegiatan
belajar, dan
evaluasi.
Adapun
langkah-langkah dalam membuat blue-print
yaitu a)
mencantumkan pokok materi, b)
menentukan
presentasenya, c)
menentukan jumlah
soal,
d) merinci banyaknya
butir soal
untuk
tiap pokok materi, e) menentukan aspek
yang
diukur
dan presentasenya, f) menentukan
banyaknya butir
soal tiap sel.
·
Menuliskan butir-butir soal dengan memperhatikan
rambu-rambu penulisan
3.
Komponen-komponen Tes
Apabila guru sudah bekerja keras sebelum
melaksanakan tes, maka pekerjaan sesudahnya akan menjadi lancar, mudah dan
hasilnya pun lebih baik.
Komponen atau kelengkapan sebuah tes terdiri
atas (Suharsimi Arikunto, 2013, h.173):
a.
Buku tes, yakni lembaran atau buku yang memuat
butir-butir soal yang harus dikerjakan oleh siswa
b.
Lembar jawaban tes, yaitu lembaran yang di
sediakan oleh penilaian bagi testee untuk mengerjakan tes. Untuk soal bentuk
pilihan ganda biasanya di buatkan lembaran nomor dan huruf a, b, c, d, menurut
banyaknya alternatif yang disediakan
c.
Kunci jawaban tes berisi jawaban jawaban yang
di kehendaki. Kunci jawaban ini dapat berupa huruf-huruf yang dikehendaki atau
kata/kalimat. Untuk tes bentuk uraian yang dituliskan adalah kata-kata kunci
ataupun kalimat singkat untuk memberikan ancar-ancar jawaban.
Ide daripada adanya kunci jawaban ini adalah agar:
·
Pemeriksaan tes dapat dilakukan oleh orang
lain
·
Pemeriksaannya betul
·
Dilakukan dengan mudah
·
Sesedikit mungkin masuknya unsur subjektif
d.
Pedoman penilaian, atau pedoman skoring berisi
keterangan perincian tentang skor atau angka yang diberikan kepada siswa bagi
soal-soal yang telah dikerjakan.
B. TABEL SPESIFIKASI TES
Table spesifikasi (blue print) diperlukan sebagai dasar atau
pedoman dalam membuat soal-soal dalam penyusunan tes. Dengan menggunakan table
tersebut, guru atau pengajar dapat menentukan jumlah dan jenis soal yang
diperlukan, sesuai dengan tujuan intruksional dari tiap pokok bahasan (Ngalim
Purwanto, 2009, h.31).
1.
Fungsi Tabel Spesifikasi
Untuk menjaga agar tes yang kita susun tidak menyimpang
dari bahan (materi) serta aspek kejiwaan (tingkah laku) yang akan di cakup
dalam tes, dibuatlah sebuah tabel spesifikasi.
Tabel spesifikasi dapat disebut juga sebagai grid,
kisi-kisi atau blue-print. Wujudnya adalah sebuah tabel yang memuat
tentang perperincian materi dan tingkah laku beserta imbangan atau proporsi
yang di kehendaki oleh penilai. Tiap kotak di isi dengan bilangan yang
menunjukkan jumlah soal (Suharsimi
Arikunto, 2013, h.200).
Contoh:
TABEL SPESIFIKASI
|
Pokok materi
|
Aspek yang di ungkap
|
|||
|
Ingatan
|
Pemahaman
|
Aplikasi
|
Jumlah
|
|
|
Bagian I
|
...
|
...
|
...
|
...
|
|
Bagian II
|
...
|
...
|
...
|
...
|
|
Bagian n
(terakhir)
|
...
|
...
|
...
|
...
|
|
Jumlah
|
...
|
...
|
...
|
...
|
Tabel spesifikasi mempunyai kolom dan baris, sehingga
tampak hubungan antara materi dengan aspek yang tergambar dalam indikator.
Sebenarnya penyusunan tes bukan hanya mengingat hubungan antara dua hal
tersebut tetapi empat hal, yaitu hubungan antara materi, indikator, kegiatan
belajar, dan evaluasi (Suharsimi
Arikunto, 2013, h.201).
Keempat hal, yaitu materi, indikator, kegiatan belajar,
dan evaluasi merupakan kaitan yang erat sekali. Dengan mengenal materi yang
akan di ajarkan (yang dipilih untuk mencapai tujuan kurikuler dan tujuan
instruksional umum), kita segera tahu bagaimana sifat materi tersebut misalnya
fakta, konsep atau hubungan antar konsep. Apabila materinya berupa fakta, tentu
indikatornya menyangkut ingatan. Kegiatan belajarnya informasi dan evaluasi
dapat uraian, isian singkat, benar-salah atau pilihan ganda (Suharsimi Arikunto, 2013, h.201).
Urutannya adalah indikator, materi, kegiatan
belajar-mengajar, dan evaluasi. Ini merupakan urutan yang benar. Memang dalam
mengajar harus diketahui terlebih dahulu apa yang akan di capai. Kemudian di
tentukan materi penunjangnya. Apa yang disajikan di atas mengikuti kebiasaan
yang ada dalam praktek. Karena yang tersedia di hadapan guru adalah materi yang
tercakup dalam buku, maka barulah dari materi tersebut di rumuskan
indikatornya. Tentu ini kurang benar, tetapi mudah dilakukan, khususnya bagi
mereka yang belum terbiasa menyusun soal
(Suharsimi Arikunto, 2013, h.202).
Kebiasaan yang salah dan tidak boleh lagi di
teruskan adalah dari materi disusun soalnya, baru kemudian dirumuskan
indikatornya.
Sebagai contoh kaitan antara indikator,
materi, kegiatan belajar-mengajar dan evaluasi adalah sebagai berikut (Suharsimi Arikunto, 2013, h.202).
TIK : 4.2.2. Siswa dapat menghitung kecepatan
benda.
Materi : 4.2.2. Percepatan benda
KBM : Informasi dan tanya jawab percepatan
Evaluasi : 4.2.2. Sebuah benda yang mula-mula diam,
massanya 5kg dan menerima dua buah gaya yang berlawanan dan sama besar
masing-masing 10 newton.
Maka
percepatannya ialah:
a.
0 m/dt2
b.
0,5 m/dt2
c.
2 m/dt2
d.
4 m/dt2
2.
Langkah-langkah Pembuatan
Sebenarnya ada beberapa macam tabel
spesifikasi. Macam tabel ini ditentukan oleh bidang studi dan homogenitas
materi yang akan di teskan. Satu hal yang sama adalah bahwa langkah pertama
yang harus di ambil adalah mendaftar pokok-pokok materi yang akan di teskan
kemudian memberikan imbangan bobot untuk masing-masing pokok materi (Suharsimi Arikunto, 2013, h.203).
Contoh:
Akan membuat tes untuk evaluasi. Pokok-pokok materinya adalah:
·
Pengertian (2)
·
Fungsi evaluasi (3)
·
Macam-macam cara evaluasi (4)
·
Persyaratan evaluasi (5)
Angka-angka yang tertera di dalam kurung yang
dituliskan di belakang pokok materi, menunjukkan imbangan bobot untuk
masing-masing pokok materi. Penentuan imbangan bobot dilakukan oleh penyusun
soal berdasarkan atas luasnya materi atau kepentingannyauntuk di tes. Penentuan imbangan dilakukan atas perkiraan
(judgment) saja. Pada waktu menuliskan angka tidak perlu dihitung-hitung bahwa
jumlahnya harus 10 karena semuanya akan di ubah menjadi angka dalam bentuk
persentase (Suharsimi Arikunto, 2013, h.203).
Dari contoh di atas, maka pokok-pokok materi
dapat dipindahkan ke dalam tabel dan mengubah indeks menjadi presentasi. Inilah
merupakan langkah kedua dari pembuatan tabel spesifikasi (Suharsimi Arikunto, 2013, h.203).
TABEL SPESIFIKASI UNTUK MENYUSUN SOAL EVALUASI
|
Pokok Materi
|
Aspek yang di ungkap
|
|||
|
Ingatan
|
Pemahaman
|
Aplikasi
|
Jumlah
|
|
|
Pengertian evaluasi (14%)
|
|
|
|
7
|
|
Fungsi evaluasi (21%)
|
|
|
|
10
|
|
Macam-macam cara evaluasi (29%)
|
|
|
|
15
|
|
Persyaratan evaluasi (36%)
|
|
|
|
18
|
|
Jumlah
|
|
|
|
50 butir soal
|
Setelah mencantumkan pokok-pokok materi yang
akan di teskan beserta presentasinya, langkah ketiga adalah memerinci banyaknya
butir soal untuk tiap-tiap pokok materi, dan angka ini di tuliskan pada kolom
paling kanan. Caranya adalah membagi jumlah butir soal (di sini 50 buah)
menjadi 4 bagian berdasarkan imbangan bobot yang tertera sebagai presentase (Suharsimi Arikunto, 2013, h.204).
Angka 50 di tentukan oleh guru berdasarkan
alokasi waktu yang di sediakan dan bentuk soal yang akan di berikan. Dalam
contoh ini, misalnya akan di susun tes berbentuk objektif dengan jumlah 50
butir soal berbentuk pilihan ganda, karena waktu yang di sediakan adalah 75
menit. Sekali lagi disini di perlukan kebijaksanaan guru untuk memperkirakan
banyaknya butir soal agar tidak terlalu sedikit maupun terlalu banyak
(Suharsimi Arikunto, 2013, h.204).
Sebagai patokan waktu adalah bahwa sebuah soal
tes objektif membutuhkan waktu 1 menit untuk membaca dan membacanya sehingga
jika disediakan waktu 75 menit untuk tes, dapat disusun butir soal sejumlah
(Suharsimi Arikunto, 2013, h.204):
·
50 buah bentuk objektif (50 menit).
·
5 buah bentuk uraian (25 menit)
Jadi banyaknya butir soal sangat di tentukan
oleh:
·
Waktu yang tersedia
·
Bentuk soal
Sampai dengan langkah ketiga, cara yang
dilalui sama bagi seluruh bidang studi.
Untuk langkah-langkah selanjutnya, terdapat
langkah khusus, tergantung dari homogenitas atau heterogenitas (keragaman)
materi yang di teskan.
a.
Untuk materi yang seragam
Yang dimaksud dengan seragam disini adalah
bahwa antara pokok materi yang satu dengan pokok materi yang lain mempunyai
kesamaan dalam imbangan aspek tingkah laku. Misalnya 50% untuk ingatan, 30%
untuk pemahaman, dan 20% untuk aplikasi. Apabila demikian halnya, maka angka
presentasi dapat dituliskan pada kolom, di bawah kata-kata “ingatan”,
“pemahaman”, “aplikasi”. Selanjutnya banyak butir soal untuk setiap sel (kotak
kecil) diperoleh dengan cara menghitung persentasi dari banyaknya soal bagi
tiap pokok materi yang sudah tertulis di kolom paling kanan. Perlu di
perhatikan bahwa angka yang diperoleh untuk setiap sel merupakan pembulatan
dari perhitungan dengan mereka-reka atau menggeser-gesernya sehingga jumlah
kesamping dan kebawah diperoleh angka yang benar(Suharsimi Arikunto, 2013,
h.205).
Contoh:
TABEL SPESIFIKASI PENYUSUNAN TES EVALUASI
|
Pokok Materi
|
Aspek yang di ungkap
|
|||
|
Ingatan
(50%)
|
Pemahaman
(30%)
|
Aplikasi
(20%)
|
Jumlah
(100%)
|
|
|
Pengertian Evaluasi (14%)
|
(A)
|
(B)
|
(C)
|
7
|
|
Fungsi Evaluasi (21%)
|
(D)
|
(E)
|
(F)
|
10
|
|
Macam-macam evaluasi (29%)
|
(G)
|
(H)
|
(I)
|
15
|
|
Persyaratan evaluasi (36%)
|
(J)
|
(K)
|
(L)
|
18
|
|
Jumlah
|
|
|
|
50
|
Untuk mengisi/menentukan banyak butir soal
untuk tiap sel dilakukan demikian:
Sel A = 
Sel B = 
Sel C = 
Untuk mengisi sel-sel yang lain, di lakukan
dengan cara yang sama, dengan cara yang digunakan untuk menentukan sel A, sel
B, sel C.
Catatan:
Di samping cara yang di ajukan ini, yakni
menentukan jumlah butir soal untuk tiap-tiap pokok materi, ada lagi cara lain
yang di ambil orang, yakni mulai dari pengisian sel-sel kemudian baru diperoleh
jumlah soal tiap pokok materi.
Contoh:
TABEL SPESIFIKASI PENYUSUNAN
|
Pokok Materi
|
Aspek yang di ungkap
|
|||
|
Ingatan
(50%)
|
Pemahaman
(30%)
|
Aplikasi
(20%)
|
Jumlah
(100%)
|
|
|
BAB 1 (40%)
|
(A)
|
(B)
|
(C)
|
|
|
BAB 2 (30%)
|
(D)
|
(E)
|
(F)
|
|
|
BAB 3 (30%)
|
(G)
|
(H)
|
(I)
|
|
|
Jumlah
(100%)
|
|
|
|
40
|
Misalnya berdasarkan waktu yang telah di
tentukan, di perkirakan akan di susun 40 buah butir soal. Maka tiap sel
diperoleh imbangan jumlah sebagai berikut:
Sel A = 
Sel B = 
Sel C = 
Sel D = 
Demikian seterusnya setelah di hitung dengan
cara yang sama, terdapatlah angka-angka yang menggambarkan banyaknya soal
seperti tercantum pada tiap aspek. Sesudah itu baru di jumlahkan ke kanan
maupun ke bawah sehingga terdapat jumlah soal untuk setiap bagian/pokok materi
maupun untuk setiap aspek tingkah laku.
b.
Untuk materi yang tidak seragam
Ada kalanya pokok-pokok materi dalam satu
bulan hanya mencakup satu aspek tingkah laku saja, yakni ingatan saja.
Misalnya, suku-suku bangsa yang ada di indonesia. Adanya suku-suku bangsa
tersebut hanya dapat di hafalkan, tanpa perlu di pahami, apalagi di
aplikasikan, dalam keadaan demikian maka yang di isi hanya kolom ingatan
(Suharsimi Arikunto, 2013, h.208).
3.
Tindak Lanjut Sesudah Penyusunan Tabel
Spesifikasi
Setelah kita membuat tabel spesifikasi, langkah selanjutnya sesudah menyusun tabel
spesifikasi yaitu:
a.
Menentukan bentuk soal
Ada dua hal yang harus di pertimbangkan dalam
menentukan bentuk soal yakni (Suharsimi Arikunto, 2013, h.212):
·
Waktu yang disediakan
·
Sifat materi
yang dites.
Sebagai pertimbangan menentukan bentuk soal sehubungan
dengan waktu yang tersedia adalah bahwa soal bentuk pilihan ganda membutuhkan
waktu lebih singkat daripada isian atau betul-salah. Bentuk menjodohkan adalah
bentuk yang memerlukan waktu banyak untuk menyelesaikan. Yang perlu mendapat
perhatian adalah soal bentuk uraian. Soal bentuk ini paling banyak memakan
waktu walaupun masih perlu diperinci lagi bahwa soal yang menghendaki siswa
untuk menguraikan (Suharsimi Arikunto, 2013, h.212).
Sifat materi sangat menentukan bentuk soal tes pula.
Adakalanya sebuah pokok materi tidak dapat di ukur dengan soal bentuk pilihan
ganda karena sukar di carikan alternatif yang hampir sama (Suharsimi
Arikunto, 2013, h.212).
Sebelum kita menentukan bentuk soal tes, terlebih dahulu
kita harus sudah mengetahui berapa lama alokasi waktu yang di sediakan untuk
mengerjakan tes. Hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam menentukan alokasi
waktu tes adalah (Suharsimi Arikunto, 2013, h.213):
1)
Untuk tes formatif dari bahan diselesaikan
dalam waktu 4-5 kali pertemuan
2)
Waktu yang digunakan untuk menyelesaikan
soal bentuk objektif pilihan ganda kira-kira ½-1 menit untuk setiap butir tes
(untuk pilhan ganda sederhana).
3)
Waktu yang di perlukan untuk menyelesaikan
soal bentuk uraian tergantung dari berapa lama siswa harus berfikir dan
menuliskan jawaban.
Untuk menentukan bentuk soal di tinjau dari segi aspek
berfikir adalah sebagai berikut (Suharsimi Arikunto, 2013, h.213):
1)
Mendaftarkan fakta-fakta, istilah, definisi,
yang terdapat dalam seluruh materi yang di ajarkan. Kita ketahui bahwa
faktafakta dan sebagainya berhubungan erat dengan aspek ingatan.
2)
Mendaftar setiap konsep (pengertian)
yang tercakup dalam seluruh materi. Konsep ini di ukur penguasaannya
berdasarkan aspek pemahaman siswa.
3)
Mencari hubungan antara dua atau beberapa
konsep yang ada. Hubungan konsep ini berhubungan dengan aspek pemahaman
tetapi dapat juga aplikasi.
4)
Mempertentangkan konsep-konsep,
menggeneralisasikan, dan menghubungkan konsep dengan masalah kehidupan
sehari-hari. Hal ini berhubungan dengan aspek aplikasi.
5)
Memilih hubungan antara beberapa konsep penerapan
ke dalam permasalahan yang lebih luas. Kasus permasalahan yang luas dapat
di angkat sebagai pokok untuk menyusun soal bentuk analisis, sintesis,
atau evaluasi.
Untuk menentukan bentuk soal di tinjau dari segi
kontruksi soal, yaitu bentuk objektif dan uraian, maka dapat dilakukan sebagai
berikut (Suharsimi Arikunto, 2013, h.214):
1)
Memilih fakta-fakta tunggal seperti tahun,
nama, atau istilah. Hal-hal seperti ini tepat untuk di jadikan butir soal
benar-salah maupun isian singkat.
2)
Hubungan antar konsep-konsep yang berupa
klasifikasi dan diferensiasi ditentukan untuk membuat soal bentuk pilihan ganda
(multiple choice). Definisi atau hubungan sebab-akibat, merupakan bahan yang dapat di uji dengan bentuk
benar-salah, pilihan ganda ataupun hubungan antarhal (dua pernyataan yang
dihubungkan dengan kata “sebab”).
3)
Memilih konsep-konsep yang agak kompleks
sifatnya, untuk di jadikan soal bentuk uraian.
b. Menuliskan soal-soal tes
Langkah terakhir dalam penyusunan tes adalah menuliskan soal-soal tes (item writing). Walaupun tinggal satu langkah,
tapi ini menjadi bagian paling penting, karena kesalahan sedikit saja akan berakibat fatal. Hal yang
perlu diperhatikan dalam menuliskan soal tes adalah sebagai berikut (Suharsimi Arikunto, 2013, h.214):
1) Bahasanya harus sederhana dan mudah dipahami.
2) Suatu soal tidak boleh mengandung penafsiran ganda atau membingungkan.
3) Cara memenggal kalimat atau meletakkan
kata-kata perlu diperhatikan agar tidak ditafsirkan salah.
4) Petunjuk mengerjakan. Penulisan petunjuk mengerjakan harus secara jelas, agar peserta didik tidak menyimpang dari yang diinginkan oleh guru
dalam mengerjakan soal tes.
Catatan:
Untuk memperoleh sebuah tes yang terstandar, harus dilakukan
ujicoba (try out)
berkali-kali sehingga diperoleh soal-soal yang baik. Dengan mengadakan ujicoba terhadap
soal-soal tes yang sudah disusun, paling tidak dapat ditarik manfaat-manfaat sebagai
berikut:
1) Pengalaman menggunakan tes tersebut
2) Mengetahui kesukaran bahasa
3) Mengetahui variasi jawaban siswa
4) Mengetahui waktu yang dibutuhkan
5) Dan
kesulitan lain yang dialami siswa
C. PENGOLAHAN HASIL TES
Data hasil pengukuran di dapat melalui alat penilaian tertentu,
misalnya tes objektif maupun tes essai. Berupa data kuantitaif yakni
angka-angka atau bilangan numerik. Angka atau bilangan tersebut adalah skor
hasil pengukuran yang biasa di sebut skor mentah (Nana Sudjana, 2009, h.106).
1.
Batas
kelulusan
Batas kelulusan hasil penilaian mempunyai kaitan erat dengan
penilaian acuan norma (PAN) dan
penilaian acuan patokan (PAP), (Nana Sudjana, 2009, h.106), yang telah dibahas
pada pertemuan makalah sebelumnya.
a.
Batas
lulus aktual
Batas lulus aktual
didasarkan atas nilai rata-rata aktual atau nilai rata-rata yang dapat di capai
oleh kelompok siswa. Unsur yang diperlukan untuk menetapkan batas lulus aktual
adalah nilai rata-rata aktual dan simpangan baku aktual.
b.
Batas
lulus ideal
Batas lulus
ideal hamper sama dengan batas lulus aktual, yakni menentukan batas lulus
dengan menggunakan nilai rata-rata dan simpangan baku ideal.
c.
Batas
lulus purposif
Batas lulus
purposif mengacu kepada penilaian acuan patokan sehingga tidak perlu menghitung
nilai rata-rata dan simpangan baku.
2.
Cara
memberi skor mentah untuk tes uraian
Dalam bentuk uraian biasanya skor mentah dicari dengan menggunakan
sistem bobot. Sistem bobot ada dua cara, yaitu:
Pertama, bobot
dinyatakan dalam skor maksimum sesuai dengan tingkat kesukarannya. Misalnya,
untuk soal yang mudah skor maksimumnya adalah 6, untuk skor sedang skor
maksimumnya adalah 7, dan untuk soal sukar skor maksimumnya adalah 10. Cara ini
tidak memungkinkan peserta didik mendapat skor maksimum sepuluh. Kedua,
bobot dinyatakan dalam bilangan-bilangan tertentu sesuai dengan tingkat
kesukaran soal. Misalnya, soal yang mudah diberi bobot 3, soal sedang diberi
bobot 4, dan soal sukar diberi soal bobot 5. Cara ini memungkinkan peserta
didik mendapat skor sepuluh (Zainal Arifin, 2011, h.223).
Contoh 1:
Seorang peserta didik diberi 3 soal dalam bentuk uraian. Setiap
soal dberi skor (x) maksimum dalam rentang 1-10 sesuai dengan kualitas jawaban
peserta didik.
Perhitungan Skor dengan Sistem Bobot Pertama
|
No.
soal
|
Tingkat
Kesukaran
|
Jawaban
|
Skor(X)
|
|
1
|
Mudah
|
Betul
|
6
|
|
2
|
Sedang
|
Betul
|
7
|
|
3
|
Sukar
|
Betul
|
10
|
|
|
Jumlah
|
|
23
|
Rumus: Skor = 
Keterangan:
SX = Jumlah skor
SX = Jumlah skor
S =
Jumlah soal
Jadi,
skor peserta didik A =
= 7,67
Perhitungan Skor dengan Sistem Bobot Kedua
|
No.
soal
|
Tingkat
Kesukaran
|
Jawaban
|
Skor
(X)
|
Bobot(B)
|
XB
|
|
1
|
Mudah
|
Betul
|
10
|
3
|
30
|
|
2
|
Sedang
|
Betul
|
10
|
4
|
40
|
|
3
|
Sukar
|
Betul
|
10
|
5
|
50
|
|
Jumlah
|
|
12
|
120
|
||
Rumus
: Skor = 
Keterangan
:
TK
= Tingkat Kesukaran
X =
Skor setiap soal
B
= Bobot sesuai dengan tingkat
kesukaran soal
SXB = Jumlah hasil perkalian X dengan B
Jadi
skor peserta didik:
= 10
3.
Cara
memberi skor mentah untuk tes objektif
Ada dua cara untuk memberikan skor pada soal tes bentuk objektif
yaitu (Zainal Arifin, 2011, h.228):
a.
Tanpa
Rumus Tebakan
Biasanya digunakan apabila soal belum diketahui tingkat
kebaikannya. Caranya adalah menghitung jumlah jawaban yang betul saja. Setiap
jawaban yang betul diberi skor 1, yang salah diberi skor 0.
Jadi, skor = jumlah jawaban yang betul
b.
Menggunakan
Rumus Tebakan
Biasanya rumus ini digunakan apabila soal-soal tes itu sudah pernah
d ujicobakan dan dilaksanakan sehingga dapat dikeetahui tingkat kebenarannya.
Penggunaan rumus tebakan ini bukan karena guru sudah mengetahui bahwa peserta
didik itu menebak, tetapi tes bentuk objektif ini memang sangat memungkinkan
peserta didik untuk menebak. Adapun rumus-rumus tebakan tersebut adalah sebagai
berikut:
1)
Untuk
item benar salah (true-false)
Rumus : S = SB - SS
Keterangan:
S = Skor yang di cari
SB = Jumlah jawaban yang benar
SS = Jumlah jawaban yang salah
Contoh:
Seorang peserta
didik di tes dengan soal bentuk B – S sebanyak 30 soal. Ternyata, peserta didik
menjawab soal dengan betul 25 butir soal, berarti jawaban yang salah ada 5
soal. Maka skor nya adalah:
Skor = 25 - 5 = 20
2)
Untuk
item bentuk pilihan ganda (multiple choice)
Rumus : S = SB - 
Keterangan :
S = Skor yang dicari
SB
= Jumlah jawaban yang benar
SS
= Jumlah jawaban yang salah
n = Jumlah alternatif yang disediakan
1
= Bilangan tetap
Contoh:
Seorang peserta didik A dites sebanyak 10 soal. Ternyata peserta
didik A dapat menjawab dengan betul sebanyak 7 butir soal, berarti jumlah jawaban yang salah adalah 3 soal.
Jmlah alternatif jawaban = 4. Dengan demikian, skor peserta didik A adalah:
Skor = 7 -
= 6
3)
Untuk
soal betuk menjodohkan (Matching)
Rumus: S = SB
Keterangan:
S = Skor yang
dicari
SB =
Jumlah jawaban yang benar
4.
Cara
memberi skor untuk skala sikap
Untuk mengukur sikap dan minat belajar, guru dapat menggunakan alat
penilaian model skala, seperti skala sikap dan skala minat. Skala sikap dapat
menggunakan lima skala, yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Tahu (TT),
Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS). Begitu juga untuk skala
minat, guru dapat menggunakan 5 skala, seperti Sangat Berminat (SB), Berminat
(B), Sama Saja (SS), Kurang Berminat (KB), dan Tidak Berminat (TB), (Zainal
Arifin, 2011, h.233).
5.
Cara
memberi skor untuk domain psikomotor
Dalam domain psikomotor, pada umumnya yang di ukur adalah
penampilan atau kinerja. Untuk mengukurnya, guru dapat menggunakan tes tindakan
melalui simulasi atau unjuk kerja. Salah satu instrument yang dapat digunakan
adalah skala penilaian yang terentang dari sangat baik (5), baik (4), cukup
baik (3), kurang baik (2), sampai dengan tidak baik (1), (Zainal Arifin, 2011,
h.234).
6.
Pengolahan
dan pengubahan skor mentah hasil tes menjadi nilai standar
Dua hal yang perlu di pahami dalam pengolahan dan pengubahan skor
mentah menjadi skor standar atau nilai yaitu (Anas Sudijono, 2015, h.312):
a.
Bahwa
dalam pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi nilai itu ada dua cara:
1)
Bahwa
pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi nilai itu dilakukan dengan
mengacu pada kriterium. Cara pertama ini dikenal dengan istilah Penilaian Acuan
Patokan (PAP).
2)
Bahwa
pengolahan dan pengubahan skor mentah
menjadi nilai dilakukan dengan mengacu pada Penilaian Acuan Norma (PAN).
b.
Bahwa
pengolahan dan pengubahan nilai itu dapat menggunakan berbagai macam skala,
seperti: skala lima, yaitu nilai standar berskala lima atau sering dikenal
dengan istilah nilai huruf A, B, C, D dan E. Skala Sembilan yaitu nilai standar
berskala Sembilan dimana rentangan nilainya mulai angka 1 sampai angka 9 (tidak
ada angka 0 dan tidak ada angka 10), dll.
BAB III
PENUTUP
Di dalam kegiatan evaluasi seorang guru pastilah memerlukan berbagai informasi atau data yang menyangkut dengan objek yang
akan di evaluasi. Di sisi lain, selain dalam
rangka menggali informasi anak didik nya,
guru akan terlibat dengan berbagai penilaian sebagai hasil dari proses belajar
mengajar. Sebelum
proses penilaian berlangsung, maka perlu diperhatikan oleh guru bagaimana
prosedur yang harus di jalani. Bagaimana dalam penyusunan tes, membuat tabel
spesifikasi dan proses pengolahan hasil tes. Barulah berdasarkan data itu selanjutnya di ambil suatu
keputusan sesuai yang searah dengan tujuan evaluasi.
DAFTAR PUSTAKA
Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: PT
Raja Grafindo Persada, cet ke-14, 2015.
M Ngalim Purwanto, Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi
Pengajaran, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, cet ke-15, 2009.
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar,
Bandung: PT Remaja Rosdakarya, cet ke-14, 2009.
Popham, W.J, Evaluation in Education : Current Application,
Los Angeles: University of California,
1974.
Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan Edisi 2,
Jakarta: PT Bumi Aksara, cet ke-3, 2013.
Zainal Arifin, Evaluasi
Pembelajaran (Prinsip Teknik Prosedur), Bandung:
PT Remaja Rosdakarya, cet ke-3, 2011.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar