TUGAS
TERSTUKTUR DOSEN PENGASUH
MODEL-MODEL PEMBELAJARAN Dr. H. Ridhahani Fidzi, M.Pd
MODEL PEMBELAJARAN MANDIRI
Di Susun Oleh :
SRI WAHYUNITA NIM. 1502521475
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGRI ANTASARI
PROGRAM
PASCASARJANA
PRODI
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
2016
BAB I
PENDAHULUAN
Guru adalah jabatan profesional yang melibatkan kegiatan intelektual sehingga
secara langsung atau tidak langsung bertanggung jawab untuk mengantarkan
siswanya untuk mencapai kedewasaan sebagai calon pemimpin bangsa pada semua
bidang kehidupan. Peranan guru semakin penting di era global, di katakan
seperti itu karena melalui bimbingan guru, seorang siswa dapat menjadi sumber daya yang berkualitas,
kompetitif, dan produktif sebagai aset nasional dalam menghadapi persaingan
yang makin ketat dan berat, sekarang dan di masa datang.
Sebagai guru yang profesional,
hendaknya seorang guru tidak hanya memiliki pengetahuan pedagogik, tetapi juga memiliki berbagai strategi dan variasi dalam mendidik serta mengarahkan siswa-siswinya, agar dalam kegiatan belajar-mengajar tercipta
kualitas pembelajaran yang maksimal untuk peserta didik.
Kita ketahui bahwa suatu kegiatan
pembelajaran di kelas adalah inti dari penyelenggaraan pendidikan yang di
tandai oleh adanya kegiatan pengelolaan kelas, penggunaan media dan sumber
belajar, dan penggunaan metode dan strategi pembelajaran. Semua tugas tersebut
merupakan tugas dan tanggung jawab guru yang secara optimal dalam
pelaksanaannya menuntut kemampuan guru.
Peserta didik adalah individu yang
unit, heterogen dan memiliki interes yang berbeda-beda. Siswa ada yang memiliki
kecenderungan auditif, yaitu senang mendengarkan, visual, senang melihat dan
kecenderungan kinestetik, yaitu senang melakukan. Karena itulah guru harus
memiliki kemampuan mengadakan variasi dalam kegiatan pembelajaran. Penggunaan
multisumber, multimedia, multimetode, multistrategi, dan multimodel.
Selain itu, kemampuan menciptakan
suasana kondusif dikelas guna mewujudkan proses pembelajaran yang menyenangkan
adalah tuntutan bagi seorang guru profesional dalam pengelolaan kelas.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Pembelajaran Mandiri
Pembelajaran mandiri atau biasa disebut dengan at
self
directed learning (SDL) dapat diartikan
sebagai mata proses, dimana individu mengambil inisiatif dengan atau
tanpa bantuan orang lain. Kegiatan yang dilakukan oleh individu tersebut adalah
mencakup mendiagnosis kebutuhan belajar, merumuskan tujuan belajar,
mengidentifikasi sumber belajar, memilih dan melaksanakan strategi
belajar dan menilai hasil belajar. Individu sendiri yang merencanakan, melaksanakan dan menilai sendiri
terhadap pengalaman belajar yang telah dijalani, dilakukan semuanya oleh
individu yang bersangkutan. Peran pengajar dalam metode ini hanya bertindak
sebagai fasilitator, yang memberi arahan, bimbingan dan konfirmasi terhadap
kemajuan belajar yang telah dilakukan individu tersebut. Jadi perubahan
paradigma dalam proses pembelajaran yang tadinya berpusat pada pengajar menjadi
pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa (Student Centered
Learning) diharapkan dapat mendorong mahasiswa untuk terlibat secara aktif
dalam proses pembelajaran. Dalam proses SCL, maka mahasiswa memperoleh
kesempatan dan fasilitas untuk belajar secara mandiri , dan pada akhirnya dapat meningkatkan mutu kualitas
mahasiswa. Pembelajaran yang inovatif dengan metode Student Centered Learning
ini memiliki keragaman model pembelajaran yang menuntut
partisipasi aktif dari mahasiswa.
Metode-metode tersebut diantaranya adalah:
1.
Berbagi informasi (Information
Sharing) dengan cara, curah gagasan (brainstorming), kooperatif,
kolaboratif, diskusi kelompok (group discussion), diskusi
panel (panel discussion), simposium, dan seminar
2.
Belajar dari pengalaman (Experience Based)
dengan cara simulasi, bermain peran (roleplay), permainan (game), dan
kelompok temu
3.
Pembelajaran melalui Pemecahan Masalah (Problem
Solving Based) dengan cara: Studi kasus, tutorial, dan lokakarya.
Menurut
Knowles (1975), belajar mandiri lebih ditekankan pada orang dewasa dengan asumsi
semakin dewasa peserta didik maka:
1. Konsep dirinya semakin berubah dari sikap
ketergantungan terhadap pendidik kepada sikap mengarahkan diri dan saling
belajar diantara mereka.
2. Semakin bertambah pula pengalaman belajar
mereka yang dapat dijadikan sumber belajar, sedangkan orientasi belajar berubah
dari penguasaan materi kearah pemecahan masalah.
3. Kesiapan
belajarnya semakin dirasakan untuk menguasai tugas-tugas yang berkaitan dengan
peranan mereka dalam kehidupan.
4. Perspektif waktunya semakin
berorientasi pada penggunaan hasil belajar yang dapat segera dimanfaatkan dalam
kehidupan.
5. Makin diperlukan
keterlibatan mereka dalam perencanaan, diagnosis kebutuhan, penentuan tujuan
belajar, dan evaluasi proses serta hasil belajar.
Belajar mandiri sangat penting untuk perkembangan
seseorang karena manfaat dari metode ini adalah menyadarkan dan memberdayakan mahasiswa,
bahwa belajar adalah tanggung jawab mereka sendiri. Selain itu cara belajar ini
sejalan dengan proses alamiah perkembangan jiwa seseorang. Seorang mahasiswa didorong
untuk bertanggung jawab terhadap semua fikiran dan tindakan yang dilakukannya.
Untuk dapat menerapkan metode ini, sebelumnya kita harus dapat memenuhi asumsi
bahwa kemampuan seorang pelajar semestinya bergeser dari orang yang tergantung
pada orang lain menjadi individu yang mampu belajar mandiri.
Metode ini dianggap lebih sesuai dengan kondisi eksternal
masa kini yang menjadi tantangan bagi mahasiswa untuk mampu mengambil keputusan
secara efektif terhadap problematika yang dihadapinya. Melalui penerapan SCL
mahasiswa harus berpartisipasi secara aktif, selalu ditantang untuk memiliki
daya kritis, mampu menganalisis dan dapat memecahkan masalah-masalahnya
sendiri. Tantangan bagi pengajar sebagai pendamping pembelajaran peserta didik,
untuk dapat menerapkan pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa perlu memahami
tentang konsep, pola pikir, filosofi, komitmen metode, dan strategi
pembelajaran. Untuk menunjang kompetensi pengajar dalam proses pembelajaran
berpusat pada mahasiswa maka diperlukan peningkatan pengetahuan, pemahaman,
keahlian, dan ketrampilan pengajar sebagai fasilitator dalam pembelajaran
berpusat pada mahasiswa. Peran pengajar dalam pembelajar berpusat pada
mahasiswa bergeser dari semula menjadi pengajar(teacher) menjadi fasilitator. Fasilitator adalah orang
yang memberikan fasilitasi. Dalam hal ini adalah memfasiltasi proses
pembelajaran mahasiswa. Pengajar menjadi mitra pembelajaran yang berfungsi
sebagai pendamping (guide on the side) bagi mahasiswa. Untuk menjadi fasilitator, selain persiapan
pengetahuan, latihan-latihan, juga perlu pengalaman. Melalui pengalaman dan praktek menjadi fasilitator maka akan diperoleh tambahan
bekal yang semakin banyak sehingga kita akan dapat menemukan sendiri cara yang
tepat, efektif, dan efisien dalam memfasilitasi proses pembelajaran. Seperti menurut Stewart,
Keagen dan Holmberg (Juhari,1990) belajar mandiri pada dasarnya sangat
dipengaruhi oleh pandangan bahwa setiap individu berhak mendapat kesempatan
yang sama dalam pendidikan. Proses pembelajaran hendaknya diupayakan agar dapat
memberikan kebebasan dan kemandirian kepada pembelajar dalam proses belajarnya.
Pembelajar bebas secara mandiri untuk menentukan atau memilih
materi pembelajaran yang akan dipelajari dan bagaimana cara
mempelajarinya. Jika dalam pembelajar konvensional lebih banyak berkomunikasi
dengan manusia yaitu pengajar atau pembelajar lainnya. Sedangkan dalam
pembelajaran jarak jauh lebih banyak berkomunikasi secara intrapersonal berupa
informasi atau materi pembelajaran dalam bentuk elektronik, cetak maupun non
cetak, seperti komputer/internet dengan surat elektronik (e-mail), atau
melalui media telepon, faksimile, jasa layanan pos, siaran radio, ataupun
siaran televisi.
Konsep belajar mandiri pada dasarnya menekankan pada kreatifitas
dan inisiatif peserta didik. Akan tetapi pada kondisi tertentu, secara
sistematik peserta didik dapat meminta bantuan/bimbingan pada pendidik, disini
peran pendidik lebih menekan kan sebagai fasilitator.
B.
Hal-Hal
yang perlu dipersiapkan dalam Student Centered Learning (SCL)
1.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kesiapan
Belajar Mandiri
Jika seorang berpikir bahwa ia sedang bersenang-senang
ketika ia sedang belajar, maka ia akan lupa bahwa ia sedang belajar dan dengan
sendirinya akan menikmati dan mendapatkan banyak manfaat (Burns, 1997).
Ungkapan ini merupakan ungkapan yang sering terlupakan oleh pendidik. Penerapan
kedisiplinan dengan cara yang salah, kurikulum standar dan sebagainya yang
membuat anak tidak memiliki pilihan sendiri tentunya tidak akan membuat peserta
didik merasa sedang bersenang-senang, karena tidak sesuai dengan apa yang
disukainya.Beberapa metode belajar yang mengacu pada belajar secara alamiah dan
mengacu pada keunikan individu yang perlu dikembangkan adalah collaborative
learning, problembased learning, portofolio, team project, resource-based
learning. Metode-metode ini menekankan pada hal-hal seperti kerjasama tim,
diskusi, jawaban-jawaban terbuka, interaktivitas, mengerjakan proyek nyata
bukan hanya menghafal, serta belajar cara untuk belajar, bukan hanya memperoleh
ilmu pengetahuan dan sebagainya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan belajar mandiri adalah:
a.
Terbuka
terhadap setiap kesempatan belajar, belajar pada dasarnya tidak dibatasi oleh
waktu, tempat atau usia. Dapat dikatak belajar itu tanpa batas ( no limit to
learn), setiap saat seseorang merasakan bahwa pengetahuan dan pengalaman
yang dimilikinya tidak lagi mampu memecahkan persoalan sehingga mendorong untuk
terus belajar.
b.
Memiliki konsep diri sebagai warga belajar
yang efektif, seseorang yang telah memiliki konsep diri berartii senantiasa
mempersepsi secara positif mengenai belajar dan selalu mengupayakan hasil
belajar yang baik.
c.
Berinisiatif dan merasa bebas dalam
belajar, inisiatif merupakan dorongan yang muncul dari diri seseorang tanpa
dipengaruhi oleh orang lain, seseorang yang memiliki inisiatif untuk belajar
tidak perlu dirangsang unutk belajar.
d.
Memiliki kecintaan terhadap belajar,
menjadikan belajar sebagai bagian dari kehidupan manusia dimulai dari timbulnya
kesadaran, keakraban, dan kecintaan terhadap belajar.
e.
Kreativitas. Kreativitas dapat dilihat dari
segi hasil, proses, karakteristik, dan sikap.Menurut Supardi (1994),
kreativitas merupakan kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru,
baik berupa gagasan maupun kerja nyata yang relatif berbeda dengan apa yang
telah ada sebelumnya.
f.
Kemampuan
menggunakan keterampilan belajar yang mendasar dan memecahkan masalah.
g.
Memiliki
orientasi dimasa depan. Seseorang yang memiliki orientasi dimasa depan akan
memandang bahwa masa depan bukan suatu yang mengandung ketidakpastian.
Ada beberapa aspek yang diperlukan dalam menentukan masa depan
yaitu:
a.
Kemampuan
membaca perubahan yang akan terjadi
b.
Kemampuan
menyeleksi alternatif yang layak
c.
Kemampuam
memilih/mengambil keputusan tentang strategi dan alternatif yang
dipilih
d.
Bersikap
positif dan optimis
e.
Menyadari
kelengkapan dan keterbatasan sumber daya yang dimilki
2. Peran
Pendidik Dalam Belajar Mandiri Sebagai Fasilitator
Dalam konsep belajar Instructor-Centered Learning,
pengajar memiliki peran utama untuk dalam proses pembelajarannya. Mahasiswa
akan menerima secara pasif materi yang diberikan dengan mencatat serta
menghafal. Dengan demikian sumber belajar utama adalah Pengajar. Dengan
menerapkan konsep SCL, sebagian beban dalam mempersiapkan serta
mengkomunikasikan materi berpindah ke mahasiswa yang harus pula berperan secara
aktif. Pengajar bukan lagi tokoh sentral yang tahu segalanya. Tidak berarti
bahwa tugas pengajar menjadi lebih ringan atau tidak lagi penting. Pengajar
tetap memainkan peran utama dalam proses belajar, tetapi bukan sebagai satu-satunya
sumber ilmu pengetahuan. Metode yang dapat diterapkan,seperti diskusi,
pembahasan masalah-masalah nyata, proyek bersama, belajar secara kooperatif ,
serta tugas-tugas mandiri, pengajar akan lebih dituntut sebagai motivator,
dinamisator dan fasilitator, yang membimbing, mendorong, serta mengarahkan
peserta didik untuk menggali persoalan, mencari sumber jawaban, menyatakan
pendapat serta membangun pengetahuan sendiri. Dalam perubahan peranan ini,
dibutuhkan kepemimpinan, kemampuan berkomunikasi serta keterbukaan dari
pendidik untuk dapat menjalin hubungan secara individu, untuk dapat mengerti
serta mengikuti perkembangan dari masing-masing peserta didik, disamping
tentunya wawasan yang luas dalam mengarahkan peserta didik ke sumber-sumber
belajar yang dapat digali. Hati dan ilmu menjadi tuntutan bagi pendidik dalam
menerapkan konsep SCL.
Menurut Rogers (1961), dalam pembelajar mandiri, tutor berperan
sebagai fasilitator dan teman bagi peserta didik. Peran sebagai fasilitator
yang harus dilakukan oleh pendidik adalah:
a.
Mengupayakan/menciptakan
suasana/kondisi yang memungkinkan peserta didik memperoleh pengalaman belajar.
b.
Membantu
peserta didik agar lebih memahami tujuan belajarnya.
c.
Mendorong
peserta didik untuk dapat mengimplementasikan tujuan yang dicapai oleh setiap
peserta didik menjadi sesuatu yang bermakna bagi kehidupannya.
d.
Berusaha
mengorganisasi dan mencari kemudahan dalam penggunaan sumber/sarana belajar
yang tersedia untuk kepentingan peserta didik.
e.
Berusaha
menempatkan dirinya sendiri sebagai sumber belajar yang dapat dimanfaatkan oleh
peserta belajar.
f.
Dapat
merespon setiap ekspresi setiap peserta didik, pendidik harus menerimanya
secara intelektual dan bersikap empatik.
g.
Dalam
menciptakan iklim yang kondusif, pendidik mengupayakan partisipasi aktif
peserta didik.
h.
Pendidik
mengambil inisiatif dalam mengadakan urun rembuk guna membangkitkan motivasi
belajar peserta didik.
i.
Melalui
pengalaman bersama dengan peserta didik, pendidik berupaya untuk selalu siap
dalam memunjukkan ekspresinya tentang perasaan yang sangat dalam.
j.
Dalam
memfungsikan kedudukannya sebagai fasilitator, pendidik selalu berusaha
meyakini dan menerima keterbatasan yang ada pada dirinya.
Peran sebagai fasilitator sebetulnya tertuang dalam sistem
among yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara. Seorang sumber belajar
sehatusnya selalu berprinsip pada “Tut Wuri Handayani “. Dalam menjalankan
peran sebagi fasilitator, pendidik dapat membantu peserta didik dalam
mengakrabi masalah yang dihadapi peserta didik, dan berupaya agar peserta
didik dapat menemukan alternatif pemecahan masalah yang
dihadapi.
Peran lain yang harus dilakukan pendidik adalah sebagai teman.
Pendidik berusaha menempatkan dirinya sama dengan peserta didik sebagi peserta
yang mengharapkan nilai tambahan dalam kehidupannya untuk mengantisipasi
perubahan yang terjadi serta mengaktualisasikan dirinya.
C.
Model-Model
Pembelajaran Mandiri
Untuk dapat menerapkan konsep ini, dapat dilakukan
dengan menggunakan model-model seperti small group discussion,
simulation, case study, discovery learning (DL), self directed (learning (SDL),
cooperative learning (CL), collaborative learning (CBL), contextual instruction
(CI), project based learning (PJBL) dan Problem based learning an Inquiry
(PBL).
Model-model pada Student Centered Learning , antara
lain :
1.
Small Group Discussion
Diskusi merupakan salah satu elemen belajar secara
aktif dan merupakan bagian dari banyak model pembelajaran SCL yang lain,
seperti CL, CbL, PBL dan lain-lain. Di dalam kelas, kita dapat meminta para
mahasiswa untuk membuat kelompok kecil (misalnya 5 – 10 orang) untuk
mendikusikan bahan yang dapat diberikan oleh pengajar ataupun bahan yang
diperoleh sendiri oleh anggota kelompok tersebut.
Metode ini dapat digunakan ketika akan menggali ide,
menyimpulkan poin penting, mengakses tingkat skill dan
pengetahuan mahasiswa, mengkaji kembali topik di kelas sebelumnya,
membandingkan teori, isu dan interprestasi, dapat juga untuk menyelesaikan
masalah. Apa bisa dilakukan oleh mahasiswa, ketika metode ini diterapkan di
kelas. Mahasiswa akan belajar untuk menjadi pendengar yang baik, bekerjasama
untuk tugas bersama, memberikan dan menerima umpan balik yang konstruktif,
menghormati perbedaan pendapat, mendukung pendapat dengan bukti, serta
menghargai sudut pandang yang bervariasi.
2.
Simulation
Simulasi adalah model yang membawa situasi yang mirip
dengan sesungguhnya ke dalam kelas. Misalnya simulasi sebagai seorang manajer
atau pemimpin, mahasiswa diminta untuk membuat perusahaan fiktif, kemudian di
minta untuk berperan sebagai manajer atau pemimpin dalam perusahaan tersebut.
Simulasi ini dapat berbentuk permainan peran (role playing). Permainan-permainan
simulasi dan lain-lain. manfaat dari model ini adalah dapat mengubah cara
pandang (mindset) mahasiswa dengan cara mempraktekkan kemampuan
umum (dalam komunikasi verbal dan nonverbal), mempraktekkan kemampuan khusus
mempraktekkan kemampuan tim, mengembangkan kemamapuan menyelesaikan masalah,
mengembangkan kemampuan empati dan lain-lain.
3.
Discovery Learning (DL)
DL adalah metode belajar yang difokuskan pada
pemanfaatan informasi yang tersedia, baik yang diberikan pengajar maupun yang
dicari sendiri oleh mahasiswa, untuk membangun pengetahuan dengan cara belajar
mandiri. Metode ini dapat dilakukan misalnya dengan memberikan tugas kepada
mahasiswa untuk memperoleh bahan ajar dari sumber-sumber yang dapat diperoleh
melalui internet atau melalui buku, Koran, majalah dan lain sebagainya.
4.
Self Directed Learning (SDL)
SDL adalah proses belajar yang dilakukan atas
inisiatif individu mahasiswa sendiri. Mahasiswa sendiri yang merencanakan,
melaksanakan dan menilai sendiri terhadap pengalaman belajar yang telah
dijalani, dilakukan semuanya oleh individu yang bersangkutan. Peran pengajar
dalam metode ini hanya bertindak sebagai fasilitator, yang memberi arahan,
bimbingan dan konfirmasi terhadap kemajuan belajar yang telah dilakukan
individu mahasiswa tersebut. Manfaat dari metode ini adalah menyadarkan dan
memberdayakan mahasiswa, bahwa belajar adalah tanggung jawab mereka sendiri.
Individu mhasiswa didorong untuk bertanggung jawab terhdapa semua fikiran dan
tindakan yang dilakukannya. Untuk dapat menerapkan metode ini, sebelumnya kita
harus dapat memenuhi asumsi bahwa kemampuan mahasiswa semestinya bergeser dari
orang yang tergantung pada orang lain menjadi individu yang mampu belajar
mandiri.
5.
Cooperative Learning (CL)
CL merupakan model belajar berkelompok yang dirancang
oleh pengajar untuk memecahkan suatu masalah/kasus atau mengerjakan suatu
tugas. Kelompok ini terdiri dari atas beberapa orang mahasiswa yang memiliki
kemampuan akademik yang beragam. Metode ini sangat terstruktur, karena
pembentukan kelompok, materi yang dibahas, langkah-langkah diskusi serta produk
akhir yang harus dihasilkan, semuanya ditentukan dan dikontrol oleh pengajar.
Mahasiswa hanya mengikuti prosedur diskusi yang dirancang oleh Pengajar. CL
bermanfaat untuk membantu menumbuhkan dan mengasah kebiasaan belajar aktif pada
diri mahasiswa, rasa tanggungjawab individu dan kelompok mahasiswa, kemampuan
dan ketrampilan bekerjasama antar mahasiswa, dan keterampilan sosial mahasiswa.
6.
Collaborative
Learning (CbL)
CbL adalah metode belajar yang menitikberatkan pada
kerja sama antar mahasiswa yang didasarkan pada konsensus yang dibangun sendiri
oleh anggota kelompok. Masalah/tugas/kasus memang berasal dari pengajar dan
bersifat open ended, tetapi pembentukan kelompok yang
didasarkan pada minat, prosedur kerja kelompok, penentuan waktu dan tempat
diskusi/kerja kelompok, sampai dengan bagaimana hasil diskusi/kerja kelompok
ingin dinilai oleh pengajar, semuanya ditentukan melalui Konsensus bersama
antar anggota kelompok.
7.
Contextual Instruction (CI)
CI adalah konsep belajar yang membantu pengajar
mengaitkan isi mata kuliah dengan situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari dan
memotivasi mahasiswa untuk membuat keterhubungan antara pengetahuan dan
aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari sebagai anggota masyarakat, pelaku
kerja professional atau manajerial, entrepreneur,maupun investor.
Contoh: apabila kompetensi yang dituntut matakuliah
adalah mahasiswa dapat menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi proses
transaksi jual beli, maka dalam pembelajarannya, selain konsep transaksi ini
dibahas dalam kelas, juga diberikan contoh dan mendiskusikannya. Mahasiswa juga
diberi tugas dan kesempatan untuk terjun langsung di pusat-pusat perdagangan
untuk mengamati secara langsung proses transaksi jual beli tersebut, atau
bahkan terlibat langsung sebagai salah satu pelakunya, sebagai pembeli
misalnya.
8.
Project-based Learning (PjBL)
PjBL adalah model belajar yang sistematis, yang
melibatkan mahasiswa dalam belajar pengetahuan dan keterampilan melalui proses
pencarian/penggalian (inquiry) yang panjang dan terstruktur
terhadap pertanyaan yang otentik dan kompleks serta tugas dan produk yang
dirancang dengan sangat hati-hati
9.
Problem-based Learning/Inquiry (PBL/I)
PBL/I adalah belajar dengan memanfaatkan masalah an
mahasiswa harus melakukan pencarian/penggalian informasi (inquiry) untuk
dapat memecahkan masalah tersebut.Pada umumnya, terdapat empat langkah yang
perlu dilakukan mahassiwa dalam PBL/I, yaitu:
a.
Menerima masalah yang relevan dengan salah satu/beberapa
kompetensi yang dituntut mata kuliah, dari pengajarnya.
b.
Melakukan pencarian data dan infromasi yang relevan
untuk memecahkan masalah.
c.
Menata data dan mengaitkan data dengan masalah
d.
Menganalisis strategi pemecahan masalah.
Sekarang, kita sudah mendapatkan sedikit gambaran
mengenai metode-metode pembelajaran dalam SCL, selanjutnya kita dapat
mengembangkan ide kita masing-masing untuk dapat menerapkan metode-metode
tersebut di dalam kelas perkuliahan yang kita ampu. Tentu saja tidak semua
metode-metode tersebut dapat kita terapkan, tergantung juga pada mata kuliah
yang kita ajarkan. Namun demikian kita dapat menerapkan metode tersebut sesuai
dengan mata kuliah yang kita ajarkan. Diharapkan juga setelah mencoba
menggunakan salah satu metode-metode di atas kita dapat mengevaluasi hasil
sebelum dan sesudah. Apakah terdapat perubahan dalam hal penilaian mahasiswa
terhadap pengajar, penilaian pengajar terhadap mahasiswa, ataupun sikap
mahasiswa dalam menerima perkuliahan di kelas.
D. Sasaran dalam
Pembelajaran Mandiri
Menurut Wedemeyer seperti yang disajikan oleh Keegan
(1983), siswa/peserta didik yang belajar secara mandiri mempunyai kebebasan
untuk belajar tanpa harus menghadiri pelajaran yang diberikan guru/instruktur
di kelas. Siswa/peserta didik dapat mempelajari pokok bahasan atau topik
pelajaran tertentu dengan membaca buku atau melihat dan mendengarkan program
media pandang-dengar (audio visual) tanpa bantuan atau dengan bantuan
terbatas dari orang lain. Di samping itu siswa/peserta didik mempunyai otonomi
dalam belajar. Otonomi tersebut terwujud dalam beberapa kebebasan sebagai
berikut:
1.
Siswa/peserta didik mempunyai kesempatan untuk ikut
menentukan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai sesuai dengan kondisi
dan kebutuhan belajarnya.
2.
Siswa/peserta didik boleh ikut menentukan bahan
belajar yang ingin dipelajarinya dan cara mempelajarinya.
3.
Siswa/peserta didik mempunyai kebebasan untuk belajar
sesuai dengan kecepatannya sendiri.
4.
Siswa/peserta didik dapat ikut menentukan cara
evaluasi yang akan digunakan untuk menilai kemajuan belajarnya.
Kemandirian dalam belajar ini menurut Wedemeyer (1983)
perlu diberikan kepada siswa/peserta didik supaya mereka mempunyai tanggung
jawab dalam mengatur dan mendisiplinkan dirinya dan dalam mengembangkan
kemampuan belajar atas kemauan sendiri. Sikap-sikap tersebut perlu dimiliki
siswa/peserta didik karena hal tersebut merupakan ciri kedewasaan orang
terpelajar. Sejalan dengan Wedemeyer, Moore (dalam Keegan, 1983) berpendapat
bahwa ciri utama suatu proses pembelajaran mandiri ialah adanya kesempatan yang
diberikan kepada siswa/peserta didik untuk ikut menentukan tujuan, sumber, dan
evaluasi belajarnya. Karena itu, program pembelajaran mandiri dapat
diklasifikasikan berdasarkan besar kecilnya kebebasan (otonomi) yang diberikan
kepada siswa/peserta didik untuk ikut menentukan program pembelajarannya. Bagian
terpenting dari konsep belajar mandiri adalah bahwa setiap siswa harus mampu
mengidentifikasi sumber informasi ini sangat dibutuhkan untuk memperlancar
kegiatan belajar siswa pada saat siswa tersebut membutuhkan bantuan dan
dukungan.
E. Kelebihan dan Kelemahan
Kelebihan dari pembelajaran ini adalah :
1.
Membentuk
peserta didik yang mandiri dan bertanggung jawab
2.
Mahasiswa
mendapatkan kepuasan belajar melalui tugas-tugas yang diselesaikan
3.
Mahasiswa
mendapatkan pengalaman dan keterampilan dalam hal penelusuran literatur,
penelitian, analisis dan pemecahan masalah, jika dalam menyelesaikan
tugas-tugasnya mahasiswa berkelompok menjadi semakin bertambah, karena melalui
kelompok tesebut mahasiswa akan belajar tentang kerja sama, kepemimpinan dan
pengambilan keputusan.
4.
Mencapai
tujuan akhir dan pendidikan yaitu mahasiswa dapat menjadi guru bagi dirinya
sendiri.
Kelemahannya adalah :
1.
Bila
diterapkan kepada peserta didik yang belum dewasa, ia belum bisa
belajar secara mandiri (masih memerlukan bimbingan).
2.
Apa
yang didapat dalam pembelajaran mandiri masih belum tentu benar, maka
perlu melakukan pertanyaan atau diskusi.
BAB
III
PENUTUP
Belajar mandiri merupakan strategi pembelajaran yang
bertujuan untuk membangun inisiatif individu, kemandirian, dan peningkatan
diri. Fokusnya adalah pada perencanaan belajar mandiri oleh peserta didik
dengan bantuan guru. Belajar mandiri juga bisa dilakukan dengan teman atau
sebagai bagian dari kelompok kecil. Dalam Pembelajaran mandiri peserta
didik dituntut aktif dan kooperatif untuk memperoleh informasi. Tugas
pengajar/pembimbing hanya sebagai fasilitator yang mendukung , membimbing dan
membantu peserta didik bila mengalami kesulitan . jadi peserta didik tidak
tergantung kepada pengajar.sehingga peserta didik bisa lebih perkembang dan
mandiri. Sarana pendukung pembelajaran ini bisa menggunakan media cetak maupun
elektronik seperti komputer, internet , dll. Tujuannya agar dapat meningkatkan
kemampuan, keterampilan , serta kreatifitas peserta didik .
Pembelajaran
mandiri memberikan siswa kesempatan yang luar biasa untuk mempertajam kesadaran
mereka akan lingkungan mereka. Pembelajaran mandiri memungkinkan siswa untuk
membuat pilihan-pilihan positif tentang bagaimana mereka akan mengatasi
kegelisahan dan kekacauan dalam kehidupan sehari-hari. Pola ini memungkinkan siswa bertindak berdasakan
inisiatif mereka sendiri untuk membentuk lingkungan
Kelebihan dari pembelajaran ini adalah membentuk
peserta didik yang mandiri dan bertanggunggjawab. Sedangkan kekurangannya
adalah peserta belum dewasa, sehingga sulit menggunakan pembelajaran mandiri.
DAFTAR PUSTAKA
Purnama,Indah.Pengembangan Materi Pembelajaran Mandiri;2013
(diakses tanggal 2 desember 2013) diunduh dari URL :http://www.scribd.com/doc/128057417/Pengembangan-Materi-Pembelajaran-Mandiri
Fairuzel.Konsep Student Centered
Learning (online);2010 (diakses 2 desember 2013 ) diunduh dari URL : http://fairuzelsaid.wordpress.com/2010/08/28/pendidikan-konsep-scl-student-centered-learning/
Santoso,Urip. Metode Pembelajaran Student Centered Learning
(online);2011 (diakses 3 desember 2013) diunduh dari URL : http
://uripsantoso.wordpress.com/2011/06/03/metode-pembelajaran-dalam-student-centered-learning-scl/
Muljono P. penyusunan dan
pengembangan instrument penelitian (online); 2002 (diakses tanggal 20 maret )
diunduh dari URL : http://repository.ipb.ac.id/bitstream/ha
ndle/123456789/34011/KPMpjm-makalah2-penyusunan....pdf
ppp.ugm.ac.id/wp-content/uploads/pembelajaran_mandiri.doc+&cd=1&hl=en&ct=clnk
Unit Pengembangan Materi
dan Proses pembelajaran di Perguruan Tinggi, DIKTI 2005 (http://www.cintyasantosa.cz.cc/)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar