Pink Rose Flower

Sabtu, 24 Desember 2016

Psikologi Pendidikan Islam - Karakteristik dan Perbedaan Individual Dalam Pembelajaran Tinjauan Islam dan Psikologi






  TUGAS TERSTRUKTUR                                  DOSEN PENGASUH
Psikologi Pendidikan Islam                                Dr. Hj. Romdiyah  M.Pd
                                                                              Dr. Hidayat Ma’ruf M.Pd
                                                                      


KARAKTERISTIK DAN PERBEDAAN INDIVIDUAL
 DALAM PEMBELAJARAN; TINJAUAN ISLAM DAN PSIKOLOGI





Oleh :


SRI WAHYUNITA   :   1502521475



INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI
PROGRAM PASCASARJANA
PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
BANJARMASIN
2016





BAB I
PENDAHULUAN

Setiap individu memiliki ciri, sifat bawaan dan karakteristik yang berbeda-beda. Ahli psikologi berpendapat bahwa kepribadian dibentuk oleh perpaduan faktor pembawaan dan lingkungan. Karakteristik bawaan, baik yang bersifat biologis maupun psikologis, dimiliki sejak lahir. Apa yang dipikirkan, dikerjakan, atau dirasakan seseorang, atau merupakan hasil perpaduan antara apa yang ada di antara faktor-faktor biologis yang di wariskan dan pengaruh lingkungan sekitarnya.
Lingkungan kehidupan sosial budaya yang memengaruhi perkembangan pribadi seseorang amatlah kompleks dan heterogen. Baik lingkungan alami maupun lingkungan yang di ciptakan untuk maksud pembentukan pribadi anak-anak dan remaja. Masing-masing memiliki ciri yang berbeda-beda. Faktor pembawaan dan lingkungan merupakan dua faktor yang membentuk kepribadian seseorang. Oleh karena itu, secara singkat dapat dikatakan bahwa perkembangan pribadi setiap individu berbeda-beda sesuai dengan pembawaan, pembentukan dan kondisi lingkungan tempat mereka hidup dan di besarkan.
Perbedaan individu yang berbeda-beda tersebut perlu di beri penanganan dari guru sebagai pembimbing dalam rangka upaya pembelajaran. Dalam pendidikan sekarang ini sistem pendidikan yang di gunakan sendiri bersifat klasikal yaitu melakukan pembelajaran di kelas dengan hanya melihat siswanya saja sebagai individu dengan kemampuan rata-rata, kebiasaan begitu juga dengan pengetahuannya yang hampir sama tidak berbeda satu sama lain yang kurang memeperhatikan masalah perbedaan dari masing-masing individu.
Oleh karena itu sebagai seorang guru hendaknya mampu memahami karakteristik maupun sifat-sifat dari masing-masing individu atau siswanya. Dengan metode yang di sebutkan sebelumnya dan mengaplikasiannya dalam dunia pendidikan, sehingga mengetahui perbedaan peserta didiknya dan bagaimana cara untuk mengatasinya dengan cara-cara yang mudah di tangkap atau di pahami peserta didik.
BAB II
PEMBAHASAN

A.           Karakteristik individual
Karakteristik individual adalah keseluruhan kelakuan dan kemampuan yang ada pada individu sebagai hasil dari pembawaan dan lingkungan.[1]
Setiap individu memiliki ciri dan sifat atau karakteristik bawaan (heredity) dan karakteristik yang diperoleh dari pengaruh lingkungan. Karakteristik bawaan merupakan karakteristik keturunan yang dimiliki sejak lahir, baik yang menyangkut faktor biologis maupun faktor sosial  psikologis. Pada masa lalu ada keyakinan. Kepribadian terbawa pembawaan (heredity) dan lingkungan ; merupakan dua faktor yang tebentuk karena faktor tepisah, masing-masing mempengaruhi kepribadian dan kemempuan individu bawaan dan lingkungan dengan caranya sendiri-sendiri. Namun kemudian makin disadari bahwa apa yang dipikirkan dan di kerjakan seseorang, atau apa yang dirasakan oleh seorang anak, remaja atau dewasa, merupakan hasil dari perpaduan antara apa yang ada di antara faktor-faktor biologis yang diturunkan dan pengaruh lingkungan. [2]

1.             Karakteristik Biologis
Menurut Khodijah Aspek biologis yang terkait langsung dengan penerimaan pelajaran di kelas adalah kesehatan mata dan telinga. Anak didik yang memiliki masalah tertentu dalam penglihatan dan pendengarannya akan mengalami masalah tersendiri dalam menerima pelajaran. Dalam hal ini, bila kondisi faktor-faktor lain adalah sama, maka anak yang sehat fisiknya secara menyeluruh akan lebih berpeluang untuk mencapai prestasi yang maksimal.Kesehatan fisik anak didik perlu mendapat perhatian serius dari guru. Tidak semua siswa mengikuti pembelajaran dengan kondisi fisik yang baik. Kondisi fisik kurang sehat akan mengganggu siswa belajar. [3]

2.             Karakteristik Psikologis
 ”Perbedaan psikologis pada siswa mencakup perbedaan dalam minat, motivasi, dan kepribadian.” Perbedaan siswa dalam hal minat, motivasi, dan kepribadian akan selalu ditemui pada sekelompok siswa. Tidak semua siswa mengikuti pelajaran dengan minat yang tinggi terhadap mata pelajaran.Ada siswa yang dengan setengah hati mengikuti pelajaran.Demikian pula dengan perbedaan motivasi, ada siswa yang memiliki motivasi tinggi sehingga sangat aktif mengikuti pelajaran, sedangkan yang lainnya mungkin setengah termotivasi atau bahkan tidak termotivasi untuk belajar.Kepribadian siswa juga berbeda, ada siswa yang terbuka sehingga mudah bergaul dan mempunyai banyak teman, tetapi adapula siswa yang tertutup sehingga sulit bergaul dan terkesan tidak mempunyai teman karena sering menyendiri.[4]

3.             Karakteristik Intelegensi
 ”Intelegensi adalah kemampuan potensial umum untuk belajar dan bertahan hidup, yang dicirikan dengan kemampuan untuk belajar, kemampuan untuk berpikir abstrak, dan kemampuan memecahkan masalah”.Setiap anak memiliki tingkat intelegensi yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut menambah keunikan dalam suatu kelas pembelajaran.Ada siswa yang dengan cepat mampu menyerap materi pembelajaran dan ada siswa yang lamban menyerapnya.Ada siswa yang mampu dengan cepat menyelesaikan soal ujian atau tugas, dan ada siswa membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan satu tugas saja.[5]

4.             Karakteristik Bakat
Bingham mendefinisikan bakat: As a condition or set of charateristics regarded as symptomatic of an individual’s ability to acquire with training some (usually specified) knowledge, skill, or set of responses such as the ability to speak a language, to produce mucic, ...etc.(sebagai sebuah kondisi atau rangkaian karakteristik yang dianggap sebagai gejala kemampuan seorang individu untuk memperoleh melalui latihan sebagian pengetahuan, keterampilan, atau serangkaian respon seperti kemampuan berbahasa, kemampuan musik, dan sebagainya). Siswa yang belajar sesuai dengan bakatnya akan lebih mudah menerima dan menguasai materi pembelajaran jika dibandingkan dengan siswa yang tidak berbakat dalam mata pelajaran tertentu. Walaupun siswa yang tidak berbakat juga sangat dimungkinkan untuk menerima materi pembelajaran dengan lebih baik.[6] 

B.            Dasar-dasar Pembentukan Karakter Peserta Didik Dalam Konsep Pendidikan Islam
1.             Pandangan Islam Terhadap Manusia
Menurut ajaran Islam, manusia adalah ciptaan Tuhan. Tuhan lah yang menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya ciptaan. Firman Allah SWT;


 
Artinya:
Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. (QS. At-Thiin 95: 4)
Allah menciptakan manusia terdiri atas dua unsur pokok, yaitu jasmani dan rohani. Firman Allah SWT;


 
Artinya:
Yang membuat segala sesuatu yang dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. (7) Kemudian dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (8) Kemudian dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur (9)”. (Q.S. As Sajdah 32: 7-9)
Kemudian:
 

 
Artinya:
(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah (71) Maka apabila Telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan) Ku; Maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya (72).”
Berdasarkan ayat di atas manusia mempunyai dua daya yaitu daya jasmani dan rohani. Dengan daya jasmani, manusia mampu bergerak, makan, mempertahankan diri dan sebagainya. Dengan daya rohani, manusia mempunyai kemampuan lain yang tidak di miliki oleh binatang dan makhluk lain. Daya rohani tersebut terdiri atas qalb, aql dan  nafs.
a)             Qalb
Al-Qalb secara etimologi memiliki arti sesuatu yang berbolak balik (sesuatu yang lebih), berasal dari kata qalaba yang artinya membolak balik.
Menurut Al Ghazali qalb terdiri dari dua aspek, yaitu qalbu jasmani dan qalbu rohani. Qalbu jasmani adalah daging yang membentuk seperti jantung pisang yang terletak di dalam dada sebelah kiri. Qalbu ini lazimnya disebut jantung (heart). Sedangkan qalbu rohani adalah sesuatu yang sifatnya halus (lathif), rabbani, dan rohani yang berhubungan dengan qalbu jasmani, bagian ini merupakan esensi manusia.[7]
Al Qalb secara psikologis memiliki daya-daya emosi (al infialy), yang menimbulkan daya nasa (al syu’ur).[8] Daya emosi qalb dapat beraktualisasi melalui rasa intelektual, rasa inderawi, rasa etika, rasa estetika, rasa sosial, rasa ekonomi, rasa religius.[9]

b)             Aql
Secara etimolog “aql” memiliki arti al imsak (menahan), ar ribath (ikatan), al hajr (menahan),  al nahy (melarang) dan man’u (mencegah).[10]
Akal merupakan organ tubuh yang terletak di kepala, lazimnya di sebut dengan otak (al dimagh) yang memiliki cahaya nurani dan di persiapkan dan mampu memperoleh pengetahuan (al-Ma’rifah) dan kognisi (al-Mudrikat). Akal juga di artikan sebagai energi yang mampu memperoleh, menyimpan dan mengeluarkan pengetahuan. Akal mampu mengantarkan manusia pada substansi humanistik (zat insaniyah) atau potensi fitrah yang memiliki daya-daya pembeda antara hal-hal yang baik dan yang buruk, yang berguna dan yang membahayakan.[11]

c)             Nafs
Al Nafs adalah daya nafsani yang memiliki dua kekuatan, yaitu kekuatan al ghadabiyah dan al syahwaniyah. [12]  Al Ghadab adalah sesuatu daya yang berpotensi untuk menghindari diri dari segala yang membahayakan. Ghadab dalam terminologi psikoanalisa disebut dengan defense (pertahanan, pembelaan dan penjagaan), yaitu tingkah laku yang berusaha membela atau melindungi ego terhadap kesalahan, kecemasan, dan rasa malu; perbuatan melindungi diri sendiri; memanfaatkan dan merasionalisasikan perbuatannya sendiri.  Al-Syahwat adalah suatu daya yang berpotensi untuk menginduksi diri dari segala yang menyenangkan. Syahwat dalam terminologi psikologi disebut dengan eppitte, yaitu suatu hasrat (keinginan, birahi, hawa nafsu), motif atau impuls berdasarkan perubahan keadaan fisiologi.

2.             Iman di Qalbu Sebagai Pengendali Karakter Manusia
Pembentukan karakter dimulai dari pengisian Qalb dengan Iman. Bila manusia telah beriman berarti Tuhan telah berada di dalam hati orang itu, maka orang itu secara keseluruhan akan di kendalikan oleh Tuhan. Inilah hakikat beriman yaitu tatkala manusia telah sepenuhnya di kendalikan Tuhan. Bila konsep itu di pahami maka tidak ada kemungkinan lain selain mengerahkan segenap usaha pendidikan untuk menanamkan iman di hati.[13]  

Menurut Mutakallim, Iman  itu dipengaruhi tiga domain:
a)             Domain kognitif; al-takrir bi al-lisan
b)             Domain afektif; al-tasydiq bi al-qalb
c)             Domain  psikomotor; al-amal bi al-arkan[14]

Ketiga domain inilah yang akan mewarnai pembentukan karakter seseorang. Bila hati telah dipenuhi iman, artinya Tuhan telah bertahta di hati, maka isi hatinya itu hanyalah Tuhan, dengan sendirinya ingatan orang itu hanya Tuhan dan tidak pernah lepas dari ingat kepada Tuhan. Orang itu mungkin memikirkan dan berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya berupa kebutuhan jasmani, seperti sandang, pangan, papan, seks, dan sebagainya. Begitu juga kebutuhan rohani seperti kebutuhan rasa aman, ingin sukses, ingin di cintai, ingin di hormati ingin bebas, ingin tahu dan sebagainya. Tetapi semuanya itu tidak lepas dari Tuhan.[15]
Keadaan inilah yang disebut dengan zikr, dan yang dimaksud dengan zikr disini adalah selalu ingat kepada Allah (zikr Allah) kapan saja dan dimana saja berada tanpa dipengaruhi oleh tempat, waktu dan keadaan.
Allah memerintahkan kepada manusia supaya selalu zikr Allah dalam seluruh keadaan manusia. Firman Allah SWT:




Artinya:
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka. (191) ” (QS Ali Imran 3: 191 )

Ayat di atas menjelaskan bahwa proses penanaman iman ialah proses menjadikan qalb dalam kondisi dzikrullah terus menerus.

C.           Sumber Perbedaan Individual
Sumber perbedaan individu dipengaruhi oleh dua faktor. Faktor-faktor tersebut adalah faktor bawaan dan faktor lingkungan.[16]

1.             Faktor Bawaan
Faktor bawaan merupakan faktor-faktor biologis yang diturunkan melalui pewarisan genetik oleh orangtua. Pewarisan genetik ini dimulai saat terjadinya pembuahan. Menurut Zimbardo dan Gerig penyatuan antara sebuah sperma dan sebuah sel telur hanya menghasilkan satu diantara milyaran kemungkinan kombinasi gen. Salah satu kromosom yaitu kromosom sex merupakan pembawa kode gen untuk perkembangan karakteristik fisik laki-laki atau perempuan. Kode untuk kita mendapatkan kromosom X dari ibu, dan salah satu dari kromosom  X atau Y dari ayah. Kombinasi XX merupakan kode untuk perkembangan fisik perempuan, dan kombinasi XY merupakan kode untuk perkembangan fisik laki-laki. Meskipun rata-rata kita memiliki 50 persen gen yang sama dengan saudara kita, kumpulan gen kita tetap khas kecuali kita adalah kembar identik. Perbedaan gen ini merupakan satu alasan mengapa kita berbeda dengan orang lain, baik secara fisik, psikologis, maupun perilaku, bahkan dengan saudara kita sendiri. Selebihnya adalah dipengaruhi oleh lingkungan, karena kita pernah berada di lingkungan yang sama persis.

2. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan adalah faktor yang mengakibatkan perbedaan individu yang berasal dari luar diri individu. Faktor lingkungan berasal dari beberapa macam yaitu status sosial ekonomi orang tua, pola asuh orang tua, budaya, dan urutan kelahiran.

a.               Status sosial ekonomi orang tua
Meliputi tingkat pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, dan penghasilan orang tua. Tingkat orang tua berbeda satu dengan lainnya. Meskipun tidak mutlak tingkat pendidikan ini dapat mempengaruhi sikap orang tua terhadap pendidikan anak serta tingkat aspirasinya terhadap pendidikan anak. Demikian juga dengan pekerjaan dan penghasilan orang tua yang berbeda-beda. Perbedaan ini akan membawa implikasi pada berbedanya aspirasi orang tua terhadap pendidikan anak, aspirasi anak terhadap pendidikannya, fasilitas yang diberikan pada anak dan mungkin waktu disediakan untuk mendidik anak-anaknya. Demikian juga perbedaan status ekonomi dapat membawa implikasi salah satunya pada perbedaan pola gizi yang diterapkan dalam keluarga.

b.             Pola asuh orangtua
Merupakan pola perilaku yang digunakan untuk berhubungan dengan anak-anak. Pola asuh yang diterapkan tiap keluarga berbeda dengan keluarga lainnya. Terdapat tiga pola asuh dalam pengasuhan anak yaitu otoriter, permisif, dan autoritatif. Pola asuh otoriter adalah bentuk pola asuh yang menekankan pada pengawasan orangtua kepada anak untuk mendapatkan ketaatan atau keputuhan. Orangtua bersikap tegas, suka menghukum, dan cenderung mengekang anak. Pola asuh permisif adalah pola asuh dimana orangtua memberi kebebasan sebanyak mungkin kepada anak untuk mengatur dirinya, dan anak tidak dituntut untuk bertanggung jawab dan tidak banyak dikontrol oleh orangtua. Sedangkan pola asuh autoritatif adalah pola asuh dimana orangtua memberikan hak dan kewajiban yang sama dalam arti saling melengkapi, anak dilatih untuk bertanggung jawab, dan menentukan perilakunya sendiri agar dapat berdisiplin.

c.              Budaya
Merupakan pikiran, akal budi, hasil karya manusia, atau dapat juga didefinisikan sebagai adat istiadat. Adanya nilai-nilai dalam masyarkat memberitahu pada anggotanya tentang apa yang baik dan atau penting dalam masyarakatnya. Nilai-nilai tersebut terjabarkan dalam suatu norma-norma. Norma masing-masing masyarakat berbeda, maka perilaku yang muncul dari anggota masing-masing masyarakat berbeda satu dengan lainnya.

d.             Urutan kelahiran
Walaupun masih menjadi kontroversi akan tetapi karakteristik kepribadian seseorang dipengaruhi oleh urutan kelahiran. Anak yang lahir sulung atau anak pertama cenderung lebih teliti, mempunyai ambisi, dan agresif dibandingkan dengan adik-adiknya. Anak tengah sering menjadi mediator dan pecinta damai. Anak bungsu cenderung paling kreatif dan biasanya menarik. Anak tunggal atau si anak semata wayang biasanya sering merasa terbebani dengan harapan yang tinggi dari orangtua mereka terhadap diri mereka sendiri. Mereka lebih percaya diri, supel, dan memiliki imajinasi yang tinggi. Karakteristik yang berbeda-beda pada individu dipengaruhi oleh perilaku orangtuanya berdasarkan urutan kelahiran.

D.           Bidang-bidang Perbedaan Individual Dalam Pembelajaran
Setiap anak adalah unik. Ketika kita memperhatikan anak-anak di dalam ruang kelas, kita akan melihat perbedaan individual yang sangat banyak. Bahkan anak latar belakang usia hampir sama, akan memperlihatkan penampilan, kemampuan temperamen, minat dan sikap yang sangat beragam.Dalam kajian psikologi, masalah individu mendapat perhatian yang besar, sehingga melahirkan suatu cabang psikologi yang dikenal dengan Individual Psychology, atau differential Psychology,yang memberikan perhatian besar terhadap penelitian tentang perbedaan antar individu. Ini didasarkan atas kenyataan bahwa di dunia ini tidak ada dua orang yang persis sama. Bahkan anak kembar sekali pun masih ditemukan adanya beberapa dimensi perbedaan di antara keduanya.Dalam tinjauan psikologi Islam, perbedaan individual tersebut dipandang sebagai realitas kehidupan manusia yang sengaja diciptakan Allah untuk dijadikan bukti kebesaran dan kesempurnaan ciptaan-Nya.
Berikut adalah beberapa perbedaan pada individu tinjauan psikologi.

1.             Perbedaan Kognitif
Menurut Bloom, proses belajar, baik di sekolah maupun di luar  sekolah menghasilkan tiga pembentukan kemampuan yang dikenal sebagai taxonomi Bloom, yaitu kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik. Kemampuan kognitif merupakan kemampuan yang berkaitan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan  teknologi. Pada dasarnya kemampuan kognitif merupakan hasil belajar.Hasil belajar dalam hal ini merupakan perpaduan antara pembawaan dengan pengaruh lingkungan. Proses pembelajaran adalah upaya menciptakan lingkungan yang bernilai positif, diatur dan direncanakan untuk mengembangkan faktor dasar yang dimiliki oleh anak.

2.             Perbedaan dalam Kecakapan Bahasa
Bahasa adalah salah satu kemampuan individu yang penting sekali dalam kehidupannya.Kemampuam berbahasa merupakan kemampuan individu untuk menyatakan buah pikirannya dalam bentuk ungkapan kata dan kalimat yang bermakna, logis, dan sistematis.Kemampuan berbahasa setiap individu berbeda.Kemampuan ini sangat dipengaruhi oleh faktor kecerdasan dan faktor lingkungan termasuk faktor fisik (organ untuk bicara).

3.             Perbedaan dalam Kecakapan Motorik
Kecakapan motorik atau kemampuan psikomotorik merupakan kemampuan untuk melakukan koordinasi kerja syaraf motorik yang dilakukan oleh syaraf pusat (otak) untuk melakukan kegiatan.Kegiatan ini terjadi karena kegiatan kerja syaraf yang sistematis. Alat indra menerima rangsangan, rangsangan tersebut diteruskan melalui syaraf sensoris ke syaraf pusat (otak) untuk diolah, dan hasilnya dibawa oleh syaraf motorik untuk memberikan reaksi dalam bentuk gerakan- gerakan  atau kegiatan.

4.             Perbedaan dalam Latar Belakang
Latar belakang individu dapat dipengaruhi oleh faktor dalam dan luar. Faktor dari dalam misalnya, kecerdasan, kemauan, bakat, minat, emosi, perhatian, kebiasaan bekerja sama, dan kesehatan yang mendukung belajar.  Anak-anak juga berbeda diapandang dari segi latar belakang budaya dan etnis.Motivasi untuk belajar berbeda antara budaya yang satu dengan budaya yang lainnya.Perbedaan latar belakang, yang meliputi perbedaan sisio-ekonomi sosio cultural, amat penting artinya bagi perkembangan anak. Akibatnya anak-anak pada umur yang sama tidak selalu berada pada tingkat kesiapan yang sama dalam menerima pengaruh dari luar yang lebih luas.

5.             Perbedaan dalam Bakat
Menurut M. Ngalim Purwanto dalam bukunya Psikologi Pendidikan disebutkan bahwa kata bakat lebih dekat pengertiannya dengan kata aptitude yang berarti kecakapan pembawaan, yaitu yang mengenai kesanggupan-kesanggupan (potensi-potensi) yang tertentu.[17] Misalnya seseorang yang mempunyai bakat numerical yang baik, bila diberi latihan-latihan akuntansi keuangan, akan mudah untuk menguasai masalah akuntansi, begitu pula sebaliknya.

6.             Perbedaan dalam Kesiapan Belajar
Belajar adalah sebuah proses yang berkesinambungan dari sebuah pengalaman yang akan membuat suatu individu berubah dari tidak tahu menjadi tahu (kognitif), dari tidak mau menjadi mau (afektif) dan dari tidak bisa menjadi bisa (psikomotorik), misalnya seseorang anak yang belajar mengendarai sepeda akan terlebih dahulu diberi pengarahan oleh orang tuanya lalu anak tersebut mencoba untuk mengendarai sepeda hingga menjadi bisa.
Proses belajar dipengaruhi kesiapan murid, yang dimaksud dengan kesiapan ialah kondisi individu yang memungkinkan ia dapat belajar. Berkenaan dengan hal itu terdapat berbagai macam taraf kesiapan belajar untuk suatu tugas khusus. Seseorang siswa yang belum siap untuk melaksanakan suatu tugas dalam belajar akan mengalami kesulitan atau malah putus asa. Yang termasuk kesiapan ini ialah kematangan dan pertumbuhan fisik, intelegensi latar belakang pengalaman, hasil belajar yang baku, motivasi, persepsi dan faktor-faktor lain yang memungkinkan seseorang dapat belajar. Sedangkan Proses kematangan dan belajar akan sangat menentukan kesiapan belajar pada seseorang, misalnya seseorang yang proses kematangan dan belajarnya baik akan memiliki kesiapan belajar yang jauh lebih baik dengan seseorang yang proses kematangan dan belajarnya buruk. Perbedaan kesiapan individu tidak saja disebabkan oleh keragaman dalam rentang kematangan tetapi juga oleh keragaman dalam latar belakang sebelumnya.
Kondisi fisik yang sehat dalam kaitanya dengan kesehatan dan penyesuaian diri yang memuaskan terhadap pengalaman-pengalaman disertai dengan rasa ingin tahu yang amat besar terhadap orang-orang dan benda-benda membantu perkembangan berbahasa dan belajar yang diharapkan. Sikap apatis, pemalu dan kurang percaya diri akibat dari kesehatan yang kurang baik, cacat tubuh dan latar belakang yang miskin pengalaman, mempengaruhi perkembangan pemahaman dan ekspresi diri.

E.           Perbedaan Individual Menurut Alquran
Perbedaan individual merupakan kehendak Allah dan ditentukan melalui pembawaan hereditas dan lingkungan.



Artinya:
“ Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (13)”  (Q.S Al Hujuraat 49: 13)
Al Quran menyatakan bahwa Allah menciptakan dan membentuk manusia dalam rahim ibunya dengan cara dan bentuk yang berbeda dan unik seperti yang diinginkanNya:[18]



 
Artinya:
“Hai manusia, apakah yang memperdaya kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah?(6). Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang(7).  Dalam bentuk apa saja yang dia kehendaki, dia menyusun tubuhmu.(8)”  (QS Al-Infithaar 82: 6-8)



Artinya:
“Dia yang membentuk kamu dalam Rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tak Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(6)” (QS Al-Imran 3: 6)
Lebih lanjut dan dalam pernyataan yang jelas, Alquran menyatakan manusia berbeda-beda satu sama lainnya dalam sifat, karakter, perilaku dan perbuatan:


 
   
Artinya:
“Katakanlah! Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaanya masing-masing. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.(84)” (QS Al-Israa 17: 84)
Ayat ini menyatakan bahwa manusia memiliki disposisi yang unik. Keunikan yang demikian dapat termanisfestasikan dalam bentuk fisik, kognitif, emosional, moral, dan karakteristik sosial. Alquran dengan demikian menyatakan bahwa perbedaan antarindividual tidak hanya meliputi perkembangan kognitif, namun juga seluruh aspek perkembangan. Dengan melihat hal ini, orang akan melihat bahwa perbedaan individu merupakan hal yang sangat diperhatikan bahkan dalam berbagai perintah dan larangan Alquran untuk mentaati  Allah dan juga keringanan dalam memenuhi kewajiban terhadap-Nya. 


 
Artinya:
“ Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir. (219)”  (Q.S Al-Baqarah 2: 219)



Artinya:
Katakanlah: "Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, Maka bertakwalah kepada Allah Hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.(100)(Q.S Al-Maa’idah  5: 100)

Potensi kognitif juga terdapat pada ayat berikut:


Artinya:
“Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran daripadanya (Al Quran).(55)” (Q.S Al-Muddatstsir 74: 55)
Potensi emosional:

Artinya:
“Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. (89) “ ( Q.S Asy Syu’araa 26: 89)



Artinya:
“ (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (28) “  (Q.S Ar Ra’d  13: 28)



Artinya:
“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap ‘Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, Sesungguhnya Aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.’ (87) " (Q.S Al Anbiyaa 21: 87)

Potensi Moral:




Artinya:
“ Dan Katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: "Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. (53) “ (Q.S Al Israa 17: 53)

Karakteristik sosial:


Artinya:
“Dan sungguh Allah Telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), Maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena Sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam, (140) “  (Q.S An Nisaa’ 4: 140)

Contoh tipikal dari ayat ini adalah perintah untuk memenuhi peraturan Allah semampu  mungkin, baik secara individu maupun kolektif:


  
Artinya:
“Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu, dan dengarlah serta taatlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu.(16)“ (QS Al-Thaghaabun 64: 16)

Makna ini juga terkandung juga dalam ayat berikut: 

Ÿ
  
Artinya:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikannya) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.(mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. beri ma'aflah Kami; ampunilah Kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.(286) (QS Al-Baqarah 2: 286)

Menurut Ibn Katsir, Allah menerangkan dalam ayat berikut bahwa Dia menciptakan keragaman pada makhluk-makhlukNya, termasuk manusia dalam hal kekayaan, intelektual, pemahaman, dan kemampuan lain yang bersifat internal dan eksternal:




  
Artinya:
Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? kami Telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain.(32)”  (QS Al-Zukhruf 43: 32)
Dalam sebuah hadis rasulullah Saw:
حَدَّ ثَنَاعَمْرٌو النَّا قِدُ حَدَّ ثَنَا كَثِيرُ بْنُ هِشَا مٍ حَدَّ ثَنَا جَعْفَرُ بْنُ بُرْقَا نَ عَنْ يَزِيدَ بْنِ الأَصَمِّ عَنْ أَ بِى هُرَيْرَةَ قَالَ  قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم – إِ نَّ الله لاَ يَنْظُرُ إِلىَ صُوَرِكُمْ وَ أَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُو بِكُمْ وَأَعْمَا لِكُمْ  (رواه مسلم)  
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami ‘Amr an-Naqid telah menceritakan kepada kami Katsir bin Hisyam telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Burqon dari Yazid bin al-‘Ashom dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah Saw. Bersabda: ‘Sesungguhnya Allah Tidak memandang bentuk tubuhmu dan hartamu, tetapi Dia memandang pada hati dan perbuatanmu’” (H.R Muslim)
Jelas pada hadis di atas bahwa dalam terdapat perbedaan individual baik itu bentuk tubuh atau besar kecil nya harta, hanya saja Allah tidak memandang itu dan hanya menilai manusia berdasarkan ketaqwaannya. Ketaqwaan yang di maksud yakni didasari oleh hati dan perbuatan masing-masing invidu. Di sini juga tersirat bahwasanya masing-masing individu memiliki hati dan perbuatan yang berbeda-beda pula.
Juga hadis berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَثَلِ الْبَهِيْمَةِ تُنْتَجُ الْبَهِيْمَةَ، هَلْ تَرَى فِيْهَا جَدْعَاءَ رواه البخارى ومسلم وأبوداود والترمذى والنسائى ومالك وغيره
Artinya:
“Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa nabi SAW bersabda:”Setiap anak dilahirkan menurut fitrah (potensi beragama islam), Selanjutnya, kedua orang tuanyalah yang membelokannya menjadi yahudi, Nasrani, atau Majusi bagaikan binatang melahirkan binatang, apakah kamu melihat kekurangan padanya?” (HR. Imam bukhari dan Imam Muslim, Abu Dawud, tirmidzi, Nasa’I, Malik)
              
Dari hadits di atas ada dua hal yang dapat di pahami yaitu, pertama: setiap manusia yang lahir memiliki potensi, menjadi orang jahat dan potensi yang lainnya. Kedua: potensi tersebut dapat dipengaruhi oleh lingkungan terutama orang tua, karena mereka lah yang pertama yang sangat berperan dalam menjadikan anaknya menjadi yahudi, nasrani, dan majusi.
Konsep hadits tersebt sesuai dengan teori konvergensi pada perkembangannya dipengaruhi oleh keturunan dan lingkungan. Yaitu setiap anak yang lahir akan dipengaruhi oleh faktor keturunannya, contoh anak yang terlahir dari keluraga yang baik-baik tentunya dia akan menjadi anak yang baik serta dipengaruhi oleh lingkungannya. Hanya saja dalam konsep hadits di atas secara umum manusia lahir memiliki potensi yang sama. Maka dari itu  sebagai orang tua wajib baginya untuk memilihkan lingkungan yang baik agar anak dapat berkembang ke arah yang baik.

F.             Aplikasi Perbedaan Individu Dalam Pembelajaran
1. Menggunakan pendekatan pembelajaran fleksibel disertai penggunaan multimedia dan multimetode
2.  Memahami pilihan gaya belajar siswa kemudian menyediakan lingkungan belajar yang mendukung gaya belajar mereka.
3.    Memberikan pengalaman-pengalaman belajar yang menggabungkan pilihan cara belajar siswa, menggunakan metode mangajar, insentif, alat, dan situasi yang direncanakan sesuai dengan pilihan siswa
4.      Gunakan kombinasi cooperative learning, pembelajaran individual, dan pembelajaran kelompok, atau antara aktifitas-aktifitas belajar yang berpusat pada guru dengan pembelajaran yang berpusat pada siswa.
5.        Berikan waktu yang cukup untuk memproses dan memahami informasi.
6.        Gunakan alat-alat multi sensory untuk memproses, mempraktekkan dan memperoleh informasi.

F.  Prinsip¬prinsip dasar pendidikan Islam
1.             Universal
Pendidikan Islam bersifat universal (menyeluruh) dalam pandangan penumpuan, dan tafsirannya terhadap alam semesta.Ia menekankan pandangan yang universal antara jasmani dan rohani, antara jiwa dan raga, antara individu dan masyarakat, dan antara dunia dan akhirat.
Pendidikan Islam dengan ciri ini, membuka, mengembangkan, dan mendidik segala aspek pribadi, kemampuan-kemampuan, dan potensi-potensi manusia serta mengembangkan segala isi kehidupan dalam masyarakat dan meningkatkan kondisi budaya, sosial, ekonomi, dan politik, serta ikut berperan serta dalam menyelesaikan masalah-masalah yang di hadapi masyarakat saat ini dan mempersiapkan mereka untuk menghadapi tuntutan masa depan. Dengan demikian pendidikan Islam mencakup pengembanan individual dan sosial secara menyeluruh.
2.             Keseimbangan
Pendidikan Islam mewujudkan keseimbangan antara aspek-aspek pertumbuhan yang ada dalam individu dan masyarakat, yang artinya pendidikan Islam juga mewujudkan keseimbangan antara menjaga kebudayaan masa silam, tuntutan masa kini dan kebutuhan masa silam, tanpa mengutamakan salah satu di antaranya. Artinya pendidikan Islam tidak hanya mengungkit kejayaan masa lalu tanpa menghiraukan permasalahan yang meliputi masyarakat muslim sekarang ini, dan juga tidak hanya memenuhui tuntutan perkembangan sosial dan budaya masyarakat pada saat ini, tanpa mempertimbangkan akibat-akibat yang muncul di masa yang akan datang, dan demikin seterusnya. Keseimbangan ini diartikan sebagai keseimbangan antara berbagai aspek kehidupan.[19]
Rasul diutus Allah untuk mengajar dan mendidik manusia agar mereka dapat meraih kebahagiaan kedua alam itu.implikasinya pendidikan harus senantiasa diarahkan untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. hal ini senada dengan Firman Allah SWT:



     
Artinya:
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.(77)” (Al-Qashas  28:  77)

Dalam dunia pendidikan, khususunya dalam pembelajaran, pendidik harus memperhatikan keseimbangan dengan menggunakan pendekatan yang relevan.selain mentrasfer ilmu pengetahuan, pendidik perlu mengkondisikan secara bijak dan profesional agar peserta didik dapat mengaplikasikan ilmu yang telah didapat di dalam maupun di luar kelas.
3.             Kesederhanaan
Dalam prinsip ini pendidikan Islam bermakna mewujudkan keseimbangan antara aspek-aspek pertumbuhan anak dan kebutuhan-kebutuhan individu, baik masa kini maupun masa mendatang, secara sederhana yang berapiliasi sesuai dengan semangat fitrah yang sehat.
4.             Kejelasan
      Pendidikan Islam sebagai mana layaknya ajaran Islam yang jelas, juga memiliki konsep-konsep yang jelas, baik dari segi metode, kurikulum, sistem, dan aspek-aspek lain dalam pendidikan. Kejelasan akan berpengaruh pada operasional Pendidikan Islam, sehingga tujuan Pendidikan Islam dapat tercapai.

5.             Tidak bertentangan individual
Perbedaan individual antara seorang manusia dengan orang lain dikemukakan oleh Al-Qur’an dan hadist. Sebagai contoh:


  
Artinya:
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.(21)” (QS. Ar-Rum 30: 21)
Perbedaan-perbedaan yang dimiliki manusia melahirkan perbedaan tingkah laku karena setiap orang akan berbuat sesuai dengan keadaanya masing-masing. Menurut Asy-Syaibani yang dikutip oleh Prof. Dr. H. Ramayulis menjelaskan bahwa pendidikan Islam sepanjang sejarahnya telah memlihara perbedaan individual yang dimilki oleh peserta didik.

6.             Dinamis
   Pendidikan Islam menganut prinsip dinamis yang tidak beku dalam tujuan-tujuan, kurikulum dan metode-metodenya, tetapi berupaya untuk selalu memperbaharuhi diri dan berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.Pendidikan Islam seyogyanya mampu memberikan respon terhadap kebutuhan-kebutuhan zaman dan tempat dan tuntutan perkembangan dan perubahan sosial. Hal ini sesuai dengan prinsip-prinsip pendidikan Islam yang memotivasi untuk hidup dinamis.[20]



















BAB III
PENUTUP

Simpulan
Karakteristik individual adalah keseluruhan kelakuan dan kemampuan yang ada pada individu sebagai hasil dari pembawaan dan lingkungan.
Setiap individu memiliki ciri, sifat bawaan dan karakteristik yang berbeda-beda. Perbedaan individu yang berbeda-beda tersebut perlu di beri penanganan dari guru sebagai pembimbing dalam rangka upaya pembelajaran. Oleh karena itu sebagai seorang guru hendaknya mampu memahami karakteristik maupun sifat-sifat dari masing-masing individu atau siswanya.
Menurut Khodijah keberagaman karakteristik yang dimiliki siswa menjadi faktor pendukung dan sekaligus menjadi penghambat dalam kegiatan belajar mengajar, yaitu: Karakteristik Biologis, Karakteristik Psikologis, Karakteristik Intelegensi, Karakteristik Bakat
Sumber perbedaan individu dipengaruhi oleh dua faktor. Faktor-faktor tersebut adalah faktor bawaan dan faktor lingkungan.Faktor lingkungan berasal dari beberapa macam yaitu status sosial ekonomi orang tua, pola asuh orang tua, budaya, dan urutan kelahiran.
Menurut tinjauan psikologi berikut ada beberapa perbedaan pada individu,
 yaitu: perbedaan kognitif , perbedaan dalam kecakapan bahasa , perbedaan dalam kecakapan  motorik, perbedaan dalam  latar belakang,  perbedaan dalam bakat
Sedangkan perbedaan individual menurut alquran merupakan kehendak Allah dan ditentukan melalui pembawaan hereditas dan lingkungan. Alquran menyatakan bahwa Allah menciptakan dan membentuk manusia dalam rahim ibunya dengan cara dan bentuk yang berbedan dan unik seperti yang diinginkanNya
Prinsip¬prinsip dasar pendidikan Islam itu meliputi: Universal, Keseimbangan, Kesederhanaan, Kejelasan, Tidak bertentangan individual, Dinamis.



DAFTAR PUSTAKA

Al Qur’an Al Kariim

Al Ghazali, Ihya Ulum al Din, Beirut: Dar at Fikr, tt

Armai, Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Press, 2002.

Desmita, Psikologi Perkembangan Peserta Didik, Bandung, Remaja Rosdakarya, 2009.

Hasan, Purwakania, B., Aliah. Psikologi Perkembangan Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006

Khodijah, Nyayu. . Psikologi Pendidikan. Palembang: Grafika Telindo Press.2011

Ma’an Ziyadat, al-Mansu’al al-Falsafiah al-Arabiya, Arab: Inma al Arabiy, 1986

Mujib, Abdul, Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana Pernada Media, 2006.

Purwanto, Ngalim. Psikologi Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007.

Ramayulis, Psikologi Agama, Jakarta: Kalam Mulia, 2008

Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2002

Ramayulis dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2009.

Sunarto dan B.Agung Hartono  .Perkembangan Peserta Didik, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2008




[1]Desmita, Psikologi Perkembangan Peserta Didik (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009),  h. 56

[2]Sunarto dan B.Agung Hartono . .Perkembangan Peserta Didik (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2008),  h.3
[3]  Khodijah, Psikologi Pendidikan. (Palembang: Grafika Telindo Press, 2011), h.182
[4]  Ibid, h. 183
[5]  Ibid, h. 101
[6]  Ibid, h. 185-186
[7]   Al Ghazali, Ihya Ulum al Din, (Beirut: Dar at Fikr, tt) h.295
[8]   Ramayulis, Psikologi Agama, (Jakarta: Kalam Mulia, 2008), h.155
[9]   Ibid
[10]  Ma’an Ziyadat, al-Mansu’al al-Falsafiah al-Arabiya (Arab: Inma al Arabiy, 1986), h.596
[11]  Ramayulis, Op cit. h.160
[12]   Manshur Ali Rajab, Ta’ammulat fi Falsafat al Akhlak, (Mesir: Maktabat al Anjalu al-Mishr, 1961), h.13
[13]   Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), h.514
[14]   Ibid
 [15]  Ibid
[16]  Zimbardo, P. G., Gerrig, R. J..Psychologie. (Berlin, Heidelberg: Springer –Verlag, 1999)
[17] Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007). h.25
[18] Hasan, Purwakania, B., Aliah. Psikologi Perkembangan Islami, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006 )

[19]Abdul Mujib, Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Kencana Pernada Media, 2006), hal. 73
[20]  Ramayulis dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2009).  h. 35

Tidak ada komentar: