TUGAS TERSTRUKTUR DOSEN
PENGASUH
Psikologi
Pendidikan Islam Dr.
Hj. Romdiyah M.Pd
Dr.
Hidayat Ma’ruf M.Pd
KARAKTERISTIK
DAN PERBEDAAN INDIVIDUAL
DALAM PEMBELAJARAN; TINJAUAN ISLAM DAN
PSIKOLOGI
Oleh
:
SRI
WAHYUNITA : 1502521475
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI
PROGRAM
PASCASARJANA
PRODI
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
BANJARMASIN
2016
BAB I
PENDAHULUAN
Setiap individu memiliki ciri, sifat
bawaan dan karakteristik yang berbeda-beda. Ahli psikologi berpendapat bahwa
kepribadian dibentuk oleh perpaduan faktor pembawaan dan lingkungan. Karakteristik bawaan, baik yang
bersifat biologis maupun psikologis, dimiliki sejak lahir. Apa yang dipikirkan,
dikerjakan, atau dirasakan seseorang, atau merupakan hasil perpaduan antara apa
yang ada di antara faktor-faktor biologis yang di wariskan dan pengaruh
lingkungan sekitarnya.
Lingkungan kehidupan sosial budaya yang memengaruhi
perkembangan pribadi seseorang amatlah kompleks dan heterogen. Baik lingkungan
alami maupun lingkungan yang di ciptakan untuk maksud pembentukan pribadi
anak-anak dan remaja. Masing-masing memiliki ciri yang berbeda-beda. Faktor
pembawaan dan lingkungan merupakan dua faktor yang membentuk kepribadian
seseorang. Oleh karena itu, secara singkat dapat dikatakan bahwa perkembangan
pribadi setiap individu berbeda-beda sesuai dengan pembawaan, pembentukan dan
kondisi lingkungan tempat mereka hidup dan di besarkan.
Perbedaan
individu yang berbeda-beda tersebut perlu di beri penanganan dari guru sebagai
pembimbing dalam rangka upaya pembelajaran. Dalam pendidikan sekarang ini
sistem pendidikan yang di gunakan sendiri bersifat klasikal yaitu melakukan
pembelajaran di kelas dengan hanya melihat siswanya saja sebagai individu
dengan kemampuan rata-rata, kebiasaan begitu juga dengan pengetahuannya yang
hampir sama tidak berbeda satu sama lain yang kurang memeperhatikan masalah
perbedaan dari masing-masing individu.
Oleh karena itu
sebagai seorang guru hendaknya mampu memahami karakteristik maupun sifat-sifat
dari masing-masing individu atau siswanya. Dengan metode yang di sebutkan
sebelumnya dan mengaplikasiannya dalam dunia pendidikan, sehingga mengetahui
perbedaan peserta didiknya dan bagaimana cara untuk mengatasinya dengan
cara-cara yang mudah di tangkap atau di pahami peserta didik.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Karakteristik
individual
Karakteristik
individual adalah keseluruhan kelakuan dan kemampuan yang ada pada individu
sebagai hasil dari pembawaan dan lingkungan.[1]
Setiap individu memiliki ciri dan sifat atau karakteristik
bawaan (heredity) dan karakteristik yang diperoleh dari pengaruh
lingkungan. Karakteristik bawaan merupakan karakteristik keturunan yang
dimiliki sejak lahir, baik yang menyangkut faktor biologis maupun faktor
sosial psikologis. Pada masa lalu ada keyakinan. Kepribadian terbawa
pembawaan (heredity) dan lingkungan ; merupakan dua faktor yang tebentuk
karena faktor tepisah, masing-masing mempengaruhi kepribadian dan kemempuan
individu bawaan dan lingkungan dengan caranya sendiri-sendiri. Namun kemudian
makin disadari bahwa apa yang dipikirkan dan di kerjakan seseorang, atau apa
yang dirasakan oleh seorang anak, remaja atau dewasa, merupakan hasil dari
perpaduan antara apa yang ada di antara faktor-faktor biologis yang diturunkan
dan pengaruh lingkungan. [2]
1.
Karakteristik
Biologis
Menurut
Khodijah Aspek biologis yang terkait langsung dengan penerimaan pelajaran di
kelas adalah kesehatan mata dan telinga. Anak didik yang memiliki masalah
tertentu dalam penglihatan dan pendengarannya akan mengalami masalah tersendiri
dalam menerima pelajaran. Dalam hal ini, bila kondisi faktor-faktor lain adalah
sama, maka anak yang sehat fisiknya secara menyeluruh akan lebih berpeluang
untuk mencapai prestasi yang maksimal.Kesehatan fisik anak didik perlu mendapat
perhatian serius dari guru. Tidak semua siswa mengikuti pembelajaran dengan
kondisi fisik yang baik. Kondisi fisik kurang sehat akan mengganggu siswa
belajar. [3]
2.
Karakteristik
Psikologis
”Perbedaan psikologis pada siswa mencakup
perbedaan dalam minat, motivasi, dan kepribadian.” Perbedaan siswa dalam hal
minat, motivasi, dan kepribadian akan selalu ditemui pada sekelompok siswa.
Tidak semua siswa mengikuti pelajaran dengan minat yang tinggi terhadap mata
pelajaran.Ada siswa yang dengan setengah hati mengikuti pelajaran.Demikian pula
dengan perbedaan motivasi, ada siswa yang memiliki motivasi tinggi sehingga
sangat aktif mengikuti pelajaran, sedangkan yang lainnya mungkin setengah
termotivasi atau bahkan tidak termotivasi untuk belajar.Kepribadian siswa juga
berbeda, ada siswa yang terbuka sehingga mudah bergaul dan mempunyai banyak
teman, tetapi adapula siswa yang tertutup sehingga sulit bergaul dan terkesan
tidak mempunyai teman karena sering menyendiri.[4]
3.
Karakteristik
Intelegensi
”Intelegensi
adalah kemampuan potensial umum untuk belajar dan bertahan hidup, yang
dicirikan dengan kemampuan untuk belajar, kemampuan untuk berpikir abstrak, dan
kemampuan memecahkan masalah”.Setiap anak memiliki tingkat intelegensi yang
berbeda-beda. Perbedaan tersebut menambah keunikan dalam suatu kelas
pembelajaran.Ada siswa yang dengan cepat mampu menyerap materi pembelajaran dan
ada siswa yang lamban menyerapnya.Ada siswa yang mampu dengan cepat
menyelesaikan soal ujian atau tugas, dan ada siswa membutuhkan waktu lama untuk
menyelesaikan satu tugas saja.[5]
4.
Karakteristik
Bakat
Bingham
mendefinisikan bakat: As a condition or set of charateristics regarded as
symptomatic of an individual’s ability to acquire with training some (usually
specified) knowledge, skill, or set of responses such as the ability to speak a
language, to produce mucic, ...etc.(sebagai sebuah kondisi atau rangkaian
karakteristik yang dianggap sebagai gejala kemampuan seorang individu untuk
memperoleh melalui latihan sebagian pengetahuan, keterampilan, atau serangkaian
respon seperti kemampuan berbahasa, kemampuan musik, dan sebagainya). Siswa
yang belajar sesuai dengan bakatnya akan lebih mudah menerima dan menguasai
materi pembelajaran jika dibandingkan dengan siswa yang tidak berbakat dalam
mata pelajaran tertentu. Walaupun siswa yang tidak berbakat juga sangat
dimungkinkan untuk menerima materi pembelajaran dengan lebih baik.[6]
B.
Dasar-dasar
Pembentukan Karakter Peserta Didik Dalam Konsep Pendidikan Islam
1.
Pandangan Islam
Terhadap Manusia
Menurut ajaran Islam, manusia adalah
ciptaan Tuhan. Tuhan lah yang menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya
ciptaan. Firman Allah SWT;
Artinya:
“Sesungguhnya kami Telah menciptakan
manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. (QS. At-Thiin 95: 4)
Allah menciptakan manusia terdiri atas
dua unsur pokok, yaitu jasmani dan rohani. Firman Allah SWT;
Artinya:
“Yang membuat segala sesuatu yang dia
ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. (7)
Kemudian dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (8) Kemudian
dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan dia
menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit
sekali bersyukur (9)”. (Q.S. As Sajdah 32: 7-9)
Kemudian:
Artinya:
“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman
kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah
(71) Maka apabila Telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh
(ciptaan) Ku; Maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya (72).”
Berdasarkan ayat di atas manusia
mempunyai dua daya yaitu daya jasmani dan rohani. Dengan daya jasmani, manusia
mampu bergerak, makan, mempertahankan diri dan sebagainya. Dengan daya rohani,
manusia mempunyai kemampuan lain yang tidak di miliki oleh binatang dan makhluk
lain. Daya rohani tersebut terdiri atas qalb, aql dan nafs.
a)
Qalb
Al-Qalb
secara
etimologi memiliki arti sesuatu yang berbolak balik (sesuatu yang lebih),
berasal dari kata qalaba yang artinya
membolak balik.
Menurut Al Ghazali qalb terdiri dari dua aspek, yaitu qalbu jasmani dan qalbu rohani.
Qalbu jasmani adalah daging yang membentuk seperti jantung pisang yang terletak
di dalam dada sebelah kiri. Qalbu ini lazimnya disebut jantung (heart). Sedangkan qalbu rohani adalah
sesuatu yang sifatnya halus (lathif),
rabbani, dan rohani yang berhubungan
dengan qalbu jasmani, bagian ini merupakan esensi manusia.[7]
Al
Qalb
secara psikologis memiliki daya-daya emosi (al
infialy), yang menimbulkan daya nasa (al
syu’ur).[8]
Daya emosi qalb dapat beraktualisasi
melalui rasa intelektual, rasa inderawi, rasa etika, rasa estetika, rasa
sosial, rasa ekonomi, rasa religius.[9]
b)
Aql
Secara etimolog “aql” memiliki arti al imsak
(menahan), ar ribath (ikatan), al hajr (menahan), al nahy
(melarang) dan man’u (mencegah).[10]
Akal merupakan organ tubuh yang terletak
di kepala, lazimnya di sebut dengan otak (al
dimagh) yang memiliki cahaya nurani dan di persiapkan dan mampu memperoleh
pengetahuan (al-Ma’rifah) dan kognisi
(al-Mudrikat). Akal juga di artikan
sebagai energi yang mampu memperoleh, menyimpan dan mengeluarkan pengetahuan.
Akal mampu mengantarkan manusia pada substansi humanistik (zat insaniyah) atau potensi fitrah yang memiliki daya-daya pembeda
antara hal-hal yang baik dan yang buruk, yang berguna dan yang membahayakan.[11]
c)
Nafs
Al
Nafs adalah daya nafsani yang memiliki dua kekuatan, yaitu
kekuatan al ghadabiyah dan al syahwaniyah. [12]
Al
Ghadab adalah sesuatu daya yang berpotensi untuk
menghindari diri dari segala yang membahayakan. Ghadab dalam terminologi psikoanalisa disebut dengan defense (pertahanan, pembelaan dan
penjagaan), yaitu tingkah laku yang berusaha membela atau melindungi ego terhadap kesalahan, kecemasan, dan
rasa malu; perbuatan melindungi diri sendiri; memanfaatkan dan
merasionalisasikan perbuatannya sendiri.
Al-Syahwat adalah suatu daya
yang berpotensi untuk menginduksi diri dari segala yang menyenangkan. Syahwat dalam terminologi psikologi
disebut dengan eppitte, yaitu suatu
hasrat (keinginan, birahi, hawa nafsu), motif atau impuls berdasarkan perubahan
keadaan fisiologi.
2.
Iman di Qalbu
Sebagai Pengendali Karakter Manusia
Pembentukan karakter dimulai dari
pengisian Qalb dengan Iman. Bila
manusia telah beriman berarti Tuhan telah berada di dalam hati orang itu, maka
orang itu secara keseluruhan akan di kendalikan oleh Tuhan. Inilah hakikat
beriman yaitu tatkala manusia telah sepenuhnya di kendalikan Tuhan. Bila konsep
itu di pahami maka tidak ada kemungkinan lain selain mengerahkan segenap usaha
pendidikan untuk menanamkan iman di hati.[13]
Menurut Mutakallim, Iman itu
dipengaruhi tiga domain:
a)
Domain kognitif;
al-takrir bi al-lisan
b)
Domain afektif; al-tasydiq bi al-qalb
Ketiga domain inilah yang akan mewarnai
pembentukan karakter seseorang. Bila hati telah dipenuhi iman, artinya Tuhan
telah bertahta di hati, maka isi hatinya itu hanyalah Tuhan, dengan sendirinya
ingatan orang itu hanya Tuhan dan tidak pernah lepas dari ingat kepada Tuhan.
Orang itu mungkin memikirkan dan berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya berupa
kebutuhan jasmani, seperti sandang, pangan, papan, seks, dan sebagainya. Begitu
juga kebutuhan rohani seperti kebutuhan rasa aman, ingin sukses, ingin di
cintai, ingin di hormati ingin bebas, ingin tahu dan sebagainya. Tetapi
semuanya itu tidak lepas dari Tuhan.[15]
Keadaan inilah yang disebut dengan zikr, dan yang dimaksud dengan zikr disini adalah selalu ingat kepada
Allah (zikr Allah) kapan saja dan
dimana saja berada tanpa dipengaruhi oleh tempat, waktu dan keadaan.
Allah memerintahkan kepada manusia
supaya selalu zikr Allah dalam
seluruh keadaan manusia. Firman Allah SWT:
Artinya:
“ (yaitu) orang-orang yang mengingat
Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka
memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan
kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka
peliharalah kami dari siksa neraka. (191) ” (QS Ali Imran 3: 191 )
Ayat di atas menjelaskan bahwa proses
penanaman iman ialah proses menjadikan qalb
dalam kondisi dzikrullah terus
menerus.
C.
Sumber
Perbedaan Individual
Sumber perbedaan individu dipengaruhi
oleh dua faktor. Faktor-faktor tersebut adalah faktor bawaan dan faktor
lingkungan.[16]
1.
Faktor Bawaan
Faktor bawaan merupakan faktor-faktor
biologis yang diturunkan melalui pewarisan genetik oleh orangtua. Pewarisan
genetik ini dimulai saat terjadinya pembuahan. Menurut Zimbardo dan Gerig
penyatuan antara sebuah sperma dan sebuah sel telur hanya menghasilkan satu
diantara milyaran kemungkinan kombinasi gen. Salah satu kromosom yaitu kromosom
sex merupakan pembawa kode gen untuk perkembangan karakteristik fisik laki-laki
atau perempuan. Kode untuk kita mendapatkan kromosom X dari ibu, dan salah satu
dari kromosom X atau Y dari ayah.
Kombinasi XX merupakan kode untuk perkembangan fisik perempuan, dan kombinasi
XY merupakan kode untuk perkembangan fisik laki-laki. Meskipun rata-rata kita
memiliki 50 persen gen yang sama dengan saudara kita, kumpulan gen kita tetap
khas kecuali kita adalah kembar identik. Perbedaan gen ini merupakan satu
alasan mengapa kita berbeda dengan orang lain, baik secara fisik, psikologis,
maupun perilaku, bahkan dengan saudara kita sendiri. Selebihnya adalah
dipengaruhi oleh lingkungan, karena kita pernah berada di lingkungan yang sama
persis.
2. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan adalah faktor yang
mengakibatkan perbedaan individu yang berasal dari luar diri individu. Faktor lingkungan
berasal dari beberapa macam yaitu status sosial ekonomi orang tua, pola asuh
orang tua, budaya, dan urutan kelahiran.
a.
Status sosial ekonomi orang tua
Meliputi tingkat pendidikan orang tua,
pekerjaan orang tua, dan penghasilan orang tua. Tingkat orang tua berbeda satu
dengan lainnya. Meskipun tidak mutlak tingkat pendidikan ini dapat mempengaruhi
sikap orang tua terhadap pendidikan anak serta tingkat aspirasinya terhadap
pendidikan anak. Demikian juga dengan pekerjaan dan penghasilan orang tua yang
berbeda-beda. Perbedaan ini akan membawa implikasi pada berbedanya aspirasi
orang tua terhadap pendidikan anak, aspirasi anak terhadap pendidikannya,
fasilitas yang diberikan pada anak dan mungkin waktu disediakan untuk mendidik
anak-anaknya. Demikian juga perbedaan status ekonomi dapat membawa implikasi
salah satunya pada perbedaan pola gizi yang diterapkan dalam keluarga.
b.
Pola asuh
orangtua
Merupakan pola perilaku yang digunakan
untuk berhubungan dengan anak-anak. Pola asuh yang diterapkan tiap keluarga
berbeda dengan keluarga lainnya. Terdapat tiga pola asuh dalam pengasuhan anak
yaitu otoriter, permisif, dan autoritatif. Pola asuh otoriter adalah bentuk
pola asuh yang menekankan pada pengawasan orangtua kepada anak untuk
mendapatkan ketaatan atau keputuhan. Orangtua bersikap tegas, suka menghukum,
dan cenderung mengekang anak. Pola asuh permisif adalah pola asuh dimana
orangtua memberi kebebasan sebanyak mungkin kepada anak untuk mengatur dirinya,
dan anak tidak dituntut untuk bertanggung jawab dan tidak banyak dikontrol oleh
orangtua. Sedangkan pola asuh autoritatif adalah pola asuh dimana orangtua
memberikan hak dan kewajiban yang sama dalam arti saling melengkapi, anak
dilatih untuk bertanggung jawab, dan menentukan perilakunya sendiri agar dapat
berdisiplin.
c.
Budaya
Merupakan pikiran, akal budi, hasil
karya manusia, atau dapat juga didefinisikan sebagai adat istiadat. Adanya
nilai-nilai dalam masyarkat memberitahu pada anggotanya tentang apa yang baik
dan atau penting dalam masyarakatnya. Nilai-nilai tersebut terjabarkan dalam
suatu norma-norma. Norma masing-masing masyarakat berbeda, maka perilaku yang
muncul dari anggota masing-masing masyarakat berbeda satu dengan lainnya.
d.
Urutan kelahiran
Walaupun masih menjadi kontroversi akan
tetapi karakteristik kepribadian seseorang dipengaruhi oleh urutan kelahiran.
Anak yang lahir sulung atau anak pertama cenderung lebih teliti, mempunyai
ambisi, dan agresif dibandingkan dengan adik-adiknya. Anak tengah sering
menjadi mediator dan pecinta damai. Anak bungsu cenderung paling kreatif dan
biasanya menarik. Anak tunggal atau si anak semata wayang biasanya sering
merasa terbebani dengan harapan yang tinggi dari orangtua mereka terhadap diri
mereka sendiri. Mereka lebih percaya diri, supel, dan memiliki imajinasi yang
tinggi. Karakteristik yang berbeda-beda pada individu dipengaruhi oleh perilaku
orangtuanya berdasarkan urutan kelahiran.
D.
Bidang-bidang
Perbedaan Individual Dalam Pembelajaran
Setiap anak
adalah unik. Ketika kita memperhatikan anak-anak di dalam ruang kelas, kita
akan melihat perbedaan individual yang sangat banyak. Bahkan anak latar
belakang usia hampir sama, akan memperlihatkan penampilan, kemampuan
temperamen, minat dan sikap yang sangat beragam.Dalam kajian psikologi, masalah
individu mendapat perhatian yang besar, sehingga melahirkan suatu cabang
psikologi yang dikenal dengan Individual Psychology, atau differential
Psychology,yang memberikan perhatian besar terhadap penelitian tentang
perbedaan antar individu. Ini didasarkan atas kenyataan bahwa di dunia ini
tidak ada dua orang yang persis sama. Bahkan anak kembar sekali pun masih
ditemukan adanya beberapa dimensi perbedaan di antara keduanya.Dalam tinjauan
psikologi Islam, perbedaan individual tersebut dipandang sebagai realitas
kehidupan manusia yang sengaja diciptakan Allah untuk dijadikan bukti kebesaran
dan kesempurnaan ciptaan-Nya.
Berikut adalah
beberapa perbedaan pada individu tinjauan psikologi.
1.
Perbedaan
Kognitif
Menurut Bloom,
proses belajar, baik di sekolah maupun di luar sekolah menghasilkan tiga
pembentukan kemampuan yang dikenal sebagai taxonomi Bloom, yaitu kemampuan
kognitif, afektif dan psikomotorik. Kemampuan kognitif merupakan kemampuan yang
berkaitan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada dasarnya
kemampuan kognitif merupakan hasil belajar.Hasil belajar dalam hal ini
merupakan perpaduan antara pembawaan dengan pengaruh lingkungan. Proses
pembelajaran adalah upaya menciptakan lingkungan yang bernilai positif, diatur
dan direncanakan untuk mengembangkan faktor dasar yang dimiliki oleh anak.
2.
Perbedaan dalam
Kecakapan Bahasa
Bahasa adalah
salah satu kemampuan individu yang penting sekali dalam kehidupannya.Kemampuam
berbahasa merupakan kemampuan individu untuk menyatakan buah pikirannya dalam
bentuk ungkapan kata dan kalimat yang bermakna, logis, dan sistematis.Kemampuan
berbahasa setiap individu berbeda.Kemampuan ini sangat dipengaruhi oleh faktor
kecerdasan dan faktor lingkungan termasuk faktor fisik (organ untuk bicara).
3.
Perbedaan dalam
Kecakapan Motorik
Kecakapan
motorik atau kemampuan psikomotorik merupakan kemampuan untuk melakukan
koordinasi kerja syaraf motorik yang dilakukan oleh syaraf pusat (otak) untuk
melakukan kegiatan.Kegiatan ini terjadi karena kegiatan kerja syaraf yang
sistematis. Alat indra menerima rangsangan, rangsangan tersebut diteruskan
melalui syaraf sensoris ke syaraf pusat (otak) untuk diolah, dan hasilnya
dibawa oleh syaraf motorik untuk memberikan reaksi dalam bentuk gerakan-
gerakan atau kegiatan.
4.
Perbedaan dalam
Latar Belakang
Latar belakang
individu dapat dipengaruhi oleh faktor dalam dan luar. Faktor dari dalam
misalnya, kecerdasan, kemauan, bakat, minat, emosi, perhatian, kebiasaan
bekerja sama, dan kesehatan yang mendukung belajar. Anak-anak juga
berbeda diapandang dari segi latar belakang budaya dan etnis.Motivasi untuk
belajar berbeda antara budaya yang satu dengan budaya yang lainnya.Perbedaan
latar belakang, yang meliputi perbedaan sisio-ekonomi sosio cultural, amat
penting artinya bagi perkembangan anak. Akibatnya anak-anak pada umur yang sama
tidak selalu berada pada tingkat kesiapan yang sama dalam menerima pengaruh
dari luar yang lebih luas.
5.
Perbedaan dalam
Bakat
Menurut M. Ngalim Purwanto dalam
bukunya Psikologi Pendidikan disebutkan bahwa kata bakat lebih dekat pengertiannya
dengan kata aptitude yang berarti kecakapan pembawaan, yaitu yang mengenai
kesanggupan-kesanggupan (potensi-potensi) yang tertentu.[17]
Misalnya seseorang yang mempunyai bakat numerical yang baik, bila diberi
latihan-latihan akuntansi keuangan, akan mudah untuk menguasai masalah
akuntansi, begitu pula sebaliknya.
6.
Perbedaan dalam Kesiapan Belajar
Belajar
adalah sebuah proses yang berkesinambungan dari sebuah pengalaman yang akan
membuat suatu individu berubah dari tidak tahu menjadi tahu (kognitif), dari
tidak mau menjadi mau (afektif) dan dari tidak bisa menjadi bisa
(psikomotorik), misalnya seseorang anak yang belajar mengendarai sepeda akan
terlebih dahulu diberi pengarahan oleh orang tuanya lalu anak tersebut mencoba
untuk mengendarai sepeda hingga menjadi bisa.
Proses
belajar dipengaruhi kesiapan murid, yang dimaksud dengan kesiapan ialah kondisi
individu yang memungkinkan ia dapat belajar. Berkenaan dengan hal itu terdapat
berbagai macam taraf kesiapan belajar untuk suatu tugas khusus. Seseorang siswa
yang belum siap untuk melaksanakan suatu tugas dalam belajar akan mengalami
kesulitan atau malah putus asa. Yang termasuk kesiapan ini ialah kematangan dan
pertumbuhan fisik, intelegensi latar belakang pengalaman, hasil belajar yang
baku, motivasi, persepsi dan faktor-faktor lain yang memungkinkan seseorang
dapat belajar. Sedangkan Proses kematangan dan belajar akan sangat menentukan
kesiapan belajar pada seseorang, misalnya seseorang yang proses kematangan dan
belajarnya baik akan memiliki kesiapan belajar yang jauh lebih baik dengan
seseorang yang proses kematangan dan belajarnya buruk. Perbedaan kesiapan
individu tidak saja disebabkan oleh keragaman dalam rentang kematangan tetapi
juga oleh keragaman dalam latar belakang sebelumnya.
Kondisi
fisik yang sehat dalam kaitanya dengan kesehatan dan penyesuaian diri yang
memuaskan terhadap pengalaman-pengalaman disertai dengan rasa ingin tahu yang
amat besar terhadap orang-orang dan benda-benda membantu perkembangan berbahasa
dan belajar yang diharapkan. Sikap apatis, pemalu dan kurang percaya diri
akibat dari kesehatan yang kurang baik, cacat tubuh dan latar belakang yang
miskin pengalaman, mempengaruhi perkembangan pemahaman dan ekspresi diri.
E.
Perbedaan Individual Menurut Alquran
Perbedaan
individual merupakan kehendak Allah dan ditentukan melalui pembawaan hereditas
dan lingkungan.
Artinya:
“
Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku
supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara
kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya
Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (13)”
(Q.S Al
Hujuraat 49: 13)
Al
Quran menyatakan bahwa Allah menciptakan dan membentuk manusia dalam rahim
ibunya dengan cara dan bentuk yang berbeda dan unik seperti yang diinginkanNya:[18]
Artinya:
“Hai manusia, apakah yang memperdaya
kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah?(6). Yang telah
menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan
tubuh)mu seimbang(7). Dalam bentuk apa
saja yang dia kehendaki, dia menyusun tubuhmu.(8)” (QS Al-Infithaar 82: 6-8)
Artinya:
“Dia yang membentuk kamu dalam Rahim
sebagaimana dikehendaki-Nya. Tak Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi
Maha Bijaksana.(6)”
(QS Al-Imran 3: 6)
Lebih
lanjut dan dalam pernyataan yang jelas, Alquran menyatakan manusia berbeda-beda
satu sama lainnya dalam sifat, karakter, perilaku dan perbuatan:
Artinya:
“Katakanlah! Tiap-tiap orang berbuat
menurut keadaanya masing-masing. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih
benar jalannya.(84)”
(QS Al-Israa 17: 84)
Ayat
ini menyatakan bahwa manusia memiliki disposisi yang unik. Keunikan yang
demikian dapat termanisfestasikan dalam bentuk fisik, kognitif, emosional,
moral, dan karakteristik sosial. Alquran dengan demikian menyatakan bahwa
perbedaan antarindividual tidak hanya meliputi perkembangan kognitif, namun
juga seluruh aspek perkembangan. Dengan melihat hal ini, orang akan melihat
bahwa perbedaan individu merupakan hal yang sangat diperhatikan bahkan dalam
berbagai perintah dan larangan Alquran untuk mentaati Allah dan juga keringanan dalam memenuhi
kewajiban terhadap-Nya.
Artinya:
“
Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada
keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi
dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". dan mereka bertanya kepadamu
apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " yang lebih dari keperluan."
Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir.
(219)” (Q.S Al-Baqarah 2: 219)
Artinya:
“
Katakanlah: "Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya
yang buruk itu menarik hatimu, Maka bertakwalah kepada Allah Hai orang-orang
berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.(100) ” (Q.S Al-Maa’idah 5: 100)
Potensi
kognitif juga terdapat pada ayat berikut:
Artinya:
“Maka
barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran daripadanya (Al
Quran).(55)” (Q.S
Al-Muddatstsir 74: 55)
Potensi
emosional:
Artinya:
“Kecuali
orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. (89) “ ( Q.S Asy Syu’araa 26: 89)
Artinya:
“
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan
mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi
tenteram. (28) “ (Q.S Ar Ra’d
13: 28)
Artinya:
“Dan
(ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia
menyangka bahwa kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), Maka ia
menyeru dalam keadaan yang sangat gelap ‘Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau.
Maha Suci Engkau, Sesungguhnya Aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.’
(87) " (Q.S
Al Anbiyaa 21: 87)
Potensi
Moral:
Artinya:
“
Dan Katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: "Hendaklah mereka mengucapkan
perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan
perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata
bagi manusia. (53) “ (Q.S
Al Israa 17: 53)
Karakteristik
sosial:
Artinya:
“Dan
sungguh Allah Telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa
apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh
orang-orang kafir), Maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka
memasuki pembicaraan yang lain. Karena Sesungguhnya (kalau kamu berbuat
demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan
mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam,
(140) “ (Q.S An Nisaa’ 4: 140)
Contoh
tipikal dari ayat ini adalah perintah untuk memenuhi peraturan Allah
semampu mungkin, baik secara individu
maupun kolektif:
Artinya:
“Maka
bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu, dan dengarlah serta
taatlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu.(16)“ (QS
Al-Thaghaabun 64: 16)
Makna
ini juga terkandung juga dalam ayat berikut:
Artinya:
“Allah tidak membebani seseorang
melainkan dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikannya) yang
diusahakannya dan
ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.(mereka berdoa): "Ya
Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya
Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana
Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah
Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. beri ma'aflah
Kami; ampunilah Kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, Maka
tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.(286)” (QS Al-Baqarah 2: 286)
Menurut
Ibn Katsir, Allah menerangkan dalam ayat berikut bahwa Dia menciptakan
keragaman pada makhluk-makhlukNya, termasuk manusia dalam hal kekayaan,
intelektual, pemahaman, dan kemampuan lain yang bersifat internal dan
eksternal:
Artinya:
“ Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat
Tuhanmu? kami Telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan
dunia, dan kami telah
meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar
sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain.(32)” (QS Al-Zukhruf 43: 32)
Dalam sebuah hadis rasulullah Saw:
حَدَّ ثَنَاعَمْرٌو
النَّا قِدُ حَدَّ ثَنَا كَثِيرُ بْنُ هِشَا مٍ حَدَّ ثَنَا جَعْفَرُ بْنُ بُرْقَا
نَ عَنْ يَزِيدَ بْنِ الأَصَمِّ عَنْ أَ بِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم – إِ نَّ
الله لاَ يَنْظُرُ إِلىَ صُوَرِكُمْ وَ أَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُو
بِكُمْ وَأَعْمَا لِكُمْ (رواه مسلم)
Artinya:
“Telah
menceritakan kepada kami ‘Amr an-Naqid telah menceritakan kepada kami Katsir
bin Hisyam telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Burqon dari Yazid bin
al-‘Ashom dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah Saw. Bersabda: ‘Sesungguhnya
Allah Tidak memandang bentuk tubuhmu dan hartamu, tetapi Dia memandang pada
hati dan perbuatanmu’” (H.R Muslim)
Jelas pada
hadis di atas bahwa dalam terdapat perbedaan individual baik itu bentuk tubuh
atau besar kecil nya harta, hanya saja Allah tidak memandang itu dan hanya
menilai manusia berdasarkan ketaqwaannya. Ketaqwaan yang di maksud yakni
didasari oleh hati dan perbuatan masing-masing invidu. Di sini juga tersirat
bahwasanya masing-masing individu memiliki hati dan perbuatan yang berbeda-beda
pula.
Juga hadis
berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى
الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
كَمَثَلِ الْبَهِيْمَةِ تُنْتَجُ الْبَهِيْمَةَ، هَلْ تَرَى فِيْهَا جَدْعَاءَ
رواه البخارى ومسلم وأبوداود والترمذى والنسائى ومالك وغيره
Artinya:
“Abu Hurairah RA
meriwayatkan bahwa nabi SAW bersabda:”Setiap anak dilahirkan menurut fitrah
(potensi beragama islam), Selanjutnya, kedua orang tuanyalah yang membelokannya
menjadi yahudi, Nasrani, atau Majusi bagaikan binatang melahirkan binatang,
apakah kamu melihat kekurangan padanya?” (HR. Imam bukhari dan Imam Muslim, Abu Dawud, tirmidzi,
Nasa’I, Malik)
Dari hadits di atas ada dua hal yang
dapat di pahami yaitu, pertama: setiap manusia yang lahir memiliki
potensi, menjadi orang jahat dan potensi yang lainnya. Kedua: potensi
tersebut dapat dipengaruhi oleh lingkungan terutama orang tua, karena mereka lah yang pertama yang sangat berperan
dalam menjadikan anaknya menjadi yahudi, nasrani, dan majusi.
Konsep hadits tersebt sesuai dengan teori konvergensi pada
perkembangannya dipengaruhi oleh keturunan dan lingkungan. Yaitu setiap anak
yang lahir akan dipengaruhi oleh faktor keturunannya, contoh anak yang terlahir dari keluraga
yang baik-baik tentunya dia akan menjadi anak yang baik serta dipengaruhi oleh
lingkungannya. Hanya saja dalam konsep hadits di atas secara umum manusia lahir
memiliki potensi yang sama. Maka dari itu
sebagai orang tua wajib baginya untuk memilihkan lingkungan yang baik
agar anak dapat berkembang ke arah yang baik.
F.
Aplikasi
Perbedaan Individu Dalam Pembelajaran
1. Menggunakan pendekatan pembelajaran
fleksibel disertai penggunaan multimedia dan multimetode
2. Memahami pilihan
gaya belajar siswa kemudian menyediakan lingkungan belajar yang mendukung gaya
belajar mereka.
3. Memberikan pengalaman-pengalaman
belajar yang menggabungkan pilihan cara belajar siswa, menggunakan metode
mangajar, insentif, alat, dan situasi yang direncanakan sesuai dengan pilihan
siswa
4. Gunakan
kombinasi cooperative learning, pembelajaran individual, dan pembelajaran
kelompok, atau antara aktifitas-aktifitas belajar yang berpusat pada guru
dengan pembelajaran yang berpusat pada siswa.
5.
Berikan waktu
yang cukup untuk memproses dan memahami informasi.
6.
Gunakan
alat-alat multi sensory untuk memproses, mempraktekkan dan memperoleh
informasi.
F.
Prinsip¬prinsip dasar
pendidikan Islam
1.
Universal
Pendidikan Islam bersifat universal
(menyeluruh) dalam pandangan penumpuan, dan tafsirannya terhadap alam
semesta.Ia menekankan pandangan yang universal antara jasmani dan rohani,
antara jiwa dan raga, antara individu dan masyarakat, dan antara dunia dan
akhirat.
Pendidikan Islam dengan ciri ini,
membuka, mengembangkan, dan mendidik segala aspek pribadi, kemampuan-kemampuan,
dan potensi-potensi manusia serta mengembangkan segala isi kehidupan dalam
masyarakat dan meningkatkan kondisi budaya, sosial, ekonomi, dan politik, serta
ikut berperan serta dalam menyelesaikan masalah-masalah yang di hadapi
masyarakat saat ini dan mempersiapkan mereka untuk menghadapi tuntutan masa
depan. Dengan demikian pendidikan Islam mencakup pengembanan
individual dan sosial secara menyeluruh.
2.
Keseimbangan
Pendidikan Islam mewujudkan
keseimbangan antara aspek-aspek pertumbuhan yang ada dalam individu dan
masyarakat, yang artinya pendidikan Islam juga mewujudkan keseimbangan antara
menjaga kebudayaan masa silam, tuntutan masa kini dan kebutuhan masa silam,
tanpa mengutamakan salah satu di antaranya. Artinya pendidikan Islam tidak
hanya mengungkit kejayaan masa lalu tanpa menghiraukan permasalahan yang meliputi
masyarakat muslim sekarang ini, dan juga tidak hanya memenuhui tuntutan
perkembangan sosial dan budaya masyarakat pada saat ini, tanpa mempertimbangkan
akibat-akibat yang muncul di masa yang akan datang, dan demikin seterusnya. Keseimbangan ini diartikan sebagai
keseimbangan antara berbagai aspek kehidupan.[19]
Rasul diutus Allah untuk mengajar dan
mendidik manusia agar mereka dapat meraih kebahagiaan kedua alam
itu.implikasinya pendidikan harus senantiasa diarahkan untuk mencapai
kebahagiaan dunia dan akhirat. hal ini senada dengan Firman Allah SWT:
Artinya:
“Dan carilah
pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat,
dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat
baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan
janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.(77)” (Al-Qashas 28: 77)
Dalam dunia pendidikan, khususunya
dalam pembelajaran, pendidik harus memperhatikan keseimbangan dengan
menggunakan pendekatan yang relevan.selain mentrasfer ilmu pengetahuan,
pendidik perlu mengkondisikan secara bijak dan profesional agar peserta didik
dapat mengaplikasikan ilmu yang telah didapat di dalam maupun di luar kelas.
3.
Kesederhanaan
Dalam prinsip ini pendidikan Islam
bermakna mewujudkan keseimbangan antara aspek-aspek pertumbuhan anak dan
kebutuhan-kebutuhan individu, baik masa kini maupun masa mendatang, secara
sederhana yang berapiliasi sesuai dengan semangat fitrah yang sehat.
4.
Kejelasan
Pendidikan Islam sebagai mana layaknya
ajaran Islam yang jelas, juga memiliki konsep-konsep yang jelas, baik dari segi
metode, kurikulum, sistem, dan aspek-aspek lain dalam pendidikan. Kejelasan akan berpengaruh pada operasional Pendidikan Islam, sehingga tujuan
Pendidikan Islam dapat tercapai.
5.
Tidak bertentangan individual
Perbedaan individual antara seorang
manusia dengan orang lain dikemukakan oleh Al-Qur’an dan hadist. Sebagai
contoh:
Artinya:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan
langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya
pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang
mengetahui.(21)”
(QS. Ar-Rum 30: 21)
Perbedaan-perbedaan yang dimiliki
manusia melahirkan perbedaan tingkah laku karena setiap orang akan berbuat
sesuai dengan keadaanya masing-masing. Menurut Asy-Syaibani yang dikutip oleh
Prof. Dr. H. Ramayulis menjelaskan bahwa pendidikan Islam sepanjang sejarahnya
telah memlihara perbedaan individual yang dimilki oleh peserta didik.
6.
Dinamis
Pendidikan Islam menganut prinsip
dinamis yang tidak beku dalam tujuan-tujuan, kurikulum dan metode-metodenya,
tetapi berupaya untuk selalu memperbaharuhi diri dan berkembang sesuai dengan
perkembangan zaman.Pendidikan Islam seyogyanya mampu memberikan respon terhadap
kebutuhan-kebutuhan zaman dan tempat dan tuntutan perkembangan dan perubahan
sosial. Hal ini sesuai dengan prinsip-prinsip pendidikan Islam yang memotivasi
untuk hidup dinamis.[20]
BAB III
PENUTUP
Simpulan
Karakteristik
individual adalah keseluruhan kelakuan dan kemampuan yang ada pada individu
sebagai hasil dari pembawaan dan lingkungan.
Setiap individu memiliki ciri, sifat bawaan dan karakteristik yang berbeda-beda. Perbedaan
individu yang berbeda-beda tersebut perlu di beri penanganan dari guru sebagai
pembimbing dalam rangka upaya pembelajaran. Oleh karena itu sebagai seorang
guru hendaknya mampu memahami karakteristik maupun sifat-sifat dari
masing-masing individu atau siswanya.
Menurut
Khodijah keberagaman karakteristik yang dimiliki siswa menjadi faktor pendukung
dan sekaligus menjadi penghambat dalam kegiatan belajar mengajar, yaitu: Karakteristik
Biologis, Karakteristik Psikologis, Karakteristik Intelegensi, Karakteristik
Bakat
Sumber
perbedaan individu dipengaruhi oleh dua faktor. Faktor-faktor tersebut adalah
faktor bawaan dan faktor lingkungan.Faktor
lingkungan berasal dari beberapa macam yaitu status sosial ekonomi orang tua,
pola asuh orang tua, budaya, dan urutan kelahiran.
Menurut tinjauan psikologi
berikut ada beberapa perbedaan pada individu,
yaitu: perbedaan
kognitif , perbedaan dalam kecakapan bahasa , perbedaan dalam kecakapan motorik, perbedaan dalam latar belakang, perbedaan dalam bakat
Sedangkan perbedaan individual menurut alquran merupakan
kehendak Allah dan ditentukan melalui pembawaan hereditas dan lingkungan.
Alquran menyatakan bahwa Allah menciptakan dan membentuk manusia dalam rahim
ibunya dengan cara dan bentuk yang berbedan dan unik seperti yang diinginkanNya
Prinsip¬prinsip dasar pendidikan Islam itu meliputi: Universal, Keseimbangan, Kesederhanaan, Kejelasan,
Tidak bertentangan individual, Dinamis.
DAFTAR PUSTAKA
Al Qur’an Al Kariim
Al Ghazali, Ihya Ulum al Din, Beirut: Dar at Fikr,
tt
Armai, Arief, Pengantar
Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Press, 2002.
Desmita, Psikologi
Perkembangan Peserta Didik, Bandung, Remaja
Rosdakarya, 2009.
Hasan, Purwakania,
B., Aliah. Psikologi Perkembangan Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada,
2006
Khodijah, Nyayu. . Psikologi
Pendidikan. Palembang: Grafika Telindo Press.2011
Ma’an Ziyadat, al-Mansu’al al-Falsafiah al-Arabiya, Arab:
Inma al Arabiy, 1986
Mujib, Abdul, Jusuf Mudzakkir, Ilmu
Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana Pernada Media, 2006.
Purwanto, Ngalim. Psikologi
Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007.
Ramayulis, Psikologi Agama, Jakarta: Kalam Mulia,
2008
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam
Mulia, 2002
Ramayulis dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta:
Kalam Mulia, 2009.
Sunarto dan B.Agung Hartono .Perkembangan
Peserta Didik, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2008
[1]Desmita,
Psikologi Perkembangan Peserta Didik (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009),
h. 56
[2]Sunarto
dan B.Agung Hartono . .Perkembangan Peserta Didik (Jakarta: PT. Rineka
Cipta, 2008), h.3
[3] Khodijah, Psikologi Pendidikan. (Palembang:
Grafika Telindo Press, 2011), h.182
[4] Ibid, h. 183
[5] Ibid, h. 101
[6] Ibid, h. 185-186
[7] Al Ghazali, Ihya Ulum al Din, (Beirut: Dar at Fikr, tt) h.295
[8] Ramayulis, Psikologi Agama, (Jakarta: Kalam Mulia, 2008), h.155
[9] Ibid
[10] Ma’an Ziyadat, al-Mansu’al al-Falsafiah al-Arabiya (Arab: Inma al Arabiy, 1986),
h.596
[11] Ramayulis, Op cit. h.160
[12] Manshur Ali Rajab, Ta’ammulat fi Falsafat al Akhlak, (Mesir: Maktabat al Anjalu
al-Mishr, 1961), h.13
[13] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), h.514
[14] Ibid
[17]
Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2007). h.25
[18]
Hasan, Purwakania, B., Aliah. Psikologi Perkembangan
Islami, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006 )
[19]Abdul
Mujib, Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan
Islam, (Jakarta : Kencana Pernada Media, 2006), hal. 73



Tidak ada komentar:
Posting Komentar