Pink Rose Flower

Sabtu, 24 Desember 2016

Model-Model Pembelajaran - Model Pembelajaran Mandiri






             TUGAS TERSTUKTUR                               DOSEN PENGASUH
     MODEL-MODEL PEMBELAJARAN    Dr. H. Ridhahani Fidzi, M.Pd                                 


MODEL PEMBELAJARAN MANDIRI



                                                                             
 Di Susun Oleh :


SRI WAHYUNITA             NIM. 1502521475






INSTITUT AGAMA ISLAM NEGRI ANTASARI
PROGRAM PASCASARJANA
PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
2016



BAB I
PENDAHULUAN

Guru adalah  jabatan profesional yang  melibatkan kegiatan intelektual sehingga secara langsung atau tidak langsung bertanggung jawab untuk mengantarkan siswanya untuk mencapai kedewasaan sebagai calon pemimpin bangsa pada semua bidang kehidupan. Peranan guru semakin penting di era global, di katakan seperti itu karena melalui bimbingan guru, seorang siswa  dapat menjadi sumber daya yang berkualitas, kompetitif, dan produktif sebagai aset nasional dalam menghadapi persaingan yang makin ketat dan berat, sekarang dan di masa datang.
Sebagai guru yang profesional, hendaknya seorang guru tidak hanya memiliki pengetahuan pedagogik,  tetapi juga memiliki berbagai  strategi dan variasi dalam  mendidik serta mengarahkan siswa-siswinya,  agar dalam kegiatan belajar-mengajar tercipta kualitas pembelajaran yang maksimal untuk peserta didik.
Kita ketahui bahwa suatu kegiatan pembelajaran di kelas adalah inti dari penyelenggaraan pendidikan yang di tandai oleh adanya kegiatan pengelolaan kelas, penggunaan media dan sumber belajar, dan penggunaan metode dan strategi pembelajaran. Semua tugas tersebut merupakan tugas dan tanggung jawab guru yang secara optimal dalam pelaksanaannya menuntut kemampuan guru.
Peserta didik adalah individu yang unit, heterogen dan memiliki interes yang berbeda-beda. Siswa ada yang memiliki kecenderungan auditif, yaitu senang mendengarkan, visual, senang melihat dan kecenderungan kinestetik, yaitu senang melakukan. Karena itulah guru harus memiliki kemampuan mengadakan variasi dalam kegiatan pembelajaran. Penggunaan multisumber, multimedia, multimetode, multistrategi, dan multimodel.
Selain itu, kemampuan menciptakan suasana kondusif dikelas guna mewujudkan proses pembelajaran yang menyenangkan adalah tuntutan bagi seorang guru profesional dalam pengelolaan kelas.

BAB II
PEMBAHASAN

A.        Pengertian Pembelajaran Mandiri
Pembelajaran mandiri atau biasa disebut dengan at self directed learning (SDL) dapat diartikan sebagai mata proses, dimana individu mengambil  inisiatif dengan atau tanpa bantuan orang lain. Kegiatan yang dilakukan oleh individu tersebut adalah mencakup mendiagnosis kebutuhan belajar, merumuskan tujuan belajar, mengidentifikasi sumber belajar, memilih dan melaksanakan strategi  belajar dan menilai hasil belajar. Individu sendiri yang merencanakan, melaksanakan dan menilai sendiri terhadap pengalaman belajar yang telah dijalani, dilakukan semuanya oleh individu yang bersangkutan. Peran pengajar dalam metode ini hanya bertindak sebagai fasilitator, yang memberi arahan, bimbingan dan konfirmasi terhadap kemajuan belajar yang telah dilakukan individu tersebut. Jadi perubahan paradigma dalam proses pembelajaran yang tadinya berpusat pada pengajar menjadi pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa (Student Centered Learning) diharapkan dapat mendorong mahasiswa untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Dalam proses SCL, maka mahasiswa memperoleh kesempatan dan fasilitas untuk belajar secara mandiri , dan pada akhirnya dapat meningkatkan mutu kualitas mahasiswa. Pembelajaran yang inovatif dengan metode Student Centered Learning ini memiliki    keragaman    model pembelajaran    yang   menuntut partisipasi aktif dari mahasiswa.
Metode-metode tersebut diantaranya adalah:
1.        Berbagi informasi  (Information Sharing) dengan cara, curah gagasan (brainstorming), kooperatif, kolaboratif, diskusi kelompok (group discussion), diskusi panel (panel discussion), simposium, dan seminar
2.        Belajar dari pengalaman (Experience Based) dengan cara simulasi, bermain peran (roleplay), permainan (game), dan kelompok temu
3.        Pembelajaran melalui Pemecahan Masalah (Problem Solving Based) dengan cara: Studi kasus, tutorial, dan lokakarya.
Menurut Knowles (1975), belajar mandiri lebih ditekankan pada orang dewasa dengan asumsi semakin dewasa peserta didik maka:
1.    Konsep dirinya semakin berubah dari sikap ketergantungan terhadap pendidik kepada sikap mengarahkan diri dan saling belajar diantara mereka.
2.    Semakin bertambah pula pengalaman belajar mereka yang dapat dijadikan sumber belajar, sedangkan orientasi belajar berubah dari penguasaan materi kearah pemecahan masalah.
3.    Kesiapan belajarnya semakin dirasakan untuk menguasai tugas-tugas yang berkaitan dengan peranan mereka dalam kehidupan.
4.    Perspektif waktunya semakin berorientasi pada penggunaan hasil belajar yang dapat segera dimanfaatkan dalam kehidupan.
5.    Makin diperlukan keterlibatan mereka dalam perencanaan, diagnosis kebutuhan, penentuan tujuan belajar, dan evaluasi proses serta hasil belajar.

Belajar mandiri sangat penting untuk perkembangan seseorang karena manfaat dari metode ini adalah menyadarkan dan memberdayakan mahasiswa, bahwa belajar adalah tanggung jawab mereka sendiri. Selain itu cara belajar ini sejalan dengan proses alamiah perkembangan jiwa seseorang. Seorang mahasiswa didorong untuk bertanggung jawab terhadap semua fikiran dan tindakan yang dilakukannya. Untuk dapat menerapkan metode ini, sebelumnya kita harus dapat memenuhi asumsi bahwa kemampuan seorang pelajar semestinya bergeser dari orang yang tergantung pada orang lain menjadi individu yang mampu belajar mandiri.
Metode ini dianggap lebih sesuai dengan kondisi eksternal masa kini yang menjadi tantangan bagi mahasiswa untuk mampu mengambil keputusan secara efektif terhadap problematika yang dihadapinya. Melalui penerapan SCL mahasiswa harus berpartisipasi secara aktif, selalu ditantang untuk memiliki daya kritis, mampu menganalisis dan dapat memecahkan masalah-masalahnya sendiri. Tantangan bagi pengajar sebagai pendamping pembelajaran peserta didik, untuk dapat menerapkan pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa perlu memahami tentang konsep, pola pikir, filosofi, komitmen metode, dan strategi pembelajaran. Untuk menunjang kompetensi pengajar dalam proses pembelajaran berpusat pada mahasiswa maka diperlukan peningkatan pengetahuan, pemahaman, keahlian, dan ketrampilan pengajar sebagai fasilitator dalam pembelajaran berpusat pada mahasiswa. Peran pengajar dalam pembelajar berpusat pada mahasiswa bergeser dari semula menjadi pengajar(teacher) menjadi fasilitator. Fasilitator adalah orang yang memberikan fasilitasi. Dalam hal ini adalah memfasiltasi proses pembelajaran mahasiswa. Pengajar menjadi mitra pembelajaran yang berfungsi sebagai pendamping (guide on the side) bagi mahasiswa. Untuk menjadi fasilitator, selain persiapan pengetahuan, latihan-latihan, juga perlu pengalaman. Melalui pengalaman dan  praktek menjadi fasilitator maka akan diperoleh tambahan bekal yang semakin banyak sehingga kita akan dapat menemukan sendiri cara yang tepat, efektif, dan efisien dalam memfasilitasi proses pembelajaran. Seperti menurut Stewart, Keagen dan Holmberg (Juhari,1990) belajar mandiri pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh pandangan bahwa setiap individu berhak mendapat kesempatan yang sama dalam pendidikan. Proses pembelajaran hendaknya diupayakan agar dapat memberikan kebebasan dan kemandirian kepada pembelajar dalam proses belajarnya. Pembelajar bebas secara mandiri untuk menentukan atau memilih materi pembelajaran yang akan dipelajari dan bagaimana cara mempelajarinya. Jika dalam pembelajar konvensional lebih banyak berkomunikasi dengan manusia yaitu pengajar atau pembelajar lainnya. Sedangkan dalam pembelajaran jarak jauh lebih banyak berkomunikasi secara intrapersonal berupa informasi atau materi pembelajaran dalam bentuk elektronik, cetak maupun non cetak, seperti komputer/internet dengan surat elektronik (e-mail), atau melalui media telepon, faksimile, jasa layanan pos, siaran radio, ataupun siaran televisi.
Konsep belajar mandiri pada dasarnya menekankan pada kreatifitas dan inisiatif peserta didik. Akan tetapi pada kondisi tertentu, secara sistematik peserta didik dapat meminta bantuan/bimbingan pada pendidik, disini peran pendidik lebih menekan kan sebagai fasilitator.

B.         Hal-Hal yang perlu dipersiapkan dalam Student Centered Learning (SCL)
1.            Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kesiapan Belajar Mandiri
Jika seorang berpikir bahwa ia sedang bersenang-senang ketika ia sedang belajar, maka ia akan lupa bahwa ia sedang belajar dan dengan sendirinya akan menikmati dan mendapatkan banyak manfaat (Burns, 1997). Ungkapan ini merupakan ungkapan yang sering terlupakan oleh pendidik. Penerapan kedisiplinan dengan cara yang salah, kurikulum standar dan sebagainya yang membuat anak tidak memiliki pilihan sendiri tentunya tidak akan membuat peserta didik merasa sedang bersenang-senang, karena tidak sesuai dengan apa yang disukainya.Beberapa metode belajar yang mengacu pada belajar secara alamiah dan mengacu pada keunikan individu yang perlu dikembangkan adalah collaborative learning, problembased learning, portofolio, team project, resource-based learning. Metode-metode ini menekankan pada hal-hal seperti kerjasama tim, diskusi, jawaban-jawaban terbuka, interaktivitas, mengerjakan proyek nyata bukan hanya menghafal, serta belajar cara untuk belajar, bukan hanya memperoleh ilmu pengetahuan dan sebagainya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan belajar mandiri adalah:
a.    Terbuka terhadap setiap kesempatan belajar, belajar pada dasarnya tidak dibatasi oleh waktu, tempat atau usia. Dapat dikatak belajar itu tanpa batas ( no limit to learn), setiap saat seseorang merasakan bahwa pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya tidak lagi mampu memecahkan persoalan sehingga mendorong untuk terus belajar.
b.    Memiliki konsep diri sebagai warga belajar yang efektif, seseorang yang telah memiliki konsep diri berartii senantiasa mempersepsi secara positif mengenai belajar dan selalu mengupayakan hasil belajar yang baik.
c.    Berinisiatif dan merasa bebas dalam belajar, inisiatif merupakan dorongan yang muncul dari diri seseorang tanpa dipengaruhi oleh orang lain, seseorang yang memiliki inisiatif untuk belajar tidak perlu dirangsang unutk belajar.
d.   Memiliki kecintaan terhadap belajar, menjadikan belajar sebagai bagian dari kehidupan manusia dimulai dari timbulnya kesadaran, keakraban, dan kecintaan terhadap belajar.
e.    Kreativitas. Kreativitas dapat dilihat dari segi hasil, proses, karakteristik, dan sikap.Menurut Supardi (1994), kreativitas merupakan kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun kerja nyata yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya.
f.     Kemampuan menggunakan keterampilan belajar yang mendasar dan memecahkan masalah.
g.    Memiliki orientasi dimasa depan. Seseorang yang memiliki orientasi dimasa depan akan memandang bahwa masa depan bukan suatu yang mengandung ketidakpastian.
Ada beberapa aspek yang diperlukan dalam menentukan masa depan yaitu:
a.    Kemampuan membaca perubahan yang akan terjadi
b.    Kemampuan menyeleksi alternatif yang layak
c.    Kemampuam memilih/mengambil keputusan tentang strategi dan alternatif yang dipilih
d.   Bersikap positif dan optimis
e.    Menyadari kelengkapan dan keterbatasan sumber daya yang dimilki

2.       Peran Pendidik Dalam Belajar Mandiri Sebagai Fasilitator
Dalam konsep belajar Instructor-Centered Learning, pengajar memiliki peran utama untuk dalam proses pembelajarannya. Mahasiswa akan menerima secara pasif materi yang diberikan dengan mencatat serta menghafal. Dengan demikian sumber belajar utama adalah Pengajar. Dengan menerapkan konsep SCL, sebagian beban dalam mempersiapkan serta mengkomunikasikan materi berpindah ke mahasiswa yang harus pula berperan secara aktif. Pengajar bukan lagi tokoh sentral yang tahu segalanya. Tidak berarti bahwa tugas pengajar menjadi lebih ringan atau tidak lagi penting. Pengajar tetap memainkan peran utama dalam proses belajar, tetapi bukan sebagai satu-satunya sumber ilmu pengetahuan. Metode yang dapat diterapkan,seperti diskusi, pembahasan masalah-masalah nyata, proyek bersama, belajar secara kooperatif , serta tugas-tugas mandiri, pengajar akan lebih dituntut sebagai motivator, dinamisator dan fasilitator, yang membimbing, mendorong, serta mengarahkan peserta didik untuk menggali persoalan, mencari sumber jawaban, menyatakan pendapat serta membangun pengetahuan sendiri. Dalam perubahan peranan ini, dibutuhkan kepemimpinan, kemampuan berkomunikasi serta keterbukaan dari pendidik untuk dapat menjalin hubungan secara individu, untuk dapat mengerti serta mengikuti perkembangan dari masing-masing peserta didik, disamping tentunya wawasan yang luas dalam mengarahkan peserta didik ke sumber-sumber belajar yang dapat digali. Hati dan ilmu menjadi tuntutan bagi pendidik dalam menerapkan konsep SCL.
Menurut Rogers (1961), dalam pembelajar mandiri, tutor berperan sebagai fasilitator dan teman bagi peserta didik. Peran sebagai fasilitator yang harus dilakukan oleh pendidik adalah:
a.    Mengupayakan/menciptakan suasana/kondisi yang memungkinkan peserta didik memperoleh pengalaman belajar.
b.    Membantu peserta didik agar lebih memahami tujuan belajarnya.
c.    Mendorong peserta didik untuk dapat mengimplementasikan tujuan yang dicapai oleh setiap peserta didik menjadi sesuatu yang bermakna bagi kehidupannya.
d.   Berusaha mengorganisasi dan mencari kemudahan dalam penggunaan sumber/sarana belajar yang tersedia untuk kepentingan peserta didik.
e.    Berusaha menempatkan dirinya sendiri sebagai sumber belajar yang dapat dimanfaatkan oleh peserta belajar.
f.     Dapat merespon setiap ekspresi setiap peserta didik, pendidik harus menerimanya secara intelektual dan bersikap empatik.
g.    Dalam menciptakan iklim yang kondusif, pendidik mengupayakan partisipasi aktif peserta didik.
h.    Pendidik mengambil inisiatif dalam mengadakan urun rembuk guna membangkitkan motivasi belajar peserta didik.
i.      Melalui pengalaman bersama dengan peserta didik, pendidik berupaya untuk selalu siap dalam memunjukkan ekspresinya tentang perasaan yang sangat dalam.
j.      Dalam memfungsikan kedudukannya sebagai fasilitator, pendidik selalu berusaha meyakini dan menerima keterbatasan yang ada pada dirinya.
Peran sebagai fasilitator sebetulnya tertuang dalam sistem among yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara. Seorang sumber belajar sehatusnya selalu berprinsip pada “Tut Wuri Handayani “. Dalam menjalankan peran sebagi fasilitator, pendidik dapat membantu peserta didik dalam mengakrabi  masalah yang dihadapi peserta didik, dan berupaya agar peserta didik dapat menemukan alternatif pemecahan masalah yang dihadapi.
Peran lain yang harus dilakukan pendidik adalah sebagai teman. Pendidik berusaha menempatkan dirinya sama dengan peserta didik sebagi peserta yang mengharapkan nilai tambahan dalam kehidupannya untuk mengantisipasi perubahan yang terjadi serta mengaktualisasikan dirinya.


C.      Model-Model Pembelajaran Mandiri
Untuk dapat menerapkan konsep ini, dapat dilakukan dengan menggunakan model-model seperti small group discussion, simulation, case study, discovery learning (DL), self directed (learning (SDL), cooperative learning (CL), collaborative learning (CBL), contextual instruction (CI), project based learning (PJBL) dan Problem based learning an Inquiry (PBL).
Model-model pada Student Centered Learning , antara lain :
1.         Small Group Discussion
Diskusi merupakan salah satu elemen belajar secara aktif dan merupakan bagian dari banyak model pembelajaran SCL yang lain, seperti CL, CbL, PBL dan lain-lain. Di dalam kelas, kita dapat meminta para mahasiswa untuk membuat kelompok kecil (misalnya 5 – 10 orang) untuk mendikusikan bahan yang dapat diberikan oleh pengajar ataupun bahan yang diperoleh sendiri oleh anggota kelompok tersebut.
Metode ini dapat digunakan ketika akan menggali ide, menyimpulkan poin penting, mengakses tingkat skill dan pengetahuan mahasiswa, mengkaji kembali topik di kelas sebelumnya, membandingkan teori, isu dan interprestasi, dapat juga untuk menyelesaikan masalah. Apa bisa dilakukan oleh mahasiswa, ketika metode ini diterapkan di kelas. Mahasiswa akan belajar untuk menjadi pendengar yang baik, bekerjasama untuk tugas bersama, memberikan dan menerima umpan balik yang konstruktif, menghormati perbedaan pendapat, mendukung pendapat dengan bukti, serta menghargai sudut pandang yang bervariasi.
2.         Simulation
Simulasi adalah model yang membawa situasi yang mirip dengan sesungguhnya ke dalam kelas. Misalnya simulasi sebagai seorang manajer atau pemimpin, mahasiswa diminta untuk membuat perusahaan fiktif, kemudian di minta untuk berperan sebagai manajer atau pemimpin dalam perusahaan tersebut. Simulasi ini dapat berbentuk permainan peran (role playing). Permainan-permainan simulasi dan lain-lain. manfaat dari model ini adalah dapat mengubah cara pandang (mindset) mahasiswa dengan cara mempraktekkan kemampuan umum (dalam komunikasi verbal dan nonverbal), mempraktekkan kemampuan khusus mempraktekkan kemampuan tim, mengembangkan kemamapuan menyelesaikan masalah, mengembangkan kemampuan empati dan lain-lain.
3.        Discovery Learning (DL)
DL adalah metode belajar yang difokuskan pada pemanfaatan informasi yang tersedia, baik yang diberikan pengajar maupun yang dicari sendiri oleh mahasiswa, untuk membangun pengetahuan dengan cara belajar mandiri. Metode ini dapat dilakukan misalnya dengan memberikan tugas kepada mahasiswa untuk memperoleh bahan ajar dari sumber-sumber yang dapat diperoleh melalui internet atau melalui buku, Koran, majalah dan lain sebagainya.
4.        Self Directed Learning (SDL)
SDL adalah proses belajar yang dilakukan atas inisiatif individu mahasiswa sendiri. Mahasiswa sendiri yang merencanakan, melaksanakan dan menilai sendiri terhadap pengalaman belajar yang telah dijalani, dilakukan semuanya oleh individu yang bersangkutan. Peran pengajar dalam metode ini hanya bertindak sebagai fasilitator, yang memberi arahan, bimbingan dan konfirmasi terhadap kemajuan belajar yang telah dilakukan individu mahasiswa tersebut. Manfaat dari metode ini adalah menyadarkan dan memberdayakan mahasiswa, bahwa belajar adalah tanggung jawab mereka sendiri. Individu mhasiswa didorong untuk bertanggung jawab terhdapa semua fikiran dan tindakan yang dilakukannya. Untuk dapat menerapkan metode ini, sebelumnya kita harus dapat memenuhi asumsi bahwa kemampuan mahasiswa semestinya bergeser dari orang yang tergantung pada orang lain menjadi individu yang mampu belajar mandiri.
5.        Cooperative Learning (CL)
CL merupakan model belajar berkelompok yang dirancang oleh pengajar untuk memecahkan suatu masalah/kasus atau mengerjakan suatu tugas. Kelompok ini terdiri dari atas beberapa orang mahasiswa yang memiliki kemampuan akademik yang beragam. Metode ini sangat terstruktur, karena pembentukan kelompok, materi yang dibahas, langkah-langkah diskusi serta produk akhir yang harus dihasilkan, semuanya ditentukan dan dikontrol oleh pengajar. Mahasiswa hanya mengikuti prosedur diskusi yang dirancang oleh Pengajar. CL bermanfaat untuk membantu menumbuhkan dan mengasah kebiasaan belajar aktif pada diri mahasiswa, rasa tanggungjawab individu dan kelompok mahasiswa, kemampuan dan ketrampilan bekerjasama antar mahasiswa, dan keterampilan sosial mahasiswa.
6.          Collaborative Learning (CbL)
CbL adalah metode belajar yang menitikberatkan pada kerja sama antar mahasiswa yang didasarkan pada konsensus yang dibangun sendiri oleh anggota kelompok. Masalah/tugas/kasus memang berasal dari pengajar dan bersifat open ended, tetapi pembentukan kelompok yang didasarkan pada minat, prosedur kerja kelompok, penentuan waktu dan tempat diskusi/kerja kelompok, sampai dengan bagaimana hasil diskusi/kerja kelompok ingin dinilai oleh pengajar, semuanya ditentukan melalui Konsensus bersama antar anggota kelompok.
7.             Contextual Instruction (CI)
CI adalah konsep belajar yang membantu pengajar mengaitkan isi mata kuliah dengan situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari dan memotivasi mahasiswa untuk membuat keterhubungan antara pengetahuan dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari sebagai anggota masyarakat, pelaku kerja professional atau manajerial, entrepreneur,maupun investor.
Contoh: apabila kompetensi yang dituntut matakuliah adalah mahasiswa dapat menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi proses transaksi jual beli, maka dalam pembelajarannya, selain konsep transaksi ini dibahas dalam kelas, juga diberikan contoh dan mendiskusikannya. Mahasiswa juga diberi tugas dan kesempatan untuk terjun langsung di pusat-pusat perdagangan untuk mengamati secara langsung proses transaksi jual beli tersebut, atau bahkan terlibat langsung sebagai salah satu pelakunya, sebagai pembeli misalnya.
8.             Project-based Learning (PjBL)
PjBL adalah model belajar yang sistematis, yang melibatkan mahasiswa dalam belajar pengetahuan dan keterampilan melalui proses pencarian/penggalian (inquiry) yang panjang dan terstruktur terhadap pertanyaan yang otentik dan kompleks serta tugas dan produk yang dirancang dengan sangat hati-hati
9.             Problem-based Learning/Inquiry (PBL/I)
PBL/I adalah belajar dengan memanfaatkan masalah an mahasiswa harus melakukan pencarian/penggalian informasi (inquiry) untuk dapat memecahkan masalah tersebut.Pada umumnya, terdapat empat langkah yang perlu dilakukan mahassiwa dalam PBL/I, yaitu:
a.         Menerima masalah yang relevan dengan salah satu/beberapa kompetensi yang dituntut mata kuliah, dari pengajarnya.
b.        Melakukan pencarian data dan infromasi yang relevan untuk memecahkan masalah.
c.         Menata data dan mengaitkan data dengan masalah
d.        Menganalisis strategi pemecahan masalah.
Sekarang, kita sudah mendapatkan sedikit gambaran mengenai metode-metode pembelajaran dalam SCL, selanjutnya kita dapat mengembangkan ide kita masing-masing untuk dapat menerapkan metode-metode tersebut di dalam kelas perkuliahan yang kita ampu. Tentu saja tidak semua metode-metode tersebut dapat kita terapkan, tergantung juga pada mata kuliah yang kita ajarkan. Namun demikian kita dapat menerapkan metode tersebut sesuai dengan mata kuliah yang kita ajarkan. Diharapkan juga setelah mencoba menggunakan salah satu metode-metode di atas kita dapat mengevaluasi hasil sebelum dan sesudah. Apakah terdapat perubahan dalam hal penilaian mahasiswa terhadap pengajar, penilaian pengajar terhadap mahasiswa, ataupun sikap mahasiswa dalam menerima perkuliahan di kelas.

D.      Sasaran dalam Pembelajaran Mandiri
Menurut Wedemeyer seperti yang disajikan oleh Keegan (1983), siswa/peserta didik yang belajar secara mandiri mempunyai kebebasan untuk belajar tanpa harus menghadiri pelajaran yang diberikan guru/instruktur di kelas. Siswa/peserta didik dapat mempelajari pokok bahasan atau topik pelajaran tertentu dengan membaca buku atau melihat dan mendengarkan program media pandang-dengar (audio visual) tanpa bantuan atau dengan bantuan terbatas dari orang lain. Di samping itu siswa/peserta didik mempunyai otonomi dalam belajar. Otonomi tersebut terwujud dalam beberapa kebebasan sebagai berikut:
1.         Siswa/peserta didik mempunyai kesempatan untuk ikut menentukan tujuan  pembelajaran yang ingin dicapai sesuai dengan kondisi dan kebutuhan belajarnya.
2.         Siswa/peserta didik boleh ikut menentukan bahan belajar yang ingin  dipelajarinya dan cara mempelajarinya.
3.         Siswa/peserta didik mempunyai kebebasan untuk belajar sesuai dengan  kecepatannya sendiri.
4.         Siswa/peserta didik dapat ikut menentukan cara evaluasi yang akan digunakan  untuk menilai kemajuan belajarnya.

Kemandirian dalam belajar ini menurut Wedemeyer (1983) perlu diberikan kepada siswa/peserta didik supaya mereka mempunyai tanggung jawab dalam mengatur dan mendisiplinkan dirinya dan dalam mengembangkan kemampuan belajar atas kemauan sendiri. Sikap-sikap tersebut perlu dimiliki siswa/peserta didik karena hal tersebut merupakan ciri kedewasaan orang terpelajar. Sejalan dengan Wedemeyer, Moore (dalam Keegan, 1983) berpendapat bahwa ciri utama suatu proses pembelajaran mandiri ialah adanya kesempatan yang diberikan kepada siswa/peserta didik untuk ikut menentukan tujuan, sumber, dan evaluasi belajarnya. Karena itu, program pembelajaran mandiri dapat diklasifikasikan berdasarkan besar kecilnya kebebasan (otonomi) yang diberikan kepada siswa/peserta didik untuk ikut menentukan program pembelajarannya. Bagian terpenting dari konsep belajar mandiri adalah bahwa setiap siswa harus mampu mengidentifikasi sumber informasi ini sangat dibutuhkan untuk memperlancar kegiatan belajar siswa pada saat siswa tersebut membutuhkan bantuan dan dukungan.

E.       Kelebihan dan Kelemahan
Kelebihan dari pembelajaran ini adalah :
1.        Membentuk peserta didik yang mandiri dan bertanggung jawab
2.        Mahasiswa mendapatkan kepuasan belajar melalui tugas-tugas yang diselesaikan
3.        Mahasiswa mendapatkan pengalaman dan keterampilan dalam hal penelusuran literatur, penelitian, analisis dan pemecahan masalah, jika dalam menyelesaikan tugas-tugasnya mahasiswa berkelompok menjadi semakin bertambah, karena melalui kelompok tesebut mahasiswa akan belajar tentang kerja sama, kepemimpinan dan pengambilan keputusan.
4.        Mencapai tujuan akhir dan pendidikan yaitu mahasiswa dapat menjadi guru bagi dirinya sendiri.

Kelemahannya adalah :
1.        Bila diterapkan kepada peserta didik yang belum dewasa, ia belum bisa belajar secara mandiri (masih memerlukan bimbingan).
2.        Apa yang didapat dalam pembelajaran mandiri masih belum tentu benar,  maka perlu melakukan pertanyaan atau diskusi.














BAB III
PENUTUP

Belajar mandiri merupakan strategi pembelajaran yang bertujuan untuk membangun inisiatif individu, kemandirian, dan peningkatan diri. Fokusnya adalah pada perencanaan belajar mandiri oleh peserta didik dengan bantuan guru. Belajar mandiri juga bisa dilakukan dengan teman atau sebagai bagian dari kelompok kecil. Dalam Pembelajaran mandiri peserta didik dituntut aktif dan kooperatif untuk memperoleh informasi. Tugas pengajar/pembimbing hanya sebagai fasilitator yang mendukung , membimbing dan membantu peserta didik bila mengalami kesulitan . jadi peserta didik tidak tergantung kepada pengajar.sehingga peserta didik bisa lebih perkembang dan mandiri. Sarana pendukung pembelajaran ini bisa menggunakan media cetak maupun elektronik seperti komputer, internet , dll. Tujuannya agar dapat meningkatkan kemampuan, keterampilan , serta kreatifitas peserta didik .
Pembelajaran mandiri memberikan siswa kesempatan yang luar biasa untuk mempertajam kesadaran mereka akan lingkungan mereka. Pembelajaran mandiri memungkinkan siswa untuk membuat pilihan-pilihan positif tentang bagaimana mereka akan mengatasi kegelisahan dan kekacauan dalam kehidupan sehari-hari. Pola ini memungkinkan siswa bertindak berdasakan inisiatif mereka sendiri untuk membentuk lingkungan
Kelebihan dari pembelajaran ini adalah membentuk peserta didik yang mandiri dan bertanggunggjawab. Sedangkan kekurangannya adalah peserta belum dewasa, sehingga sulit menggunakan pembelajaran mandiri.



DAFTAR PUSTAKA
Purnama,Indah.Pengembangan Materi Pembelajaran Mandiri;2013 (diakses tanggal 2 desember 2013) diunduh dari URL :http://www.scribd.com/doc/128057417/Pengembangan-Materi-Pembelajaran-Mandiri
Fairuzel.Konsep Student Centered Learning (online);2010 (diakses 2 desember 2013 ) diunduh dari URL : http://fairuzelsaid.wordpress.com/2010/08/28/pendidikan-konsep-scl-student-centered-learning/
Santoso,Urip. Metode Pembelajaran Student Centered Learning (online);2011 (diakses 3 desember 2013) diunduh dari URL : http ://uripsantoso.wordpress.com/2011/06/03/metode-pembelajaran-dalam-student-centered-learning-scl/
Muljono P. penyusunan dan pengembangan instrument penelitian (online); 2002 (diakses tanggal 20 maret ) diunduh dari URL : http://repository.ipb.ac.id/bitstream/ha ndle/123456789/34011/KPMpjm-makalah2-penyusunan....pdf
ppp.ugm.ac.id/wp-content/uploads/pembelajaran_mandiri.doc+&cd=1&hl=en&ct=clnk
Unit Pengembangan Materi dan Proses pembelajaran di Perguruan Tinggi, DIKTI 2005 (http://www.cintyasantosa.cz.cc/)

Tidak ada komentar: