TUGAS
TERSTRUKTUR DOSEN
PENGASUH
Metodologi
Penelitian Pendidikan Prof.
Dr. Hj. Juairiah M.Pd
Dr. Ridha Fadillah, M. Ed
LATAR BELAKANG MASALAH,
RUMUSAN MASALAH
DAN TUJUAN PENELITIAN
Oleh :
SRI WAHYUNITA :
1502521475
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI
PROGRAM
PASCASARJANA
PRODI
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
BANJARMASIN
TAHUN
2015
BAB I
PENDAHULUAN
Manusia
adalah makhluk yang memiliki sifat rasa ingin tau. Sifat ini akan mendorong
manusia secara naluriah untuk mencari tau apa yang belum diketahui. Ketidak
tahuan manusia akan menimbulkan berbagai pertanyaan dan mendorong manusia mencari jawaban dan pemecahan.
Manusia akan melakukan berbagai pendekatan untuk menemukan pemecahan atas
masalahnya.
Awalnya
jawaban hanya berkutat pada spekulasi atau beberapa dugaan sementara. Sejalan
dengan meningkatnya taraf berfikir manusia, dia akan berusaha mencari jawaban
atas masalah disertai dengan pembuktian. Cara inilah yang dikenal sebagai
metode ilmiah atau penelitian.
Penelitian
dapat diartikan sebagai upaya atau kegiatan yang bertujuan mencari jawaban
sebenar-benarnya terhadap suatu kenyataan atau realita yang dipikirkan atau
dipermasalahkan dan memperoleh pengetahuan ilmiah tertentu yang berguna, baik
bagi aspek keilmuan maupun aspek kegunaan. Dengan menggunakan metode-metode
tertentu menurut prosedur yang sistematis.
Prosedur
yang sistematis yaitu langkah-langkah metode ilmiah. Diantara metode ilmiah
tersebut yaitu latar belakang masalah, rumusan masalah, dan tujuan penelitian. berikut
akan dijelaskan pada bab berikutnya beserta contoh-contohnya.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Latar
Belakang Dan Contohnya
Masalah adalah penyimpangan antara yang
diharapkan dengan kejadian atau kenyataan dan harus diselesaikan. Masalah
timbul karena adanya tantangan, kesangsian ataupun kebingungan terhadap suatu
hal atau fenomena, kemenduaan arti (ambiguity),
halangan atau rintangan baik antarkegiatan atau antarfenomena. Tidak semua
masalah yang dihadapi manusia merupakan masalah penelitian. Masalah penelitian
adalah masalah yang menjadi objek suatu penelitian.[1]
Sebuah masalah selalu mempunyai latar
belakang. Konteks yang menjadi latar belakang masalah harus diinformasikan agar
orang lain mempunyai pemahaman mengapa sesuatu menjadi masalah. Untuk itu, ketika seorang peneliti memutuskan
sebuah masalah, ia harus menjelaskan alasan sesuatu itu menjadi masalah dalam
konteks latar belakang. [2]
Latar belakang masalah didalamnya
menguraikan adanya kesenjangan antara kondisi nyata (actual condition) dan kondisi yang diharapkan (expected condition) serta
implikasinya terhadap beberapa aspek yang terkait dengan kondisi tersebut,
sehingga perlu dikaji dan diatasi melalui kegiatan penelitian.[3]
Latar belakang masalah harus memberikan
ilustrasi tentang kedudukan masalah yang akan diteliti dalam konteks
permasalahan yang lebih luas. Dalam latar belakang masalah ini mesti tergambar
dengan jelas kedudukan dan hubungan antara masalah yang diteliti dengan
masalah-masalah yang lainnya dalam bidang yang sama. Hal itu bukan hanya akan
memperjelas kedudukan masalah tetapi juga akan menunjukkan urgensinya. Dengan
demikian akan terlihat bahwa perlunya penelitian tentang masalah tersebut bukan
sesuatu yang dicari-cari tetapi betul-betul bertolak dari kenyataan.[4]
Pada latar belakang masalah perlu
dikemukakan dan dijelaskan hal-hal berikut.
1.
Pernyataan
tentang adanya masalah yang menjadi fokus kajian peneliti.
2.
Fenomena
yang menunjukkan adanya masalah terhadap tema yang menjadi fokus kajian
peneliti.
3.
Dukungan
data empiris berupa gejala-gejala kesenjangan yang terdapat di lapangan sebagai
dasar pemikiran untuk memunculkan masalah penelitian.
4.
Pentingnya
masalah untuk dipecahkan (kerugian yang mungkin timbul seandainya masalah
tersebut tidak dipecahkan dan keuntungan yang akan diperoleh seandainya masalah
tersebut di pecahkan).
5.
Kompleksitas
Masalah, yang menunjukkan bahwa masalah tersebut memberikan jawaban lebih dari
satu alternatif.
6.
Aktualitas
masalah penelitian, berupa penjelasan singkat tentang kedudukan atau posisi
masalah penelitian dalam konteks kekinian.
7.
Relevansi
masalah penelitian dengan bidang keilmuan.
8.
Pendekatan
pemecahan masalah (teori dan metode).[5]
Contoh:
Salah
satu masalah yang menarik untuk dikaji berkaitan dengan penyelenggaraan
pemerintahan yang baik (good governance)
adalah mengenai kinerja pelayanan organisasi pemerintah[1.Pernyataan tentang adanya masalah yang menjadi fokus kajian peneliti,
Kinerja organisasi menunjukkan masalah yang ingin dipecahkan oleh peneliti].
Salah satu organisasi pemerintah yang
dituntut untuk memberikan pelayanan yang baik kepada warganya adalah Perusahaan
Daerah Air Minum (PDAM) Kota X.
Perusahaan
Daerah Air Minum (PDAM) adalah perusahaan milik Pemerintah Daerah Kota X yang
melayani penyediaan air bersih kepada warganya, yang dirasakan sebagai
kebutuhan yang sangat mendasar bagi masyarakat. Hal ini kemudian membuat posisi
PDAM sangat peka terhadap perlakuan pelanggan, sehingga pihak perusahaan
dituntut untuk mempunyai kemampuan yang tinggi dalam memenuhi kebutuhan
pelanggan (service yang prima), agar
mendapatkan loyalitas pelanggan kepada perusahaan.
Menurut
Supranto (1997), harapan pelanggan dapat dibentuk oleh pengalaman masa lampau,
komentar kerabatnya, serta janji dan informasi pemasaran dari perusahaan. Pada
saat ini[2.Aktualitas masalah penelitian],
umumnya pelanggan PDAM Kota X masih banyak yang mengeluh dan komplain, baik
yang disampaikan secara langsung maupun melalui media massa dan elektronik,
saat sistem layanan dan kinerja (performance)
berupa kualitas, kuantitas, dan kontinuitas air yang dinikmati pelanggan masih
jauh dari yang diharapkan[3.Fenomena
yang terjadi yang menunjukkan adanya masalah]
Secara kualitas, seiring dengan tingkat
pemahaman masyarakat tentang pelestarian lingkungan yang masih rendah, produksi
air yang dikelola PDAM mengalami penurunan kualitas, diantaranya air kadang
menjadi tidak jernih, berwarna cokelat dan berpasir. Sekalipun demikian,
menurut Direktur Utama PDAM Kota X, penurunan kualitas air yang dikonsumsi
masyarakat tetap aman.
Secara kuantitas, debit air mengalami
penurunan. Jika debit sebelumnya 2.500 liter per detik, sekarang menurun
menjadi 2.300 liter per detik. Angka ini berdasarkan penghitungan dari ketiga
sumber air baku yang digunakan PDAM untuk melayani pelanggan. Hingga 23 maret
2006, debit air ini mengalami penurunan lagi
menjadi hanya sekitar 2.200 liter per detik saja.
Secara kontinuitas, keterbatasan sumber
air dengan kapasitas 2.200 liter per detik menyebabkan PDAM belum optimal,
sehingga pelayanan kepada pelanggan belum bisa dilakukan selama 24 jam atau
tidak semua pelanggan dapat terlayani dengan baik, karena pasokan air di
sejumlah daerah masih dilakukan secara bergilir.
Kondisi di atas, diakui oleh Direktur
Utama PDAM Kota X, bahwa tingkat penyaluran air baru mencapai 53% dari target
penyediaan air bersih kepada masyarakat. Oleh karena itu, banyak pelanggan yang
mengeluh. Setiap bulan, PDAM menerima sekitar 1.000-2.000 pengaduan dari
masyarakat yang mengaku tidak mendapatkan air secara memadai.
Ketua DPRD Kota X juga menilai PDAM
belum memberi pelayanan yang maksimal kepada pelanggannya. PDAM mestinya lebih
mengutamakan pelayanan sebelum mengejar profit, mengingat PDAM juga mengemban
fungsi sosial. Menurutnya, “Jangan berpikir memberi kontribusi terhadap
Pendapatan Asli Daerah (PAD), sebelum pelayanannya memuaskan pelanggan”.
Uraian di atas menunjukkan bahwa kinerja
pelayanan, khususnya penyaluran air bersih yang diberikan PDAM Kota X belum
sepenuhnya memberikan kepuasan kepada pelanggan, karena masih ada pelayanan
yang tidak sesuai dengan harapan pelanggan. Hal ini sesuai dengan data yang
diperoleh penulis dari Bagian Hubungan Langganan PDAM Kota X, yang
menginventarisasi adanya berbagai bentuk keluhan ataupun pengaduan dari
masyarakat seperti terlihat pada tabel 1.1 dan 1.2 berikut[4.Data Empiris yang mendukung adanya fenomena yang menunjukkan
terjadinya masalah].
Tabel
1.1
Jumlah
Pengaduan Pelanggan PDAM Kota X (2003-2005)
Uraian
|
2003
|
2004
|
2005
|
Jumlah
Pengaduan/keluhan
|
9.878
|
9.687
|
14.232
|
Sumber:
Bagian Hubungan Langganan PDAM Kota X, 2006
Tabel
1.2
Jumlah
Pengaduan Pelanggan PDAM Kota X Tahun 2005
No
|
Bulan
|
Jumlah
Pengaduan
|
Jenis keluhan
|
|||
Perbedaan
Angka
Meteran
|
Meteran
Rusak
|
Tidak
Ada
Air
|
Bocoran
|
|||
1
|
Januari
|
830
|
509
|
157
|
252
|
131
|
2
|
Februari
|
890
|
513
|
204
|
262
|
124
|
3
|
Maret
|
1380
|
529
|
158
|
295
|
135
|
4
|
April
|
974
|
578
|
172
|
234
|
131
|
5
|
Mei
|
993
|
532
|
153
|
206
|
192
|
6
|
Juni
|
994
|
516
|
175
|
304
|
122
|
7
|
Juli
|
1565
|
508
|
157
|
278
|
132
|
8
|
Agustus
|
1094
|
691
|
142
|
260
|
130
|
9
|
September
|
1359
|
604
|
243
|
292
|
135
|
10
|
Oktober
|
1482
|
576
|
146
|
279
|
124
|
11
|
November
|
1226
|
513
|
242
|
366
|
229
|
12
|
Desember
|
1445
|
667
|
255
|
452
|
227
|
Jumlah
|
14232
|
6736
|
2204
|
3480
|
1812
|
|
Sumber:
Bagian Hubungan Langganan PDAM Kota X, 2006
Dari Pengaduan Pelanggan seperti
terlihat pada tabel 1.2, tampak bahwa 47% berkaitan dengan ketidakpuasan
pelanggan atas perbedaan angka meteran, 15,49% meteran rusak, 24,45% tidak ada air, dan 12,73% mengadu tentang adanya
bocoran air bersih.
Keluhan-keluhan tersebut juga sering
diekspos media massa, baik cetak maupun elektronik karena dianggap kurang
mendapat tanggapan dan tindak lanjut dari pihak terkait. Misalnya keluhan
terhadap PDAM Kota X yang dimuat pada Surat Pembaca Pikiran Rakyat, 27 Maret
2006.
Pentingnya pengelolaan kinerja
organisasi pemerintah, dalam hal ini PDAM Kota X, secara efektif tidak terlepas
dari kedudukan dan fungsinya sebagai pengelola public goods yang melayani penyediaan air bersih kepada warganya,
sebagai kebutuhan yang sangat mendasar dan penting bagi masyarakat. Pentingnya
peranan air bersih dalam aktivitas hidup dan kehidupan manusia, terlihat dari
fungsi dan peranan air bersih yang tidak sekadar memenuhi kebutuhan fisik
manusia, tetapi berfungsi sebagai kebutuhan vital dalam menggerakkan berbagai
aktivitas perekonomian, seperti perhotelan, rumah sakit, industri, hiburan,
perkantoran, dan sebagainya[5.Pentingnya
masalah untuk dipecahkan].
Khususnya di wilayah perkotaan termasuk
di berbagai kawasan industri, nilai air bersih tidak lagi sebagai barang bebas
yang dapat diperoleh kapan dan di mana saja, tetapi menjadi komoditas ekonomi
(economics goods). Untuk memperoleh sejumlah air bersih guna memnuhi
kebutuhannya, orang harus bersedia melakukan pengorbanan tertentu sebab air
bersih sudah menjadi komoditas ekonomi yang memiliki nilai jual relatif tinggi (traded able) sebagai consumers goods.
Kondisi ini memberikan peluang kepada
ilmu administrasi publik untuk melakukan studi mengenai faktor-faktor yang
dapat mempengaruhi kinerja pelayanan. Nicholas Henry (2004) menyebutkan bahwa
administrasi publik (public
administration) adalah suatu bahasan ilmu sosial yang mempelajari tiga
elemen penting kehidupan bernegara, yaitu lembaga legislatif, yudikatif, dan
eksekutif serta hal-hal yang berkaitan dengan publik, yaitu kebijakan publik,
tujuan negara, dan etika yang mengatur penyelenggara negara untuk kepentingan
publik (public interest) dan urusan
publik (publik affair). Dengan
demikian, kinerja pelayanan merupakan salah satu aspek kajian penting dalam
ilmu administrasi[6.Relevansi masalah
penelitian dengan bidang keilmuan].
Banyak faktor yang menyebabkan belum
optimalnya kepuasan yang diterima oleh masyarakat berkaitan dengan kinerja
pelayanan yang diberikan oleh PDAM Kota X, mulai dari sumber daya manusia,
sarana dan prasarana kerja, lingkungan kerja organisasi sampai pada pengelolaan
manajemen organisasi[7.Kompleksitas
masalah yang menunjukkan bahwa masalah tersebut jawabannya lebih dari satu
alternatif].
Kondisi seperti ini tentu tidak boleh
dibiarkan karena PDAM Kota X, sebagai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD),
merupakan unit kerja publik pemerintah dan bertanggung jawab memberikan
pelayanan yang prima kepada masyarakat sebagai pelanggannya. Oleh karena itu,
perlu dicari jalan keluarnya, salah satunya adalah dengan meningkatkan
pengawasan dari Kepala Bagian Distribusi, baik pengawasan langsung maupun tidak
langsung, terhadap kinerja bawahan, khususnya pegawai yang memberikan pelayanan
langsung kepada pelanggan.
Berkaitan dengan pentingnya pengawasan
dalam usaha mencapai tujuan organisasi, Situmorang dan Juhir (1994:22)
menyebutkan bahwa kegiatan pengawasan penting dalam rangka: mengetahui jalannya
pekerjaan, apakah lancar atau tidak; memperbaiki kesalahan-kesalahan yang
dibuat oleh pegawai dan mengadakan pencegahan agar tidak terulang kembali
kesalahan-kesalahan yang sama atau timbulnya kesalahan yang baru; mengetahui
apakah penggunaan budget yang telah
ditetapkan dalam rencana terarah pada sasarannya dan sesuai dengan yang telah
direncanakan; mengetahui pelaksanaan kerja sesuai dengan program (fase tingkat
pelaksanaan) seperti yang telah ditentukan dalam planning atau tidak; serta mengetahui hasil pekerjaan dibandingkan
dengan yang telah ditetapkan dalam planning,
yaitu standar.
Oleh karena itu, dalam upaya memahami
dan memecahkan masalah fenomena belum optimalnya kinerja pegawai pada Bagian
Distribusi PDAM Kota X dan hubungannya dengan masalah pengawasan, diperlukan
pendekatan tertentu untuk memecahkan masalah tersebut. Berdasarkan permasalahan
yang dikaji, pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan
perilaku organisasi[8.Pendekatan pemecahan
masalah (teori dan metode)].
Dalam konteks penelitian ini, pengawasan
mewakili situasi yang menyediakan stimulis yang dapat diamati, dihayati, dan
dialami oleh organisme atau individu, melahirkan persepsi atau interprestasi
terhadap stimuli yang pada akhirnya akan melahirkan perilaku tertentu.
Selanjutnya, perilaku yang ditampilkan individu akan menimbulkan perubahan
dilingkungannya berupa hasil perilaku. Dengan demikian, berdasarkan model teori
perilaku organisasi ini, pengawasan dari pimpinan dapat memberikan pengaruh
terhadap perilaku dan atau hasil perilaku pegawai dalam bekerja.
Mengacu pada keseluruhan paparan di
atas, dan dalam upaya memahami dan memecahkan masalah belum optimalnya kinerja
pegawai pada Bagian Distribusi PDAM Kota X, perlu dilakukan penelitian tentang
pengaruh pengawasan terhadap kinerja pegawai. Inilah yang menarik penulis untuk
mengadakan penelitian, dan selanjutnya akan dituangkan dalam bentuk tesis
dengan judul: Pengaruh Pengawasan Kepala Bagian terhadap Kinerja Pegawai Bidang
Pelayanan Air Bersih pada Bagian Distribusi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM)
Kota X.
B. Rumusan
Masalah Dan Contohnya
Setelah menentukan latar belakang
masalah, langkah selanjutnya adalah menentukan rumusan masalah. Rumusan masalah
dapat dikemukakan dalam bentuk pernyataan ataupun pertanyaan penelitian.
Pernyataan penelitian digunakan untuk mendeskripsikan dan menegaskan rumusan
umum dari penelitian yang dimaksud, sedangkan pertanyaan penelitian digunakan
untuk memerinci aspek-aspek yang terkandung dalam rumusan umum tersebut.[6]
Hal yang perlu diperhatikan dalam
menyusun rumusan masalah yang baik adalah:
1.
Rumusan
masalah harus bersifat feasible, yaitu rumusan masalah yang
paling mungkin untuk dilaksanakan atau dapat dilaksanakan;
2.
Rumusan
masalah harus bersifat clear, yaitu jelas, sehingga setiap orang
akan paham maksud dari rumusan masalah yang sudah disusun;
3.
Rumusan
masalah harus bersifat significant,
yaitu berarti, baik bagi kepentingan pribadi peneliti maupun bagi pengembangan
keilmuan secara praktis dan teoritis;
4.
Rumusan
masalah harus bersifat ethical, yaitu
memenuhi unsur kelayakan atau kepantasan, yang sesuai dengan norma-norma yang
berlaku atau tidak merugikan manusia atau lingkungan.[7]
Contoh:
Masalah
yang dipecahkan dalam penelitian ini, dirumuskan dalam pernyataan masalah (problem statement) sebagai berikut
“Pengawasan yang dilakukan oleh Kepala Bagian Distribusi PDAM Kota X, baik
secara langsung maupun tidak langsung, belum dilaksanakan secara optimal, dan
hal ini menyebabkan kinerja pegawai dalam bidang pelayanan air bersih masih
relatif rendah. Kondisi semacam ini harus segera ditanggulangi. Apabila tidak,
citra masyarakat terhadap kinerja pelayanan organisasi (PDAM) Kota X secara
keseluruhan tidak baik”.
Berdasarkan
pernyataan masalah (problem statement)
di atas, masalah dalam penelitian ini secara spesifik dirumuskan dalam
pertanyaan penelitian (research question)
sebagai berikut:
1.
Bagaimana
gambaran pengawasan yang dilakukan oleh Kepala Bagian Distribusi PDAM Kota X.
2.
Bagaimana
gambaran kinerja pelayanan oleh pegawai Bagian
Distribusi PDAM Kota X.
3.
Adakah
pengaruh pengawasan Kepala Bagian dengan kinerja pelayanan pegawai Bagian
Distribusi PDAM Kota X.
C. Tujuan
Masalah Dan Contohnya
Tujuan penelitian adalah rumusan kalimat yang menunjukkan adanya
sesuatu hal yang diperoleh setelah penelitian selesai. Dapat di ilustrasikan
bahwa apa yang ingin dicapai dalam tujuan penelitian, sama dengan jawaban yang
dikehendaki dalam problematik penelitian. Yang berbeda adalah rumusannya.
Tujuan penelitian terdiri atas tujuan
umum dan tujuan khusus. Tujuan umum menggambarkan secara singkat apa yang ingin
dicapai yang dinyatakan dalam suatu kalimat. Sementara tujuan khusus merupakan
perincian tujuan umum yang lebih spesifik dan dirumuskan dalam beberapa butir
pertanyaan yang mengacu kepada rumusan masalah.[8]
Contoh:
Tujuan
umum dari penelitian ini adalah memperoleh pengetahuan dan melakukan kajian
secara ilmiah tentang pelaksanaan pengawasan Kepala Bagian Distribusi terhadap
Kinerja pegawai dalam melayani kebutuhan air bersih kepada pelanggan PDAM Kota
X. Analisis tersebut diperlukan: Untuk mengetahui pengaruh pengawasan langsung
dan tidak langsung yang dilakukan oleh Kepala Bagian Distribusi terhadap
kinerja pegawai yang melayani kebutuhan air bersih pelanggan PDAM Kota X.
Secara
Khusus, tujuan yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah sebagai
berikut.
1.
Mengetahui
gambaran pengawasan yang dilakukan oleh Kepala Bagian Distribusi PDAM Kota X.
2.
Mengetahui
pengawasan yang dilakukan oleh Kepala Bagian Distribusi dan gambaran kinerja
pelayanan oleh pegawai Bagian Distribusi PDAM Kota X.
3.
Mengetahui
pengaruh pengawasan Kepala Bagian dengan kinerja pelayanan pegawai Bagian
Distribusi PDAM Kota X.
BAB
III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Masalah
adalah celah kosong yang menjadi wilayah ketidaktahuan manusia. Penelitian
dilakukan untuk mengisi kekosongan dan mengubah ketidaktahuan manusia menjadi
pengetahuan.
Dalam
penyusunan penelitian ilmiah, latar belakang masalah, rumusan masalah dan
tujuan penelitian adalah bagian utama dalam karya ilmiah yang sangat penting
kedudukannya. Sebab disitu akan dipaparkan masalah-masalah yang akan menjadi
landasan untuk pengambilan langkah berikutnya. Rumusan yang telah disusun
secara apik akan mengarahkan semua kegiatan dalam penelitian.
Latar belakang masalah, rumusan masalah, dan
tujuan penelitian saling berkaitan satu sama lain. Urutannya harus sistematis,
dan masing-masing memiliki prosedur yang harus diperhatikan dalam
pengolahannya.
DAFTAR
PUSTAKA
Mahmud,
Metode Penelitian pendidikan,
Bandung: CV Pustaka Setia, 2011.
Maman
Abdurrahman dan Sambas Ali Muhidin, Panduan
Praktis Memahami Penelitian, Bandung: CV Pustaka Setia, 2011
Purwanto,
Metodologi Penelitian Kuantitatif untuk
Psikologi dan Pendidikan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008
Ine
I Amirman Yousda dan Zainal Arifin, Penelitian
dan Statistik Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 1993
[1] Mahmud, Metode Penelitian
Pendidikan, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2011), h.110
[2] Purwanto, Metode Penelitian
Kuantitatif untuk Psikologi dan Pendidikan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2008), ct. Ke-1, h. 113
[3] Maman Abdurrahman dan Sambas Ali Muhidin, Paduan Praktis Memahami Penelitian, (Bandung: CV. Pustaka Setia,
2011), h. 22
[4] Ine I Amirman Yousda dan Zainal Arifin, Penelitian Dan Statistik Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 1993),
h. 29
[5] Maman Abdurrahman dan Sambas Ali Muhidin, op. Cit., h. 23
[6] Mahmud, loc. cit, h. 119
[7] Maman Abdurrahman dan Sambas Ali Muhidin, op. cit., h. 32
[8] Ibid, h. 34




5 komentar:
sangat bermanfaat untuk yang cari rujukan
nice post.... info yg bermanfaat ... sukses
Makasih bunda syarifah sofia...
Thankss Ahmad Faisal... Di tunggu bimbingan nya...
Thankss Ahmad Faisal... Di tunggu bimbingan nya...
Posting Komentar